Wanita Bergaun Merah

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 26 September 2016
Sang Kehilangan

Sang Kehilangan


Kumpulan cerita-cerita yang siap meneguhkan hatimu. Dari amuk badai yang meliuk di antara celah kerinduan dan angan untuk melihat orang yang dicintai kembali. Antologi Cerpen Sang Kehilangan

Kategori Cerita Pendek

10.3 K hak cipta terlindungi
Wanita Bergaun Merah

Dahan pohon Jambu itu rubuh menimpa sebuah mobil sedan tua. Angin Puting Beliung datang memporak-porandakan. Orang-orang bergegas dari santainya. Ada yang berlarian ke sana dan ke situ. Ke mana pun kaki mereka sadar melangkah. Sore ini berubah menjadi ricuh. Badai berkecamuk.

“Awas, Nona!” teriak pria bertongkat dari dalam sebuah rumah di pinggir jalan setapak. Sosoknya muncul dari balik pintu. Seorang wanita bergaun merah dengan rambut diikat menggulung ke belakang itu lewat di depan rumahnya.

Sebuah pohon kembali rubuh. Hendak menerjang wanita bergaun merah itu. Sepertinya dia baru saja pulang dari pesta. Teriakan pria tadi membuatnya terkejut dan menyadari bencana akan menghampiri sebentar lagi.

Tanpa disadarinya, tubuh wanita memelesat menghindari pohon. Terima kasih buat teriakannya. Pohon itu jatuh berdebum kencang ke atas pelukan bumi. Sedikit lagi, wanita itu bisa saja sudah mati sekarang.

“Ayo berlindung di sini.” Pria bertongkat itu menawarkan rasa aman kepada wanita itu. Dia memberi isyarat kepada sang wanita untuk mempercepat langkah. Angin puting-beliung masih porak-poranda.

Dilihatnya wanita itu duduk tergugu di kursinya. Efek shocknya masih ada. Bayangan kematian menghantui otaknya. Seakan tak percaya masih diberi kesempatan untuk hidup satu kali lagi.

“Gila. Hampir saja kau mati.”

“Terima kasih sudah meneriakiku. Bising angin itu memekakkan telinga. Aku tidak tahu jika pohon di belakangku berderak rubuh ke arahku.”

“Ya, angin ribut sial itu …,” ucapnya sedikit tercekat, “baru saja menghancurkan sedan tua kesayanganku. Ia pengecut, menyuruh pohon terjatuh untuk menerjangnya.”

Wanita itu mengernyitkan dahinya. Mungkin dia belum tahu siapa pemilik sedan tua itu. Ah sudahlah, biar saja, batin pria tua itu.

Pria bertongkat itu menarik selembar handuk dari lemari kayu tua dan melingkarkannya di bahu wanita itu. Mengurangi rasa dingin dan merembeskan kehangatan.

“Terima kasih.” sang wanita mendekatkan kedua ujung handuk di dadanya. Hangatlah seluruh badannya.

“Minumlah teh hangat ini.”

Wanita itu tersenyum. Semanis gula. Oke, ini metafora lama. Sebenarnya, pria bertongkat itu meneriaki karena dia ingin sang wanita bertamu ke rumahnya. Membuat sebuah percakapan ringan. Tak disangka, angannya terhadap wanita yang kerap diperhatikan selama ini di pasar malam berbuah hasil. Si wanita benar-benar datang ke rumahnya, walaupun karena angin yang porak-poranda.

Biasanya wanita itu mengenakan gaun merah ini setiap malam minggu menampilkan kemolekannya dalam berakting pada para pengunjung. Dia adalah primadona teater malam. Namun, malam belum datang dia sudah mengenakan gaun itu.

“Siapa namamu?” Wanita itu tetiba mengulurkan tangan. Pria itu diam sejenak.

“Ambrose.”

“Asli Perancis?”

“Ibuku. Ayahku Indonesia.”

“Karen.” gantian dia menyebut namanya. “Karen Sastrawidjojo. Ibuku kelahiran Jawa tapi ayahku Inggris.”

