11.0 Setelah Sekian Lama

11.0 Setelah Sekian Lama

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

4.5 K Hak Cipta Terlindungi
11.0 Setelah Sekian Lama

“Kenapa kamu diam begitu, Ri?”

Suaramu yang selalu bernotasi tinggi itu mulai mengacak perpustakaan kepalaku. Aku terbada. Setelah semua perjalanan yang kulalui untuk menemukanmu, ternyata aku salah selama ini. Kamulah yang menemukanku!

Aku menampar pipiku sendiri. Sakit.

“Bunyi apa itu, Ri? Kamu lagi di mana?”

Nada suaramu yang berubah cemas kian memporakporandakan kepalaku. Memunculkan kembali ingatan lama ketika kamu kerap mengkhawatirkanku. Sialan, di saat aku ingin berhenti, mengapa kamu muncul kembali?

“Oh, hai, Hana. Aku baik-baik saja, kok. Tadi ... aku ketiduran di ruang tamu sebelum teleponmu masuk,” jawabku tergugup.

“Ketiduran di ruang tamu? Kebiasaan, ya,” katamu.

“Ya, kamu tahulah ...,” kataku.

Aku masih belum bisa mengendalikan diri. Malam ini benar-benar terasa gila. Aku bangkit dari tidurku dan kemudian meluruskan punggung dengan menyandarkannya lagi di badan sofa.

“Jadi, bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, cuman lelah karena kerja .... Kamu gimana?”

Hana tertawa pelan. Aku mengernyitkan dahi. Rasanya aku tidak mengatakan sesuatu yang lucu. Kamu seolah enggan langsung menjawabnya.

“Canggung, ya?”

Nah, kamu sungguh benar. Tidak ada yang lebih canggung dan gila dari menerima telepon seseorang yang selama empat tahun ini dicari. Seperti menyapa seseorang dengan sok akrab dan ternyata orang itu bukanlah kenalanmu. Lalu kiamat terjadi setelah itu. Seperti itulah rasanya.

“Aku tahu ... ini pun canggung untukku. Tetapi, kupikir sekarang waktu yang tepat.”

“Untuk apa?” tanyaku.

“Bertemu,” katamu.

Aku terdiam sesaat. Bertemu. Aku bangkit menuju dapur dan meraih lemari di atas untuk mengeluarkan sebuah gelas plastik. Teleponmu masih tersambung di atas meja dapur. Aku menyalakan pengeras suara.

“Setelah semua ini?”

Aku menyendokkan beberapa gula ke dalam gelas itu dan mengambil teh celup dari dalam lemari atas itu juga. Diisi air panas tiga perempatnya dan kemudian gelas teh itu diaduk dengan sendok kecil.

“Maksudmu?”

“Ya ...,” ujarku cepat kemudian menyesap teh itu dan mematikan pengeras suara. “Setelah selama ini aku berusaha mengetahui alasan kepergianmu, empat tahun kamu tahu, dan tiba-tiba kamu bilang ingin ketemu. Semudah itukah kamu menganggapku?”

Ada hening yang tercipta di antara kami, seolah detik mulai bergerak menjauh seperti deburan ombak yang kembali pulang pada pelukan samudra. Rasanya begitu lambat. Rasanya begitu dalam. Malam ini terasa begitu pekat—seperti matamu yang takpernah kulihat lagi sejak pertemuan terakhir itu.

“Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Ar.”

Perasaan bahagiaku saat mengetahui Hana menghubungiku tidak bertahan lama. Selanjutnya yang terjadi adalah emosi-emosi mulai berusaha memanjat keluar dari ruang hatiku yang terdalam—yang paling gelap. Sebuah ruang yang kubangun dari sisa-sisa reruntuhan kenanganmu—yang sebagiannya hampir terbakar menjadi abu.

“Kalau begitu jelaskan, Han.”

“Aku tahu, makanya ak—“

“Katakan sekarang, Han.”

Aku memotongnya dengan nada suara yang dalam. Dan tegas. Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi selain alasan Hana. Aku membawa gelas tadi ke meja ruang tamu dan kusandarkan punggung ini lagi ke badan sofa.

“Ari. Dengar. Aku tahu, tidak ada yang berakhir baik-baik saja untuk kita. Aku tahu seperti apa rasanya menjauh dan ditikam perasaan rindu itu sendiri. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang di panggilan ini. Kamu pikir aku bisa mengatakannya dengan mudah?”

Di satu poin, kamu ada benarnya. Aku begitu terbawa suasana dan emosi di dadaku. Rasanya tenggorokanku ini sudah dikendalikan emosi sehingga sulit memilah mana kata-kata yang seharusnya kuucapkan.

“Aku dapat nomor ini dari ibuku. Kamu ninggalin kartu namamu, kan?”

“Ya,” kataku sedikit malas.

“Hari itu bukan waktu yang tepat untuk bertemu denganmu, Ri. Masih ada hal lain yang harus kuselesaikan—sendiri. Sekarang, kalau kamu mau tahu segalanya, mengapa dulu aku pergi begitu saja, aku sudah siap. Aku akan ada di rumah selama seminggu ke depan sebelum bertolak ke Australia karena ada pekerjaan.”

Aku mencoba mengumpulkan semua reruntuhan kenangan silam satu-satu. Menyesap teh hangat, menghabiskannya, dan kemudian melenguh. Bersama helaan napas yang mengandung sesak demi sesak yang meranggas dada. Mungkin memang sudah waktunya untuk mengerti segalanya.

“Baik, minggu depan aku akan izin dari kantor. Aku nanti beli tiket kereta hari Rabu.”

“Boleh,” katamu.

Kemudian aku buru-buru memutuskan telepon itu. Napasku sedikit terengah. Sekali lagi, aku menampar wajah. Sakit. Ternyata benar-benar bukan delusi. Aku beranjak dan berjalan dengan gontai. Tanpa mengganti pakaian, aku langsung melemparkan tubuhku ke atas kasur.

Esok, akan menjadi hari yang berbeda untukku.

  • view 99