12.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

461 Hak Cipta Terlindungi
12.0

Ogod Saski. Ke sanalah aku membawamu sore ini. Sementara langit sudah mulai menggelap, aku menarikmu singgah ke dalam taman itu. Kita turun di stasiun Central Wersalna lalu naik bus hingga ke Saski. Melewati museum tua dan air mancur Macaroni, aku menunjuk ke arah tengah. Ke barisan bebungaan yang rebah dengan indah di tengah taman, ditingkah salju yang putih. Hari ini salju tidak tebal. Barisan itu membujur panjang seperti kolam. Mengingatkanku akan Taj Mahal di India.

Kamu menggosok-gosokkan tanganmu yang sudah dilapisi sarung tangan hitam itu. Kita berjalan di jalan setapak perlahan, melewati pohon-pohon besar dan rindang. Mengambil sisi kiri ranjang bebungaan itu karena di jalan setapak di sisi satunya dipenuhi dengan segerombolan anak muda yang sedang mengambil swafoto dengan ranjang bebungaan itu.

“Indah sekali, Ar,” katamu terkesima.

Setelah berita kepergian ayahmu sampai di jendela kamarmu tiga bulan lalu, takpernah ada lagi rasa bahagia terbit di dadamu. Aku seperti berbicara pada orang lain. Berita itu sampai dengan sebuah surat lain—surat yang kuyakini sebagai penyebab kekeluanmu.

Aku sudah berusaha untuk mengembalikanmu seperti semula. Menonton pertandingan derby Lech Poznan dan Legia Warsawa, menikmati siang hari di jembatan panjang Lazienkowski sembari makan es krim dan memandangi kapal-kapal kecil melintasi sungai Vistula, ataupun duduk-duduk santai di Perpustakaan Universitas Warsawa membaca karya Haruki Murakami atau John Steinbeck. Kamu hanya membuka halaman Mice of Men dengan perlahan tanpa membacanya.

“Paling indah kalau kita datang ketika musim gugur. Cuman, akan lama sekali kalau nungguin itu.”

Kamu mengangguk. Mengambil duduk di bangku kayu yang terletak di bawah pohon besar itu. Kita menggunakan kupluk dan mantel berwarna sama—mantel gelap, karena semester lalu kamu memaksaku mengganti mantel—mantel lamaku sudah lusuh—dan ternyata kamu malah membelikanku sepasang dengan kupluknya. Tentu saja warna tikus mondok. Kesukaanmu.

“Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini?” tanyamu.

“Seorang teman merekomendasikannya,” kataku memandangi bebungaan warna warni yang di petak panjang taman di depanku. Meskipun turun salju, tetap tidak mengurangi keindahannya.

Wajahmu masih belum ceria betul, meskipun sudah lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Aku merapatkan mantel dan menegakkan kerahnya. Kamu duduk di sampingku, terdiam. Seperti menyembunyikan banyak hal di dadamu. Kamu merapatkan syal cokelat di lehermu.

Aku tidak pernah menanyakan isi surat yang sampai padamu. Sejak saat itu, kamu terus berdiam diri. Jatuh dalam keheninganmu sendiri. Kepergian itu seperti mencuri separuh dirimu. Aku tahu seperti apa rasanya kehilangan itu hidup di dalam dadaku. Kepergian Ayah dan Ibu karena kecelakaan setahun lalu sungguh membuatku hilang arah.

Aku tidak bisa pulang ketika itu. Paman dan Bibi melarang. Kuliahku belum selesai dan tiket pulang-pergi terlalu mahal untuk bisa ditebus. Masa-masa itu sungguh gila. Karena kegelapan memelukku erat sekali; sampai aku berpikir bahwa pergi dan mati rasanya sama saja. Maka, ketika kamu juga merasakannya, aku sungguh mengerti. Tetapi, kamu memilih diam.

Dan karena itu pula hari ini ...

“Arifin, terima kasih sudah membawaku ke sini. Dadaku sedikit lebih ringan sekarang ....”

Aku menyunggingkan senyum. Di seberang kita, ada sepasang kekasih yang juga mengambil swafoto dengan ranjang bebungaan ini sebagai latar belakangnya. Aku memasang pose peace karena kamera itu juga mengarah kemari. Kamu tertawa pelan. Wajahmu sungguh manis ketika itu.

“Kita berada di semesta yang sama, Hana. Kita selalu saling berbagi selama ini. Selalu ada untuk satu sama lain. Tentu saja, aku nggak akan membiarkanmu tenggelam dalam kesedihanmu.”

“Aku masih bingung cara mengatasinya, Ari. Tiga bulan ini aku terus mencoba. Aku ingin sekali bicara denganmu, tapi ....” seperti sesuatu mencekat lidahmu, “aku hanya ingin sendiri ....”

Angin berembus dengan pelan. Membawa bulir-bulir salju kecil menerpa wajah kita dengan lembut. Kamu mengusap pipimu dengan tanganmu. Aku meraih sapu tangan dari saku mantelku dan menawarkannya padamu.

