7.0 Kenangan yang Belum Usai

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

4.2 K Hak Cipta Terlindungi
7.0 Kenangan yang Belum Usai

Hujan sore ini kian menderas. Jujur, Jakarta di musim hujan selalu menyenangkan. Aku bisa melihat tempias yang melekat di kaca jendela—takjauh dari meja kerjaku di kantor. Bulir-bulir air yang menetes dari kanopi kecil yang memayungi jendela itu mengingatkanku pada Yogyakarta di masa kecil. Saat Ayah dan Ibu membawaku ke rumahmu selepas lebaran.

Di sana, aku senang sekali menatapmu tertawa bercanda dengan Ayah. Rasanya aku yang anak tunggal ini memiliki seorang saudara perempuan saja. Kita yang masih delapan tahun ketika itu, mencoba untuk menarik perhatian ayahku di halaman belakang rumahmu yang hijau dan ada kolamnya.

“Boleh nggak, sih, aku dan Ari bertukar tempat sehari saja?”

Ayah melabuhkan senyumnya padamu. Senyum yang kata Ibu mampu meluluhkan hati sesiapa pun. Kamu bertanya dengan matamu yang begitu bulat dan berkaca-kaca.

“Untuk apa? Aku akan menginap tiga hari di rumah Hana. Kamu boleh bertukar tempat selama tiga hari.”

Wajahmu berubah semringah. Lalu seketika memeluk Ayah. Ia melirik padaku penuh ledekan. Wajahku cemberut ketika itu. Pakde—ayahmu—yang berdiri dari teras belakang tergelak melihat itu.

Tunggu. Mengapa aku jadi teringat kenangan itu, ya?

Sebelum kepalaku bisa menjawabnya, terdengar ketukan di pintu kaca ruanganku. Ilham berdiri dengan setelan hariannya—kemeja polos abu-abu, dibalut jas hitam dan dasi yang sama, pun sepasang pantofel mahalnya—dengan wajah sedikit cemas. Aku bisa melihatnya melalui sisi ruanganku yang memang dilapisi kaca—tidak sepenuhnya dinding.

“Kau sakit?”

Ilham menarik kursi di hadapanku. Aku menanggapinya dengan lemas. Entah kenapa kenangan tadi mendadak menghilangkan semangatku. Aku menutup laci meja yang tadi terbuka—ada foto Ayah dan Ibu.

“Ah, enggak. Lagi nikmatin hujan aja.”

Kenangan itu menyusup dengan cepat, seakan merambati dinding-dinding yang sedikit berdebu, melalui lantai-lantai licin, hanya untuk menyergapku dengan cepat. Aku mencoba untuk mengulas senyum yang sedikit dipaksakan. Ilham tidak mencurigainya. Dia memandang ke sekeliling ruanganku. Lalu, dia meletakkan dua map berwarna oranye ke atas meja.

“Ini, laporan terakhir dari penjualan produk sepatu kita ke Polandia. Terima kasih buat kenalanmu di sana. Dia suka sekali dengan buatan kita. Kau audit secepatnya, ya.”

Aku memeriksa map itu. Ada beberapa berkas berisi tabel-tabel penuh angka. Berkas itu diikat oleh map holder. Angka dan angka. Pekerjaan harianku yang membosankan juga menyenangkan. Kuakui sedikit monoton bermain dengan angka, sementara di satu sisi aku senang mengolahnya. Aneh memang.

“Kau yakin baik-baik saja? Wajahmu agak pias gitu.”

Ilham menatapku dengan curiga. Aku menampiknya. Sahabatku satu ini sudah bertransformasi menjadi lelaki yang jauh berbeda dengan sekolah dulu. Jika semasa sekolah dasar sampai menengah atas dia akrab dengan rambut yang cepak, kini rambutnya dipotong slicked back dan kuyakin dia menggunakan pomade banyak hingga licin.

“Jangan jadi paranoid!” kataku dan mencoba sedikit tertawa, meletakkan map itu ke sisi kiri meja di mana ada berkas audit lain yang sudah kuselesaikan. “Oke, aku selesaikan besok.”

“Baiklah,” ujarnya. “Aku akan ke luar kota lagi besok. Kalau ada urusan yang berkaitan denganku, Indah yang nanganin. Sepulang dari sana kutraktir makan kau!”

Aku mengangguk dan Ilham pun beranjak, merapikan jasnya, melangkah ke luar dari ruanganku, dan menghilang ke balik pintu berkaca transparan.

Indah. Aku mengeluarkan secarik kertas yang kemarin dia berikan. Aku memeriksanya lamat-lamat. Alamatnya lebih tampak serupa tempat tinggal dibandingkan sebuah kafe ataupun restoran. Gadis itu duduk tepat di seberang ruangaku dengan posisi meja menghadap ke arah barat—ruangan Ilham.

