1.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

4.2 K Hak Cipta Terlindungi
1.0

Empat tahun lalu, di tengah musim dingin yang mendera jantung Warsawa, aku mengatakan semua yang lama memupuk di inti perasaanku padamu. Dengan senyuman pahit dan tanpa air mata, kamu mengatakan “tidak” dan memilih untuk pergi. Kamu berlalu dan merah rambutmu yang tergerai indah itu masih terngiang di dalam pikiranku. Udara dingin—dan salju—sekejap menyergap tanpa henti dan membuatku beku.

Hari ini, aku kembali bertamu lagi ke sini—Yogyakarta. Seperti yang kerap kulakukan sebelum Warsawa, sebelum kamu menganggap hubungan kita sudah terlewat serius. Ruang tamu ini seperti rumah sendiri; enam belas tahun aku selalu dibawa ke sini setiap lebaran dan akhir tahun oleh Ayah dan Ibu, setiap tahun aku menikmati senyum dan tawamu. Dari mulanya karena kita sama-sama senang punya teman bermain, sampai-sampai kita sama-sama menyadari ada yang berbeda di antara hati masing-masing.

Rasanya Jakarta dan Yogyakarta bukan lagi sebuah jarak yang perlu dikeluhkan. Karena bagiku, bagi kita, tiada rumah yang lebih baik daripada waktu-waktu yang dilalui bersama.

Kamu belum juga keluar dari kamar. Tadi, setelah ketukan ketigaku di pintu rumahmu, sesosok perempuan lewat paruh baya membukakan pintu dan wajah itu meyeruakkan kenangan lama: wajah yang terakhir kali kulihat delapan tahun lalu. Saat sama-sama meminta restu untuk meneruskan kuliah di Warsawa—sesuatu yang kamu juga lakukan ke ayah dan ibuku. Dan perempuan itu yang kemudian memaksaku mengeluarkan lembar-lembar kenangan silam dari laci memoriku.

Musim dingin selalu datang di pertengahan Desember. Aku mengingatnya, tanggal 21. Di tanggal itu kamu memutuskan untuk benar-benar tidak bicara padaku lagi. Sampai akhirrnya, beberapa bulan kemudian kamu benar-benar menghilang.

Dua jam aku menunggu dan sepi terus merambati rumah ini. Tak ada yang beda dengan hidup yang kujalani selama empat tahun belakangan ini. Empat tahun setelah dingin membekukan tubuhku—juga hatiku. Bagaimana rupamu sekarang? Dulu, kamu suka sekali menggunakan mantel cokelat tikus mondok dan kupluk dengan warna yang sama.

Kamu suka istilah tikus mondok karena kamu terinspirasi dari J.K Rowling yang kerap menyelipkan kata itu di dalam novel favoritmu, Harry Potter. Oh, dulu sekali, kita pasti akan membicarakan novel itu sampai berjam-jam di kafe Hogsmeade—kafe milik orangtua Nikola, gadis Polandia teman kuliah kita sesama pencinta Harry Potter. Aku suka caramu menyembulkan poni cokelat itu melalui kupluk, dengan cabang rambut di sisi telingamu. Aku suka caramu tersenyum dan menggosokkan tangan ketika ingin mencipta kehangatan sesaat.

Bukankah perasaan itu tumbuh dari hal yang sederhana? Hal-hal yang terkadang luput dari pandangan, namun bila kauperhatikan saksama, kau akan menyesal telah melewatinya.

Aku berulang kali mengecek arlojiku. Dua jam lima belas menit dan kamu takjua keluar dari kamar. Aku sudah menyelesaikan rangkaian kegiatan sederhana di ruang tamu ini: menatapi foto-foto keluarga besarmu yang tergantung di dinding tua rumahmu, foto-foto ketika kamu wisuda kuliah (aku mengenali toga yang kamu kenakan), dan foto ayah dan ibumu di sebuah tempat wisata—entah di mana.

“Nak Ari, maaf, ya, jadi nunggu lama,” ujar ibumu saat mengantarkan teh satu setengah jam yang lalu.

“Oh, nggak apa-apa, Bude. Biasalah wanita, dandannya lama.”

