8.0 Waktu yang Salah

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

3.8 K Hak Cipta Terlindungi
8.0 Waktu yang Salah

Lagu Helena dari My Chemical Romance berdentum-dentum di telingaku. Arloji sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Setelah pesan teks dari Nikola masuk dan berisi kata “Ready” aku langsung bergegas pergi. Salju di luar jendela sudah mulai sedikit tebal.

Aku menegakkan kerah mantel berwarna gelapku, merapatkan syal abu-abu bergaris yang melingkar di leher, menyeruak timbunan kecil salju di depan flat sewaanku, dan berjalan menyusuri blok menuju trem stop dekat hala kopinska. Beberapa orang dengan cuaca seperti ini lebih memilih berdiam diri di dalam rumah, memanaskan perapian untuk menghangatkan tubuh. Kecuali mereka yang memiliki mesin penghangat ruangan.

Apalagi lima hari menjelang natal seperti ini, mereka sibuk mendekorasi rumah dengan pohon natal dan Mistletoe—seperti di rumah sebelah milik sepasang suami istri baik hati yang sudah uzur, dan Mistletoe kembali mengingatkanku pada Harry Potter. Dulu, kamu paling suka menginap di rumah Nikola setiap keluarganya ingin mendekorasi rumah ketika natal tiba. Meskipun berbeda keyakinan, orangtua Nikola sangat baik padamu—bahkan menyediakan makanan yang halal untukmu.

Nikola bilang dia ingin bertemu denganku, tetapi di suatu tempat dekat Gdansk. Kota kecil yang berjarak lima jam perjalanan kereta dari Warsawa. Ke sanalah aku pergi. Trem yang kunaiki berhenti di depan Warszaswa Centralna.

Nikola menungguku di peron dua. Dia membungkus rambutnya dengan kupluk cokelat tikus mondok—aku masih saja mengingat istilah ini—dan juga melapisi tubuhnya dengan mantel gelap yang sama denganku (dari model dan warnanya). Mungkin kebetulan.

“Kenapa harus di Gdansk sementara kau menungguku di sini?”

Nikola tidak berkata apa pun. Dia mengalungkan tangannya di lenganku dan menarikku ke dalam gerbong ketika kereta yang (secara kebetulan lagi) tiba-tiba datang. Seperti semua sudah direncanakan oleh Nikola. Stasiun ini tidak terlalu berbeda dengan yang ada di London—aku mengunjungi kota itu ketika liburan dua tahun lalu.

Bentuk bangunannya terkesan tua, seperti kebanyakan gedung di kota ini, seakan aku sedang mengamati sejarah kelam negara ini di masa silam—perang dunia kedua—dengan interior modern. Ya, sebuah imajinasi buruk. Satu-satunya yang menarik perhatianku dari stasiun ini hanyalah keretanya yang sudah cukup baik—dibandingkan kereta ekonomi Indonesia.

Sepanjang perjalanan, Nikola mencoba mengajakku bicara soal Harry Potter. Sesuatu yang lama tidak kami lakukan. Tentang siapa saja yang pernah menarik pedang Godric Gryffindor sebelum Harry Potter dan lainnya. Hanya saja kali ini perhatianku teralihkan oleh wajah Nikola. Entahlah, seperti ada yang berbeda dengannya. Dari wajahnya aku menebak Nikola begitu ceria hari ini.

Aku bisa melihat cambang rambutnya yang beberapa helai menyembul dari kupluknya dan tanganku dengan refleks membetulkannya ke dalam. Aku teringat semasa SMA dulu saat melihat temanku yang berkerudung tetapi tidak mengenakannya dengan benar dan tentu saja menegurnya—tidak menyentuhnya.

Nikola mengernyitkan dahinya ketika aku melakukan itu, namun aku bisa melihat dia menahan bibirnya untuk tersenyum. Ada apa ini? Aku tahu itu karena aku sering melakukannya setiap saat aku bicara denganmu. Tetapi, mengapa perasaanku jadi aneh begini?

Setelah lima jam, sesuai yang diestimasikan, kereta berhenti di stasiun Gdansk. Kami berjalan menaiki tangga menuju pinggir jalan Krejcni. Aku sempat mengeluh dan mengomel dalam hati saat seseorang menubrukku tadi—ia seperti sedang buru-buru. Tinggal di negara ini sulit mendefinisikan dengan cepat mana orang baik, mana jahat. Kebanyakan mereka tidak peduli terhadap orang asing.

