Lelaki yang Membenci Wajah

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
Lelaki yang Membenci Wajah

Apa gunanya wajah jika hanya menjadi siluet kemunafikan?

Pada suatu waktu, Nizam mempertanyakan Tuhan mengapa dia diberi wajah. Alasannya sederhana, jika memang dia diberi wajah untuk bisa menarik perhatian wanita, dia akan bersyukur. Jika dia diberi wajah agar orang-orang tahu Nizam adalah seorang yang baik hati tanpa berbuat suatu kegiatan amal, dia akan bersyukur. Tapi kali ini, Nizam muak jika semua orang berpaling darinya.

Dua hari yang lalu, Nizam mendatangi Lasri. Gadis desa yang menjadi incaran semua lelaki yang ada di sini. Badannya aduhai, Nizam selalu menelan ludah ketika dia lewat. Matanya biru walaupun kulitnya sedikit legam. Rambutnya panjang dan sedikit ikal. Sesepuh bilang, tiga puluh tahun lalu pernah ada beberapa orang asing, berbahasa asing pula, dan berkulit putih tinggal di sini.

Katanya, mereka hendak mengajarkan sebuah bahasa baru. Entahlah apa itu. Namun kegiatan itu urung dilakukan, alih-alih mereka memohon tinggal di sini untuk beberapa bulan. Pada suatu waktu, seseorang di antara mereka yang paling tampan jatuh cinta pada seorang gadis di desa ini. Mendengar kisah itu Nizam tergelak. Mana ada orang asing bisa menyukai gadis desa ini.

“Hai, Lasri. Mau ikut ambil air ke sungai? Aku butuh teman,” ucap Nizam. Lasri menatap Nizam dengan enggan.

“Tidak, kau pasti ingin memerkosaku.” Lasri berlalu tanpa memperhatikan Nizam. Sepertinya dia takut melihat wajah Nizam.

Dan ucapan itu membuat Nizam naik darah, tapi kemudian dia memilih bersabar. Lasri adalah gadis yang dicintainya. Apa yang dia lakukan tiga tahun lalu memang sebuah kehinaan tapi, Lasri terus mengingatnya hingga kini. Nizam kembali teringat cerita sesepuh.

Kata Sesepuh, dia pun tidak tahu soal kisah percintaan itu. Warga desa terlampau senang dengan kehadiran orang-orang asing itu dan mereka tidak acuh pada sebuah titik mati; percintaan orang asing dan gadis desa ini. Peraturannya jelas, desa Nizam yang terletak jauh dari hingar bingar kota, melarang untuk adanya pernikahan di luar desa. Jelas-jelas apa yang mereka lakukan salah. Tapi keduanya tak acuh.

Sampai-sampai Sesepuh menemukan mereka sedang bercinta di dalam rumah milik wanita itu pada suatu malam, dan ia marah besar. Keesokan harinya dia mengusir para orang asing itu, dan bersumpah takkan ada satu pun dari mereka dan kaum sejenisnya bisa menginjakkan kaki di tanah ini. Lalu gadis desa itu kemudian hamil dan melahirkan seorang gadis: ibu Lasri.

Nizam membayangkan bagaimana rasanya berbuat sesuatu hal yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah itu. Dia membayangkan jika dia melakukan itu dengan Lasri.

***

Tiga tahun lalu, Nizam adalah seseorang yang dipandang di desa. Wajahnya adalah impian para kembang desa, badannya tegap dan tangguh, semua wanita menyukai Nizam. Orangtuanya sudah meninggal, dan atas dasar adat desa yang menghormati orangtua Nizam sebagai Sesepuh, tepat ketika Nizam berusia dua puluh satu, dia menjadi salah satu anggota dewan desa. Tugasnya pun sederhana, mengatur keuangan yang berasal dari penggarapan tanah desa itu.

