Untitled

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 21 November 2016
Senja Pertama

Senja Pertama


Aku berharap, satu kali saja bibirku mau berucap padamu, pada rindu yang menyelusup dalam dada diam-diam. Karena kamu adalah samudra perasaan yang akhirnya kuseberangi.

Kategori Cerita Pendek

957 hak cipta terlindungi
Untitled

 

“Menepis angin dengan rindu. Ada masanya, saat angin tak lagi berembus, namun jejak rindu yang tersisa di udara.”

 

Langit yang sedari tadi memburam kini sudah berubah menjadi landasan pacu bagi bulir-bulir hujan jatuh menghunjam bumi. Alunan rintik-rintik yang perlahan berubah menjadi deras adalah penandanya. Momen yang tepat untuk mengistirahatkan pikiran sejenak dari segala macam omong kosong yang masuk ke dalamnya. Ya, aku selalu ingat bahwa hujan selalu memberiku kesejukan dan asa dahulu, ketika melanjutkan perjalanan yang tertunda.

Perjalanan aksara.

Hujan adalah saksi biksu dalam sebait perjalanan hidupku. Sebuah jalan yang berserakan penuh dengan potongan-potongan rindu dan serat-serat aksara. Ya, perjalanan aksara ini hanya sebutanku saja. Sebuah goresan pena pada berlembar-lembar kertas untuk memetakan dengan jelas kepingan-kepingan momen yang sengaja dilewatkan. Setidaknya ada benda yang nantinya berdebu dan memantik kenangan lama.

Tingkat akhir adalah masa-masa terberat bagi seorang mahasiswa. Masa-masa yang menentukan bagi kelulusan. Lima tahun lalu, di Universitas Iowa, ada seorang pemuda yang sedang bersiap-siap menantikan kesempatan itu. Pemuda yang suka melempar diam. Hanya segelintir orang saja yang bisa memancing keluar kata-kata dari mulutnya. Jika kau menemukan pemuda aneh itu, dialah aku.

-ʑ-

Pukul 8 pagi aku harus masuk kelas Ilmiah. Di luar sana, hujan mengiringi langkah hari ini. Aku harus segera merampungkan penelitian akhirku. Namun, ketika hendak memasuki lorong ketiga—lorong kelas Ilmiah berada—dari arah berlawanan lewat seseorang yang membuat langkahku berhenti. Entah bagaimana caranya.

Dia adalah Lily.

“Hei, Narendra!“ Lintang—teman sepenelitian—menepuk pundakku dan kemudian berlalu. Sial, dia selalu saja menganggu.

Pandanganku kembali jatuh pada Lily, mahasiswa tingkat akhir, sama sepertiku. Ini bukan pertama kalinya aku melihat wajahnya yang selalu melengkung senyum dan sedikit rona merah di pipinya. Sudah kesekian kalinya wanita berambut cokelat itu membuatku terpana. Seperti bocah yang terpana melihat zeppelin yang begitu besar. Rambut Lily seindah matanya. Sederhana tapi selalu menarik senyumku keluar. Kuakui, ketika pertama bertemu dengannya, aku merasakan sesuatu yang berbeda.

Keberadaan Lily benar-benar membius segala penjuru hidupku. Ada yang berbeda di dalam relung dada ini. Ada kehangatan hebat menyebar di seluruh tubuh. Ada jejak senyum tertinggal di bibirku.

“Ha—“ tenggorokanku tercekat. Aku mencoba untuk mengatakan ‘hai’ namun gagal.

Lily sedang berjalan melewati lorong ketiga ketika aku menatapnya. Sial. Aku tidak pernah bisa menyelesaikan kata itu di hadapannya. Untung dia tidak mendengarnya. Memang Jarang sekali aku berbicara dengannya. Bahkan dalam realita bahwa kami sekelas.

Guratan wajah itu. Aku tak pernah berani terlalu lama menatapnya. Seolah-olah aku bukan orang yang pantas untuknya. Ah, sudahlah. Aku juga bukan siapa-siapa.

