Yuk, Cobain Halal Lifestyle

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 September 2016
Yuk, Cobain Halal Lifestyle

Dewasa ini, produk halal merupakan komoditas yang sangat dicari oleh masyarakat muslim di dunia. Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan menjadi sasaran utama bagi produsen dari produk halal. Namun, apakah masyarakat muslim Indonesia sudah sadar dengan pentingnya produk halal bagi kehidupan? Sudahkah Anda sadar akan produk halal yang saat ini sudah beredar di Indonesia?

Statistik yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk muslim di Indonesia mencapai 207 juta jiwa pada tahun 2010 atau hampir mencapai 90% dari total keseluruhan penduduk Indonesia. Jumlah ini merupakan sebuah potensi yang dimiliki oleh Indonesia dalam industri Halal di dunia. Sebagai penduduk yang beragama Islam, sudah sewajibnya mendapatkan jaminan dalam kehidupannya, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan konsumsi. Industri pangan, kosmetik, hingga keuanganpun harus terjamin sistem kehalalannya. Industri lain yang juga terkai adalah travel, media dan hiburan, dan juga bidang farmasi. Namun, potensi itu tidak disertai dengan kondisi nyata yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat muslim modern  ini kurang menyadari pentingnya informasi mengenai kehalalan atas suatu komoditas yang dibeli atau di konsumsi. Kurang dalam hal awareness.  Contohnya mengenai konsumsi pangan, banyak di antara masyarakat muslim yang tidak memperhatikan keberadaan logo halal di produk tersebut. Kurang peduli dengan keberadaan logo halal yang ada di produk yang dikonsumsinya. Padahal, sertifikasi halal adalah kunci utama dalam melakukan upaya peningkatan halal awareness. Bahkan, untuk produk yang secara jelas belum mendapatkan logo halal, konsumennya juga merupakan orang-orang yang beragama Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah membuat daftar produk-produk pangan apa saja yang sudah memiliki logo halal. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah konsumen muslim mendapatkan informasi.

Per 2015 ini, menurut statistik yang dimiliki oleh LPPOM MUI, sudah ada total 34.052 sertifikat halal yang berhasil dikeluarkan. Sertitifikasi tersebut mencakup 276.573 jenis produk dan berasal dari 32.676 perusahaan. Angka tersebut memperlihatkan secara rataan, setidaknya setiap satu perusahaan mendapatkan satu sertifikat halal. Seharusnya, angka ini menunjukkan adanya keseriusan yang dilakukan oleh Indonesia dalam memberi penjaminan atas kehidupan penduduk muslim untuk sesuai pada syariah. Yusuf Qardhawi (2000) mendefinisikan istilah halal sebagai segala sesuatu yang boleh dikerjakan, syariat membenarkan dan orang yang melakukannya tidak dikenai sanksi dari Allah Swt. Haram berarti segala sesuatu atau perkara  perkara yang dilarang oleh syara’(hukum Islam), jika perkara tersebut dilakukan akan menimbulkan dosa dan jika ditinggalkan akan berpahala.

Saat ini, masyarakat dunia memasuki era modern yang semuanya berdasarkan pada teknolog canggih. Semakin bertambahnya tahun dalam perputaran semesta ini, semakin canggih perkembangan teknologi yang saban hari terus dikembangkan. Terus di-upgrade sedemikian rupa sehingga memudahkan kehidupan manusia. Hal ini berdampak pada perkembangan gaya hidup manusia. Produk-produk pangan pun kini di proses menggunakan teknologi tersebut. Perkembangan dunia media dan hiburan serta tour pun juga sama. Bertambahnya minat masyarakat muslim dalam berwisata Namun, hal ini menimbulkan sisi lain yang tidak disadari oleh muslim : Kehalalan. Ataupun halal dari segi proses jika menilik industri media dan hiburan atau industri di bidang travel and tour.

