10.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

3.8 K Hak Cipta Terlindungi
10.0

Untuk sekali ini, aku ingin menjadi berbeda, Ari. Setelah sekian lama kita kenal dekat, mengetahui rahasia satu sama lain, aku merasa detik ini aku ingin menjadi berbeda. Sepertimu yang pandai sekali menyimpan sebuah rahasia dariku ... di saat selama ini tanpa bicara kita sepakat untuk tak menyembunyikan satu rahasia pun jika itu terkait dengan kita.

Ari ... sejujurnya, aku sudah tahu tentang perasaanmu itu. Bahkan sebelum kamu mengajakku ke Ogrod Saski. Satu tempat yang selalu kita sebut sebagai jantung kota ini. Aku tahu di tempat itu kita selalu merasa bebas di tengah keramaian. Bebas berteriak tanpa sesiapa pun akan menganggap kita gila. Tetapi, ada satu hal yang harus kamu tahu: mengapa kamu mengatakannya terlalu lama?

 

Aku menyandarkan punggungku ke badan kursi di meja pojokan. Setelah mendapat surat itu dari Hana, aku bergegas ke kedai kopi Zransk yang hanya berjarak dua blok dari stasiun Warszaswa Centralna. Aku menarik napas dalam-dalam. Kamu sudah mengetahuinya terlebih dahulu ....

Satu hal yang kupikirkan, apa yang membuatku terlambat?

 

 

Aku tidak bisa mengatakan alasannya. Bukan aku tidak mau, tetapi hanya saja itu terlalu berat untukku. Berulang kali aku menyiapkan diriku, dan berulang kali pula aku gagal. Aku tidak bisa menjadi diriku saat sudah membicarakan perasaan ini, Ri. Aku harap kamu mengerti. Kamu pikir aku biasa saja ketika melihatmu berciuman dengan Indah?

 

 

Sial. Kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Bagaimana bisa satu hal berujung aku kehilangan segalanya?

Aku kehilangan sedikit konsentrasiku membaca suratmu. Suara pria tua di meja depanku begitu mengganggu. Sepertinya dia merayakan sesuatu dengan temannya. Karena ada tiga gelas besar bir di meja mereka.

Sungguh, kamu pembohong ulung—lebih dariku. Ada perbedaan antara memendam dengan membohongi perasaan diri sendiri. Akan jauh lebih dalam luka yang dilahirkan dengan membohongi perasaan sendiri. Aku sudah menyesalinya. Kamu tahu itu. Kamu sendiri yang menjadi alasanku untuk kembali memperbaiki perasaanku.

 

 

Tetapi, bukan itu alasanku untuk melupakan apa yang terjadi setahun lalu. Sungguh, semuanya berat untukku, Ri. Ada suatu hal yang membuatku harus pergi ... aku ... harus pergi, Ri. Aku cuman ingin kamu tahu itu. Mungkin, jika takdir mengizinkan, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda. Jikalau pun tidak, aku akan menghubungimu. Saat ini akan lebih baik jika kita memang taksaling mengetahui dulu, untuk kebaikan perasaan masing-masing.

 

Teman baikmu,

 

Hana.

 

 

Dadaku rasanya seperti berdentum-dentum. Begitu sesak, seakan isi surat ini menjelma udara yang memenuhi ruang dada. Megap-megap. Setelah tiga tahun berlalu, aku tidak tahu bahwa setelah lulus tahun lalu kamu benar-benar takberada di kota ini lagi.

Aku memandangi jendela kaca di seberang mejaku. Menatapi salju yang menutupi jejalanan, menatapi kerlap-kerlip lampu kedai Zranks yang menerangi di kala malam datang lebih cepat di musim dingin ini.

Ini tidak baik.

Rasanya bodoh sekali saat kita sama-sama memiliki perasaan tetapi malah kamu membuang segalanya? Kamu tidak akan pernah terluka jika kamu selalu tahu alasan atas apa pun yang kamu lakukan. Aku tahu seperti itulah kamu. Bergerak ke mana pun seperti angin—tanpa tujuan yang jelas.

Kalau kamu tanya aku, sudah jelas kamulah tujuanku. Tidak berubah dan tidak akan berubah. Aku membolak-balikkan kertas yang sudah mulai kusut itu—aku mencengkeramnya sedikit kencang ketika tadi membacanya—dan memang hanya itu kata-kata yang kamu tuliskan.

