Cerita Rinai Hujan

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 21 November 2016
Senja Pertama

Senja Pertama


Aku berharap, satu kali saja bibirku mau berucap padamu, pada rindu yang menyelusup dalam dada diam-diam. Karena kamu adalah samudra perasaan yang akhirnya kuseberangi.

Kategori Cerita Pendek

714 hak cipta terlindungi
Cerita Rinai Hujan

Andai penyesalan itu ada. Mungkin, akan kulakukan apa pun untuk bertemu dengannya. Memintanya memohon kepada waktu untuk memutar kembali roda kehidupan. Menghapus momen-momen yang sengaja dilewatkan. Atas sebuah kehilangan yang selamanya meninggalkan jejak. Di atas rerumputan hijau penuh sesak. Memori-memori terus menyeruak.

Andai hujan ini abadi.

Anindhita mendudukkan kedua lututnya di atas tanah, di samping pualam ayahnya. Dua hujan turun hari ini. Satu dari langit, yang satu lainnya dari wajah gadis pemilik mata biru itu. Dia menengadahkan wajah ke atas langit. Berharap langit mau mendengar doanya agar ayahnya bisa hidup kembali. Tapi, Tuhan sudah jelas menitahkan: Lelaki tua itu pergi untuk selamanya.

Setelah menyeka gerimis di matanya, gadis berambut bagai gulung ombak yang kini jatuh tergurai dibasahi hujan itu beranjak meninggalkan pualam. Bergegas menuju sebuah tempat untuk menenangkan gejolak rindu. Sebuah taman dengan petak-petak bunga di sekamirnya. Tempat yang bisa memberinya napas dari rasa sesak yang menggebu.

-ʑ-

Ada, sebongkah rasa yang dulu pernah hadir. Memberi warna pada relung bernama hati. Namun, kini bongkahan itu hancur menjadi serpihan-serpihan kenangan. Menjatuhkan dalam kegelapan bernama penyesalan. Bahwa, kehilangan itu begitu menyakitkan.

Saddam menatap sepucuk foto yang kini dipegangnya. Baru saja dia mendapat kabar dari Raline jika Alina sudah pergi untuk selamanya. Tanpa permisi. Rambut ikalnya kini basah oleh hujan. Kemudian mengalir ke sekujur tubuhnya. Menembus hingga ke dalam dada. Membasahi harapan yang kini menguap bersama udara.

Alina pergi sebelum aku sempat menyatakan perasaan padanya. Jika memang takdir begitu jahat, buat apa ia mempertemukanku dengan gadis itu? batin Saddam.

Sayup matap sipitnya menatap ke atas langit. Membiarkan hujan menampar wajahnya begitu dalam. Merasai dingin menyelusup hingga membekukan rindu itu. Di sebuah taman dengan petak-petak bunga di sekamirnya. Tempat yang bisa memberinya napas dari rasa sesak yang menggebu.

-ʑ-

Di antara telisik hujan, ada sebuah suara yang menyayat hati. Alunan simfoni kehilangan. Suara itu berasal dari bangku cokelat di seberang miliknya. Dari seorang gadis yang menjatuhkan gerimis di tengah hujan.

Suara itu begitu kelu. Nada-nada penyesalan juga ikut mengalun. Gadis itu sama seperti Saddam. Dia juga punya kesenduan yang sama. Gadis itu memberinya rasa penasaran. Siapa dia?

Sementara, di sisi lain, Anindhita merasa bahwa kesalahan dirinya yang membuat sang ayah pergi untuk selamanya. Pertengkaran terakhir mereka terus terngiang. Bagaimana bisa hal terakhir yang dikenangnya adalah sebuah pertengkaran, bukan perpisahan?

Gerimis terus berjatuhan dari matanya. Hujan terus menghunjam mantel hitamnya. Hingga akhirnya dia sadar, hujan berhenti turun di atasnya. Dia pun menengadahkan kepala. Ada seorang lelaki duduk di sampingnya, menaunginya dengan sebuah payung berwarna hitam.