Oleh karena itu, penerapan halal lifestyle penting dalam meningkatkan –setidaknya- self-awareness masyarakat muslim. Halal lifestyle merupakan gaya hidup yang menyesuaikan diri pada prinsip halal dan syariah, pada aspek-aspek kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu adanya tiga hal : Halal Consciousness, Halal Consumption, dan Halal Prides

Halal Consciousness

Dalam meningkatkan halal awareness, perlu adanya edukasi atau metode penyebaran informasi yang tepat. Metode klasik dengan penyebaran pamflet, brosur, dan sejenisnya tidak lagi efektif untuk mengajak masyarakat muslim mulai sadar akan pentingnya produk halal bagi kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan bahwa langkah pertama dalam menerapkan halal lifestyle.

Per 2015 ini, sesuai dengan perkembangan teknologi, sudah dikembangan berbagai jenis kemudahan dalam mendapatkan akses informasi atau edukasi mengenai halal. Contohnya, adanya berbagai macam aplikasi mengenai halal yang beredar di dalam platform Android. Majelis Ulama Indonesia (MUI) semenjak beberapa tahun lalu sudah mengembangkan aplikasi yang berisikan informasi mengenai produk-produk apa saja yang sudah di sertifikasi halal oleh LPPOM MUI. Selain itu ada aplikasi lainnya seperti Halal Detector, Scan Halal, Halal Check, Halal Restaurant Finder, ataupun  Halal E-Codes. Keseluruhan aplikasi itu menunjukkan adanya upaya serius dalam meningkatkan awareness masyarakat muslim terhadap produk halal. Langkah-langkah yang dilakukan pun menyesuaikan dengan gaya hidup yang dianut di masa modern ini.

Pada industri lain, seperti halnya dalam keuangan, perlu dipastikan kehalalan sumber dana dan kegiatan yang berputar di setiap transaksi. Dimulai dari akad dengan nasabah tabungan, nasabah pembiayaan, hingga pada proses investasi lainnya benar-benar harus sesuai dengan prinsip halal. Bahkan, uang yang digenggam pun harus diketahui kehalalannya, ditakutkan uang itu berasal dari sebuah transaksi yang terkait dengan sesuatu yang tidak halal, mengingat perputaran uang yang begitu cepat (Sinakkannu, 2015). Contohnya, jika ada selembar kembalian uang yang diterima oleh seseorang melalui transaksi halal di sebuah kedai makanan, namun tak akan satupun yang tahu berawal dari manakah uang tersebut. Hal ini disebabkan perputaran uang yang begitu cepat, dari satu transaksi ke transaksi lain. Detil seperti ini terlihat tidak terlalu menarik perhatian, namun memiliki aspek kehalalan yang penting.

Halal Consumption

Seperti yang disampaikan sebelumnya, sudah semestinya masyarakat muslim di Indonesia mulai mengonsumsi produk halal dan meninggalkan yang syubhat. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan sebagai umat muslim adalah kewajiban untuk mengonsumsi yang halal dan baik. Sebagaimana yang disampaikan di dalam Q.S Al-Baqarah : 168, manusia diwajibkan untuk mengonsumsi segala sesuatu yang halal dan baik yang ada di muka bumi ini.

Beberapa brand produk makanan franchise luar negeri di Indonesia yang sudah halal antara lain KFC, McDonald, Burger King, Starbucks, dan lainnya. Mengapa makanan franchise luar negeri sangat perlu diperhatikan? Kehalalan bahan penyusunnya. Semua brand itu berasal dari negara non-muslim sehingga tidak ada yang bisa menjamin kehalalan dari produk yang dikeluarkannya. Misalkan, restoran franchise yang berasal dari Jepang. Sudah menjadi budaya di negara Jepang untuk menggunakan sake sebagai salah satu bahan utama masakannya. Ataupun penggunaan arak dalam masakan China dan rum untuk pembuatan kue.

