14.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

656 Hak Cipta Terlindungi
14.0

“Salam buat Bude, kayaknya aku nggak usah masuk, deh. Sudah malam betul,”

Kamu tersenyum, yang kesekian kalinya hari ini, dan kemudian membuka pagar rumahmu. Kita tenggelam dalam diam masing-masing. Seperti samudra mata kita yang semakin lama semakin malam—melupakan waktu.

“Sampai ketemu lagi, Ar. Sabtu nanti aku temani, deh, main di Yogyakarta.”

Ingatan kemarin malam masih terngiang di kepalaku pagi ini. Rasanya berat sekali. Aku melangkah gontai ke kamar mandi, cuci muka, kumur-kumur, lalu mengambil pakaian ganti buat santai, dan turun ke lantai dasar untuk sarapan.

Sepiring nasi goreng. Aroma dan rasanya seperti buatan Indah. Tunggu, mengapa gadis itu sekarang muncul di pikiranku?

Aku memeriksa ponsel. Dan ternyata benar, ada beberapa panggilan takterjawab dari Indah. Seperti deja vu. Adapula beberapa pesan WhatsApp yang belum kubaca. Kebanyakan isinya hanya berupa pesan kekhawatiran mengapa aku tidak masuk kantor dua hari. Aku lupa bilang padanya—haruskah?

Selepas sarapan dan membalas pesan Indah, aku kembali ke kamar. Karena lagi iseng aku memilih naik tangga ke kamarku di lantai tiga, karena tadi ketika turun aku naik lift. Perasaanku sedang sedikit lepas hari ini. Setelah mendengar penjelasanmu, aku tidak lagi punya alasan untuk menghindari siapa pun.

Dan setelah mendengar penjelasanmu, aku punya alasan baru untuk membuka lembar kehidupan itu lagi.

_____

Aku menyewa mobil di dekat hotel untuk pergi ke puncak Kaliurang. Museum Ulen Sentalu tujuanku. Menjernihkan pikiran dari asmara sejenak dengan kisah-kisah sejarah yang kukagumi selain sastra dan berita ekonomi.

Kamu sudah menolak ajakanku karena sibuk dengan pekerjaanmu. Jalanan sedang tidak terlalu macet. Pukul sepuluh pagi, aku mengemudikan mobil Avanza dari jalan Gejayan ke jalan Kaliurang, lalu menyeberangi lampu merah menuju jalan Kaliurang puncak.

Dua jam perjalanan yang cukup dingin, matahari sedang malu-malu, dan aku masih ragu-ragu memahami perjalanan hidupku. Meskipun sudah yakin untuk memulai kembali, tetap saja keraguan itu terbit di dadaku.

Bukan soal kamu yang berubah—aku yakin kita punya jalan keluarnya, tetapi juga soal Indah. Aku tidak pernah bilang aku memberinya kesempatan kedua atau sebaliknya. Namanya selalu datang di beberapa momen hidupku.

Di kilometer ketujuh, aku meminggirkan mobil dan membeli minuman dan beberapa camilan. Perjalanan masih ada sekitar empat puluh menit lagi dan sebaiknya beristirahat sejenak dulu. Sekarang masih pukul sebelas. Tampak awan-awan menggulung keabuan di dekat puncak sana.

Setelah sedari awal perjalanan lagu-lagu pop rock My Chemical Romance dan Paramore menemani, aku menggantinya ke Yiruma. Musisi Jepang kesukaanku. Setidaknya relaksasi sebentar sebelum melanjutkan. Sayangnya, ketika River Flows in You berputar, sepertinya itu sebuah keputusan yang salah.

Lagu itu memunculkan kembali ingatan-ingatan tadi. Keraguan tadi. Hana atau Indah? Hana yang dijodohkan dan Indah yang kini jauh lebih dewasa dari terakhir bertemu. Inikah bahagia yang dicari selama empat tahun ini?

Begitu hatiku berbisik. Meninggalkanku dalam pikiran yang dalam. Sebelum akhirnya aku menepis semua itu dan kembali melanjutkan perjalanan.

_____

Sesampinya di puncak Kaliurang aku sedikit melambatkan kecepatan dan mencari markah penunjuk jalan menuju Ulen Sentalu di sisi kiri jalan. Setelah ketemu, aku membelokkan mobil, dan memarkirkannya di depan sebuah bangunan yang katanya itulah museumnya.