Ada getar dalam jiwa pria bertongkat itu. Saban hari, dia berharap wanita itu datang sekadar mampir. Rasanya terlalu sesak jika hanya menatapnya kelu dari kejauhan. Terlalu sesak rasanya menatapnya rindu kala hati semakin menggebu.

Ya, dia jatuh cinta pada perempuan pemain teater itu. Wanita dengan senyuman yang bisa melemaskan pandangan para pria dan lesung pipit yang baisa menjepit kedua ujung bibirnya agar senyum terus tersungging. Mata biru wanita itu seakan membisiki sang pria, ada seorang bidadari yang jatuh dari kahyangan ke pangkuan bumi.

Tanpa disadari, pria itu jatuh pada lamunan. Wanita itu mengernyitkan dahi, menatap pria di hadapannya yang kini penuh kekosongan dalam pandangan ke arah dirinya. Wanita itu mengibaskan jemari kanannya, ke kanan ke kiri, berusaha membuyarkan tatapan kosong itu.

“Hei!”

“Eh, iya, maaf, ada apa?” pria bertongkat itu pun kembali sadar. Si wanita hanya terkekeh kecil.

“Mengapa kau melihatku seperti itu?”

Duh, pria mana sih yang bodoh untuk tak menyukaimu, Kar, batin pria bertongkat itu. Mata cokelatnya menunduk malu. Pertanyaan itu begitu tegas dan bagai siap melempar anak panah ke dalam dada.

“Tidak apa. Aku … hanya … teringat kalau aku suka menontonmu di teater malam.”

Wanita itu kembali tersenyum. “Benarkah? Bagaimana menurutmu penampilanku?”

Sang pria menangguk pelan, “Sempurna.”

Wanita itu lagi-lagi tersenyum. Apakah memang dia diciptakan untuk tersenyum? Pria itu berdoa semoga badai ini abadi agar dia bisa menatap keindahan wanita itu selamanya.

Dia menatap luar jendela. Angin masih mengguncang pepohonan, berharap segera lepas dari pancangnya pada tanah. Wajahnya sedikit khawatir, seolah ada yang ditunggunya di luar sana dan itu sangat penting.

“Ada yang kautunggu?” tanya pria itu.

“Saban hari aku pernah melihat seseorang di pertunjukan malam. Kata temanku yang bekerja sebagai petugas kebersihan, dia selalu berdiri di tempat yang sama setiap harinya.”

“Lalu?”

“Aku penasaran. Dan, hari ini aku ingin mengunjunginya. Hanya saja aku sepertinya tersesat. Temanku itu tidak terlalu spesifik menuliskan alamat. Hanya nama jalan besarnya saja.”

Aku terdiam. Kalah itu memang menyakitkan.

“Tunggulah sampai badai reda. Kau aman di sini.”

Wanita itu mengangguk. Menunjukkan lesung pipitnya. Tak berapa lama kemudian badai mulai mereda. Wanita itu menghabiskan sesap teh terakhirnya dan mengembalikan handuk yang menyelimutinya sedari tadi.

“Terima kasih banyak, Ambrose.” Wanita itu memelukku sejenak dan mendaratkan ciuman ringan di pipi kananku.

Aku mematung. Pertama kalinya seorang wanita menciumku! Ibuku sering melakukannya ketika aku masih kecil, tapi apakah Ibu masuk dalam hitungan?

“Ya … sama-sama,” ucapku sedikit tercekat

Tepat ketika dia berbelok dari pagar rumah, sang pria berteriak, “Hei, sesekali mampirlah kemari! Aku punya banyak persediaan teh dan handuk!” dan kami berdua pun tertawa.

Wanita itu menghilang dari pandangan. Hingga musim berganti, dia tetap tak kembali. Pria itu penasaran dan mencoba mencarinya di teater malam dan dia ternyata tak ada. Semua orang yang kutanyakan menjawab hal yang sama; tidak tahu, tidak kenal, bahkan ada yang mengatakan dia sebaiknya enyah saja. Mungkin karena dia menanyakannya dengan emosi.

