Psithurism

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2017
Psithurism

Hujan adalah peluru rindu. Lontar dari selongsong semesta dan menembus ruang-ruang kenangan. Memoriku menggeliat, mencari-cari hendak ke mana peluru itu melaju. Dan setelah perjalanan yang melelahkan, sampailah ia pada rak paling bawah. Jauh di bawah ruang persembunyianku. Dan peluru itu mencari kenangan lampau: kau.

Aku tersentak. Sudah tahun ketujuh dan hujan hari ini memutuskan untuk mencarimu kembali. Takbiasanya aku yang acap menikmati hujan hari Selasa di balik jendela kamar, kemudian tiba-tiba ingin pergi ke luar. Untuk pertama kali dalam tujuh tahun Selasa-ku, aku memutuskan untuk meraih peralatan menulis di atas meja dan kemudian membawanya pada sebuah kedai kopi di pinggir jalan, lima belas menit perjalanan dari rumah. Hari ini aku memutus ritual terhebat dan terpanjang; menikmati secangkir kopi hangat di kedai kopi pinggir jalan besar yang biasanya kulakukan setiap hari Sabtu.

Lalu, sore ini aku memutuskan untuk mengingatmu.

Kau seperti bidadari, mengetahui itu membuatku patah hati. Memilikimu adalah kemustahilan yang sudah dipastikan dalam selembar takdir. Kira-kira seperti itulah pendapatku tentangmu. Aku takperlu repot-repot mendeskripsikan lebih lagi. Pertemuan kita delapan tahun lalu sudah menjawab segalanya. Kita sama-sama mengenakan pakaian sekolah abu-abu. Di hari perkenalan, aku sadar debar jantung ini taklagi berdetak di irama seharusnya. Rasanya, kehadiranmu membuatnya mencari irama lain: iramamu.

Tapi, lidahku berkata lain pula. Dia memilih diam. Aku benci. Hingga setahun berlalu, akhirnya kami berdamai dan aku pun mengatakan segala dari yang meranggas dada hingga mencekat tenggorokan. Apa yang terjadi? Kau hanya menatap dengan pandangan yang menurutku adalah sebuah jawaban: tatapan enggan.

Hati ini rasanya patah. Kaubilang jika perasaanmu sudah diperuntukkan bagi orang lain. Orang yang bisa mendatangkan bahagia untukmu. Lalu, bibirku berkata bahwa lebih baik untuk tak merasa apa-apa lagi.

Kau pun melenggang pergi.

Hingga setelah tujuh tahun, datanglah hari yang kubenci. Hari di mana sebuah pesan daring di grup chatting WhatsApp SMA masuk, memberitahuku sebuah kecelakaan mobil dahsyat di jalan tol merenggutmu.

Persetan dengan takdir.

***

Sore ini mulai senyap. Setelah hari memanggil minggu, hingga bulan pun turut terpanggil, aku ingin kembali bertamu ke tempatmu. Tempat di mana kau tinggal di dalam kehidupan yang sebenarnya. Untuk itu, aku harus memastikan hingga benar-benar sendiri. Aku takingin sesiapa pun melihatku berlama-lama di sini.

Tapi ...

Apa yang kulakukan di sini? Seperti tetiba kehilangan arah. Aku takpernah diciptakan untuk bisa berada di sini. Berdiri di hadapan pualammu. Aku ditakdirkan hanya untuk mencintaimu dalam diam. Dalam doa yang terus dilangitkan sekalipun sadar bahwa sesesak apa pun dadaku kala menyebut namamu, memilikimu aku takbisa.

Tuhan, bolehkah aku menulisi takdir sendiri sekali saja?

Dan kini kaupergi. Selamanya. Tahukah betapa sakitnya itu?

Aku mencoba untuk melepaskan. Berkelana, entah ke mana rasa sakit ini membawa pergi. Sudah puluhan hujan kulewati, tapi basahnya masih saja, mengandung kenangan tentangmu. Tentang hubungan kita yang takpernah ada. Mungkin aku hanya ketiadaan yang mencuri rindu padamu. Diam-diam dengan membentang jarak yang tak disangka-sangka olehmu.

Memikirkannya saja sudah membuatku patah lagi.  Kini, di bangku kayu kecokelatan taman takjauh dari tempatmu dihantarkan ke pelukan bumi, dengan lampion berdiri di samping menemani, di antara dingin salju yang sedang takgaduh, aku (sekali lagi) mencoba untuk melepaskan.

