15.0 Karena Segalanya Punya Titik

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

3.9 K Hak Cipta Terlindungi
15.0 Karena Segalanya Punya Titik

Kamu memintaku datang ke Stasiun Tugu di jantung kota. Tangamu melambai dari kejauhan padaku yang berdiri di depan pintu ke luar. Aku bisa melihat jelas kaus abu-abu Pull Bear dan Levi’s hitam pekat milikmu. Aku balas melambaikan sapu tanganku dengan malas.

“Ayo kita main-main ke alun-alun.”

Aku mengiyakan lalu mengikuti langkahnya menyusuri jalanan dan berbelok ke Malioboro. Di jalan sepanjang hampir dua kilometer aku bisa menikmati hingar-bingar keramaian dan interaksi antara pengunjung dan pedagang yang berjualan di sisi jalan. Aku mampir sebentar ke gerobak es krim dan membelikanmu satu cone vanila.

“Besok penerbangan jam berapa?”

“Jam delapan.”

Kamu hanya mengatakan “oh” dengan singkat dan kemudian melabuhkan pandanganmu ke kanan, ke seberang jalan; deretan pertokoan pakaian batik. Kamu terus menikmati es krim vanila itu. Banyak becak motor dan andong dengan kuda-kuda yang suka membuatku senang ketika melihatnya; lengkap dengan roda-roda kayunya, juga berbaris di depannya. Satu-satunya hal yang membuatku jatuh cinta dengan kota ini adalah keramahannya. Tidak hanya orangnya, namun juga suasananya.

Perbincangan hangat antar orang-orang di jalan, bahasa jawa yang kental, dan murah senyum. Tidak seperti di Jakarta yang peduli (hanya) pada dirinya sendiri. Di sisa perjalanan sampai ke monumen nol kilometer kita tidak terlalu banyak bicara. Menyeberang jalan, melewati bahu jalan, lalu menyeberang lagi ke alun-alun. Hanya tampak beberapa anak-anak bermain bola.

Alun-alun ini berupa lapangan yang sangat luas, ditumbuhi rerumputan kering, dan kerap digunakan untuk bermain-main bagi penduduk. Ataupun kegiatan lainnya semisal latihan silat (aku pernah ikut sekali waktu ketika liburan ke sini di usiaku yang kesebelas). Kamu duduk di satu sisinya, di atas petak batu yang disemen.

“Aku selalu ke sini kalau sedang banyak pikiran. Duduk-duduk nungguin senja dari sini.”

“Nggak ke Parangtritis?”

“Jauh,” katamu. “Lebih praktis. Ya, walaupun ramai, nggak masalah, lah.”

Kamu menunjuk ke tengah lapangan ke arah anak-anak bermain bola tadi. “Melihat mereka aku jadi ingat kita dulu. Saat kita dibawa ke sini dan diajarin main bola sama ayahmu. Sejak itu aku jadi suka bola.”

“Tendangan pertamamu bikin aku benjol!”

Kamu tertawa. Menyandarkan telapak tanganmu ke atas petak batu. Melebarkan bahu dan mendongak ke atas langit. Menghirup napas dalam-dalam. “Aku selalu ingat momen itu sebelum akhirnya ....”

“Ya?” tanyaku penasaran mengapa kamu tidak menyelesaikan kalimat itu.

“Nggak kenapa-kenapa, kok ....”

“Oh iya, kamu malam nganggur? Aku mau main ke rumah ngobrol sama kamu. Sama pamitan dengan Bude.”

“Hmm ... nggak, sih. Main saja, nanti kubilang ke ibu, yah.”

Aku mengacungkan jempolku dan kemudian menunggui senja datang bersamamu. Satu hal yang mungkin takbisa kulakukan lagi.

***

Kamu membawaku duduk-duduk di halaman belakang malam ini. Ibumu sudah tidur. Tadi kami sudah banyak bernostalgia bertiga. Arloji di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul sembilan. Riuh rendah suara jangkrik ini membuatku ingat tiap sudut-sudut rumah ini. Karena di masa kecil dulu, di sinilah kita bermain-main kala malam hari ayah kita berbincang santai sambil menyesap di ruang tengah, sementara ibu-ibu berada di dapur membereskan bekas makan malam.