Minggu, pukul empat sore. Bahkan aku belum memutuskan untuk datang atau tidak.

Ada sebuah cerita di masa silam yang melibatkan kami berdua. Cerita yang entah mengapa semakin membuka mataku bahwa perasaan untukmu bukanlah main-main semata. Aku membuat kesalahan di masa silam dengan Indah. Kesalahan yang takingin kuulangi lagi.

Dulu, aku masih tidak tahu apa-apa. Pun Indah. Kami hanya sepasang manusia yang saling dipertemukan di kelas yang sama oleh beasiswa yang sama, lalu terjatuh di perasaan yang menurutku salah. Aku tidak seharusnya mencintai wanita lain—ketika aku merasai bibirnya. Satu kesalahan yang membuatku terdiam untuk waktu lama.

Aku tidak akan merasa bersalah jika bukan karena kamu yang melihatku melakukan itu. Perasaanku tidak pernah berubah. Dan apa yang terjadi dengan Indah adalah akhir—karena aku menceritakannya padamu selaiknya sahabat, apakah salah menyentuh bibir seorang gadis sementara aku mencintai seseorang lainnya?

Kamu pun dengan bijaksana—menurutku begitu atau tepatnya penuh kesabaran—mengatakan itu salah dan aku setuju denganmu. Aku hanya tidak mengerti mengapa tubuhku bergerak berbeda, seolah hormon endorfin mendorong adrenalin untuk berbuat yang berseberangan dengan hatiku.

Aku tidak pernah tahu apa pendapatmu ketika itu. Mungkin saja kamu menganggapku lain sejak saat itu. Atau mungkin api sudah mulai menyala di dadamu? Kalau iya, biarkan aku yang memadamkannya.

“Hei, makan siang?”

Aku terkesiap. Kepala Indah menyembul dari balik pintu. Untuk sesaat aku tidak benar-benar menyadarinya. Reaksiku seperti orang yang tertangkap basah melakukan sebuah kesalahan konyol. Tergeragap.

“Oh ... ah, oke. Mau di mana? Aku sedang tidak bawa buku.”

“Di restoran cepat saji saja. Aku lagi ingin makan ayam tepung,” ujarnya santai, lalu masuk ke dalam ruanganku.

Dia menggunakan blazer hitam dan rok selutut dengan warna yang sama. Hanya kemejanya saja yang menggunakan warna biru—warna kesukaankku. Indah menarik kursi dan duduk di hadapanku. Untuk sesaat—lagi—aku tidak bisa menatap wajahnya. Rasanya darahku terpompa sedikit lebih deras, jantungku berdegup tidak seperti biasanya, dan menatap meja mungkin pilihan terbaik.

“Kamu kenapa? Berkeringat gitu. Ini, kan, ada AC-nya.”

Indah memiringkan kepalanya, berusaha mencuri tatap ke wajahku. Dia melakukannya sembari tersenyum. Tidak. Urusanku dengan Indah sudah selesai. Dari dulu.

“Pak Ilham memberimu tambahan tumpukan laporan audit?”

Aku menggeleng dengan lemah. Mengulas senyum palsu yang sama dengan Ilham tadi. Selalu menyulitkan keluar dari pertanyaan orang yang memang pada dasarnya peduli. Aku mengambil pulpen di atas meja dan mengetuk-ngetukkannya.

“Ar, kamu nggak sakit, kan? Perlu sekalian mampir ke apotek?”

Kini, wajah cemas Indah menempatkanku pada rasa bersalah karena mengingat kenangan itu lagi. Entah apakah dia menyadarinya atau tidak. Aku asumsikan dia sudah lupa.

I’m fine. Ayo, kita berangkat.” Aku beranjak dan membukakan pintu untuk Indah. Dia melangkah ke luar sembari menatapku penuh curiga—dan juga cemas. Kami menyusuri gang yang dikawal oleh meja-meja tanpa sekat milik para karyawan lain dan mendorong pintu berkaca transparan itu.

Aku membuka payung yang cukup buat dua orang lalu mulai berjalan kaki menuju restoran cepat saji yang dimaksud Indah. Dia menggamit lenganku agar tidak terlalu kebasahan di sisi tubuhnya—sementara aku yakin Indah punya maksud lain ketika melakukannya.

Untuk sementara waktu, aku tidak ingin membuka hati ini untuk sesiapa pun. Aku ingin menemukanmu. Setelah tahun demi tahun telah terbakar menjadi abu, aku tidak ingin menerima serpihan-serpihan detik mulai menjauh membawamu.

Aku sudah mulai mencoba menelusuri jejakmu. Tetapi, masih belum memberiku jawaban apa-apa. Inayah pun belum mampu membuka teka-teki itu. Hana, aku harus menemukanmu. Aku hanya ingin sebuah jawaban dari kepergianmu yang misterius itu.

  • view 123