13.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

445 Hak Cipta Terlindungi
13.0

Aku mendorong koperku keluar dari pintu kedatangan bandara Adi Sucipto—Yogyakarta. Udara yang kering dan sedikit terik menyambutku, sama seperti ketika tadi turun dari pesawat dan berjalan menuju ruang tunggu bagasi. Di depan aku memanggil taksi untuk membawaku ke sebuah hotel di Jalan Gejayan. Hotel yang sama ketika terakhir kali aku ke sini.

Sepanjang perjalanan aku terus mencoba mencari kantuk yang hilang dari kemarin malam. Kepalaku isinya sudah tak keruan. Sehari sebelum berangkat, Ilham sudah mengatakan padaku untuk bebas pergi tanpa dianggap cuti. Dia tampak begitu khawatir aku membawa pulang masalah dari Polandia dan belum membereskannya.

Aku mencoba untuk mendengarkan musik intrumental dan menonton film drama dari ponsel—aku benci nonton drama sebenarnya—sebelum akhirnya ponselku berdering. Panggilan darimu.

“Halo, Ari. Kamu sudah sampai?” tanyamu dari balik telepon.

“Sudah, Han. Aku lagi di jalan ke hotel di Jalan Gejayan. Mau mampir ke sini dulu atau ...?”

“Langsung ke Prawirotaman aja nanti malam, nggak apa-apa? Aku lagi ada kerjaan di dekat sana.”

“Terserahmu saja.”

“Baiklah kita ketemu di sana, ya, jam lima sore.”

Aku menutup telepon dan memandangi layar ponselku sejenak. Di kepala ini kemudian berkelindan perihal apa saja yang akan aku katakan padamu, reaksi apa saja yang nanti bisa muncul, atau apa pun yang datangnya dari dalam dadaku. Empat tahun. Bukan waktu yang sebentar.

Perjalanan ini terasa begitu mendebarkan, lebih dari biasanya. Aku mematikan ponsel dan melabuhkan pandangan ke luar jendela taksi. Pada bangunan-bangunan yang membawa ingatanku kembali ke masa silam. Ke masa di mana pernah ada kita di sini.

____

Pukul lima sore daerah Prawirotaman sudah mulai dipenuhi oleh warga asing yang berjalan kaki menyusuri wilayah ini yang memanjang dari ujung ke ujung. Sebuah jalan yang lurus. Setelah membayar dua lembar sepuluh ribuan kepada pengemudi ojek daring, aku berjalan sedikit melewati dua kios dan masuk ke dalam sebuah restoran bernama Viavia.

Sekilas, aku merasa seperti berada memasuki sebuah tempat wisata. Meja-meja yang diisi oleh anak muda dengan kaus batik dan juga warga-warga asing berpenampilan santai—kemeja polos, celana pendek, dan sendal. Kamu memberitahuku untuk naik ke lantai dua melalui aplikasi chatting.

Aku menaiki tangga di seberang kasir. Di samping tangga aku melihat sebuah ruangan yang menjual merchandise berbau Yogyakarta dan keping-keping besi penunjuk jalan dengan nama-nama jalan di Yogyakarta menggantung di sisi pintu masuk ruangan itu. Aku rasa restoran ini seperti memadukan gaya lokal dan sedikit western.

Sesampainya di atas, aku melihat seorang gadis berambut merah dengan kemeja jeans biru dan kaus abu-abu duduk di meja dekat beranda yang menghadap ke jalan. Gelombang rambutnya sungguh tidak berubah, kecuali panjang rambutnya yang kini sudah sepunggung. Gadis itu tersenyum padaku. Semanis gula.

“Hai! Arifini, sini!”

Dug. Dadaku berdesir. Lalu berubah dengan berdegup lebih cepat. Rasanya pembuluh darahku pun demikian. Ada dorongan lebih untuk segera datang menghampirinya, memeluknya, menciumnya, atau apa pun untuk melepas rindu ini. Tetapi, yang ada hanyalah kecanggungan.

Gadis itu adalah kamu.

“Hai,” kataku menyapamu malu-malu. Kamu pun melakukan hal serupa.

“Nggak kesasar, kan?” tanyamu, lalu mengangkat tangan, memanggil pelayan. Seorang perempuan berusia sekitar 30an datang membawakan menu. “Sweter yang bagus,” katamu memuji sweter cokelat polos yang kukenakan.

