Rahasia Lain

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 21 November 2016
Senja Pertama

Senja Pertama


Aku berharap, satu kali saja bibirku mau berucap padamu, pada rindu yang menyelusup dalam dada diam-diam. Karena kamu adalah samudra perasaan yang akhirnya kuseberangi.

Kategori Cerita Pendek

1.1 K hak cipta terlindungi
Rahasia Lain

Tidak yang baik-baik selama hujan menderas.

Itulah yang kemudian kukatakan berkali-kali di dalam hati. Satu jam setelah aku dan Lastri berkendara tak menentu keliling kota, langit pun menangis membelah malam. Kami sebelumnya sepakat untuk berkendara menjernihkan pikiran.

“Ram, kami ke pinggir taman itu saja,” kata Lastri menunjuk ke sisi kiri jalan, ketika mobil sedang berhenti karena lampu merah. Hari ini dia mengenakan setelan kemeja biru langit yang senada denganku.

Selepas lampu merah berganti ke kuning dan kemudian hijau, aku menuju ke sana dan memarkirkan mobil di bahu jalan. Jalanan tidak ramai seperti biasanya, sebuah kebetulan. Aku tidak yakin, mungkin, ini tujuan yang dimaksud Lastri itu sendiri.

Angin yang menuntunnya ke taman ini.

Lastri selalu berpindah ke mana pun, takpernah betah bekerja di satu tempat hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjadi penulis demi mengejar mimpinya berkeliling dunia. Lastri selalu takbetah dan ingin mengejar ‘sesuatu’.

Aku memundurkan kursi, mencari posisi nyaman. Lastri mengikuti. Aku selalu tidak bisa menahan senyum kala melihat seorang gadis berambut kemerahan yang mengikat rambutnya ke belakang. Lastri melakukannya hari ini.

“Lalu, bagaimana ceritanya kau mencintai lelaki beristri?” tanyaku. Aku menoleh ke arah Lastri dan menatap hingga kedalaman matanya. Ketika dia bilang dia mencintai seorang lelaki beristri kepadaku beberapa hari lalu melalui telepon, muncul banyak pertanyaan di benakku yang sebenarnya satu makna.

Lastri tergelak, dan senyum tipis itu menghasilkan sebuah ceruk ketika berimpit di pipi. Entahlah, tapi aku selalu suka setiap kali dia senyum. Mungkin karena bagiku sendiri itu nyaman, dan bersama Lastri, aku lebih nyaman dan baik-baik saja.

“Walaupun aku tidak bisa melarangmu, tapi setidaknya aku ingin tahu.”

Lastri menghela napas dan menatap lurus ke depan. Pada tempias-tempias yang terus menerjang kaca mobil. Hujan memang resap. Untuk seseorang yang merasa baik-baik saja ketika sendiri, hujan sudah seperti teman dekat. Selalu ada untuk menemani dan rasanya akan berbeda jika tidak ada hujan.

“Aku bertemu dengan dia di sebuah pameran buku. Enggak mikir akan ke pameran itu, tapi tahu-tahu sudah di sana,” ujarnya.

Lastri seperti memilah-milah bagian cerita yang mana yang tidak akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lebih dalam. Dia menyisir poni rambut kemerahannya, masih menatapku. “Kau benar-benar enggak mencegahku untuk tidak melanjutkan hubungan?”

“Tidak,” jawabku.

“Mengapa?” tanyanya.

“Kau sudah besar,” jawabku lagi. “Aku sudah lama enggak ketemu kamu, tahu-tahu kamu datang dengan kabar kalau kamu menyukai suami orang lain.” Ada nada suara lain keluar dari bibirku. Seperti tidak suka.

Lastri menatapku lurus. “Bagaimana menurutmu?”

“Ceritakan lengkap, baru akan kuberitahu.”

Lastri kemudian mengeluarkan ponselnya, kemudian memperlihatkan beberapa foto selfie di Galeri-nya. “Namanya Trian. Lima tahun lebih tua dariku. Anaknya sudah dua, lho. Masih balita semua,”

Aku membeliak ke gadis itu. Bagaimana bisa dia masuk di tengah keluarga yang kupikir bisa dikategorikan harmonis itu? Subjektif memang jikalau menilai harmonis dari sebuah keluarga muda dengan anak masih balita. Tapi, tidak ada salahnya berpendapat.

“Kau yakin?” tanyaku.

“Semua terjadi begitu cepat. Dia seorang penulis independen. Lalu aku bertanya seputar bukunya. Obrolan semakin pecah dan kami berpindah ke traktir secangkir kopi di sebuah kedai takjauh dari sana. Ya begitu saja.”