“Ke mana tujuan kita, Nik?”

Aku memberinya tatapan penuh pertanyaan. Nikola merapatkan bibirnya sejenak sebelum dilemaskan kembali.  Gesturnya tidak menjawab sama sekali. Aku berdeham dengan sengaja. Nikola tersenyum lebar dengan merapatkan bibirnya. Kami menaiki bis di halte dekat stasiun.

Setelah lima belas menit, kami turun di halte Greilee, dan berjalan sekitar dua blok. Nikola menarikku masuk ke dalam sebuah kafe kecil bernama Grulle. Kami mendorong pintu kaca dan aku seketika melihat di seberang ruangan ada sebuah lemari pendingin berisi bir. Seharusnya Nikola tahu bahwa aku tidak akan menyentuh bir sekali pun. Namun, pradugaku begitu salah ketika melihat daftar menunya. Mereka menyediakan variasi menu kentang dan ayam yang menggugah rasa lapar.

Ruangan ini sungguh sangat kecil untuk kafe. Bahkan flatku lebih luas dari sini. Aku dan Nikola memilih meja bar yang menghadap luar jendela. Kacanya begitu besar, sehingga aku bisa menikmati pemandangan salju di sini.

So, apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Aku menarik kursi. Nikola mengikuti. Kami sepakat memesan Chicken Roast with Jack Potatoes, sebongkah kentang cukup besar yang tengahnya dibelah, diisi dengan daging ayam lalu disiram saus barbekyu dan potongan jagung—setidaknya itu yang dijelaskan oleh sang pelayan dan gambar di menu. Kami juga memesan teh hangat untuk membagikan rasa hangat ke tubuh.

Just relax a moment.

Aku mencoba untuk memeriksa pemandangan dari balik kaca. Kafe ini berada di tempat semacam ruko (bila di Indonesia). Di halaman depan, aku memandangi seorang lelaki kira-kira berusia 40an sedang menemani anaknya bermain salju. Di kota ini, saljunya tidak setebal di Warsawa.

Inilah Gdansk. Kota yang populasinya tidak terlalu banyak dan menyimpan banyak ketenangan. Kamu menceritakan padaku dulu karena di kota inilah teman penamu tinggal. Aku pernah ke sini beberapa kali menemanimu saat menemui teman penamu itu—Gregorz. Pemuda yang mudah sekali tertawa.

Pesanan kami datang sepuluh menit kemudian. Nikola langsung mencomot satu potongan kecil jagung. Saat dia hendak mencuri potongan kedua, aku menahan pergelangan tangannya di udara. “Sekarang katakan, apa maksudmu, Nik?”

Aku memberi tekanan pada nada suaraku. Nikola sedikit terkejut sebelum akhirnya dia bisa menguasai dirinya lagi. Ada perubahan di gurat wajahnya. Seperti aku baru saja membongkar kedok rahasianya.

“Aku tidak yakin kau membawaku sejauh lima jam hanya untuk makan kentang dan melalui hari bersama. Kita bisa melakukannya di kafemu.”

Aku mengendurkan genggaman tanganku di pergelangannya, sehingga Nikola bisa membebaskannya. Dia mengibas-ngibas tangannya. Aku melakukannya tanpa bermaksud menyakiti, meskipun keterkejutan Nikola berkata sebaliknya.

I should have told you long time ago, Ari. Terus menyembunyikannya cuman bikin aku gelisah.”

Nikola mengatakannya tanpa memandangiku sama sekali. Dia mengetukkan jemarinya ke atas meja. Seperti ada keraguan yang mencekat tenggorokannya untuk bicara dengan jelas. Aku sudah hampir kehilangan nafsuku dengan semua ketidakjelasan ini. Karena ini bukan Nikola yang biasanya.

Just tell me.

Nikola dengan berat melabuhkan pandangannya ke arahku dan di kedalaman matanya, aku melihat ada badai yang berkecamuk. Karena badai yang sama pernah menyapu seluruh keberanianku di saat aku mengatakan perasaanku empat tahun lalu dan kamu mengatakan tidak.

I love you, Arifin. I do.

Nikola mengatakannya dengan jelas dan seolah dia mengerahkan seluruh energi tubuhnya kepada kalimat itu. Aku hanya bisa memandangi Nikola dengan ekspresi tidak percaya. Tidak, ini lelucon yang garing. Lily si primadona kampus di kelas dulu pernah mengatakan lelucon yang sama ketika April Mop kepada lelaki yang menyukainya di kelas kuliah.

