6.0 Permintaan Indah

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

4.8 K Hak Cipta Terlindungi
6.0 Permintaan Indah

“Bagaimana hari pertamamu?”

Indah menghampiri mejaku, membawa kopi pesanannya. Dia menatap buku yang sedang kupegang. Kini, di depanku duduk seorang gadis berkulit sawo matang dan berkacamata. Gadis yang dulu dikenal pendiam di kelas, namun selalu cair ketika bertemu denganku. Termasuk di awal-awal masa kerjaku di kantor ini.

“Presentasinya oke. I’m settling down.”

“Neil Gaiman, huh?”

Indah menunjuk buku yang sedang kubaca. Aku tersenyum. Memamerkan sampul depan buku American God itu ke hadapan Indah.

Aku memanfaatkan jam makan siang untuk mengunjungi kedai kopi di belakang kantorku yang terletak di Kemang ini. Yang kucari hanya suasananya untuk membaca novel yang sedang kuselesaikan. Ada satu kedai yang direkomendasikan oleh Inayah ketika tadi pagi kutanyakan melalui chat. Kutu Buku namanya. Ternyata hanya butuh berjalan kaki lima menit saja. Indah yang memang ingin ikut menemani datang sedikit telat karena harus menangani beberapa berkas penting sebelum jam istirahat mulai.

Kedai ini sungguh nyaman sekali untuk orang yang suka baca sepertiku. Kedai dengan interior yang sederhana, kursi dan meja dari kayu, dan hiasan-hiasan dinding berupa kutipan-kutipan yang diambil dari novel dalam dan luar negeri. Di salah satu sudutnya ada rak yang berisikan beberapa novel.

Sorry, jadinya Pak Gamal yang gantiin Pak Ilham untuk memantau presentasimu. Pak Ilham baru kembali lusa nanti. Laporan tahunan kita nggak menyulitkan kamu, kan?”

“Nggak, kok,” ujarku menyunggingkan senyum. “Sebenarnya, aku enggak ada masalah dengan laporan keuangan tahunan yang terakhir kalian kasih. Rapi. Aku bisa audit dengan cepat. Mungkin bulan depan aku sudah bisa presentasi lagi.”

Indah melemparkan pandangannya ke sekitar. Lalu, dengan cepat kembali padaku. Sepertinya keadaan kedai yang sedang sepi mengurangi rasa ingin tahunya. “Sejujurnya aku baru tahu ada kedai seperti ini. Biasanya aku dan Pak Ilham kalau makan siang lebih sering di restoran cepat saji dekat sini, sih.”

“Ndah, kita sedang tidak di kantor. Aku agak aneh dengar kamu memanggil Ilham dengan ‘Pak’.”

“Kenapa?” tanyanya sembari menyeruput kopinya dengan sedotan.

“Yah,” aku menutup buku yang sedang kubaca, “aku belum terbiasa saja. Agak aneh gitu.”

“Semua orang di kantor memanggilnya seperti itu. Mungkin karena kami tidak punya ikatan sedekat kalian berdua, mungkin.”

“Bisa jadi,” kataku. “Tetap saja terdengar aneh.”

“Kamu akan terbiasa,” sahut Indah. Bibir tipisnya serupa apel segar. Aku membalasnya dengan senyuman saja. Senyuman adalah cara yang bisa kutelusuri untuk menangani Indah—mengingat sejarah yang kami punya dulu sekali.

Aku belum benar-benar siap membangun bentuk-bentuk komunikasi dengan semua teman lama sepenuhnya. Masih perlu beradaptasi lagi. Aku memanggil pelayan kedai dan memesan roti bakar. Setelah itu kembali pada bacaanku dan seruputan kopi di atas meja.

“Ngomong-ngomong kamu tinggal di mana sekarang?”

“Sentiong. Masih di rumah lamaku.”

Aku menjawab pertanyaan itu dengan pandangan masih menatap pada novel.

“Oh ... yang di Jakarta Pusat itu?” ujarnya, “maaf. Turut berduka cita untuk kedua orangtuamu. Aku nggak pernah punya kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu. Setelah apa yang terjadi ....”