“Sedikit kesasar sebenarnya. Seumur hidup di sini, kan, cuman ke rumah kamu di Maguwoharjo. Paling jauh paling ke kilometer nol.”

Kamu tertawa pelan. “Aku lagi ada tugas di dekat sini. Liputan tentang es krim gelato di ujung jalan itu. Es krim yang katanya legendaris.”

Aku melongok sedikit ke arah yang dimaksud kamu tanpa menemukan tujuan dan mengangguk saja. Kemudian memilih menu dan menyerahkannya pada pelayan. Kamu juga mengikuti. Lalu, untuk beberapa detik, kita tenggelam dalam diam masing-masing. Dijeda oleh rindu yang mungkin bisa saja berubah pada amarah.

“Berapa hari di sini rencananya?” katamu.

“Tiga.”

Kamu hanya memberiku reaksi “Oh” dan kemudian kembali sibuk pada pemandangan di luar. Situasi seperti ini seharusnya tidak menjadi canggung. Karena kita kerap melakukannya dulu, walaupun bukan di kota ini. Cukup dengan basa-basinya.

“Jadi, bagaimana?” tanyaku langsung dan tegas.

Kamu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. “Inilah Arifin yang kukenal. Masih tanpa basa-basi,” katamu merapatkan bibir tipismu itu. “Biarkan aku menjelaskannya pelan-pelan.”

“Aku mendengarkan,” kataku mensidekap kedua tangan di dada.

“Jangan salah paham, Ar. Apa yang terjadi di masa lalu takbisa diubah dan aku hidup dengan mencoba untuk tidak menyesalinya. Dan itu sungguh berat ....”

Aku mengangguk saja. Entah kenapa hari ini menjadi lebih kaku dari biasanya.

“Setelah ayah meninggal, aku tidak pernah bisa fokus, Ri. Kamu tahu itu. Aku ... kehilangan segalanya. Ibu sendirian di Indonesia dan aku tidak bisa di sana untuknya. Sebulan setelah itu, sebuah surat sampai di rumah Nikola. Dari ibuku.”

“Rumah Nikola? Kenapa nggak flat kita?”

“Kebetulan suatu waktu Ibu mau kirim surat dan lupa alamat flat kita, pun denganku, jadi aku kasih alamat Nikola waktu itu.”

“Baiklah ...,” aku menyandarkan punggung di badan kursi.

Pesanan kami datang. Pelayan tadi membagikan sepiring Salmon Steak dan secangkir susu cokelat hangat padamu dan sepiring nasi goreng dengan segelas wedang jahe padaku. Sementara beberapa meja di sini mulai penuh dengan beberapa warga asing yang makan dengan keluarganya. Kamu melabuhkan pandangan ke luar beranda. Ke arah atap-atap rumah dan bangunan lain.

“Surat itu ternyata wasiat ayah. Membaca surat itu aku benar-benar nggak bisa ngomong apa-apa. Kayaknya aku ingin langsung pergi saja.”

“Apa yang terjadi?”

“Ayah mau aku menikah, Ari.”

Aku terkesiap. Perkataan itu membuat tatapanku kosong sejenak. Terkunci pada kalimat yang kamu utarakan dan menyelusup ke dalam pikiran. Menikah. Aku menyesap sedikit wedang jaheku. Hal itu pernah terbesit di pikiranku ketika hendak mengatakan isi perasaanku padamu empat tahun lalu itu.

“Nggak itu saja. Ada banyak curahan perasaan ayah dan ibu di sana tentangku. Mengapa aku nggak boleh langsung pulang. Kamu tahu keadaan keluargaku sedang sulit ....”

“Kenapa nggak bilang ke aku? Aku bisa saja bantu waktu itu.”

“Nggak segampang itu, Ari! Aku tahu Ayah dan Ibu sudah seperti orangtua bagimu. Tapi, ini beneran beda.”

Aku belum pernah melihat ledakan emosi darimu seperti ini. Tidak, bahkan untuk orang yang sudah mengenalmu selama lebih dari delapan belas tahun lalu. Percaya ialah cara untuk merawat pertemuan yang satu-satu kita jahit dalam kenangan. Dan tetiap kata-kata yang kamu berikan kini seperti termuntahkan sia-sia. Lahir menjadi kecewa.