Dari Senin, ke Selasa, hingga Senin lagi. Hingga detik-detik terus bergulir tanpa henti, aku mencoba. Tapi senyummu takmau hilang dari dalam kepala. Bayangmu terus saja berlarian di sekitarku. Tuhan, apakah boleh aku memaki diri sendiri? Aku ingin melakukannya berkali-kali, mungkin sampai mati. Sampai aku mengerti mengapa ketika dirimu sudah tiada, aku baru menyadari betapa aku kehilanganmu.

Tidak, tidak. Ini salah. Seharusnya lelakimu yang gundah dan sakit seperti ini. Bukan aku.

Bukan aku.

Tapi mengapa sulit sekali untuk menjadi setenang laut? Mengapa sulit sekali menjadi sediam malam?

Dan puluhan puisi kutulisi, tetap saja takkuat menampung kenangan tentangmu. Sehebat apa pun aku berkata, sejauh apa pun aku melangkah dengan arah yang berlawanan darimu, ternyata jalanku akan selalu menujumu. Menuju rindu yang terkubur bersama tubuhmu ke dalam cokelat tanah yang kini basah dilumuri oleh hujan.

Pun dari mataku.

 

Dari bilik matamu, kutemukan

gerimis jatuh setiap pagi; kutemukan

pula kobaran panas api membara

 

Dari bilik matamu, kutemukan

setitik bayangan diriku

perlahan memudar

dan takterlihat lagi

 

 

Selesai menulisinya, tanganku gemetaran teramat sangat. Seakan semua energi terpusat ke kedua jemariku. Menjalar ke dalam pena dan tumbuh subur menjadi kata-kata lirih, memanggil-manggil kepergianmu yang masih hangat itu. Bahkan lelakimu pasti tak merasakan seperti ini. Ah, dia hanya menawarkanmu bahagia dunia saja—semu.

Bahagia itu ialah saat dua perasaan menyatu dalam naungan rindu. Disiram oleh ketulusan sehingga tumbuh subur dan indah menjadi bebungaan. Seperti itulah bahagia. Seperti itulah cinta saat kita ditakdirkan bertemu namun tak menjadi satu. Aku dengan kesendirianku dan kau dengan ketidaktahuanmu perihal aku.

Bukan perihal aku menyukaimu—itu kau tahu, tapi perihal bahwa sekalipun almanak terus berganti hingga tahun ketujuh, hingga berita kepergianmu sampai ke daun jendelaku, aku masih saja mencintaimu. Bahwa aku sepatah ini kehilanganmu. Apakah jauh di dalam hatimu sebenarnya kau sudah melupakanku? Atau alih-alih memikirkannya walau hanya sedetik?

Entahlah. Berharap itu rasanya seperti menunggui sesuatu yang takpernah datang. Sesuatu yang takpernah sampai. Apakah jangan-jangan kau selama ini menunggui diriku? Atau jangan-jangan selama ini kautahu jika perasaanmu salah dan harusnya akulah yang ada di dalamnya?

Mengapa aku terus saja bertanya-tanya?

Kala sore hari datang, hujan kembali turun. Petrikornya memelesat memasuki hidungku. Menemani hangatnya kopi. Rasanya menjadi sedikit tenang. Aku memejam mata. Semua gelap.

Lalu terang.

Tunggu, di mana ini?

Aku mencium aroma air asin. Dan suara riuh yang tak asing di telinga: deburan ombak. Aku membuka mata. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar, telingaku tidak salah. Hidungku tidak kelainan. Pelan-pelan aku melangkah, meningkahi pasir, menuju bibir pantai. Sekelebat, sesuatu seperti menusuk kepala. 

Lalu, semua kembali tenang.

Seorang gadis sedang duduk di bibir pantai itu. Mengenakan gaun putih, rambut kemerahan yang kian jelas setelah terpapar sinar matahari sore ini. Aku tidak tahu siapa, tapi hatiku berkata bila aku harus pergi menghampirinya. Dan itulah yang kulakukan saat ini.

Gadis itu kini tepat di hadapanku. Aku meletakkan telapak tangan di bahunya. Dia menoleh dan tersenyum.

Hatiku patah. Gadis itu kau. Lalu, semuanya menggelap kembali.

***

Aku terbangun dengan peluh bercucuran membasahi wajah hingga baju yang kukenakan. Napasku sedikit terengah-engah. Tadi ... pasti mimpi buruk .... Entahlah, rasanya tiga hari ini berlalu bagaikan malam tanpa rembulan dan sunyi senyap. Sulit untuk membedakannya lagi. Dadaku bergemuruh. Laiknya ada rasa bersalah yang menggenapi kehilangan.

Apakah pernyataan perasaanku tujuh tahun lalu membuatmu tak menjalani hubungan yang dalam dengan lelakimu? Kudengar, kau takbenar utuh bahagia dengannya. Jikalau iya, itulah rasa bersalah yang menggentayangiku saat ini.