Selain hasil kebun, desa Nizam terkenal dengan aturan-aturan tradisionalnya yang melindungi harga diri penduduknya. Jika ingin uang maka berusahalah dan jadi jujur, jika ingin bercinta maka dekati dan dapatkan persetujuannya. Jangan sampai, sekalipun seorang tersohor punya kuasa, dia bisa bebas berbuat kehendaknya.

Nizam seorang yang cakap. Berbekal tiga tahun tinggal di kota kecil sebagai buruh, Nizam mencoba menerapkan ilmu-ilmu yang sudah didapatkannya. Tapi di balik itu, Nizam sangat menyukai kebebasan hidupnya.

Nizam seringkali menjebak gadis-gadis yang menyukainya untuk memuaskan hasrat dirinya. Tidak ada yang tahu. Nizam mengancam jika ada yang membocorkan, dia akan membunuh mereka.

Hingga akhirnya, seseorang sudah muak acap dijadikan mainan oleh Nizam, dia nekat melapor pada Sesepuh. Tak disangka oleh Nizam, dia kedapatan sedang mempermainkan seorang wanita lain di tengah hutan.

Desa tak menoleransi. Nizam dihukum cambuk di hadapan warga desa. Nizam menangis. Nizam malu. Seorang Nizam berubah seperti bayi yang rapuh! Rasa sakit yang taktertandingi membuat Nizam ingin mati saja karena tidak mungkin dia pergi. Pada saat itulah, Nizam kemudian merobek wajahnya sendiri.

***

Nizam mengambil sebuah pisau dari dapur miliknya dan bergegas ke danau di sisi kiri desa. Dia membuhul kail pancing di punggung, dan meletakkan pisau itu di saku celananya. Di danau takjauh dari belakang rumahnya, Nizam memancing beberapa ikan.

Tidak ada lagi Nizam yang dipandang desa. Karena tindakan buruknya itu, Nizam dicopot dari posisinya sebagai anggota dewan. Nizam pun mendatangi satu per satu rumah warga untuk meminta maaf. Dia mengaku jika kehidupan kota dulu turut memengaruhi kebiasannya. Dia melihat apa yang atasannya acap lakukan. Walaupun buruh, dia tahu segalanya. Itulah Nizam.

Setelah satu jam, Nizam kembali ke rumahnya dan memasak ikan itu. Dengan cara seperti itulah dia bisa bertahan hidup. Dia tak bisa meminta tolong kepada orang lain. Siapa yang mau bertemu dengan seseorang yang wajahnya sudah tak keruan?

Kejadian tiga tahun lalu tak pernah bisa hilang dari pikiran Nizam. Kejadian itu terus menghantuinya. Apalagi kemudian dia menyukai Lasri. Dan hal ini sungguh mustahil. Gadis yang Nizam permainkan ketika tertangkap basah itu adalah kakak kandung Lasri sendiri. Gadis itu kini sudah dinikahkan dengan lelaki dari desa lain. Semua gadis yang dipermainkan oleh Nizam, tujuh orang, diberi pengecualian adat demi menyelamatkan hidup mereka.

Tidak ada lelaki di desa ini yang mau menerima gadis yang pernah digunakan Nizam.

***

“Lasri, jangan menghindar dari aku terus, dong!”

Nizam berusaha mencegat Lasri yang baru saja tiba dari hutan membawa beberapa batang kayu. Dia tahu gadis itu mungkin tidak akan mencintainya, tapi Nizam terus mencoba.

“Aku tidak mau dicambuk karenamu!” ketus Lasri, meletakkan kayu itu di depan rumahnya. Hari ini terik karena sudah siang. Dia tak mau menatap Nizam.

“Aku sudah berubah, Lasri, hei, mengapa kamu tak mau melihatku? Kamu terus melakukannya selama tiga tahun ini.”

“Pergi sana, biadab!”

“Aku mencintaimu, Lasri!’

“Dasar munafik. Kau hanya ingin tubuhku! Itu saja!”

Nizam terdiam. Kemudian dengan wajah merah padam dia pergi.