“Ayah bilang aku harus pulang dengan pendidikan yang baik sementara jurusanku yang kupilih sebenarnya ... ya kamu tahulah. Aku ingin tinggal di Warsawa untuk beberapa tahun. Tetapi, kemudian semua itu menjadi dilema. Nikola membujukku terus di kampus. Aku menghindarimu karena aku tahu kamu akan melakukan apa pun untuk membantuku.”

“Tentu saja aku akan melakukan apa pun untuk membantumu!”

“Itu dia masalahnya, Ar! Aku nggak mau melibatkanmu karena cukup ini perihal aku dan keluargaku. Lagipula, di saat kamu juga berusaha membujukku selama berbulan-bulan itu aku sadar bahwa ternyata aku nggak bisa menjalani hidup seperti ini. Nikola tahu itu. Bahkan pun tentang Nikola ...,” katamu sedikit tercekat. “... juga mencintaimu.”

Satu bagian di mana aku ingin memotong, memintamu untuk menjelaskan mengapa kamu harus membiarkan Nikola menyatakan perasaannya padaku sementara kamu juga punya kesempatan untuk itu dulu sekali? Mengapa kamu memilih bungkam dan pergi? Semua itu terjebak di tenggorokanku. Takkkuasa untuk menyergahmu.

“Aku tahu aku harus pergi saat itu juga ....”

“Kenapa Nikola? Kamu bisa saja mengiyakan waktu itu dan kita bisa cari jalan keluarnya!” Aku sedikit kelepasan meninggikan nada suara. Walaupun baiknya, tidak memancing perhatian pengunjung restoran yang lain.

“Aku nggak punya pilihan selain pergi. Menurutku, itu sudah yang terbaik buatmu.”

“Bukan itu alasanmu, Hana. Aku tahu pasti lebih dari itu. Kita sudah bareng dua puluh dua tahun sampai kamu pergi. Kamu nggak akan mengambil keputusan secepat itu dengan mudah.”

“Ya. Ada. Ayah ingin menjodohkanku dengan lelaki lain.”

Di titik ini aku dadaku rasanya meledak-ledak. Ayahmu ingin menjodohkanmu dengan lelaki lain. Setelah apa yang telah keluarga kita lalui berbelas-belas tahun lamanya, itu takcukup untuk membuatnya sadar bahwa ada aku di sini untukmu. Bahkan setelah Pakde—ayahmu—berpesan padaku untuk menjagamu di Warsawa delapan tahun lalu.

“Aku tahu ini sungguh aneh. Ayah punya sahabat juga semasa kecilnya. Dia punya anak lelaki seumuran dengan kita. Ketika sahabatnya itu meninggal, ia punya keinginan untuk menikahkan anak lelakinya denganku. Dan ketika ayah meninggal, ayah melanjutkan pesan itu kepada Ibu.”

Aku terdiam cukup lama. Sementara makanan kami sudah mulai mendingin tidak tersentuh. Langit mulai memerah, matahari mulai tampak malu-malu dan ingin segera menghilang. Kamu melabuhkan pandanganmu ke meja. Ada getir di suaramu. Menahan tangiskah?

“Semuanya terjadi begitu saja. Sangat berat. Aku tidak tahu harus ngapain. Hal itu menyangkut perasaanku ....”

“Apakah kamu mengenal lelaki itu?”

“Pernah ketemu beberapa kali sewaktu sekolah dasar dan  pas SMA.”

“Kamu mencintainya?”

“Nggak!”

“Lalu?”

“Aku mencintaimu!” seru Hana. Kali ini untuk pertama kalinya aku melihatmu takmampu membendung air mata jatuh mengaliri pipimu. Gerimis berjatuhan di matamu. Perlahan menderas. Pertahananmu runtuh. Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku kemeja dan menawarkannya padamu.

“Bisa bayangin situasiku saat itu? Bisa bayangin perasaanku ketika itu? Gila, Ari. Itu beneran gila.”

Suaramu semakin bergetar. Kamu mencoba mengusap air mata yang alir di pipimu. Orang di samping meja kita sedikit melirik, memeriksa apakah ada masalah di meja ini atau tidak. Sungguh, masa bodoh. Aku menggenggam jemarimu dan mengusapnya pelan.