Pada industri lain, konsumsi halal juga merupakan permasalahan yang penting. Pada industri keuangan, perlu adanya kejelasan mengenai kehalalan sumber dana yang ditarik. Oleh karena itu dibentuklah Bank Syariah. Dengan begitu, adanya suatu penjaminan dan kenyamanan yang diterima oleh masyarakat muslim dalam melakukan kegiatan transaksi keuangan sesuai dengan prinsip syariah dan halal. Bagaimana dengan industri fashion? Yang dimaksudkan sesuai dengan prinsip halal adalah setiap pakaian yang dikenakan dan dibeli haruslah berasal dari sesuatu yang halal. Proses penjahitan hingga sampai pada tangan konsumen pun tidak boleh terkontaminasi oleh sesuatu yang tidak halal.

Poin utamanya adalah mulai untuk mengonsumsi produk halal. Untuk setiap aspek kehidupan. Walaupun aspek itu merupakan hal-hal kecil. Hal ini dikarenakan mengonsumsi sesuatu yang halal adalah kewajiban dan mengonsumsi sesuatu yang baik juga akan mendatangkan dampak yang positif bagi para konsumen.

Halal Prides

Poin berikutnya untuk meningkatkan halal awareness adalah dengan dimulai dari diri sendiri. Jika seseorang sudah mulai sadar dan mengonsumsi produk halal, bahkan nyaman dengan apa yang dikonsumsinya, ia akan menyebarluaskan informasi secara tidak langsung. Perasaan nyaman perlahan akan tumbuh menjadi suatu kebanggan atau pride. Sebagai muslim, produk halal merupakan sebuah sarana dalam menyebarkan dakwah mengenai Islam. Bahwa, agama Islam mengajarkan untuk mengambil sesuatu yang baik serta meninggalkan yang buruk dan yang menimbulkan keraguan.

Coba untuk menilik negara-negara lain yang sudah mengembangkan industri Halal. Malaysia, contohnya. Negara tetangga dan serumpun ini sangat bangga dengan produk halal. Mereka menempatkan banyak konsenstrasi di dalam industri ini. Per 2015 ini, Malaysia sudah memiliki pelabuhan halal pertama di dunia. Selain itu, nilai transaksi komoditas halal sudah mencapai 1,15 juta USD. Bandingkan dengan kondisi yang ada di Indonesia. Nilai transaksi komoditas halal hanya mencapai USD. Walaupun begitu, Indonesia mampu menduduki peringkat ke-empat dunia dalam industri halal di dunia.

Rasa kebanggan yang muncul setelah mengonsumsi produk halal secara konsisten akan menuntun umat muslim pada pembiasaan diri dalam menerapkan Halal Lifestyle di kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung, muncul aspek self-marketing untuk produk baik melalui mulut ke mulut ataupun jenis promosi lainnya. Selain itu, rasa bangga ketika mengonsumsi produk yang halal dan baik akan memberikan self motivation sehingga memberikan nilai lebih, tidak hanya sekadar mengikuti prinsip halal.

Let’s Do It!

Oleh karena itu, tiga poin yang disebutkan sebelumnya merupakan poin-poin yang penting dalam menerapkan gaya hidup halal (Halal Lifestyle) sehingga tingkat halal awareness masyarakat muslim di Indonesia semakin meningkat. Ada nilai lebih yang didapatkan, baik dirasakan bagi konsumen ataupun produk yang dikonsumsinya. Seperti rantai yang saling terkait. Hal paling sederhana untuk dilakukan adalah mulai menerapkan gaya hidup halal di kehidupan sehari-hari. Sebagai umat muslim sudah menjadi kewajiban untuk hidup sesuai dengan prinsip islami yang di dalamnya mengandung nilai-nilai halal, syariah, dan kebaikan.

 

 nb: artikel ini ditulis Desember 2015 lalu, namun baru dipost sekarang.

Dilihat 385