Aku tidak habis pikir dengan cerita semacam ini. Ya, memang setiap orang bebas menentukan siapa yang dicintainya, tapi mungkin ini alasan adanya istilah “cinta itu buta”.

“Kau yakin kau mencintai dia? Kau tidak mau menyadari jika lelaki itu sudah punya keluarga bahagia?”

“Rama ... aku bukan tipe yang cepat menyukai seseorang. Tapi, dia berbeda. Sesederhana itu.” Lastri menggosok-gosokkan telapak tangannya. Hujan di luar masih menderas.

Bisa jadi karena udara dingin di luar berpadu dengan dingin ac mobil, atau mungkin dia sedang grogi. Seingatku dia memang suka menggosok-gosokkan tangan jika sedang grogi atau ada sesuatu yang disembunyikan.

Tapi aku tidak terkejut jika Lastri suka menyimpan sesuatu rapat-rapat. Bahkan kepadaku sendiri. Karena angin suka menyimpan rahasianya sendiri. Lastri pergi dan datang kapan pun dia mau, tiba-tiba, serupa angin, tapi setiap kutanyakan alasan melakukan itu, jawabannya pasti sederhana: tidak tahu.

Aku yakin tidak sesederhana itu. Tapi, Lastri adalah angin. Sesuka hati membawa rahasia tanpa diketahui sesiapa pun.

“Kau sudah berpikir untuk mulai melarangku?” tanya Lastri, tersenyum jahil. Tampak sedikit geligi putihnya itu.

“Mengapa kautanyakan terus?” protesku.

Lastri diam sejenak. “Tidak ada.”

“Aku baik-baik saja,” jawabku.

Sebenarnya, tidak ada yang baik-baik saja selama hujan menderas. Seperti tiga tahun lalu, saat aku pertama kalinya merasakan seperti apa jatuh dalam perasaan yang begitu dalam, dan kemudian hujan menjadi penengah. Aku dan wanita itu berpisah, lalu tenggelam dalam kesendirian masing-masing.

Aku bilang baik-baik saja. Dan aku tidak bisa jujur pada diri sendiri. Makanya, aku selalu berkata bahwa akan selalu baik-baik saja jika sendiri.

Sampai, aku bertemu dengan Lastri dua tahun lalu. Sampai, aku tidak merasa baik-baik saja malam ini ketika dia bercerita. Ada debar yang berbeda di dalam dadaku. Malam ini begitu sendu. Aku seperti tidak ingin kehilangannya, dan berita jika Lasti menyukai lelaki lain, sungguh menusukku dalam-dalam.

Tapi kemudian aku menyimpannya rapat-rapat saat perasaan itu berubah sejak setahun yang lalu. Mungkin aku juga menjelma angin, tapi aku bukan angin karena aku selalu tahu ke mana tujuanku.

Hujan pun mulai mereda. Lastri sedari tadi mendadak diam, mungkin melamunkan sesuatu. “Hei! Bengong aja, nanti kesambet setan, loh.” Aku meninju pelan bahunya. Lastri terkesiap dan tertawa ringan.

“Tidak, tidak. Hanya memikirkan sedikit hal saja,”

“Apa itu, Las?”

“Jika seandainya ada orang yang bisa membuatku merasa berbeda, misalnya seperti lelaki itu yang walaupun sudah beristri aku merasa klop dengannya baik dari profesi ataupun hal lainnya. Tapi hal terpenting yang membuat merasa berbeda itu adalah kenyamanan. Jika aku nyaman dengannya, itu sudah cukup untuk membuatku mengatakan ‘ya’ pada orang itu.”

Hatiku berkecamuk. Aku kembali menginjak pedal gas dan karena permintaan Lastri untuk membawa kami kembali menyelusuri jalanan malam. Lastri tidak mengatakan tujuan, sama seperti sebelumnya. Itulah mengapa dia selalu cari jawaban. Tapi aku tahu jika Lastri di suatu waktu akan berhenti. Seperti harapku, dia segera tahu kapan berhenti tentang hubungannya dengan lelaki itu dan mengetahui sebuah rahasia lain.

“Mungkin, aku akan berpikir untuk melarangmu. Itu pun jika kau mau,” ujarku.

“Mengapa aku harus tidak mau?” tanyanya.

Aku mengangkat kedua bahuku. Hatiku berontak untuk bilang kepada Lastri tentang rahasiaku yang paling dalam. Suatu hari nanti.

 

  • view 244