Ya, kupikir ini semacam gedung kecil, tetapi ternyata lebih mirip rumah konglomerat yang disulap menjadi museum. Setelah diarahkan oleh satpam, aku menaiki undakan tangga dan masuk melalui pintu kaca. Aku membayarkan tiket seharga tiga puluh ribu itu dan menunggu pemandu museum datang.

Ruang tunggu museum ini mengingatkanku seperti ruang tunggu bandara. Luasnya, spasinya, meskipun bangkunya dari kayu. Bukan besi. Seorang lelaki datang menghampiriku dan menyodorkan tangannya. Kulitnya sedikit legam dan rambutnya cepak. Besarnya sama denganku.

“Saya Dwi, pemandu museum di sini. Benar dengan Mas Arifin?” tanyanya.

Aku mengangguk dan kemudian mengikuti langkahnya menuju sebuah pintu yang berada di belakang dari arah datangnya Dwi ini. Medok lelaki ini terasa khas sekali, meskipun menggunakan bahasa Indonesia.

 “Ayo, Mas, boleh ikuti saya,” katanya, “tur museum akan berlangsung tiga puluh sampai empat puluh lima menit.”

Kami melangkah menuju sebuah jalan setapak berbatu-batu, lalu berhenti sejenak di depan suatu tempat yang mirip pintu terowongan. Kemudian sejenak teringat film Guilliver Travel.

“Alasan mengapa pintu ini tingginya lebih rendah dari badan kita adalah filosofi bahwa budaya Jawa adalah selalu menunduk pada orang yang lebih tua sebagai rasa hormat ....”

Dwi mengatakannya dengan jelas dan sedikit lucu, mengingat dia agak kesulitan menyebut huruf “R”. Dia menjelaskan semuanya. Lalu aku mengikuti dia masuk menyusuri koridor yang ternyata lebih mirip jalur tambang. Pikiranku saja yang suka ke mana-mana.

Ada beberapa ruangan di dalam sini. Semuanya merupakan memoar dan peninggalan dari kerajaan keraton Yogyakarta dan Solo. Lukisan-lukisan dari pendahulu kerajaan dan putri kerajaan. Dwi menggambarkan betapa cantiknya seorang putri raja yang kesohor hingga ke Belanda. Tentang tarian-tarian yang dibawakannya. Ada ruang lain yang berisi barang-barangnya antik. Sayang, tidak boleh mengambil gambar di sini.

Setiap ruangan dihubungkan dengan koridor-koridor dari kayu di mana di bawahnya merupakan kolam ikan. Ketika sampai di ruang yang berisi khusus barang milik seorang putri, aku terpana. Putri ini ternyata seorang penyair. Konon ada ribuan puisi yang telah ditulisnya. Aku membaca beberapa—yang terjemahannya.

Puisi yang dalam. Perasaan cinta seorang Putri pada seseorang yang berarti dalam hidupnya. Membaca itu membuat ingatanku terlabuh tiba-tiba pada masa-masa di Warsawa. Pada puisi-puisi yang mengendap di laptop tanpa pernah sampai di diam samudra matamu.

“Mas, ada apa?” tanya Dwi melihatku keheranan.

“Ah, oh, nggak apa-apa. Tadi agak kepikiran sama puisi ini saja,” kataku sedikit tergeragap.

“Baiklah. Saya kirain Mas nyah kenapa gitu. Hati-hati aja, ya, Mas, jangan lengah.”

Aku tersenyum dan kemudian mengikuti pemandu museum itu ke ruangan lainnya.

_____

“Bagaimana, Mas, terkesan dengan perjalanan wisatanya?” tanya Dwi ketika mengambil duduk di sampingku dan membagikan gelas berisikan sesuatu. “Ekstrak sirih. Ini minuman yang kami suguhkan di pos ini sebelum ke tempat terakhir.”

“Wah, terima kasih,” kataku semringah. Menyesap minuman sirih yang sebenarnya tidak terlalu kusukai. Namun, yang ini beda. Tidak terasa pahit di lidah.

“Tadi, saya sempat takut Mas nyah kesurupan, loh,” katanya dengan gurat wajah cemas, “soalnya ini kan tempat yang ... klenik. Takutnya kalau kenapa-kenapa, bahaya.”

“Nggak kok. Tadi setelah baca salah satu puisinya bikin saya keingat orang di masa lalu. Yang dulu suka saya kirimin puisi.”

“Wah, sama, Mas. Saya juga suka baca puisi. Kenapa nggak disampaikan? Entar nyesel kayak saya, loh.”

Aku tertawa pelan mendengarnya. Pemandu museum ini belum lama mengenalku tetapi sudah membuka sedikit cerita hidupnya.

