9.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

592 Hak Cipta Terlindungi
9.0

“Aku tidak mengira kamu benar-benar datang.”

Indah membukakan pintu rumahnya dengan wajah yang berseri-seri. Rambutnya yang gelap dan digulung ke belakang sejenak membuat perhatianku teralihkan di antara gugup karena masih tidak percaya aku memilih datang ke sini. Tadi pun sedikit nyasar untuk mencapai perumahan yang cukup mewah di bilangan Simprug ini—pengemudi ojek daring yang kupesan juga ternyata tidak menguasai wilayah Jakarta Selatan—sebelum akhirnya bisa sampai di rumah Indah tepat waktu. Aku tahu dia benci telat.

“Anggap saja rumah sendiri,” kata Indah sambil berlalu ke ruang belakang—kutebak dapur—di mana dari sana terkuar aroma yang menggugah perutku ketika melangkah masuk ke balik pintu.

“Aku pikir alamat yang kamu kasih itu alamat restoran atau kafe,” kataku mengambil posisi duduk nyaman di ruang tamu. Aku memang tahu Indah ini anak orang kaya, tetapi tak kusangka dia punya rumah minimalis yang modern seperti ini. Bergaya mediterania. “Nice house.”

Aku mencuri pandang ke arah ruangan yang kusangka dapur itu. Di sana ada sebuah meja makan kayu dan di atasnya sudah ada beberapa makanan: Golabki khas Polandia dan nasi goreng. Ah, rupanya aroma itu berasal dari Golabki. Ada apa gerangan Indah memasak makanan yang jarang ditemukan seperti ini?

Aku menarik kursi dan duduk memerhatikan Indah. Delapan tahun sepertinya membuat beberapa hal dari Indah berubah. Salah satunya soal memasak ini. Satu jurusan di kelas kuliah dulu tahu kalau Indah sungguh payah dalam hal memasak. Dan, sekarang lihat. Betapa waktu bisa mengubah apa pun.

Setelah sepuluh menit Indah menata semuanya di meja, dia melepas celemeknya dan kemudian menarik kursi di hadapanku. Dadaku kian berdesir ketika melihat Indah menyampingkan poni rambutnya yang sepunggung itu ke samping. Melihat peluh di wajahnya, tanganku dengan otomatis menyodorkan tisu dari atas meja. Indah menyunggingkan senyum yang membuat dadaku mulai bergemuruh.

“Seharusnya ada beberapa teman mainku datang ke sini. Cuman tadi mereka batal datang karena ada kerjaan mendadak dari bos mereka,” kata Indah menyendokkan nasi goreng ke piringnya, “lucu banget, ya, hari Minggu ada kerjaan nambah. Padahal besok Senin. Bos macam apa itu.”

Dia tertawa pelan. Aku mengikuti. Perasaan macam apa ini? Aku kenal dengan banyak orang di sepanjang hidupku, tetapi apa yang dilakukan oleh Indah saat ini mempunyai level peduli yang tinggi. Aku seperti tamu yang malu-malu datang ke rumahnya—segala sesuatunya menunggu disuguhkan tuan rumah.

Indah kemudian mengambil potongan Golabki untuk disajikan ke piringku sebelum aku menahan tangannya dan mengambil potongan itu, “Hei, aku bisa ambil sendiri.”

Wajahnya sedikit tersipu. Walaupun hanya di rumah, tetapi penampilan Indah mampu menarik perhatianku. Kaus abu-abu dan celana jeans hitam. Beda sekali dengan penampilannya di kantor yang lebih formal. Satu hal yang membuatku pertahananku goyah ialah caranya mengikat rambut—sama seperti Hana. Menggulung ke belakang dengan meninggalkan poni menyamping dan cambang di kedua telinga. Aku selalu meledeki Hana gadis Jepang yang salah alamat, karena hanya dengan begitu aku bisa menutupi desiran di dadaku.