***

Bagi warga, hukum cambukan dan robekan wajah Nizam sudah cukup bagi mereka untuk percaya jikalau Nizam sudah bisa berubah. Tapi di beberapa benak warga, tidak. Terutama orangtua dari gadis-gadis yang dulu pernah menjadi korban Nizam.

Lasri tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi pada kakaknya.

Di suatu malam, Lasri seperti tidak tenang. Dia baru saja bertemu dengan Nizam dan menyebut lelaki itu seorang munafik. Merobek wajah tidak semerta mengubah kenyataan bahwa Nizam adalah jelmaan iblis. Di depan orang banyak, dia tampak lelaki tampan dengan ilmunya yang luar biasa. Sementara di baliknya, Nizam adalah iblis yang merenggut nyawa.

Bagi Lasri, Kakaknya sudah mati. Karena kakaknya tidak pernah kembali lagi.

Terdengar suara berisik di luar rumah Lasri. Dia meraih pisau di dapur dan perlahan membuka pintu. Pandangannya gelap, hanya ada penerangan dari beberapa lampu di sekitar rumah Lasri. Jantungnya berdegup kencang. Dengan ragu Lasri melangkahkan kaki keluar dan memeriksa keadaan sekitar.

Pelan ... pelan ...

Lasri menengok ke kiri dan kanannya tidak ada apa-apa.

“Mmph ....” seseorang mendekap Lasri dari belakang dan menutup mulutnya dengan sebuah kain. Lasri meronta-ronta tapi orang itu lebih tangguh darinya. Dia pun sekuat tenaga menahan diri tapi gagal. Lasri tahu malam ini bisa saja dia mengalami kejadian serupa kakaknya dulu.

“Mmph ....” Lasri terus mencoba melepas bungkaman mulutnya, namun tenaga Nizam masih terlalu kuat dibanding tubuh kurus nan lemahnya itu. Entah apa yang dipikirkan Nizam. Matanya memerah, memperkeruh air wajahnya. Mungkin kini iblis menguasai dirinya. Lasri terus berontak, sempat sedikit terlepas, namun dengan sigap Nizam menangkapnya lagi. Lelaki itu membawa Lasri yang masih berontak dari rumahnya, menghilang ke dalam pekatnya kegelapan dalam hutan.

Dan kemudian pandangan Lasri menjadi gelap hingga dia tak sadarkan diri lagi.

***

Beberapa hari kemudian, tersiar kabar mengenai hilangnya Lasri. Berbagai spekulasi bermunculan. Lasri hilang diculik jin, Lasri hilang diculik siluman buaya dan dikorbankan sebagai bagian dari ritual, atau ada yang bilang Lasri kabur. Tapi yang paling kuat adalah Lasri kawin lari dengan Nizam. Warga tidak memercayai ini tapi sepertinya harus.

Nizam menghilang bersamaan dengan Lasri. Desas-desus muncul sana-sini. Semuanya buruk. Semua orang tahu bagaimana Nizam memperlakukan kakanya Lasri dan betapa besar dia mencintai Lasri itu sendiri. Sesepuh pun kebingungan. Namun yang tidak semua orang tahu adalah jika mereka mau menyeruak gugur dedaunan kering menuju tengah belantara, mereka akan menemukan sungai kecil.

Sungai itu meriak hingga ke sebuah hilir yang tenang. Di sana mereka akan menemukan seseorang, tepatnya tiga hari kemudian mereka menemukan seseorang. Disinyalir, seseorang itu sama seperti rupa Lasri. Hanya saja tubuhnya sudah pucat dan kaku. Ada bekas cabikan di bagian pipinya.

Hanya Nizam yang tahu apa yang terjadi dengan Lasri. Hingga cerita ini dibuat, tak ada seorang pun yang tahu keberadaan Nizam.

Bagi Nizam wajah adalah sesuatu hal yang tidak diperlukan. Karena baginya wajah bukan identitas, tapi sebuah cerminan masa lalu yang ingin dihilangkannya. Nizam sudah menghilangkannya.

 

 

 

  • view 246