Aku mengenal dirinya di sebuah toko buku ketika tanpa sengaja dia menjatuhkan barang yang kubawa.

“Maaf, aku tidak sengaja.“

Aku hanya tersenyum saja. Dalam diam. Wajah itu, entah kenapa, ketenangannya serasa menusuk kegelapan dalam diriku. Seakan-akan ada cahaya yang menembus ke dalam tubuhku.

Momen itulah yang mengubah kepingan puzzle perasaan. Mengotak-atiknya dan meninggalkan teka-teki. Perasaan hangat macam apa ini yang kemudian kurasakan ketika sebelumnya aku tidak pernah peduli dengan siapa pun?

-ʑ-

Hari ini Lily keluar kelas selepas kuliah lebih lambat dari sebelumnya. Bisa jadi ini adalah celah untuk mengajaknya bicara walaupun aku tahu itu adalah ide yang bodoh. Tapi, aku tidak idiot. Aku lebih memilih untuk melewatkannya. Aku tidak butuh waktuku terbuang untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin. Mungkin saja karena pecundang.

Perhatianku kembali jatuh pada buku aksaraku yang sudah terpangku sedari tadi di antara kedua kaki. Aku selalu butuh waktu untuk menyendiri. Aku mencoba menerjemahkan tiap teka-teki perasaan yang tersimpan di relung dada ini. Setidaknya, ketika teka-teki itu terpecahkan, aku ingin dia tahu banyak hal yang hanya bisa kusampaikan dalam aksara perasaan. Tanpa perlu bicara tentunya. Aku sadar keberanianku ini tak ada seujung kuku pun. Pecundang.

Melupakannya atau tetap mengingatnya. Pilihan yang sulit karena aku satu kelas dengannya. Menghindari Lily? Ah, ya benar. Lebih baik aku menghindarinya saja.

-ʑ-

Empat bulan menuju sidang akhir.

Aku tak pernah bisa menempatkan fokus setumpuk kertas revisi yang harus dikerjakan. Semakin kuat perasaanku pada gadis itu, semakin kuat pradugaku bahwa lelaki macam ini takkan pernah pantas untuk bersamanya. Namun, aku tidak bisa membiarkan praduga itu menguasai pikiran. Aku harus menyelesaikan studiku. Aku tidak mau menghancurkan cita-cita yang telah kubangun selama ini. Satu-satunya cita-cita yang kumiliki dalam hidup ini.

Namun, selama aku masih bertemu dengan Lily, praduga itu tidak akan pernah hilang. Rasa bahagia yang sebelumnya pernah ada kini sirna sudah. Pikiran, perasaan, dan jiwaku sudah digerogoti oleh kenangan itu. Kepercayaan diriku dirobek lembar demi lembar tanpa tersisa apa-apa lagi.

Semua itu aku tumpahkan pada buku aksaraku ini. Lembar demi lembar kutuangkan di dalamnya. Aku menikmatinya di antara derita yang kurasakan. Derita karena aku tak bisa melupakanmu di saat aku harus melakukannya. Hanya kata yang mampu menjadi penawar derita itu. Tiap goresan penguntai kata di atas torehan kerapuhan. Bagai mengukir luka di atas kulit dan aku menikmatinya. Sesederhana itu.

Aku berusaha keras. Mencoba apa saja asal aku tak terluka dalam. Menghindari Lily dari alam pikiran bukan perihal mudah dalam beberapa bulan ini. Namun, aku mulai bisa mengendalikan diriku kembali. Aku harus lulus tepat waktu dan Lily untuk sementara harus tetap di luar jangkauan pikiranku.

-ʑ-

Hari sidang akhir itu pun tiba.

Aku masuk ruangan sidang dengan degup jantung yang sedikit lebih cepat. Aku harus berhasil. Ini langkah terakhir dan tak ada waktu lagi.

Aku lulus.

Aksaraku juga sudah selesai seminggu lalu. Namun aku tak pernah benar-benar siap untuk menerima realita yang kutulis di dalamnya. Bagaimana jika aku selama ini salah? Bagaimana jika Takdir tak pernah bepihak padaku?