“Bagaimana setelah delapan tahun absen di negara ini. Apa yang paling menarik perhatianmu?” tanya Indah, memandangiku yang melahap Golabki dengan cepat. Dia sangat tahu kalau itu makanan kesukaanku. Makanan yang mirip somay, berupa gulungan kol berisi nasi dan daging.

“Apa, ya ... transportasi daring!” seruku, berhenti mengunyah sejenak. “Inovasi yang bagus, sih. Mengubah cara pandang dari yang serba menunggu jadi serba gerak. Oh, iya ukuran Golabki yang besar ini sungguh sedap sekali.”

Indah tersenyum memerhatikanku menjawab pertanyaannya dan mengunyah makanan perlahan. Dia pun perlahan mulai menyantap nasi gorengnya. Di ruangan seluas 2x2 meter seperti ini rasanya terlalu sepi untuk kami berdua. Dan aku berusaha menggugurkan kecanggungan yang terjadi satu-satu.

“Bagaimana denganmu? Apa saja yang terjadi setelah kamu kembali ke Indonesia?” tanyaku.

Membangun percakapan dengan basa-basi adalah ide terkreatif yang bisa kupikirkan saat ini. Indah mengedutkan bibirnya, dengan wajah yang ditekan—pertanyaanku jadi tampak seperti soal olimpiade matematika. Mungkin dia berusaha mengingat sesuatu yang lama takdiingat.

“Hmm ... hal pertama adalah aku membuatkan Ayah dan Ibu Golabki! Mereka sangat suka makanan itu.” Indah tersenyum lebar, bangga dengan apa yang telah dilakukannya. “Tadinya aku masak Golabki hari ini buat pamer ke temanku juga.”

“Terus aku ketemu Ilham di sebuah seminar dan di sebuah sesi diskusi kami bertukar pikiran. Ya, ujungnya dia menawariku pekerjaan sebagai sekretaris. Karena dia butuh teman diskusi ke mana pun dia pergi,” lanjutnya.

Aku memberinya reaksi “waw” di wajah dan bertepuk tangan. Sebenarnya, karena aku tidak tahu harus menganggapinya seperti apa. Sejauh apa pun aku berusaha menggugurkan kecanggungan itu, ingatan di masa silam masih berkelindan di kepala. “Rezeki, mah, nggak ke mana, ya.”

“Kamu?” tanya Indah.

Mendadak ruangan ini seperti pengap dan menyergapku.

“Aku kenapa?”

“Kamu dengan Hana. Aku nggak niat bahas masa lalu, tetapi aku penasaran kenapa kamu pulang sendirian dari sana.”

“Kita baik-baik saja, kok. Cuman lagi fokus masing-masing aja.”

“Masa, sih?” Indah mulai menggodaku.

Bibirku mulai tertarik sedikit. Godaan itu ternyata berhasil meredakan badai di dadaku, walau cuman sedikit. Menerima gadis itu masuk setelah mengetuk pintu hatiku. Gurat wajah Indah mulai berubah, kini mulai sedikit serius.

“Apa yang kamu sembunyikan tentang Hana? Kamu jadi bungkam kalau ditanya soal itu.”

Arah pembicaraan kami mulai mengerucut. Aku menghabiskan sisa Golabki tanpa memandang Indah sama sekali. Sejarah yang pernah kami punya di masa silam—di antara salju Warsawa—tidak berakhir dengan baik. Indah tahu betul tentang perasaanku padamu. Itulah mengapa aku menolak Indah.

“Kalau kamu diam terus, batin kamu bakal tersiksa terus, Arifin. Kamu harus mulai belajar melepaskan.”

“Nggak,” kataku memecah bungkam itu, “perasaan memang seperti teka-teki, tetapi nggak semuanya berisi pertanyaan tanpa jawaban, Ndah.”

“Aku penasaran,” Indah meletakkan sendoknya sejenak. “Bagaimana kamu nge-manage perasaanmu selama ini?”

“Nggak ngapa-ngapain,” jawabku singkat. “Mungkin dengan banyak-banyak makan Golabki. Aku cukup mahir membuatnya pas di Warsawa dulu.”

