Kamu; Doa yang Terus Disemogakan

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Sang Kehilangan

Sang Kehilangan


Kumpulan cerita-cerita yang siap meneguhkan hatimu. Dari amuk badai yang meliuk di antara celah kerinduan dan angan untuk melihat orang yang dicintai kembali. Antologi Cerpen Sang Kehilangan

Kategori Cerita Pendek

8.6 K hak cipta terlindungi
Kamu; Doa yang Terus Disemogakan

Aku kelu. Dalam ribuan alasan kepergianku, aku menjadi bisu. Di hadapan bayangmu, rindu itu melepaskan kekuatannya yang begitu kuat, merengkuhku dalam pelukannya. Kamu dan pias wajah yang menenggelamkanku dalam lamunan. Kamu, sebuah penyesalan yang mendera sekian tahun lamanya.

Foto wisudamu, dibalut senyum dan rias sederhana membuatku kembali kelu; seharusnya aku yang berdiri di sana. Memberimu bunga dan ucapan selamat. Bukan memberimu ‘like’ dalam sebuah tempat di mana aku hanya bisa menatap bayang-bayangmu saja. Seharusnya aku di sana, di sampingmu.

Terkadang, pilihan ada sebagai sebuah ujian. Apakah aku seorang manusia lemah yang menyerah begitu saja atau justru seorang manusia kuat yang kokoh atas apa pun yang terjadi saat pilihan itu diambil. Bukan aku yang menciptakan pilihan itu. Aku hanyalah orang yang diberi pilihan. Sebut saja takdir. Sang Pencipta takdirlah yang memberiku pilihan. Melalui bisik-bisik syahdu dan sunyi di dalam keheningan malam. Di saat itulah aku bisa menghadirkanmu dalam tiap-tiap pembicaraanku dengan-Nya.

Kepergianku enam tahun lalu adalah sebuah retorika di mana aku seharusnya menjadi lelaki yang bisa mengucapkan sepatah dua patah kejujuran di hadapan peraduanmu. Bukan menyembunyikan dan membuatmu berbalik menusukku; aku meninggalkanmu. Kini, potret-potret kehidupanmu tampak jelas. Senyummu saat menunjukkan ruang depan sekretariat jurusan barumu empat tahun lalu, wajah cemberutmu saat beberapa temanmu menumpahkan beberapa butir telur ke atas kepalamu saat ulang tahun ke-21 dua tahun yang lalu, dan ya. Rona kemerahan pada pipimu saat seorang lelaki berfoto di sampingmu dan kamu mengenggam seikat bunga. Aku tebak, dia lelaki pilihanmu.

Aku melihat semua hal-hal yang seharusnya kulakukan namun nyatanya, aku hanya sebuah kekosongan bagimu. Tak ada potret diriku di sana. Tidak ada sisa-sisa serpihan kenanganku di sana. Seakan aku adalah debu yang ketika kautiup, menghilang begitu saja dari sudut matamu. Atau mungkin aku tidak menghilang.

Hanya tersapu dan terlupakan.

Kepergianku adalah sebuah luka untukmu. Saat semua pesan teks dariku berujung sunyi untukmu. Tak ada balasan apa pun. Tak ada ucapan apa pun ketika Ramadan, Iduladha, ataupun hari-hari penting lainnya. Tak ada ucapan ulang tahun. Sementara bodohnya, aku tetap menatap potret dirimu dari hari ke hari.

Kamu yang membenciku. Bahkan, setelah enam tahun yang semakin memudar, kamu terus menjadikan kepergianku sebagai alasan untuk menjadikanku tiada. Aku bisa melihat itu di kedalaman kesedihanmu. Setiap goresan di dalam jiwamu, aku merasakannya juga. Perlahan merobek hingga ke dinding perasaan. Walaupun kamu tak pernah menyadari itu.

Seorang sahabat mengutuk diriku. Bagaimana bisa terus menunggu seseorang yang bahkan mungkin sudah membakar namaku dalam parit kehilangan? Sementara di luar sana, katanya, ada banyak pilihan sebagai pengganti. Ya, andai aku bisa mengutuk diriku, aku akan mengutuk setiap hari. Tak ada bedanya menunggu masa lalu dan menatap sesiapa yang berjalan di hadapan pintu itu.

Aku bukan sesiapa di luar sana. Sisa-sisa bangkai dari keramaian manusia. Ampas-ampas tak berguna dari helaan napas mereka. Aku, lelaki yang dilewatkan. Satu-satunya alasan yang membuatku terus menunggu adalah dia satu-satunya yang menyadari arti keberadaanku di antara pahit getir kehidupan.

Aku ingin sekali saja, tiap gerimis yang kujatuhkan di sepertiga malam menjadi asa yang nyata. Bukan sekadar sekelumit kesah. Setiap malam, aku menundukkan kepala, menyebut namamu dalam munajat. Terus yakin bahwa suatu hari; aku ada di sana. Mengatakan kejujuran yang dulu pernah kutepiskan. Aku terus melakukan hal itu berulang kali. Tak peduli berapa banyak harapan semu yang terus meranggas, aku hanya ingin menyebut namamu saja di kala malam semakin pekat.

Sang Pencipta Takdir itu Maha Adil, kan? Setidaknya saat ini, potretmu menghidupkan kembali memori lampau. Saat kita saling berkejaran di bawah hujan deras. Saat aku menyeka tiap derai air mata yang tumpah; gerimis yang mengalir di pipimu. Potretmu menghidupkan kembali jejak lampau; tiap untaian kata-kata yang kautulis di buku kusamku. Entah bagaimana, merindumu menjadi pekerjaan yang kuingini saat ini dalam hidupku. Mengingatmu adalah pekerjaan yang ingin kulakukan dengan sepenuh hati di antara hari-hari yang kulewatkan dalam kesunyian. Aku dan kesendirianku di sepertiga malam.

Aku yakin, pemilik langit mendengarnya. Aku yakin, Dia sedang merencanakan sesuatu untukku. Karena kamu adalah doa yang terus kusemogakan.

  • view 202