Entah rencana apa yang disiapkan Takdir, Aku melihat Lily hadir dalam sidang akhirku.

-ʑ-

“Maaf ... aku tidak sengaja”

Sial. Dalam keadaan terburu-buru ke perpustakaan untuk mengembalikan buku pinjaman, ada saja orang yang menubrukku. Buku-buku yang kupegang jadi jatuh semua.

“Kamu ... Lily ....”

Nama itu begitu saja tersebut. Lily membantuku memungut buku-buku yang berserakan di bawah. Bukunya juga terjatuh rupanya. Karena sedang terburu-buru aku langsung saja memungut bukuku dan beranjak pergi. Aku tidak bisa berlama-lama dekat dengan Lily.

Sore itu, hujan kembali turun membasahi Iowa, kota dengan suasana yang aku sukai. Kantin Nashville merupakan tempat terbaik untuk menikmati hujan ditemani dengan beberapa potong biskuit dan secangkir teh hangat. Buku aksaraku sepertinya akan menjadi pelengkap yang manis hari ini. Kurogoh tasku dan ... aku tidak menemukan buku itu. Jangan jangan ....

-ʑ-

“Hei!” sambar sebuah suara yang mengejutkanku. Hebat sekali dia menganggu ketenanganku. Dia menarik kursi di hadapanku, di meja yang sama.

“Ini kukembalikan bukumu. Sepertinya terbawa olehku, maaf, ya.”

Tunggu, buku itu ... kan. Buku Aksaraku dibawa Lily? Kegilaan macam apa ini? Bagaimana bisa? Batinku resah. Ah, pasti ketika kejadian kemarin itu.

“Terima kasih untuk tulisannya, Ren.” Lily berlalu dari kursi itu dan meninggalkan jutaan pertanyaan yang logika pun tak mampu mencernanya. Aku terjebak dalam rasa diam ketika dekapan hujan ini mulai membasahi ruang harapan yang sudah lama kosong.

-ʑ-

Jumat sore ketiga dalam kalender Oktober, satu bulan setelah kelulusanku, Lintang datang untuk mampir. Kita berbincang sembari menyeruput teh hangat. Ini adalah pertama kalinya kita bertemu setelah kelulusanku. Namun, aku yakin, dia ke sini bukan tanpa alasan. Karena dia tak pernah bertamu tanpa memberitahuku sesuatu. Ya, aku bisa melihat kebohongan di kedalaman matanya.

Lintang berhenti tertawa. Guratan wajahnya berubah. Dia tahu aku tidak bodoh. Ada keraguan di sana. Bibir dan lidahnya seakan ragu untuk bekerja sama, apakah ia harus mengatakan ini atau tidak.

“Akhir bulan ini Lily akan pergi ke Sorbonne, melanjutkan studinya di sana.” Lintang mengatakannya sembari memainkan ponsel. Sebagai pengalih perhatian.

Jika kau ingin bermain kembang api, nyalakan apinya dan sulutlah. Perkataan terakhir Lintang berhasil memantik rasa sakitku kembali. Wajah Lily langsung muncul di pikiranku. Tidak mungkin, tidak mungkin semua ini terjadi bergitu cepat. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Lintang sedang membuat lelucon tak lucu. Akan tetapi, tak ada kebohongan tampak di kedalaman matanya.

“Aku mendengar ini dari Lily. Dia mengatakannya padaku saat upacara kelulusannya seminggu yang lalu.” Lintang mengatakannya dengan cepat.

Upacara kelulusan. Aku melewatkan yang satu itu. Sengaja. Aku berharap ketika itu, aku masih kuat untuk mengubur harapanku dalam-dalam. Aku takut kegagalan akan menghampiri ketika aku berharap begitu kuat. Aku yakin, walaupun aku menjauh darinya, jika memang takdir memilihku, aku akan berada di sisinya. Walaupun aku tahu itu begitu menyayat, tapi tak ada pilihan.