“Seriusan, ih.” Indah sedikit sebal dengan sikap tidak serius sedari tadi.

“Kuceritain juga nanti kamu nggak percaya.”

“Coba aja,” kata Indah dengan suara yang pelan dan tipis. Suara yang begitu khas milik gadis di depanku ini.

“Aku selalu yakin kalau suatu waktu nanti, aku bakal ketemu dia lagi. Dan empat tahun di Warsawa nggak cuman berusaha cari dia. Tetapi juga buat mikir banyak tentang ini.”

Indah menaikkan alisnya sebelah. Mempertanyakan. “Lalu, kamu mau cari dia terus sepanjang hidupmu? Kalau dia nggak mau ditemukan, bagaimana?”

Perkataan terakhir Indah tiba-tiba menohok dadaku. Sakit. Karena bisa saja Indah benar. Atau bahkan, mendekati kenyataan. Bagaimana bila kamu memang tidak mau ditemukan?

Dengan ragu aku mulai kembali menatap mata Indah. Di kedalaman matanya, aku melihat lautan—berbeda dengan yang mendiami mata Hana—di mana aku bisa menyelaminya dengan tenang, menemukan momen-momen bahagia yang kelak bisa dilewati bersama. Indah sedikit tersipu.

“Kamu harus percaya diri, Ri. Yang bikin perempuan suka sama kamu itu bukan karena fisikmu ...,” Indah melenguh yang kutafsirkan sebagai ledekan, “... kamu kalah jauh!” kemudian dia tertawa pelan. “Ada sesuatu di dalam dirimu yang bikin nyaman. Bukan otakmu saja yang encer—itu juga bikin aku suka padamu dulu. Entah karena pembawaan dirimu atau apa ... ah! Aku sulit menjelaskannya! Yang penting aku tahu, bahwa bersamamu aku akan memiliki teman ngobrol yang asyik dan nyaman!”

Untuk beberapa detik aku terdiam, takbisa melepaskan diri dari matanya. Pun Indah, yang entah bagaimana mengerucutkan percakapan menuju masa silam, yang jelas-jelas dia sudah bilang tidak ingin mengatakannya. Kami terjatuh dalam kecanggungan masing-masing lagi. Mungkin, lebih seperti salah tingkah dengan cara yang berbeda-beda.

Setelah tersadar dari situasi canggung itu, Indah mengambil piring kotorku dan miliknya untuk kemudian dibawa ke pencucian piring. Aku masih berusaha mencerna perkataan Indah dengan baik. Di beberapa hal, dia ada benarnya. Dan ternyata akulah yang salah—mencarimu tanpa menyadari keadaan sekelilingku yang ternyata sudah berbeda keadaannya ketika kamu masih di sampingku dulu.

“Saat ini aku masih ingin mencari Hana lagi. Terkesan bodoh, ya? Nungguin sesuatu yang nggak ada?”

“Nggak ada yang bodoh kalau sudah berkaitan cinta. Karena semua orang akan menjadi bodoh ketika mencintai seseorang. Bukan dalam artian harfiah, tetapi terkadang mereka bisa melakukan apa saja demi perasaan itu. Ya ... kau tahulah bagaimana ki—“

“Ya, aku tahu. Jangan diingat lagi soal dulu.”

Indah kembali duduk di hadapanku. “Nggak ada salahnya kamu mencoba untuk move on, Ri. Nggak akan bikin kamu kehilangan Hana juga, kok. Apalagi ketika nanti kamu bertemu kembali dan keadaan ternyata sudah jauh berbeda dengan yang kamu harapkan.”

Kali ini Indah telak menerabas inti hatiku. Kata-kata itu deras menghunjami inti hati dan sungguh menyesakkan sampai-sampai aku sulit bernapas. Bisa saja suatu hari nanti, keadaan akan berbeda dan taksesuai yang kuharapkan.

 

  • view 21