Aku menyesap cangkir teh manis hangatku. Kemudian menyendokkan Golabki ke mulutku. Tadi Indah membawakanku beberapa potong Golabki. Surat itu meletak lemah di atas meja. Pemilik kedai ini menatapku dari balik meja bar di kananku, dan seakan dia tahu bahwa hari ini bukan hari yang baik. Dia kemudian memutarkan lagu Ewa Farna yang iramanya begitu lirih.

Aku tidak akan berhenti, Hana. Di waktu yang tepat, aku akan mencarimu. Apa pun yang kelak kamu katakan, aku hanya butuh alasan mengapa kamu pergi dan memilih  tidak mengatakan apa-apa.

***

 “Nay, kau yakin hanya melihat Hana duduk saja waktu reuni itu?”

Aku menanyai Inayah yang baru saja datang dari konter pemesanan makanan cepat saji ke mejaku. Kami janjian makan siang bareng di restoran cepat saji di dekat kantorku karena kebetulan dia baru saja selesai mengisi acara literasi di daerah Kemang. Dua bulan aku terus mencarimu dan belum jua menemukan apa pun.

“Ya,” dia memindahkan pesanan miliknya dari nampan dan kemudian memindahkan milikku ke hadapanku. “Sebenarnya, aku menemaninya bicara waktu itu.”

Aku terkesiap. Inayah tahu sesuatu yang lebih.

“Apa saja yang kalian bicarakan?” tanyaku.

“Sebelum aku menjawabnya lebih jauh, aku ingin tahu, maksudmu apa? Kau seperti orang yang kehilangan Hana bertahun-tahun! Kalian baik-baik saja, kan?”

Rasa penasaran Inayah harus dikurangi. Aku memandangi konter pemesanan yang mulai ramai di seberangku dan memindahkannya kembali ke mata Inayah. Rasa penasaran di bola mata hitamnya itu sedikit berkilat.

“Kami baik-baik saja. Cuman ... setahun lalu ponselku hilang ... dan aku tidak bisa menghubungi Hana. Setahuku dia tidak aktif di sosial media mana pun.”

“Ah!” Inayah seperti menyadari sesuatu. Dia termakan kebohonganku. Kemudian Inayah menggigit burger ayamnya. “Hape hilang itu memang menyebalkan,” ujarnya sedikit tidak jelas karena mulutnya masih mengunyah.

Aku pun ikut menggigit burger ikan pesananku tadi. Suasana siang seperti ini memang lebih seru dihabiskan dengan menyantap makanan di luar kantor. Bagiku, keadaan dan suasana Kemang hanya akan membuat sumpek jika terus berada di dalam ruangan. Itu mengapa aku kerap makan siang di luar sembari membaca. Hal itu membuat pikiranku segar lagi—setelah sebelumnya dibelenggu oleh tabel penuh angka.

“Dia cerita satu hal saja padaku. Tentang seseorang yang ditunggunya.”

Aku menghentikan aktivitas makanku. Tatapanku kini terkunci pada Inayah. Dia mengelap bibirnya dengan tisu. “Dia bilang, orang itu mau jemput dia buat ke bandara. Nggak bilang siapa atau jenis kelaminnya apa. Kupikir malah itu kau, yang pura-pura ada di Polandia karena malas ikut.” Inayah sedikit tertawa.

“Tetapi, saat kutanya mau ke mana dia, Hana cuman bilang mau balik Yogyakarta. Sama orang itu. Lalu, di situ aku sadar orang itu bukan kau. Sejak kapan kautinggal di Yogayakarta?”

Di kalimat terakhir itu aku tergelak sejenak. Gadis ini sempat-sempatnya melucu dengan celetukannya.

“Ketika mobil yang menjemputnya sampai dan dia membuka pintu belakang, aku melihat mirip seorang lelaki. Tidak begitu jelas karena kau tahu sendiri, lah, warung belakang sekolah itu lampunya remang dan cukup gelap juga gangnya. Kehalang pintu pula! Jadi, kupikir lelaki itu mungkin orang yang dimaksud Hana. Kau nggak bisa nebak, kan, orang yang ditunggu itu maksudnya orang yang di mobil atau di bandara?”

