Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 5 Desember 2017   21:47 WIB
4.0

Kepergianmu yang begitu tiba-tiba menimbulkan banyak pertanyaan yang terus membekas di ruang pikiranku. Setelah apa yang kukatakan padamu tentang perasaanku saat kita berbincang di Taman Ogrod Saski. Menerabas rasa dingin; seperti sikapmu setelah momen itu. Tapi, dari hal itu aku belajar banyak tentang move on. Tentang melanjutkan hari-hari tanpa kehadiranmu.

Aku sudah membaca sikapmu tidak berapa lama sebelum hari itu datang. Kamu yang mulai beralasan mendapat pekerjaan penuh di pusat kota dan ingin berpisah flat denganku. Aku, sih, baik-baik saja. Penghasilanku dari penjualan novel dan penulis lepas di warta ekonomi masih mampu mengakomodasi biaya tempat tinggal ketika itu. Aku hanya mengkhawatirkanmu yang mulai tampak menghindar dariku.

Nikola hafal dengan kisah perjalanan kita, gadis yang entah bagaimana bisa masuk di antara hubungan ini sebagai teman yang tahu segalanya. Aku selalu bercerita tentangmu kepadanya. Mungkin kamu pun juga melakukan hal yang sama. Nikola selalu tahu caranya menyimpan rahasia.

Suatu waktu, tiga tahun setelah kepergianmu mulai menghadirkan kekosongan pada inti perasaanku, Nikola—menggunakan mantel tebal berwara keabuan—datang mengetuk pintu flat sewaanku di pinggir kota Warsawa. Saat itu, aku sudah bekerja sebagai tim auditor di sebuah jasa keuangan yang berbasis di kota Industri ini. Lingkungan di Ochota yang memang tidak terlalu ramai ini sangat cocok denganku.

Arlojiku menunjukkan pukul sepuluh pagi dan di luar salju bulan Desember menghantam tanah dengan lembut dan kemudian terus menumpuk. Hari itu hari Minggu.

“Hei, Nik—“

“Ri, ada yang ingin kubicarakan.”

Nikola menyela dengan cepat sebelum aku bisa menyelesaikan kalimat. Gadis itu masuk melewatiku dengan cepat dan menggantung mantelnya di hanger ruang tengah. “Salju di luar cukup tebal. Aku harus mengambil jalur alternatif. Hala Kopinska nyaris takbisa dilewati..”

Wajahnya putih pias, khas gadis Polandia, tampak seperti merindukan hangat matahari yang panjang. Dia mengambil posisi di sudut sofa dan menggerai rambut merah jahenya yang sepunggung itu. Hari ini, Nikola mengenakan sweter cokelat pohon—warna yang ada pada kedua bola mata Hana.

“Aku mau bicara soal Hana.”

Aku terperangah. Setelah sekian lama, datang tiba-tiba, Nikola begitu saja ingin membicarakanmu.

“Kau masih berkomunikasi dengan Hana?”

Aku baru selesai menutup pintu ketika dia menanyakan itu. Matanya yang biru teduh itu tajam menatapku. Seperti berusaha menusuk-nusuk kesedihan yang berdiam di sana. Nikola membuka sarung tangan hitamnya dan menyimpannya di saku celana. Aku takpeduli lagi. Di luar sana salju jatuh dengan lembut di atap-atap dan halaman rumah.

“Nggak.”

“Hana bilang sesuatu padaku sebelum dia pergi setahun lalu.”

“Apa yang dia katakan?” Aku mulai penasaran.

“Dia hanya mengatakan ‘maafkan aku’ dengan menangis. Aku sudah menanyakan kenapa, tapi dia hanya menggelengkan kepala dan berkata semua baik-baik saja.”

“Lalu, kau percaya?”

“Ya, nggaklah! Come on ...,” protesnya, “biar aku selesaikan dulu. Jangan disela terus.”

“Baik,” ujarku mengangkat kedua tangan, lalu menyandarkan tubuh di badan sofa. Nikola kini memandang meja. Lalu, ke kedua telapak tangan pucatnya sendiri. Dia menghindari mataku.

“Hari itu Hana nggak seperti biasanya. Dia lebih banyak menangis daripada bercerita. Tapi, pada suatu momen dia memberiku ini.”

Nikola menyerahkan beberapa lembar kertas yang sudah sedikit lusuh kepadaku. Kertas ini diberi klip di salah satu ujungnya sehingga terarsip dengan rapi. Kamu hanya menyerahkan rahasiamu pada dua orang di dunia ini: aku dan Nikola. Jadi apa yang tidak kuketahui, Nikola mungkin tahu.

