3.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
3.0

Aku melemparkan kunci mobil ke atas sofa di ruang tamu. Map cokelat dan surat tadi kuhempaskan ke atas meja kaca dekat sofa yang berwarna cokelat pohon itu. Pikiranku sulit menerawang lebih jauh lagi. Sejak pulang seminggu yang lalu dari Yogyakarta, pikiranku takpernah beranjak dari kenangan di masa silam denganmu.

Setiap waktu. Semua tempat dan jejalanan yang kulewati di segala rutinitas yang kulalui kemarin, hari ini, dan setelahnya, semuanya mengingatkanku tentangmu. Mungkin benar, jika seorang manusia punya perasaan yang kuat terhadap seseorang, dia cenderung untuk memfokuskan pikirannya terhadap orang tersebut.

Sepulang dari Yogyakarta, aku memutuskan untuk tidak berlarut perihal ketidakhadiranmu saat kunjungan terakhirku. Setelah seharian di perjalanan menuju ke tempat itu, lalu langsung kembali ke Jakarta—rumahku di Sentiong (Jakarta Pusat), rasa lelah membuatkku ingin selonjoran saja di atas sofa. Mencari momen yang tepat untuk memejamkan mata. Sayangnya, kenanganmu ternyata lebih kuat. Seperti saat ini.

Di jantung Warsawa, di sebuah ruang terbuka seberang dari Warszawa Centralna—stasiun besar di pusat kota—kita pernah sama-sama berteriak seperti orang bodoh karena bisa melihat salju pertama kalinya delapan tahun lalu. Setelah bosan berteriak, kamu menarikku ke arah belakangmu, singgah di taman yang lain: Szczesliwicki. Menyewa sepeda mengelilingi taman dan berhenti di tepian kolam. Duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang.

Menjelang natal, suhu bisa mencapai hampir nol derajat, meskipun matahari masih terlihat. Melalui musim dingin yang panjang dengan berbagi flat—selain menekan biaya, semua teman di sana mengira kita adalah saudara—dan mencipta kehangatan dengan membakar kayu-kayu. Kita menyewa flat di distrik Ochota, pinggiran kota Warsawa agar tidak terlalu terganggu hiruk pikuk pusat kota. Flat kecil, mirip seperti di serial tv Sherlock Holmes.

Kita berkuliah di universitas yang sama. Universitas Warsawa. Aku hanya tidak ingin merasa jauh darimu di negeri yang sama. Setidaknya bersamamu adalah hal yang kuinginkan selepas lulus sekolah dulu.

Satu hal yang kita suka ketika musim dingin tiba: menengok salju dari balik jendela. Bila kuat kita akan turun ke pinggir jalan, membuat boneka salju kecil-kecilan. Segerombolan anak-anak pasti akan lewat dan tertawa ketika melihatnya. Sesekali memberi kita saran yang terkadang membuatku ingin menggaruk kepala yang tidak gatal.

Pengalaman itu takkan pernah kudapatkan di Indonesia. Di hari itu, aku mulai menemukan pecahan puzzle dari teka-teki rasa yang kurasakan semasa SMA dulu. Bahkan, dengan terbitnya novel Teka-Teki Rasa oleh Ahimsa Azaleav (penulis muda Indonesia) setahun lalu, aku semakin yakin tidak sendirian merasakan kegelisahan yang sama. Ilham, sahabat lamaku menyarankan novel itu karena adiknya merupakan teman dekat sang penulis.

Tiba-tiba, ponselku di saku celana berdering. Dari Indah, rekan kerja di kantor baruku,

“Ari, hari pertama kerja nanti jangan lupa siapin baik-baik presentasimu.”

“Oke,”

“Pak Ilham memintaku untuk mengingatkanmu ....”

“Terima kasih sudah mengingatkan.”

“Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?”

“Aku ... ya, baik-baik saja. Jetlag suasana. Biasalah. Nanti juga terbiasa.”

Indah menutup telepon dan kesepian kembali menguasai. Gadis itu adalah teman lamaku dari Warsawa dulu. Kami berada di kelas yang sama. Aku dan dia mengambil jurusan ekonomi, sementara kamu mengambil jurusan bahasa. Aku pernah mengataimu gila karena langkah yang kamu ambil adalah sebuah kesalahan mengingat rendahnya minat profesi pascalulus dari jurusan itu di Indonesia.

Atau mungkin kamu berniat menetap di sana? Atau jangan-jangan ....