“Lalu bagaimana? Kamu akan membiarkan dia pergi? Tidakkah kamu sekadar menyampaikan perasaan padanya?”

Aku mencoba berpikir. Tapi kosong. Lintang memaksaku untuk menyiapkan sebuah pernyataan yang sulit untuk diucapkan. Mengungkapkan perasaan tak semudah membaca dongeng, kan? Ada degup jantung yang lebih cepat dan rasa takut di sana. Bukan rasa takut akan penolakan, hanya takut diri ini tak pernah sesuai dengan apa yang seharusnya ada.

“Ya, aku menyerah.” Kemudian Lintang pun keluar kamar dengan perasaan kecewa. Lelaki itu bergegas untuk beranjak dari rumahku, entah apa yang hendak dilakukannya kemudian.

Dia takkan pernah tahu jika aku diam-diam sudah menyiapkan sesuatu, jauh hari sebelum Lily bilang padamu tentang kepergiannya.

Ada, tertawa karena lelah. Mengejar harapan yang tidak pernah bisa diraih. Menertawakan diri sendiri yang tidak pernah bersungguh-sungguh untuk berlari dan siap untuk berhenti sebelum terlambat. Bukan kaki ini yang tak mau bergegas dari diamnya. Bukan sepatu bolong yang membuat niat berlari hilang begitu saja.

-ʑ-

Aku masih menikmati suasana hujan ini. Aku duduk di sebuah saung di taman yang tak jauh dari rumahku. Aku masih menikmati kenanganku itu. “Banyak orang-orang yang berharap waktu bisa diulang,“ batinku. Ya, terlalu banyak orang yang menyesali masa lalunya. Tapi tidak untukku.

Jika waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan mau melakukannya. Sudah cukup, aku sudah belajar menerima takdir. Aku sudah bahagia dengan apa yang kupunya sekarang, terlepas dari masa laluku. Kenangan itu kemudian menyadarkanku tentang segalanya, hal-hal yang tidak kuketahui.

Aku benar-benar tidak butuh meminta masa laluku kembali untuk mengubah masa depanku. Aku tidak membutuhkan itu, karena ... buku aksaraku ini. Satu-satunya bukti bagaimana perjalananku dimulai dan berakhir.

“Narendra, di sini kamu rupanya,“ sesosok suara menyadarkanku dari lamunan. Rambut dan matanya tetap seindah dulu. “Kamu malah melamun di sini. Sambil bawa buku itu, lagi. Hayo, kamu habis buka kardus kenanganku ya di lemari?” lanjut wanita itu.

“Eh, kamu ... iya nih. Maaf, ya,” balasku ke suara itu, terkekeh. “Lagian, aku penasaran, ternyata kamu masih simpan bukunya. Aku pikir waktu kamu temuin di tas dulu bakal langsung dibuang.”

Wanita itu tersenyum. Sama seperti dulu. “Ayah ... jika langsung aku buang, aku mungkin tak pernah tahu, kalau ternyata kamu juga akan sepesawat bersamaku menuju Sorbonne,” ucapnya.

Gantian aku yang tersenyum. Siapa yang tahu dengan takdir? Bahkan, aku tak pernah tahu jika wanita di hadapanku ini juga akan meniti langkah yang sama denganku?

Aku dan Lily kemudian pulang menembus hujan. Berdua. Menuju sebuah rumah yang sudah kami bangun lima tahun bersama. Sudah kubilang, aku tidak butuh meminta kembali masa laluku. Aku sudah punya seseorang yang sangat berharga bagiku, lebih dari apa pun. Aku sudah punya Lily sekarang. Aku bahagia. Selamanya.

 

 

Terkadang, perjalanan itu tidak selamanya bergerak seperti apa yang manusia perkirakan. Kita lupa, ada Sang Waktu dan Sang Takdir yang setia menemani perjalanan. Terkadang kita lengah, jika keduanya sudah membuat rencana terbaik yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Terkadang kita tak pernah sadar, bahwa semua akan indah pada waktunya.


  • view 161