“Kau bercanda, Nik.” Aku tertawa pelan dengan getir. “Apa sekarang ada istilah November Mop?

Gurat wajah Nikola mengatakan bahwa dia memang jujur. Tidak mungkin. Hatiku mengatakan tidak berulang kali.

“Aku nggak bohong soal perasaanku. Seperti katamu, buat apa aku jauh-jauh membawamu ke sini kalau bukan karena aku tahu kamu selalu suka kota ini?”

Aku kehabisan kata-kata. Rasanya di dadaku seperti ada yang ingin memanjat keluar. Entah keinginan untuk mengiakan Nikola atau justru malah menepisnya. Kedua mata kami kini berlabuh di tempat yang berbeda. Musik jazz Magda Kotarska yang sedari tadi melantun berubah menjadi senyap yang merambati dadaku. Mulutku mengatup sementara Nikola terus menunggu jawaban dari pengungkapannya itu.

 “Nikola ... aku tidak bisa menjawabnya ... kau tahu soal Hana ... dan kaubilang sendiri soal Hana itu ....”

Semua ini terasa begitu salah. Aku tidak melihat kebohongan di kedalaman mata Nikola. “Ya, aku tahu, Ari. Aku sudah cerita ke Hana soal ini. Kaupikir aku tahu kamu suka Gdansk dari mana?”

Aku terdiam. Masih tidak percaya. Kamu tahu soal ini?

“Hana tahu, Ri. Dia yang bilang padaku untuk terus jagain kamu sementara dia—“

Nikola tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Tatapannya nanar padaku. Mungkin sulit membicarakan perasaan kepada lelaki yang juga mencintai sahabatnya. Dia mengambil gelasnya dan meneguk air sampai habis.  

“Perasaan itu seperti teka-teki. Sulit ditebak tetapi membuatmu ingin memecahkannya. Aku nggak tahu perasaan ini sampai aku sadar bahwa apa yang kaujalani hanya akan bikin kau menderita. Dan menahannya lebih lama juga bikin aku menderita. I can’t hold it anymore, Ri. I just want you to know how I feel about us. After Hana’s gone.

Pikiranku sungguh kacau. Ia menceracau sendirian, mengacak-ngacak perpustakaan kenangan di kepalaku dan berusaha mencari, di mana saja kenangan dengan Nikola selama ini dan menemukan lubang di dalamnya—mengapa aku tidak menyadarinya?

“Ri, kau kenapa diam saja?”

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Meskipun hatiku masih terus mengenangmu, tetapi ada sebagian dari diriku yang lain untuk memikirkan apa yang dikatakan Nikola. Aku terus memandangi meja. Rasanya seperti badai mengamuk di dalam sini. Pun merambati dadaku sehingga rasanya sedikit sesak. Tehku mulai mendingin.

“Nikola, aku harus pergi,” kataku dengan cepat, beranjak dari kursiku. “Kita sudah terlalu jauh.”

“Ari, tunggu!” Nikola menahan tanganku, “Aku nggak perlu jawabanmu sekarang. Aku hanya ingin kau memberiku kesempatan.”

Aku berusaha menekan pergulatan batin di dadaku. Antara mengiyakan—mengisi kekosonganmu—atau tidak sama sekali. Semuanya jadi berbeda sesaat kamu pergi. Setelah embusan napas berat yang panjang, aku melepaskan diri dari Nikola dan melenggang pergi. Hari ini sungguh salah. Sangat salah. Nikola mengatakan perasaannya! Hari yang sungguh gila.

Setelah mendorong pintu kafe Grulle, aku bergegas menuju stasiun dengan menaiki bus yang sama dengan ketika pergi ke sini tadi dan membeli tiket tercepat ke Warsawa. Hawa dingin rasanya menembus mantelku dan mulai memelukku dengan erat. Ada rasa bersalah meninggalkan Nikola begitu saja; meninggalkannya dengan kecanggungan seperti itu. Tetapi, aku memang belum bisa melupakan kamu. Nikola belum mampu menggantikan posisi itu.

Kereta perlahan melaju dengan cepat, seperti kenanganmu yang perlahan memelesat membuatku takingin memikirkan perempuan lain selain kamu.

 

 

|Warsawa–Gdansk, 2016|

  • view 114