5.0 Jalan yang Kia Terbuka

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

4.9 K Hak Cipta Terlindungi
5.0 Jalan yang Kia Terbuka

Setelah delapan tahun, Jakarta benar-benar menjelma sesuatu yang baru untukku. Sistem transportasi kereta sudah menjadi lebih baik (meskipun aku belum pernah mencobanya), banyaknya jembatan layang baru, stasiun-stasiun televisi baru, kemacetan yang semakin akut, aktivitas lapak buku di taman Suropati, dan lainnya. Oh, iya, transportasi daring juga menyita perhatianku.

Minggu kemarin, aku diberitahu oleh salah satu teman lama di SMA dulu, Inayah—gadis berkulit sawo matang dan bermata minimalis—untuk singgah di taman Suropati. Inayah tahu dulu aku suka sekali baca buku novel dan karena dia saat ini bergabung di komunitas literasi, gadis itu langsung mengundangku ke lapaknya di taman itu.

Butuh lima belas menit untuk sampai ke sana—menunggu transportasi daring dan perjalanan ke tempat yang dituju. Meskipun sama-sama Jakarta Pusat. Inayah menyambutku dari jauh, melambaikan tangannya dengan semangat. Aku hafal betul lesung pipit gadis itu, yang kini banyak tersembunyi di balik pipi bulatnya.

Seumur hidup, aku baru sekali singgah di taman ini. Itu pun ketika aku berusia sepuluh tahun. Kini, aku kembali ke sini dengan perasaan asing.  Menyusuri gang menuju jantung taman, di mana tampak beberapa anak kecil sedang memberi makan burung Merpati. Dari sini, aku bisa mendengar suara air mancur.

“Bagaimana Jakarta?” tanya Inayah seperti biasa ketika aku sudah mencapainya, tanpa basa-basi. Pipinya ternyata menggembung lebih dari yang kukira. “Kau tampak lebih tinggi dan rambutmu makin ikal!” serunya tertawa kencang. Beberapa temen Inayah melihatnya dengan heran.

“Masih beradaptasi lagi,” balasku terkekeh. “Pembangunan di perempatan Matraman itu bikin macet sampai depan rumah.”

Inayah mengenalkanku pada beberapa temannya di lapak baca itu. Sungguh, aku menikmati pemandangan ini. Di depanku terbentang dua spanduk cukup besar yang dijadikan alas untuk meletakkan buku. Ada berbagai macam, kebanyakan sastra. Ah, Harry Potter kesukaanku ada di sana. Pun, buku puisi lama milik Sapardi Djoko Darmono—hebatnya itu buku cetakan lampau.

“Ini luar biasa,” ujarku terkagum. Banyak anak muda duduk menghampar di atas marmer taman menikmati bacaan buku, adapula yang sibuk memilih buku yang ingin dibacanya, dan bahkan ada beberapa anak kecil yang membawa tas plastik berisi banyak tisu duduk di salah satu sudut membaca majalah Donal Bebek.

“Intinya Indonesia gawat darurat soal minat baca,” tukas Inayah, “Hehe ... biar cepat. Aku capek menjelaskan data.”

I see ....”

Aku mencomot buku puisi milik Bernard Batubara yang berjudul Angsa-Angsa Ketapang. Buku dengan kaver berlatar belakang putih dan ilustrasi berupa gambar angsa. Dari awal melihat lapak ini, mataku sudah langsung terkunci pada buku ini.

“Kerja di mana? Ah, aku sangat bosan menanyakan kabar. Bila kau di sini sambil senyam-senyum, artinya kau sehat wal afiat.”

Aku menoyor kepala Inayah dengan lembut. Terkadang, kepolosannya itu bisa menjadi sesuatu yang menyebalkan. Aku tertawa.

“Di perusahaan eksportir milik Ilham.”

“Ah! Iya, anak itu gila sekali, delapan tahun berlalu dan sudah jadi bos besar!” serunya, “aku lihat pas reuni dua tahun lalu dia datang pakai Mercy.”

Mata cokelat Inayah berkilat-berkilat seperti batu obsidian diasah. Gadis ini tidak pernah berubah. Tidak. Banyak orang tidak berubah sekalipun waktu menuntun mereka ke jalan-jalan yang berbeda. Seperti Inayah yang dengan gaya polosnya selalu memancingku tertawa. Dari dulu. Terutama saat seminggu lalu dia mengomentari tweet-ku yang bercerita soal kepulangan. Itulah mengapa dia mengundangku ke sini.