“Menikah dengan lelaki yang tidak kukenal dengan baik .... Aku coba memikirkannya selama berbulan-bulan. Menghabiskan banyak waktu di rumah Nikola. Mendiamkanmu. Hanya dengan begitu aku bisa meredakan semua ini, Ar. Aku tahu apa yang kulakukan salah. Tetapi, tekad sudah bulat untuk pulang dan menerima perjodohan itu. Aku tahu perasaanmu sudah berbeda sejak kamu menyeriusi perkataan Ayah. Aku cuman tidak yakin saja ketika itu. Dan ternyata, di suatu waktu, aku merasakan hal yang sama. Canggung bukan, kita tinggal bersama dengan perasaan seperti itu? Hal itu alasan lain mengapa aku pergi.”

Air matamu mulai mereda. Pun dengan sesenggukanmu. Sapu tanganku basah oleh kenyataan di masa silam yang akhirnya terungkap. Lagu My Love dari Westlife mengalun dari pengeras suara di sudut atas restoran, mengiringi suasana yang berubah sendu ini. Aku melenguh. Membuang napas berat. Menyesap wedang jahe sekali lagi. Resap. Dingin.

Mungkin sudah takdirnya seperti ini. Apa aku harus menjelma ombak yang melawan semesta, bergerak menuju pelukan samudra lalu terempas menuju bibir pantai? Atau mungkin saja masih ada celah untukku melangkah lebih maju. Tetapi kemudian aku teringat bahwa aku berpikir untuk berhenti sejenak sebelum benar-benar memutuskan. Setidaknya, kamu sudah mengatakan segalanya dan menuntaskan penantianku selama empat tahun.

“Nggak ada yang mudah untuk kita, Han. Aku terus mencarimu selama ini. Kupikir kamu masih ada di Warsawa ketika itu, menghindariku untuk sebuah alasan yang nggak jelas. Setelah Nikola datang tiga tahun kemudian membawa suratmu dan menyadari bahwa kamu telah pulang ke Indonesia membuatku mengerti bahwa harapan itu masih ada. Bahwa di suatu perputaran waktu nanti kita bisa kembali bertemu dan menyelesaikan urusan kita yang belum selesai ini.”

Kamu tersenyum. Di matamu masih ada sisa-sisa gerimis. “Yeah, seperti hari ini.”

Kita mulai menyantap makanan masing-masing yang sudah dingin. Setelah air matamu mengering. Kemudian aku mencoba memindahkan topik ke hal lain, perihal pekerjaan yang kamu kerjakan di Yogyakarta sekarang. Kamu sekarang bekerja sebagai penulis lepas di sebuah blog kuliner dan juga seorang guru bahasa asing di dekat rumahmu.

Aku terkejut karena ternyata jurusan kuliahmu tidak benar-benar menguncimu di Warsawa. Inilah kehidupan, penuh dengan teka-teki dan keterkejutan.

-----

“Yakin pulang sendiri?” tanyaku setelah dari kasir ke luar pintu. Kita berdiri di pinggir jalan. Kamu hendak memesan ojek daring.

“Ya, sudah jam setengah tujuh. Ibu akan khawatir. Aku nggak bilang kita ketemu sore ini. Menghindari pertanyaan yang panjang.”

“Calonmu nggak jemput? Siapa, sih?”

“Dia nggak di sini, Ar!” katamu tertawa. “Dia kerja di luar kota. Tentu, rahasia dong ... nanti kukenalin, deh.”

“Aku antar saja, ya? Kita pesan taksi.”

“Nggak usah, Ari. Aku bisa sendiri.”

“Sekalian mau lihat wajah Bude lagi.”

“Sudahlah, aku pulang sendiri saja. Nggak enak sudah malam begini.”

“Kalau begitu aku memaksa,” kataku kemudian dan tiba-tiba ada taksi lewat. Aku menyetopnya dan membukakan pintu untukmu. “Hanya memastikan kamu benar-benar sampai dengan selamat, My Lady.

Kamu sempat terperangah mendengar kata itu dan tersipu. Aku nyengir. Panggilan lama yang tiba-tiba muncul kembali di pikiranku. Kamu menimbang sebentar dan akhirnya mengiakan tawaranku. Ternyata tidak semua kenangan terbakar jadi abu. Tidak semua kenangan memudar. Akan tiba waktunya, seseorang akan memanggil kembali masa silam terbaiknya dan terkadang orang itu tidak pernah menyadarinya sama sekali.

 

  • view 11