Dulu aku paling takut main di sudut-sudut halaman itu kalau sudah lewat dari Magrib, karena Bude kerap menggodaku dengan cerita seram. Kalau sudah begitu kamu turut menakuti sehingga aku pun lari dan kalian berdua tertawa.

“Mengingat rumah ini menjadikanku terbang ke masa-masa dulu. Kamu ingat tentang aku nggak sengaja kecebur di kolam itu?” tunjukku ke sudut halaman, di aman ada sebuah kolam berbatu. Kamu tertawa.

“Ya, dan aku menertawaimu habis-habisan. Momen terbaik di sepanjang hidupku. Aku masih ingat bagaimana wajah panikmu ketika kecebur. Padahal tidak sampai selutut.”

Aku tertawa lepas. Kamu mengikuti. “Kayaknya aku selalu sial kalau main di rumahmu, deh. Ada aja kejadian yang menimpaku. Jangan-jangan kamu pelihara jin, ya,” tukasku diiringi gelak tawamu.

Kita menyesap teh hangat masing-masing. Suasana ini begitu hangat. Begitu tenang. Rasanya takingin ke mana-mana. Dengan pohon mangga dan beberapa tanaman hias yang dirawat ibumu. Duduk di bangku kayu tua. Serupa membayangkan seperti inilah kelak kehidupan berpuluh tahun yang akan datang.

“Kita bisa menjadikan momen ini selamanya, Han,” kataku tiba-tiba.

“Kamu mau menginap di sini setiap hari?”

“Bukan itu!” seruku dengan cepat, “ya, maksudnya ....”

“Berhenti sampai di situ, Arifin. Aku tahu maksudmu. Kita sudah bicara kemarin. Ini gila.”

Perkataan itu seperti memantik emosi keluar dari ruang dadaku. Ruang yang gelap. Dan seketika, emosi itu meledak di dalam dada dan menguasai lidahku untuk memuntahkannya. Belakangan ini aku jadi begitu mudah diprovokasi oleh emosiku sendiri. Meletup-letup seperti air mendidih.

“Kamu bilang apa yang kita jalani sekarang ini sebuah kegilaan? Menurutku nggak, Han. Kamulah yang gila.”

“Apa maksudmu?”

“Nikola menyatakan perasaannya karena kamu menginginkannya begitu!”

“Nikola paham kamu. Dan itu pilihan terbaik untukmu setelah kepergianku ....”

“Pernah mikirin perasaanku nggak waktu itu? Kamu memilih melewatkan kesempatanmu sendiri dan memberikannya pada Nikola. Itu yang gila, Hana!”

Kamu diam saja. Menyesap teh hangatmu. Melabuhkan pandanganmu ke halaman.

“Kenapa kamu harus selalu terlihat kuat di depan mataku, Han?” kataku mencoba menahan emosi dengan merapatkan geligi. Rahangku mengeras. “Aku bukan orang asing. Bila kamu ingin mengatakan sesuatu, katakan!”

Kamu masih memalingkan wajah. Menatapi kesepian yang hinggap di halaman belakang rumahmu ini, sementara malam semakin pekat. Aku bisa melihat matamu yang tiba-tiba mulai berair. Seperti sungai yang sebentar lagi meluap.

“Kita sudah bareng dari sekolah dasar, Hana. Dan sejak itu kamu nggak pernah nangis—setidaknya di depanku—karena kamu kuat. Tetapi, kamu seorang pembohong yang hebat. Aku bisa melihatnya.”

“Ari ....”

Empat tahun, Hana. Empat tahun aku terus menanyakan diriku apa yang membuatmu pergi dan ketika yakin bahwa kamu sudah pergi, teleponmu membuat segalanya berantakan. Jangan salahkan aku kalau aku masih menanyakan soal masa depan kita lagi ....”