“Dulu ketika Ayah dan Ibu pergi, aku sama sepertimu. Menyendiri adalah pilihan terbaik. Tetapi, suatu hari aku sadar bahwa aku punya alasan untuk bisa membuat diriku tidak tenggelam lebih dalam lagi. Ada seseorang yang membuat mataku terbuka, bahwa ketika aku sudah tidak punya sesiapa lagi, dia selalu ada untukku.”

Kamu terdiam. Memandangi petak bebungaan dalam hening. Detik seperti menjeda percakapan kita. Aku menduga kamu tahu ke mana arah percakapan ini. Rasa dingin yang menyergap tidak begitu terasa dengan mantel yang kita kenankan dan kemeja Levi’s yang melapisi tubuhku di dalam mantel.

“Siapa dia?” tanyamu.

Aku berdiri sejenak. Menarik napas dalam-dalam dan menarik kuplukku ke bawah lagi. Ada keraguan yang lahir di dadaku. Sebenarnya, dadaku siap merayakan. Setelah empat tahun berada di langit Warsawa, flat yang sama, sudah saatnya aku mengatakan segalanya. Apa yang kupendam semenjak SMA hingga sekarang.

“Arifin?” tanyamu lagi.

Aku mengembuskan napas panjang yang dingin. Entah mengapa mendadak rasa hangat tadi menghilang, tersapu oleh rasa dingin; bukan karena cuaca hari ini, tetapi dari keraguan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Keberanianku tidak pernah terkumpul sampai sekarang. Tetapi, sebagian dari diriku berteriak bahwa aku harus mengatakannya padamu. Di jantung Ogod Saski, aku harus mengatakannya padamu.

“Hana ....” Aku kembali duduk di sampingmu, menatap bola mata cokelatmu lamat-lamat. Berharap kamu baik-baik saja setelah ini.

“Alasanku bisa bertahan selama ini adalah ... kamu.”

Bila hidupku selaiknya sebuah novel, momen ini adalah klimaks ceritanya. Sebuah momen di mana aku akhirnya membunuh segala keraguan itu. Aku pun menggenggam jemari Hana.

“Ari ....”

“Aku mencintaimu, Hana.”

Kamu kelu seketika. Terbada. Menutup mulutmu dengan telapak tanganmu yang dilindungi sarung tangan tikus mondok. Kutebak, kamu tidak menyangka aku benar-benar akan berkata seperti ini padamu.

“Kamu sedang tidak bercanda, kan?”

Mataku mulai nanar. Pertahananku mulai runtuh satu-satu. Melihat salju-salju kecil menempel di poni rambutmu yang menyembul dari bawah kupluk, membuatku ingin menyapunya. Namun, aku menahan keinginan itu. Kamu belum bereaksi sesuai harapanku.

“Nggak, Hana. Perasaanku ini sungguh nyata. Aku mencintaimu.”

Butuh beberapa detik bagimu untuk mencerna semua ini. Kamu melepaskan genggaman tanganku dan menarik kupluk lepas dari kepalamu. Rambut merah bergelombang itu tergerai—membuatku berdesir.

“Nggak, Ari. Nggak,” katamu menggelengkan kepala dengan pelan. Mengerucutkan bibir tipismu.

“Kenapa? Nggak ada kesempatan untukku?”

“Nggak bisa, Ar. Aku menyayangimu sudah seperti saudara sendiri. Ak—“

“Kamu yakin bicara seperti itu? Nggak bohongin hati kamu?” potongku dengan cepat sebelum kamu bisa menyelesaikan kalimatmu.

Tanganmu menggenggam lututmu dengan erat. Aku bisa melihatnya. Apa kamu tidak menginginkan hal yang sama denganku?

Beberapa orang yang mengambil swafoto di depan sana sudah pergi. Menyisakan kita yang masih terduduk di bangku ini menatap ranjang bebungaan. Lebih tepatnya, menatap keheningan masing-masing.

“Arifin, aku nggak bisa melakukan ini. Maaf. Aku harus mengatakan tidak untukmu.”

Dadaku seperti dihantam godam. Berdentum-dentum. Retak.

“Hana ... kamu yakin?” tanyaku sekali lagi.

Kamu tidak mengatakan apa-apa. Sesekali memandangi langit, membiarkan salju-salju meningkahi wajahmu. Sementara langit sudah kian gelap dan lampu penerangan taman sudah mulai menyala.

“Maaf, Ari. Aku nggak bisa. Aku harus pergi sekarang.”

Dengan senyuman pahit dan tanpa air mata, kamu mengatakan “tidak”. Kamu berlalu dan merah rambutmu yang tergerai indah itu membuatku tidak ingin momen ini berhenti. Tetapi, aku salah. Kamu tetap memilih pergi. Udara dingin—dan salju—sekejap menyergap tanpa henti dan membuatku beku.

Kepergian itu diam-diam meruntuhkan semesta kita di dadaku dan membangun sebuah ruang gelap di sana.

 

| Warsawa, 2013 |

  • view 15