“Siapa kamu?” tanya Anindhita. Dia belum pernah melihat lelaki berambut ikal ini. Ada senyum lirih yang diukirnya.

“Saddam.”

“Levine?”

“Itu Adam. Kau masih bisa bercanda, ya?”

Anindhita sedikit terkekeh di antara air matanya. Tuhan, batin Saddam. Bolehkah senyum yang dilukis gadis ini kuberi pigura dan kupajang di kamar tidurku? batinnya lagi.

“Namaku Anindhita.” Dia mengulurkan tangannya yang dibungkus sarung tangan itu. Saddam menerima uluran itu. Lelaki itu menatap lamat-lamat mata cokelat Anindhita. Benar, ada kehilangan melambai-lambai di sudut matanya.

  “Kamu kenapa nangis, Dhit? Eh, bolehkah aku memanggilmu Dhita saja?”

“Oh ... “ Anindhita sedikit terperangah, “it’s fine. Aku hanya ...,” entah kenapa dia jadi tergagap menjawab pertanyaan Saddam. Dia mengusap sedikit basah di matanya. Lelaki itu sadar gelagat yang ditunjukkan Anindhita.

“Kau baru saja kehilangan seseorang?” tanya Saddam.

“Tidak ...,” bantah Anindhita. Tetiba dia menolehkan wajah pada Saddam, “Tunggu. bagaimana bisa kamu menyimpulkan jika aku baru saja kehilangan seseorang?”

Saddam tersenyum, “Tentu saja aku tahu. Aku juga sedang melakukannya di sini.”

“Melakukan apa?” Anindhita semakin kebingungan.

“Melepas kesedihan.”

“Untuk?”

“Siapa pun yang pernah bersemayam di hatiku.”

“Siapa?”

“Alina.”

“Siapa Alina?”

Saddam melempar diam sejenak. Sekejap nama itu menampar kekosongannya. Ada keheningan muncul sebagai jeda, sebelum akhirnya dia menemukan jalannya kembali ke dalam realita. Sementara, Anindhita juga tertohok. Pertanyan yang dilontarkannya seperti menusuk dirinya kembali. Tatap kekosongan lelaki di sampingnya ini menyeruakkan sebuah penyesalan yang sama ketika di pualam tadi. Dia benar-benar sama. Mereka benar-benar sama.

“Dhit, bagaimana denganmu?”

Anindhita berpikir sejenak. Dia baru saja mengenal lelaki ini, tapi hatinya percaya bahwa dia adalah seseorang yang paling mengerti dengan apa yang baru saja dilaluinya.

“Aku baru saja dari makam ayahku.”

“Oh, turut berduka cita, Dhit. Apakah dia sakit?”

“Ya, strokes dan diabetes. Hanya saja, di saat terakhir aku tidak bisa melihatnya. Tidak bisa menemaninya melewati masa-masa sulit.”

Gerimis perlahan kembali turun di wajah Anindhita.

“Kok bisa? Ada apa?”

“Dam ...,” Anindhita kini menundukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan air matanya bersama hujan. “Aku benar-benar menyesal ... hingga jauh di dasar nuraniku, aku menyesal, Dam.” Tangan Anindhita sedikit gemetaran, begitu eratnya dia menggenggam tangannya sendiri. Buncahan emosi memenuhi dadanya.

“Beberapa bulan sebelumnya, aku bertengkar dengan Ayah. Aku menjual mobil kesayangannya karena aku butuh uang untuk biaya pengobatannya. Tetapi, dia tak mau mengerti. Kami bertengkar hebat ... kami ... aku ...”

Anindhita semakin mengisak dalam. Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Saddam kemudian merengkuh Anindhita dalam pelukan. Payung yang menaungi mereka sudah terletak santai di tanah. Mereka membiarkan hujan membasahi. Mengalirkan tenang dan damai pada jiwa yang berontak.

“Sudahlah, Dhit.”