“ARI!” teriakmu—dengan setitik peluh mulai jatuh di pelipismu, dadamu tersengal, matamu menatapku dengan nanar. Air matamu buncah. Dan hujan yang mengalir dari matamu seketika membasahi relung perasaanku yang terbakar oleh emosi. Semua itu menjadi bising, mengalahkan riuh suara jangkrik atau sesekali gemercik air di kolam.

“Sekali saja pahami bahwa aku ... berada di posisi yang sulit selama ini ... dan bersikap logislah!”

“Bukankah ini logis? Kamu nggak akan menghubungi hanya untuk minta maaf, kan?”

“Aku meneleponmu untuk minta maaf dan menjelaskan alasan kepergianku.”

“Kenapa harus nunggu empat tahun? Kamu punya banyak kesempatan untuk mengatakannya ....”

“Aku nggak pernah siap ....”

“Kalau begitu, menurutmu sekarang siapnya?” tanyaku sedikit menekan nada suara.

“Nggak gitu, Arifin ....” Ada getir di suaramu. Aku menyadari itu.

“Kamu nggak percaya kesempatan kedua?”

“Aku bukan perempuan yang bisa melanggar janji begitu saja! Cincin ini bukan sekadar benda yang melingkar di jari manisku, tetapi juga sebuah simbol dari hubungan yang telah kujalani selama setahun ini!”

Kamu menunjukkan cincin itu ke hadapanku. Cincin emas dengan sebuah ukiran namamu. Ya, lelaki yang kamu pilih sudah melakukan yang terbaik untuk kebahagiaanmu. Tetapi, mengapa bukan aku?

“Ke mana saja kamu untuk tiga tahun itu? Kenapa nggak katakan saja dari awal, aku bisa belajar ikhlas menjalani hidupku! Yang ada aku terus dihantui kepergianmu! Aku nggak bisa percaya ini.”

Emosi itu rasanya kian meluap. Jantungku memompa darah lebih cepat hingga rasanya semuanya menjadi begitu kacau di dalam tubuhku. Sementara kamu terus mengusap air matamu—sesengukan. Membuatmu menangis adalah sebuah kesalahan. Tetapi malam ini, aku rasanya ingin menjadi seorang pendosa.

“Ari, sadarlah! Aku bukan Tuhan yang bisa seenaknya mengendalikan kehidupan manusia! Ayolah, kita sudah dewasa, kita harus mengerti apa yang kelak dihadapi. Ini pun berat untukku. Pilihan ini adalah masalah yang terus menderaku dari dulu dan aku harus menghadapinya, Ari! Aku mencintaimu, tetapi aku harus memilih bahwa dengan tidak bersamamu, langkahku bisa semakin jelas!”

“Maksudmu?”

“Aku tidak bahagia denganmu!”

“Kamu memang pembohong ulung, Hana.”

“Arifin ... tolong ... apa yang terjadi di antara kita sudah hilang sesaat setelah wasiat ayahku datang. Aku harus memilih ... dan tidak bahagia bersamamu, itulah jalan yang kupilih.”

Aku terdiam sesaat. Mencerna semuanya.

“Tidakkah kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubah segalanya?”

“Tidak ada yang bisa kita lakukan, Ar ....”

Aku kemudian beranjak dari kursiku dan menyelesaikan cangkir teh hangat itu. Sejenak menatap ke arah balik pintu di belakang kita. Pada terang di ruang tengah dan senyap suanasa malam ini.

“Kalau begitu urusan kita selesai di sini. Maaf sudah menyita waktumu selama aku di sini. Sebaiknya aku pulang sekarang ....”

Lalu aku pergi meninggalkan rumahmu membawa berlembar-lembar kekecewaan dan sesak. Inilah akhir dari jalan. Sekarang, semua amarah kita membekas di kepala dan dadaku. Oleh-oleh kepulanganku ke Jakarta besok pagi. Aku menyisir jalan Gejayan dalam keheningan; dalam ketidakpedulian atas apa pun kecuali diri kita sendiri.