Pikiran tentangmu mulai menyerangku lagi. Sementara Ilham sudah menitahkan Indah untuk mengingatkanku, mau tidak mau aku iyakan saja. Ilham termasuk sedikit dari orang yang bisa kupercaya selama ini. Mengingat dia adalah salah satu sahabat terbaikku dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Maka, ketika aku meneleponnya perihal kepulangan ke Indonesia, dia langsung menawari sebuah pekerjaan tetap di perusahaan eksportir sepatu miliknya di Jakarta. Dia menawariku pekerjaan sebagai manajer keuangan di perusahaan itu. Tentu saja aku juga langsung menerimanya.

Rasanya seperti dipersatukan oleh takdir. Ilham, Indah ... semua orang di masa silam berada di satu atap yang sama.

Aku iseng menggeser layar ponselku dari atas ke bawah, memeriksa folder-folder yang tersimpan di memori internal. Pandanganku terkunci saat jariku menekan sebuah rekaman suara yang tersimpan di folder MP3.

“Aku lebih suka musim panas.”

“Kenapa begitu? Kupikir kamu pencinta salju garis keras.”

“Kamu pikir aku pendukung Legia Warsawa, apa?”

“Aku sih Lech Poznan ....”

“Sialan! Haha! Ya, di musim panas kita nggak perlu repot-repot pasang pemanas ruangan. Aku tinggal duduk santai, pakai celana pendek dan kaus tipis. Santai sekali. Dan eh ... jangan berpikir macam-macam, kamu!”

“Nggak, My Lady. Kamu nggak akan segan menghabisiku untuk itu. Terserah kamu sajalah. Panas atau dingin, aku tetap saja jomlo.”

Aku tertawa sendiri mendengar rekaman ini, yang kuambil saat tahun pertama kita kuliah dulu. Aku selalu merekam tetiap pembicaraanku denganmu. “Untuk apa?” katamu ketika pertama kali aku merekamnya. “Dijadikan bahan tulisan suatu hari nanti,” balasku santai.

Padahal, ketika itu aku sudah maju berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan benar-benar kehilanganmu, jadi untuk berjaga-jaga aku merekamnya. Tak kusangka, bahwa ternyata semua itu mewujud nyata.

“Ar, bagaimana sejauh ini menurutmu? Apakah kita mengambil langkah yang salah dengan pergi ke negara ini?”

“Salah kenapa? Kamu memimpikan kota dan negara ini sejak lama.”

“Tetapi ini bukan pilihan nomor satumu.”

“Lantas? Santai. Aku selalu menemukan alasan untuk segala sesuatu. Meskipun awalnya aku tidak tahu alasan apa yang kupunya.”

“Tapi, aku seperti memengaruhimu ke sini. Padahal kamu bisa memilih Amsterdam, Edinburgh, atau kota lain yang sudah kamu rencanakan. Kamu nggak perlu menganggap serius pesan ayah dan ibuku untuk menjagaku di sini.”

“Hei, nggak ada satu orang pun yang memaksaku untuk memutuskan sesuatu. Kamu punya rencana, begitu pun aku. Dan ternyata, takdir memberitahuku bahwa Warsawa tidak akan terasa beda dengan kota-kota lain di dalam rencanaku. Lagipula nggak ada salahnya aku menganggap serius pesan itu.”

Rekaman itu terjeda untuk beberapa detik. Aku sedikit terkejut. Memoriku tidak mengingat dengan jelas keseluruhan kenangan percakapan itu. Ketika kulihat layar ponselku, rekaman itu ternyata masih berjalan.

“Nanti malam kita masak indomi saja bagaimana? Aku rindu makanan itu. Kemarin Ibu kirim dua dus. Butuh dua bulan untuk sampai ke sini.”

Rekaman itu pun selesai. Aku terdiam sesaat. Aku tahu kamu mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dari perkataanku di rekaman tadi. Kamu tiba-tiba membelokkan percakapan itu. Sial, aku memang bodoh, ya?

Satu hal yang baru kusadari sekarang kamu tak pernah menyanggah perkataanku soal menyeriusi pesan ayah dan ibumu. Mengapa aku tidak menyadarinya dulu? Dan sekali lagi, ingatan tentangmu terus-menerus terbit di kepala sampai rasanya begitu berat. Malam mulai menyergapku dengan dinginnya yang menusuk. Pilihan terbaikku saat ini adalah menikmati kasur untuk menyambut hari esok yang rasanya akan sama saja dengan hari ini.

  • view 45