“Nggak apa-apa, kok. Terima kasih.”

Aku memotongnya sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimat itu. Sungguh tidak ingin mengingat apa pun dulu.

“Bagaimana kabar Hana? Kudengar kamu ...?”

“Dengar apa?”

Aku mendelik ke arah Indah dari balik novelku. Dia menyesap kopinya sembari memandangiku. Aku bisa membaca rasa penasaran yang kini memenuhi wajahnya.

“Cuma cerita lama soal kamu dan Hana ... kupikir kamu pulang ke Indonesia untuk memperjelas hubungan itu ....”

“Aku sedang tidak ingin membicarakan soal Hana, oke?”

Indah terdiam sejenak. Seakan menimbang sesuatu. Dia mengangguk dengan wajah yang masih begitu penasaran. Wanita memang selalu ingin menebak rahasia yang disimpan lelaki.

“Indah, apa pun yang kamu dengar, cerita itu nggak benar. Kalau benar, sudah dari dulu teman-temanku, termasuk kamu, akan tahu. Jadi, anggap saja aku sendiri.”

Roti bakar yang tadi kupesan sudah datang. Percakapan kami dijeda oleh makanan kesukaanku itu. Aku menyantap roti bakar dalam hening. Ada kecanggungan yang hadir di antara kami. Aku fokus pada piringku dan Indah menatapku makan sendirian. Hal ini tidak baik. Tetapi, lidahku enggan untuk memecah keheningan ini.

“Aku hanya ingin membantumu beradaptasi. Empat tahun bisa membuat siapa pun lupa atas suatu tempat,” kata Indah akhirnya memecah keheningan tersebut.

It’s fine. Aku terlalu banyak merepotkanmu, Ndah.”

Indah sedikit terjeut. “Polish! Sudah lama enggak ngobrol pakai bahasa itu!”

 

Aku nyengir sedikit.

“Nggak, kok,” kata Indah. “Aku senang malah. Setidaknya ngobrol sama teman lama jadi hal yang menyenangkan.”  Dia memamerkan barisan geligi putihnya.

“Tenang. Nggak akan lama adaptasinya kok. Toh, di rumah sendiri, kan?”

“Baiklah, apa pun itu semoga tidak membuat kamu pergi lagi.”

“Kenapa?”

“Oh, it’s all right.” Indah sedikit tergugup, memalingkan wajahnya ke arah meja lain. “Hanya khawatir saja. Masa kamu nggak kangen sama Monas?”

Indah tergelak pelan. Aku mengikuti. Ya, rasanya kecanggungan tadi sudah mulai cair.

“Indah, terima kasih sudah sering mengingatkan. Kamu tidak berubah dari dulu. Seharusnya kamu sudah punya pacar.”

Indah tersenyum semanis gula, dan entah bagaimana aku merasakan debar yang berbeda saat ini. Sesuatu yang tidak pernah dihadirkan oleh Indah dari pertemuan pertama di Warsawa dulu. Dia mengeluarkan ponselnya dan tampak mengetikkan sesuatu.

“Hari Minggu kamu ada acara?”

Indah meletakkan ponselnya dan menatapku dengan lurus. Aku mengangkat sebelah alis, setengah wajahku tersembunyi oleh cangkir kopi yang sedang kuseruput.

“Hmm ... nggak, sih. Ada apa?”

Indah mengeluarkan secarik kertas memo dari saku jasnya dan menuliskan sesuatu. Dia merobek kertas itu, menggulungnya, dan meletakkan di atas novel yang sedang kubaca.

“Hari Minggu pukul empat sore datanglah ke tempat yang kutuliskan di situ. Aku harap kamu benar-benar datang.”

Indah melabuhkan senyumnya dan kemudian beranjak pergi. Dia tidak pernah berubah sedari dulu, sama seperti Hana, kerap meninggalkan teka-teki untukku. Seingatku, apa yang terjadi padaku dan Indah sudah selesai dari waktu yang lama. Sedari wisuda dan kemudian dia memutuskan kembali ke Indonesia.

Entahlah, aku benar-benar tidak tahu apa-apa lagi saat ini.

  • view 113