Ibumu menemaniku bicara di satu jam pertama. Dia membuatkanku teh saat sadar kami terlalu larut dalam kenangan silam sampai lupa menyediakan minuman. Mungkin dia lupa, bahwa dulu selama enam belas tahun aku bisa mengambilnya semauku. Persahabatan keluarga kita memang sudah lama terjalin hingga kini—meskipun aku sudah tidak kemari lagi sejak Ayah dan Ibu meninggal.

“Ibu sama Ayah dimakamkan di mana?”

Tiba-tiba ibumu duduk kembali di sampingku. Senyum dan tatapan teduhnya mengingatkanku padamu. Meskipun kerutan di wajahnya menunjukkan betapa lamanya dia mengarungi kehidupan ini.

“Di Karet, Bude. Masuknya dari pintu di seberang City Walk.”

Aku duduk sembari memegang kedua lututku. Hal yang kerap kulakukan saat bosan mendera.

“Maaf, Bude belum sempat ke sana. Kalau kamu nggak kasih tahu mungkin Bude juga nggak akan pernah datang ke sana.”

Aku tersenyum. “Nggak apa-apa, Bude. Aku sudah senang, kok, dapat belasungkawa dari Bude.”

“Sejak kamu—“ tetiba ibumu menghentikan perkataannya untuk beberapa detik, “sejak Hana bilang kalau dia sudah nggak akan ketemu kamu lagi. Bude pikir kamu ribut dan semacamnya. Masa iya, sahabat ribut dan sampai nggak mau ketemu lagi?”

Perkataan Ibumu barusan begitu menohok. Sudah sejauh mana kamu cerita tentang kita? Jangan-jangan kamu cerita soal kejadian di taman Warsawa empat tahun lalu? Pikiranku mulai beterbangan ke mana pun ia ingin menuju. Dan muara favoritnya tentu saja kenangan tentangmu.

“Biarkan saja hal itu berlalu, Bude. Aku baik-baik saja, kok.”

Dan senyum yang kuulas nggak akan pernah bisa membohongi hatiku sendiri—walaupun mempan kepada orang lain.

“Bude, Hana ke mana, ya? Sudah hampir dua jam.”

Kealpaanmu menjadi tanya yang mengakar di kepalaku. Seperti ada yang salah. Ya, pasti ada yang salah. Ibumu tergugup seperti orang salah tingkah.

“Ngg ... tadi, sih, ada di kamar. Coba Bude tengok lagi.”

Ibumu mengetuk pintu kamarmu (lagi) tiga kali. Tidak ada sahutan. Ia mengulanginya lagi. Nihil.

Dalam sekejap aku paham. Ya, mungkin kisah kita yang usai rupanya masih berlanjut. Meskipun detik sudah memilin dirinya ratusan ribu kali dan ribuan kilometer terlipat. Kadangkala, ada sesuatu yang tidak akan pernah berubah untuk waktu yang sangat lama.

Mungkin, bukan hari ini.

“Bude, kalau begitu biar saja. Mungkin, dia enggan ketemu aku. Soalnya salahku juga dadakan ngasih tahunya. Aku cuman mau main saja, mumpung liburan dan sempat ke sini. Cuman Bude orang terdekat yang kukenal.”

Aku tidak tahu entah matanya merah karena perkataanku barusan atau faktor panas siang ini, dia memelukku begitu erat. Seakan aku tidak akan pernah muncul di depan pintu rumahnya lagi.

“Bude, aku akan kembali menetap di Indonesia, kok. Setelah delapan tahun pergi, sudah saatnya aku pulang. Nanti aku akan main ke sini pas ada waktu libur.”

Aku pun pamit untuk pulang dan berjalan ke arah teras depan. Setelah memberi salam aku mengendarai mobil sewaan kembali ke hotel di Jalan Gejayan. Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta besok pagi menggunakan kereta memang akan memakan waktu lama, tapi sebanding dengan penyesalan yang selalu kudera selama empat tahun ini.

Aku menatap sebuah surat dan map cokelat di kursi sebelahku. Dan dadaku mulai berdebar riuh. Ingatan di masa silam mulai menemukan bagian-bagiannya yang telah runtuh. Setelah melewati ring road Maguwoharjo, aku menekan pedal gas lebih dalam dan kemudian tenggelam dalam perasaanku sendiri. Jakarta menjadi sebuah kepulangan yang penuh oleh pertanyaan.

Yogyakarta; langkah kepastian pada kenangan yang telah usai.

  • view 231