2.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

4.1 K Hak Cipta Terlindungi
2.0

“Edinburgh.”

“Warsawa.”

“Amsterdam.”

“Warsawa.”

Aku mengernyit. Kamu selalu menyebutkan kota yang sama.

“Nggak punya pilihan kota lain?”

Protesku yang diiringi dengan tawamu yang renyah itu. Wajahmu sungguh menyebalkan ketika itu. Di bangku kayu depan kelas kita sepulang sekolah, kamu menantangku untuk menyebutkan kota-kota dari negara yang kelak ingin disinggahi. Bila perlu, dituju untuk melanjutkan kuliah. Impian kita sama: menjejakkan kaki di negeri orang untuk meneruskan pendidikan tanpa biaya orangtua.

“Warsawa selalu menarik perhatianku. Dari namanya yang aneh, bahkan cenderung mirip dengan kata yang pernah diucapkan si Buyung itu,” tunjukmu ke arah lelaki gemuk dengan rambut cepak di seberang bangku sana—asalnya dari Sumatra Barat, “dan karena aku punya sahabat pena di sana, tentu aku kepingin ketemu sama dia.”

“Lalu aku bukan sahabatmu?”

“Halah, cemburuan!” gelakmu sembari menoyor kepalaku. Kita suka melakukan hal ini, duduk-duduk depan kelas membicarakan apa pun kala terlalu malas untuk langsung pulang ke rumah.

“Jadi, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti?”

Kamu menerawang, “Apa ya ... aku ingin sekali ke Warsawa, masalah jurusan kuliah aku bakal periksa beasiswa yang kutuju, menyediakan fasilitas ke jurusan apa saja. Nanti aku bisa cocokkan dengan minatku. Ayahku pensiun tahun depan, mungkin dari sekarang pun kami sudah akan siap-siap pindah.”

“Rencana yang besar.”

“Nada suaramu tidak begitu senang. Bagaimana denganmu?”

Aku pura-pura memasang wajah sedih. “Masih belum tahu. Ibu pasti akan mempertanyakan alasan memilih Warsawa, walaupun nanti kukatakan akan bersamamu, tentu saja Ibu akan menganggapnya alasan konyol. Dan, ya, karena dalam rencanamu itu tidak ada pilihan menetap di Jakarta jadi bolehlah aku sedih sedikit.”

Lebay!” gelakmu lagi. Aku menyeringai dengan wajah yang dirupakan seburuk mungkin.

“Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Enam belas tahun kita saling mengenal. Dari zaman bayi imut sampai amit-amit. Dan sekarang kita sudah sampai di sebuah titik di mana kitalah yang akan memutuskan masa depan sekarang. Aku bisa membayangkan tanggung jawab yang bakalan datang di kemudian hari.”

“Sok visioner nih,” sorakmu, “putuskan masa depan boleh. Tapi penting juga memikirkan masa sekarang. Anggap saja masa depan adalah laptop yang hendak kamu beli dan tentu kamu akan menyelidiki spesifikasi mana yang kamu inginkan. Namun, di sisi lain penting untuk memikirkan caramu membeli, caramu mengumpulkan uang untuk membelinya.”

Aku hanya membentuk mulutku serupa huruf “O” dan tentu saja itu membuatmu kesal. Masa abu-abu tinggal hitungan beberapa bulan lagi akan terlepas. Dan setelahnya, masih terasa buram untukku. Dan juga untuk perasaanku. Karena entah bagaimana, aku merasa bahwa persahabatan ini sudah keluar dari zona yang telah disepakati.

Entahlah, mungkin aku saja yang terlalu berasumsi. Namun hari ini, aku bisa memastikan bahwa perasaan itu nyata hadirnya. Sementara orang di sampingku ini, gadis berambut merah yang selalu menjadi pusat perhatian di sekolah—karena jago basket dan kecantikannya—seolah-olah sudah mengetahui masa depan yang akan dihadapinya.

Sekolah sudah semakin sepi. Menyisakan anak-anak kecil, tebakanku anaknya salah satu penjual kantin yang sedang bersiap-siap pulang, dan Mang Jui si penjaga sekolah yang logat sundanya khas sekali.

Kamu beranjak dari dudukmu dan berjalan ke arah gerbang. Dari kejauhan suaramu yang lantang memberi salam dari kejauhan. Aku tersipu melihat itu. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi padaku sebelumnya. Tersipu malu oleh Hana? Mungkin aku sudah gila.

Ah, masa bodoh. Nikmati saja hari ini.

 

 

Jakarta, 2009

  • view 150