Mendengar penjelasan Inayah aku menyadari satu hal. Kamu ternyata sudah memutuskan pilihan ketika itu. Menyadarinya saja sudah membuatku tertawa getir begini. Rasanya jembatan yang sedang kubangun kembali sejak datangnya surat itu setahun tahun lalu mulai runtuh satu-satu. Aku yang berdiri di tengahnya menyambut reruntuhan itu dengan perasaan yang mulai pudar.

Aku terjatuh ke dalam jurang kesepian.

Dulu, Nikola pernah bilang, mungkin suatu hari nanti, ketika aku berhasil menemukanmu, mungkin aku tidak akan menyukai apa yang kelak akan kuhadapi. Aku tahu Nikola mempunyai informasi darimu yang tak dia bagikan kepadaku.

Dan, sebelum aku menemukanmu, perkataan Inayah—meskipun belum sepenuhnya bisa dibuktikan—cukup menjadi alasan mengapa aku harus mempertimbangkan untuk berhenti mencarimu. Walaupun sebagian dari diriku berkata bahwa aku seharusnya tetap mencarimu untuk membuktikan kebenarannya.

Tetapi, cinta itu rumit, bukan?

Di saat kita ingin percaya tentang sebuah harapan dan ternyata apa yang kita percaya itu ternyata sesuatu yang sudah lama mati dan kita terlambat menyadarinya. Bahwa harapan yang ditunggui itu sudah sedari lama membusuk.

Inayah memerhatikanku dengan heran di sisa santapan makan siang kami. Setengah jam kemudian, kami berpelukan untuk berpisah jalan, aku kembali ke kantor dengan berjalan kaki sementara Inayah tetap di sana menunggu ojek daring yang dipesannya datang.

Harapan itu sudah mati. Mungkin, sudah saatnya aku berhenti.

***

Pukul delapan malam. Peluh memenuhi tubuhku. Setelah melalui dua jam di perjalanan pulang dengan debu, macet, dan emosi—aku menggunakan ojek daring berjubah hijau. Jakarta; kota yang sibuk dan menyebalkan. Lebih dari sejak terakhir aku hidup di sini.

Empat tahun tinggal di Warsawa membuatku lupa seperti apa rasanya macet. Sementara untuk mencapai Sentiong, aku harus melewati kemacetan Kemang untuk sampai ke stasiun Pasar Minggu dan kemacetan di depan Polsek Senen yang selalu padat karena sedang ada pembangunan di perempatan Matraman.

Aku melemparkan tubuhku ke atas sofa di ruang tamu. Tas dan sepatu kulepaskan dan kuletakkan di lantai. Aku meletakkan tanganku di belakang kepala—menjadikannya bantal di bahu sofa. Di seberang pandanganku, di sebuah lemari memanjang setinggi lutut, aku melihat fotoku denganmu. Di samping fotoku dengan Ayah dan Ibu.

Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini sejak lama, Hana. Aku ingin kamu tahu itu. Tidak masuk akal jika kamu benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku. Sampai kutahu ternyata itu berkaitan denganku. Seperti ketika aku menyembunyikan perihal Indah darimu. Meskipun kamu tahu, seorang sahabat tidak mesti menuntut segala rahasia.

Aku hanya baru sadar jika ternyata rasa sakitnya itu seperti ini. Aku menarik napas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan, dan kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Hari yang melelahkan, batinku. Setiap permulaan akan memiliki tanda titiknya. Pun, kita.

Tiba-tiba terasa getar di saku celanaku. Dering ponselku berbunyi. Aku merogoh ponsel itu dan melihat layarnya: ada sebuah nomor tak memiliki nama menghubungi. Biasanya segala kontak yang kupunya pasti kunamai. Lalu, siapa yang menelepon di jam seperti ini?

“Halo ...,” kataku dengan malas.

“Halo.” Suara di balik telepon menjawab. “Apa kabar, Arifin Seno?”

Dadaku meledak. Memporakporandakan begitu saja. Selain meledak, mungkin dadaku juga merayakan sesuatu. Entah apa itu. Pertanyaan itu membuatku terkesiap. Aku kenal suara ini. Tubuhku seketika bangkit.

“Hana?”

Dan kemudian, aku merasa benar-benar gila.

 

 

  • view 76