Maafkan aku, Rie.

Maaf.

Ah, maaf mungkin takkan cukup untukmu. Perihal kau harus hidup dengan mengetahui perasaanku, sementara aku takpernah membuat sebuah keputusan yang benar. Mungkin bagimu salah, tapi untukku itu cukup. Aku terlalu takut melawan takdir.

Atau mungkin aku yang terlalu jatuh padamu?

Setahuku, takdir adalah sebuah garis yang sudah ditetapkan, bahkan sebelum ruhku ini bersemayam dalam tubuh. Dan seperti tinta yang melekat pada lembar-lembar kertas, takdir takbisa dihilangkan atau diperbaiki sebegitu mudahnya. Itulah mengapa, aku takbenar melipat jarak menujumu.

Aku tahu bukan aku yang pantas untukmu. Kesederhanaanku takkan memberimu apa pun kecuali bahagia yang utuh. Tapi, kupikir bukan itu yang kaucari. Cukup dengan omong kosong bahwa hati perempuan terbuka untuk sesiapa saja, asal mau berani memasukinya. Bagaimanapun juga, kalian, kau, tetap mencipta pilihan perihal siapa saja yang boleh singgah di dalamnya. Lalu di antara tamu yang beruntung itu, dialah yang akan memilikimu sepenuhnya.

Bahkan, aku takpernah hadir di kedua bola matamu. Sekali lagi, mungkin aku hanya ketiadaan yang mencuri rindu padamu.

Hingga suatu hari, kawanku berkata bahwa perihal jodoh adalah takdir ikhtiari, sebuah takdir yang hadir karena usaha. Karena tindakan. Sedalam apa inginku untuk tak menguap menjadi angan, seperti kopi hangat dengan kepulan asap yang makin lama akan segera memudar. Di saat itulah kopi hilang kenikmatannya. Di saat itulah harapanku akan memudar jika aku berdiam diri saja. Tapi, nyatanya Tuhan berkelakar. Kala kuputuskan untuk membuat sebuah langkah, Ia memanggil kau kembali ke peraduan-Nya. Ia mengirimmu ke dalam basah tanah yang semakin lumur oleh deras hujan dari mataku. Dari mata penghuni langit yang menemaniku sesorean ini di hadapan pualammu.

Oh, kau. Aku ingat betul senyum itu kala kita berpapasan di koridor A, kala sama-sama kerap mengunjungi rak sastra di perpustakaan, kala kau duduk-duduk di taman depan kampus. Pun kala kau bersisian dengan lelaki lain. Aku ingat betul senyum-senyum yang takpernah tertuju padaku. Entah bagaimana, aku bisa melihatnya dan berasumsi jika itu untukku.

Sekali lagi, mungkin aku yang terlalu jatuh padamu.

Sajak Pablo Neruda, Sapardi, takkan melebihi perasaanku padamu. Ribuan puisi yang kutuliskan untukmu kini hanya memenuhi dinding-dinding kamar yang kian dingin. Seperti telapak tanganmu di hari kaupergi meninggalkanku. Seperti wajahmu, pucat pasi, bibirmu yang membiru, dan semua puisiku yang takkan hangat lagi selamanya.

Tentangmu, terus berkelindan di dalam ruang pikiranku. Tuhan, bolehkah aku menyusul?

Dan lagi, Tuhan hanya diam saja. Dibiarkannya aku tersuruk dalam kubangan lumpur. Ditambahkannya deras hujan hingga akhirnya aku berpasarah menunggu derai berhenti. Menunggu aku mati. Tapi, Tuhan tak mengizinkan pula aku pergi menyusulmu. Lalu, mengapa kehilanganmu aku sepatah ini? Sehancur ini? Padahal tak sekali pun aku pernah memiliki hatimu. Tak sepercik pun tempiasku pernah melekat di dadamu. 

Tak beberapa tetes tinta abadi mengukir namaku di ruang perasaanmu.

Tak sedetik pun ada aku di ruang pikiranmu.

Tapi mengapa aku sesesak ini?

Dan malam pun kian lalu. Aku tetap bisu. Jatuh dalam puisiku sendiri yang semakin patah, menjadi keping-keping kenangan yang tak utuh lagi. Dan untuk itu, aku membusuk di sini. Tanpa tahu, jika ternyata umurku tak sependek ini dan aku taklagi menginginkannya. Mungkin secangkir kopi hangat bisa menjadi pertemuan terakhir sebelum aku bertemu dengan-Mu selepas menyesapnya habis.

Tuhan, bagaimana menurut-Mu?

 

 

SELESAI

 

  • view 196