Hingga akhirnya, saat musim kembali berganti, badai itu kembali. Sang pria kini tampak berantakan. Mungkin rindu memang membunuhnya.

Badai ganas itu berulang kali menerjang apa pun yang ada di situ, termasuk kotak pos yang dipatahkan dan diterbangkan ke selatan rumah. Seorang wanita bergaun merah mencoba menembus badai itu. Dia gila mungkin. Baru saja sebuah pohon ambruk ke arahnya. Dia beruntung. Pohon itu menghunjam sedan tua di sampingnya.

“Hei, masuklah kemari! Atau kau akan mati!” teriak pria bertongkat dari ambang pintu.

Sang wanita menoleh dan kemudian dia mengangguk pelan. Dia mendorong pagar kayu tua dan berjalan melawan angin kencang. Sang pria bergegas menutup pintu di belakangnya dan mengambilkan handuk dan memberinya secangkir teh hangat.

“Siapa namamu?” tanya wanita itu saat sang pria menyelimutinya dengan handuk.

 “Ambrose.”

“Asli Perancis?”

“Ibuku. Ayahku Indonesia.”

“Karen.” gantian dia menyebut namanya. “Karen Sastrawidjojo. Ibuku kelahiran Jawa tapi ayahku Inggris.”

Pria itu benar-benar mematung hebat. Seluruh sendi dan syarafnya mendadak kaku. Debar jantungnya semakin cepat. Dia kehilangan pikirannya.

***

“Baiklah, Bu, suami anda memiliki masalah terhadap kejiwaannya.”

Karen memandang lirih sang dokter. Dia seperti tak siap mendengar apa pun yang akan dikatakan lelaki bersetelan jas putih di hadapannya ini.

“Suami anda memiliki luka pada memorinya yang membuatnya terus menerus mengulang sebuah kejadian yang mungkin baginya sangat berharga. Mungkin disebabkan oleh sesuatu hal yang menyebabkan memorinya hanya mampu mengingat beberapa hal saja. Selama ini tatapannya kosong, namun sebenarnya dia sedang dikuasai alam bawah sadarnya. Entah, ada di dunia apa dia sekarang, tapi kenangan itu terus berputar seperti kaset tua.”

Dia melanjutkan,

“Apakah anda tahu sesuatu tentang wanita bergaun merah ketika badai? Suami anda berulang kali mengucapkan hal itu dalam simulasi.”

Wanita itu terdiam. “Ada apa dok?”

“Dari hasil pengamatan kami, sepertinya dalam alam bawah sadarnya terjadi sebuah retorika kecil perihal memorinya dengan wanita bergaun merah itu. Dari ceracaunya dia sepertinya pernah memiliki pengalaman yang begitu dalam sehingga memicu pada masalah kejiwaannya.”

Wanita itu menunduk. Entah hendak berkata apa. Dokter itu menanyakan sebuah gaun yang sudah lama di simpannya di gudang. Delapan tahun dia memilih pergi—saat seseorang lain muncul dalam hidupnya—membuat dia tersadar, jika dialah penyebab sebenarnya mengapa Ambrose seperti ini. Delapan tahun cukup untuk membuat rindu itu berubah menjadi racun bagi Ambrose.

Ketika Karen memilih untuk menikahi Ambrose dan melupakan sosok lelaki pengagum rahasia—yang tanpa disadar juga dikagumi Karen. Dia tak pernah tahu jika perasaan itu tidak pernah pudar. Karena mengambil keputusan yang gila; pergi untuk kembali mencari lelaki itu. Delapan tahun lamanya. Sebelum akhirnya takdir membuka kotak rahasia itu: Ambrose adalah sang pengagum rahasia itu. Dunia Karen seketika runtuh. Setelah kembali setelah delapan tahun, dia menemukan Ambrose sudah seperti ini.

Delapan tahun dia menyesal, ternyata suaminyalah yang selama ini selalu menonton pertunjukan itu.

  • view 461