“Kau sudah menikah?”

“Sudah, Mas. Sudah cerai,” katanya pelan tetapi santai saja. Aku terkejut.

“Maaf ... nggak bermaksud.”

“Nggak apa-apa, Mas. Karena itu semua soal keputusan dan penyesalan saya. Duh, saya jadi malah kepingin cerita, kan.” Dia tertawa.

“Cerita saja. Saya lagi luang kok. Kebetulan main ke sini juga buat jernihin pikiran terkait masalah keputusan juga.”

“Ya, jadi, dulu saya memang pernah punya pacar tiga tahun. Kami saling sayang banget. Tetapi, orangtuanya nggak setuju karena pekerjaan saya yang pemandu museum ini dianggap nggak sesuai sama standar keluarganya. Maklum, dia anak orang tajir.”

“Lalu?”

“Ya, setelah mikir lama, saya sepertinya nggak sanggup menuhin standar orangtuanya. Pilihannya cuman pergi. Pacar saya nggak mau. Dia bahkan siap kawin lari. Tetapi, saya nggak mau bikin dia durhaka sama orangtuanya. Sampai akhirnya saya benar-benar pergi. Dan sejak saat itu dia jadi benci saya.”

“Tetapi, cincin itu?”

“Ya, akhirnya di tempat kerja ini saya ketemu jodoh. Bisa terima saya apa adanya. Tiga bulan habis saya tinggalin pacar saya, ya, saya nikah saja sama teman kerja itu. Cuman tahun lalu, saya cerai. Dan dia pulang ke kampung halamannya di Gresik.”

Aku tertegun mendengar cerita Dwi. Takdisangka di usia yang takterpaut jauh dariku dia sudah punya kisah kehidupan rumit seperti itu. Dan, apa yang dihadapinya sama sepertiku. Ada situasi-situasi yang terkadang memojokkan dan harus membuat pilihan berat. Mungkin itulah yang terjadi padamu, Hana.

“Kalau Mas nyah kenapa? Apa puisi itu sampai ke orang lain? Maaf, Mas, kalau saya lancang.”

“Oh, nggak, kok,” kataku tertawa. “Ya, sama sepertimu, saya harus mengambil keputusan. Bedanya, posisi kau sama dengan seseorang di masa silam itu. Dia pergi tanpa bilang apa-apa. Dan sejak saat itu saya mencarinya.”

“Sudah ketemu, Mas?”

“Sudah. Setelah empat tahun.”

Sekarang giliran Dwi yang terdiam. Kami masih memegang gelas masing-masing di pos itu dan asyik dengan percakapan ini. Waktu wisata yang disediakan empat puluh lima menit kini bersisa lima belas menit saja.

Percakapan ini berjalan menarik untukku. Ada pelajaran yang bisa dipetik dari Dwi. Dan itu mengingatkanku pada perjalananku untuk mencarimu. Setelah empat tahun penuh teka-teki, penuh kekeluan yang membuatku berpikir sudah saatnya berhenti mencarimu, melupakanmu, dan memulai lembar baru dengan Hana.

“Apa yang terjadi, Mas?”

“Saya mencari dia saja terus. Dengan harapan bahwa suatu hari nanti bisa ketemu lagi dan bilang bahwa saya takingin kehilangan lagi.”

“Lebih baik begitu, Mas, daripada terlambat kayak saya,” kata Dwi, menyandarkan punggungnya di bahu kursi. “Saya menikah buat bisa move on. Biar nggak ngerasa kehilangan. Tetapi, ternyata pernikahan itu berantakan karena istri saya merasa saya belum bisa move on. Saya jujur sama dia soal perasaan saya di masa lalu. Setelah tiga tahun, dia bilang saya nggak cinta dia dan akhirnya minta cerai.”

Aku terdiam. Jauh lebih dalam dari yang kukira.

“Akhirnya karena itu, saya sekarang coba jalanin hidup sendiri dulu saja. Nanti saja soal nikah lagi. Tetapi, kalau bisa memutar waktu, saya bakal kembali ke masa lalu dan memilih memperjuangkan mantan pacar saya. Karena ketika saya nggak ingin kehilangan satu orang, akhirnya malah saya kehilangan semuanya.”

Aku kehilangan kata-kata. Tetapi, dari Dwi, aku belajar satu hal cinta memang harus diperjuangkan. Telepon darimu yang telah membatalkan niatku untuk menyerah. Pertemuan denganmu yang sedikit melegakan dadaku. Aku harus menanyakan perasaanmu sekali lagi.

  • view 21