Angin menampar wajahku dengan lembut, ditemani kerlap kerlip lampu jejalanan menuju hotel tempatku menginap. Dengan kecewa yang berdiam di dalam tubuhku. Sisa-sisa hujan di matamu masih tersimpan di sapu tanganku. Kamu lebih memilih mencintai orang yang tidak mencintaimu, ketimbang mencintai orang yang balik mencintaimu. Di sanalah perbedaan di antara kita, Hana.

Ini api, Hana. Mendaki gunung di mataku yang mulai malam, membakar api unggun untuk kenangan ini. Karena segalanya punya titik.

Pun kita.

***

“Hei, ada apa, Ar, kau memintaku jemput ke bandara? Tidak biasanya ...,” kata Indah cemas.

 “Kamu bisa minta izin ke Ilham dan temani aku hari ini?” Aku memotong dengan cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.

Tampak wajahnya kian cemas. Indah menyisir poni rambutnya yang kini diwarnai cokelat—lalu tergerai angin—itu ke balik telinganya. Indah merogoh ponsel dari tasnya dan mengetikkan sesuatu. Lalu, dia memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam tasnya.

 “Oke, izin dapat. Apa yang terjadi? Kamu tampak kacau sekali lagi. Semua berjalan baik-baik saja, kan, dengan Hana?”

“Nggak, Ndah ....”

“Lalu?”

“Entah aku harus mulai dari mana. Kupikir aku bisa mendapat jawaban dari pencarianku selama ini. Sebaliknya, aku pikir aku jadi belajar bagaimana menghadapi takdir yang bermusuhan denganku.”

“Apa yang dikatakan Hana?”

“Banyak. Dan intinya, dia memilih pergi karena itu pilihannya sendiri. Dan bukan aku yang menjadi bagian dari masa depannya.”

“Hei, dengar, Arifin,” katamu menyela, lalu menyisipkan jemarimu di jemariku dengan lembut. “Kamu nggak boleh menyiakan hidupmu. Hana bukan satu-satunya perempuan di dunia ini. Kamu harus bisa menyembuhkan lukamu sendiri.”

Aku bahkan takpernah benar-benar bisa membalas perkataan Indah. Dia benar. Aku memandangi cokelat matanya yang kini terkunci padaku. Seakan ada dorongan dari diriku untuk segera mendekatkan wajah padanya, begitu kuat dan menggebu.

“Indah ... bolehkah, aku memintamu sesuatu.”

Na pewno. Byle co.

Kamu berkata apa pun. Aku tahu ini gila. Tetapi, aku harus mengatakannya.

“Bagaimana kalau aku minta kamu temenin aku lagi. Kali ini, aku nggak perlu tanya kapan. Karena aku ingin minta kamu temenin setiap hari, setiap bulan, sampai takdir berkata lain. Jak?”

Indah terkejut mendengar perkataanku. Dia benar-benar tidak percaya. Ada setitik bulir air mata muncul di pelupuk matanya. Aku sudah memikirkan ini di sepanjang perjalanan pulang. Aku butuh teman bicara. Setelah apa yang terjadi denganmu, aku butuh lebih dari sekadar bicara. Aku butuh seseorang di sampingku menjalani hari bersama.

“Kamu nggak punya cara lain untuk mengatakannya dengan lebih baik? Ja robię, Ari.” Indah tertawa dan bulir air tadi mulai mengalir dari matanya. Indah sungguh bahagia. Aku memeluknya erat.

“Kamu harus janji padaku satu hal, Ari. Mulai detik ini kamu harus melepaskan masa lalumu. Lupakan apa yang pernah kamu jalani dengan Hana. Dengan begitu hubungan kita akan baik-baik saja.”

“Tentu saja.”

Dan kemudian tiba-tiba terasa hangat di bibirku. Sangat cepat. Indah menempelkan bibir merahnya di bibirku. Basah. Hangat. Kemudian Hana melepaskan pagutannya dan tersenyum padaku. Dia menarikku berdiri dan kemudian berjalan ke parkiran. It’s a brand new day, kataku dalam hati.

  • view 145