“Nggak Dam, aku bilang pada Ayah mengapa dia tak sekalipun mau mengerti apa pun yang kuusahakan demi dirinya. Setelah pertengkaran itu aku bilang padanya untuk tak menemuiku lagi.”

Saddam benar-benar terdiam.

“Dhit, kepergian ayahmu bukanlah salahmu. Pertengkaran itu juga bukan sal—“

“ENGGAK!” Anindhita meninggikan suaranya. Bukan karena marah, tapi karena Saddam benar dan dia belum bisa menerima kehilangan itu.

Saddam menatap Anindhita lirih. Perasaan bersalah seperti itu wajar, apalagi ketika yang dilepas kepergiannya adalah orang yang sangat dipedulikan dalam hidup. Dia meraih payung itu dan kembali menaungi mereka berdua dari hujan.

“Kamu bebas untuk menyesal sepuasmu, Dhit.” Saddam melanjutkan, “tapi apa yang sudah dituliskan takdir, bukan kuasamu untuk menyalahkan diri sepenuhnya.”

“Maksudmu?”

“Sama sepertimu, aku juga baru saja kehilangan seseorang hari ini. Orang yang kutautkan perasaan padanya. Sama sepertimu, dia meninggal karena sakit. Sama sepertimu, tak ada perpisahan sebelum kepergiannya.”

Anindhita termangu.

“Perihal kepergian, kami boleh menyesal. Namun, hal itu hanya akan berujung sia-sia. Bukan salahmu, ayahmu menjadi marah. Bukan salahmu, kamu tak sempat memberi perpisahan padanya. Yang salah adalah ketika kamu terlambat menyadarinya. Sama sepertiku yang terlambat menyadari bahwa aku akan kehilangan orang itu.”

Saddam menggenggam tangan Anindhita, “Ikhlaskan kepergiannya. Terus menyesal hanya akan menyekat jalannya di atas langit sana.”

“Caranya?”

Find someone else. Temukan seseorang yang bisa memberimu sandaran bahu saat kamu membutuhkannya. Temukan seseorang yang bisa menjadi tempatmu membagi kehidupan. Perasaan itu yang bisa menggantikan kehilangan dalam dirimu.”

Anindhita melempar diam. Perkataan Saddam, lagi, menohok perasaannya begitu dalam. Siapa sebenarnya lelaki ini? Bagaimana bisa dia tetiba muncul begitu saja hari ini? Bahkan memiliki kesedihan yang sama? Bagaimana bisa dia merengkuh kesedihanku pergi begitu saja?

Muncul debar yang berbeda. Gejolak hatinya mulai tenang. Mulai mengedarkan damai kembali.

“Bagaimana caramu menemukan orang itu, Dam?”

Saddam hanya tersenyum.

“Aku percaya waktu dan takdir akan menunjukkanku orang itu. Aku percaya hujan akan menuntunku. Bahkan di saat, mungkin, aku sama sekali tidak mengenal orang itu.”

Saddam melanjutkan,

“Aku percaya kebetulan.”

Hujan semakin lebat. Anindhita menundukkan kepalanya. Dalam ketidaktahuan Saddam, dia tersenyum. Bahwa, ada seseorang yang begitu mengerti penderitaannya. Orang itu bercerita perihal mencari seseorang untuk membagi kehidupan bersamanya. Apakah dia ...

“Aninditha, rumahmu di mana? Hujan sudah semakin lebat. Ayo, kuantar kamu pulang.”

“Dam, bagaimana jika kami mampir ke kedai Filatelis dulu? Mungkin secangkir teh manis hangat bisa menjadi solusi yang tepat untuk menambal sementara rasa dingin ini.”

Saddam kembali tersenyum. Dia berdiri menggenggam payung hitamnya. Sebelah tangannya diulurkan pada Anindhita. Gadis itu beranjak dari duduknya dan kemudian pergi menembus hujan. Berdua.

Jika suatu hari nanti, aku menemukan seseorang itu, akan kupastikan siapa yang pertama kali akan kuceritakan.

Dilihat 177