Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 21 November 2016   19:20 WIB
Jurang Antara Kenangan dan Harapan yang Dulu Pernah Ada

Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

Kakiku melangkah keluar dari ruang teater. Larik terakhir puisi Aan Mansyur itu selalu hadir di setiap jejak langkahku. Ternyata aku tak sendirian menganggap bahwa bodoh dan keinginan memiliki itu hanyalah setipis harapan bertemu rindu. Melupakan bukan perihal mudah, bukan?

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan

Keramaian ini begitu mengusik. Kala sepotong hati hancur separuhnya. Dibawa oleh tanah menuju dasar di mana hujan kelak membasahinya. Rerumputan kering menjadi haru kembali saat sebuket bunga hadir di depan pualammu.

Iya, kamu. Keramaian ini mengingatkanku pada senyummu. Yang biasanya pasti akan menggelayut di punggungku atau sekadar menarikku menikmati judul-judul film di teater tanpa memesan satu tiket pun.

Bersamamu aku resmi menjadi separuh.

Lihat tanda tanya itu

Kepergianmu menghadirkan rasa benci di dalam jiwa. Ketika kamu pergi tanpa meninggalkan sepucuk surat pun. Tanpa satu atau dua kalimat. Bahkan, satu potong kata pun tidak. Aku hilang arah. Rasa penyesalan menguasai saat tak ada satu alasan pun kuketahui saat kamu pergi.

Aku berharap kamulah yang kulihat di eskalator yang tak ada habisnya itu. Pias wajahmu yang membuatku merindu. Tiap kerut wajahmu ketika kaukesal aku terlambat padahal aku sengaja mengerjaimu demi melihat sifat kekanakan itu terus.

Lihatlah betapa bodohnya tupai berloncatan sementara dahan berderak patah

Meninggalkan reremahan jiwa yang membuncah keluar dari pemiliknya

Entah apa yang kupikirkan sekarang. Akulah Rangga, bukan sesiapa yang walaupun hatinya diketuk oleh seseorang lainnya, takkan bertahan lama. Akan selalu ada badai yang mengguncang perasaanku. Badai itu datangnya dari masa lalu. Diembuskan dari napas seorang gadis yang saban hari suka mengacak-acak rambutku.

Apakah aku gila? Di tengah keramaian ini? Di tengah pendaran cahaya yang menyala-nyala dari sudut pertokoan di lantai tiga ini?

Ya, aku gila! Sial, mengapa aku menonton film itu?

Aku mencengkeram kepalaku sendiri. Orang-orang melihatku dengan ekspresi aneh. Tidak, tidak. Pualammu lagi-lagi hadir di kepalaku. Ya, selalu hadir seperti prasasti yang menentukan hidup-matiku.

Dan ... tunggu! Di antara lalu-lalang manusia kau ada di sana. Di depan dipan panggung pertunjukan yang sedang istirahat itu. Kaukah itu? Aku mengusap mata berulang kali, dan kau tetap di sana! Aku benar sudah gila, kan?

Aku berjalan menghampirimu perlahan. Sayup rindu mengalun. Hujan turun di matamu.

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dan tidur

Kata-kata dari puisi Rangga itu kembali menyeruak. Kau adalah segelas kopi tanpa gula; pahit. Pejamkan mata dan tidur; namun kehadiranmu damai dalam sunyi. Saat hatiku bertemu separuh dirinya kembali.

Kini kita saling berhadapan. Tanganmu membelai pipiku. Rindu mengalir lembut melalui pembuluh darah. Tanganmu yang satunya menggenggamku erat. Tuhan, bolehkah aku pergi sekarang bersamanya?

     Tubuhku mati rasa oleh perasaanku sendiri. Aksara puisi yang benar-benar menghunjamku. Perasaan itu menghadirkan tenang sampai ketika aku membuka pejaman mata, kau pun menghilang. Gerimis turun di mataku. Jurang itu nyata; antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

Sesaat, aku duduk, mengeluarkan pena dan kertas;

 

Aku rela menjadi awan, sendirian dalam setapak udara.

Melayang dalam kebodohan, untuk merindumu sekali saja.

Apakah aku, nama-nama yang kausebut dalam tiap doa malammu?

Gelisahku biar menjadi resahmu. Saat bibir dan mataku tak lagi ada kuasa di pualammu.

 

 

 

 

Cerpen ini mengutip beberapa larik puisi M. Aan Mansyur yang ada di dalam buku “Tidak Ada New York Hari Ini.”. Cerita ini diikutkan dalam kompetisi #baperaadc2 yang diadakan oleh storial.co pada Mei 2016.

Karya : Muhammad Ariqy Raihan