“Hana bagaimana? Bukankah kau bareng dia?”

Pertanyaan yang membuatku terdiam dan menarik napas dalam-dalam. Untuk beberapa lama aku tidak menjawab pertanyaan itu. Untuk kali ini, Inayah menyadarinya dengan cepat.

“Ada apa? Sesuatu terjadi pada kalian?”

“Panjang ceritanya. Selepas wisuda kami memilih jalan masing-masing.”

“Lucu, ya, setelah kuliah bareng jauh-jauh ke Polandia, justru Hana yang pulang duluan. Betah juga kau di sana.”

Tunggu.

“Maksudmu?” tanyaku cepat. “Hana pulang duluan?”

“Ya,” jawab Inayah santai. Cuaca mulai sedikit terik. Aku mengerudungi kepalaku menggunakan tudung jaket, sama seperti yang Inayah lakukan. “Dia datang di acara reuni dua tahun lalu itu.”

Dadaku remuk seperti ada godam yang menghantam. Hana menghilang lama dan ternyata selama ini dia menyembunyikan dirinya di Jakarta? Bude takpernah cerita soal itu padaku. Kupikir dia di Yogyakarta.

“Jangan bercanda, Nay. Teman-teman di grup Line nggak pernah sebut-sebut nama dia selepas acara reuni itu. Kau ingat, kan, si Andri yang kurang kerjaan catat daftar anak-anak kelas kita yang ikut reuni SMA seangkatan itu? Nggak ada nama Hana di sana.”

Inayah mengelak. “Pastilah! Dia, kan, nggak daftar. Sewaktu aku pulang duluan dari acara itu, aku ketemu Hana di gang sebelah sekolah pas mau ke warung. Hana duduk sendirian di warung itu, kayak lagi nungguin seseorang.”

“Siapa?”

Ada sesuatu yang merangsek naik dari dalam dadaku. Serupa sesak-sesak yang memanjat dan ingin termuntahkan dari bibirku.

“Nggak tahu, Ri. Aku bahkan nggak kepikiran nanya itu.”

“Yakin?” tanyaku memastikan.

“Ari ... ada apa, sih? Kok, kayaknya kau sedang menyembunyikan sesuatu yang berkaitan dengan Hana?”

Aku tidak menjawabnya. Tubuhku bereaksi dengan cepat: bangkit dari dudukku—diikuti tatapan heran Inayah, mengembalikan buku puisi tadi ke tempatnya, meraih tasku di depan Inayah, dan kemudian bergegas pergi.

“Hei, tunggu! Ada apa, sih?”

Kakiku berhenti dan tampak Inayah menatapku lekat dengan tatapan penuh pertanyaan. Apa yang terjadi di antara kita biarlah tersimpan rapi sementara ini. Inayah ikut bangkit dari duduknya dan menghampiriku yang sudah setengah jalan menuju halte taman Suropati.

“Nggak ada apa-apa. Aku ingat ada janji ....”

Inayah menaikkan sebelah alisnya. “Kau mencurigakan.”

Gadis itu cukup mampu menekanku sejauh ini, tetapi bagaimanapun caranya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakannya pada Hana—dia tidak pula terlalu dekat dengan kita.

“Kau tidak mengerti, Nay.”

Inayah menatapku semakin curiga. Reaksi atas ceritanya tadi taklebih dari sebuah pertanda bahwa aku memiliki hubungan yang lebih rumit dari sekadar sahabat. Dan sepertinya Inayah menyadari sesuatu.

“Aku harus pergi sekarang, Inayah. Suatu hari nanti kau bakal tahu sesuatu,” ujarku kembali melenggang pergi, setengah berlari.

Aku harus memecahkan teka-teki ini sendirian. Meskipun butuh waktu aku yakin kamu tidak akan hadir di depanku kecuali aku bisa memastikan bahwa isi surat di hari itu adalah benar. Mungkin, kamu berpikir bahwa dengan meninggalkan waktu di dalam kertas teka-tekimu bisa memberikan harapan yang kamu inginkan. Harapan yang mungkin dulu pernah kuterbitkan di dadamu.

  • view 162