“Apa ini?”

“Perpisahan.”

Nikola menjawab dengan cepat. Matanya terkunci pada maskot Lech Poznan di atas meja. Dia masih menghindari mataku. Detik ke detik.

“Dia ... bilang bahwa keputusan ini terlalu sulit untuk diambil, tapi dia harus melakukannya.”

“Tapi, mengapa harus diam-diam? Hana nggak pernah seperti itu sebelumnya.”

“Entahlah. Aku hanya diminta menyampaikan surat itu padamu dan menceritakan apa yang kami obrolkan.”

Aku menatap lembaran kertas binder itu. Tulisan khas-mu yang sering kuledeki seperti tulisan dokter, hanya saja di kertas ini tulisanmu sedikit lebih rapi. Namun, ada yang lain. Tampak ada yang aneh dengan goresan penamu. Tampak seperti kamu begitu bergetar ketika menuliskannya.

“Dia pulang ke Indonesia, kan?”

Ada getar di bibirku ketika menanyakannya. Tidak, tidak ada air mata yang jatuh. Cuma seharusnya aku percaya sedari awal kamu memang pulang tanpa pamit denganku. Ini seperti bukan kamu. Selama ini aku berpikir bahwa kamu mungkin singgah di kota lain untuk sementara waktu dan akan kembali nantinya.

Nikola tidak menjawab apa-apa. Dia beranjak dari sofa dan kemudian mencari-cari sesuatu. Keengganannya menjawab adalah “ya” untukku.

“Punya teh?”

Aku menunjuk ke ruangan di belakangnya. “Di lemari atas. Cangkir juga di situ. Gula di bawahnya, toples kecil berwarna biru.”

Nikola berjalan dengan gontai ke arah ruangan yang kutunjuk—dapur. “Kau tahu, perasaan Hana tentangmu?”

Pertanyaan dadakan terlontar dari bibir tipis Nikola yang hari ini seperti apel busuk—kering. Aku terperanjat. Di antara sesak yang meranggas dadaku, pertanyaan perihal perasaan membuatnya meledak-ledak seperti bom. Aku tahu, tetapi hanya meragu.

“Hana tidak pernah benar-benar mengatakannya?”

Nikola membalikkan badan sembari memegang cangkir tehnya. Hangat yang mampu meredakan udara dingin. Pemanas ruangan yang menyala seakan tidak mengobati apa pun sesaat mendengar apa yang Nikola tadi katakan. Nikola tampak sedikit murung dan tidak fokus.

“Aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran kalian berdua. Semuanya jadi rumit. Aku yang menjadi teman pendengar saja sampai harus bilang kayak gitu, loh. You two make this so complicated.

“Ya, mungkin karena aku yang terlalu cepat mengatakannya.”

“Untuk kebaikanmu, move on segera!” tukas Nikola. “Fight for her or let her go. Don’t hold yourself. It’ll kill you. Over and over. Believe me.

Nikola dengan tegas mengatakan aku harus memilih untuk memperjuangkan atau melepaskan. Bila tidak, itu hanya akan menyiksaku. Lagi dan lagi.

Bahkan setelah setahun kepergianmu, kamu masih saja menyimpan teka-teki yang harus kupecahkan. Aku tidak mampu berpikir apa-apa saat ini. Kedatangan Nikola yang tiba-tiba seperti membuat segalanya tampak berbeda.

“Baca isi kertas itu baik-baik. Bila kau butuh teman cerita, kau tahu di mana menemukanku.”

Tak berapa lama kemudian, Nikola pergi dari rumahku. Dia bilang mau kembali ke kafe Hogsmeade karena ibunya akan pergi malam ini sehingga dia harus stand by di sana. Sebelum menghilang dari pandangan, Nikola memberiku pelukan paling dalam dan hangat. Seakan tanpa bicara, gadis itu menginginkanku untuk bisa menyelesaikan semua urusan perasaan ini.

Dan, itulah yang kulakukan. Aku meraih tas slingbag di sofa, memasukkan lembar kertas itu, dan mengambil sweter tikus mondokku dan mantel dari balik pintu. Taklupa merapatkan syal abu-abu di leherku. Bila bukan kafe Hogsmeade, sebuah tempat yang tenang di Warsawa adalah pilihan terbaikku untuk melewati hari ini: Perpustakaan Warsawa.

 

 

|Warsawa, 2016|

Karya : Muhammad Ariqy Raihan