Sang Elegi

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2016
Sang Elegi

Untukmu yang pernah merasakan kehilangan, ada perihal yang harus kamu tahu; bahwa kehilangan akan selalu siap untuk sekadar mampir dalam hidupmu. Pada Takdir yang menunjukkan padanya sebuah hari di mana ia akan datang kepadamu. Sementara aku, hanyalah guidance biasa saja. Menatapmu kelu atas apa yang terjadi dalam hidupmu.

“Tuhan tidak adil,” katamu.

Maksudmu?

“Tuhan sudah mengambil Ayah dan Ibu.”

“Seenaknya saja tanpa izin ataupun permisi,” ucapmu lagi.

Ada amarah dan rasa benci yang begitu besar bersemayam di relung dadamu. Aku bisa melihatnya jelas, duhai kawan. Kepergian mereka meninggalkan jejak dalam dirimu.

“Aku benci! Aku mau Ayah dan Ibu kembali!” kamu mulai lepas kontrol. Wajahmu memerah panas.

Kembali katamu? Ini bukan perkara membalikkan telapak tangan, Nak. Ini adalah perkara hidup dan mati. Dan kau, tak punya  wewenang untuk mengubah semua ini.

“Aku tak peduli!” bentakmu. “Hanya mereka yang aku punya di kehidupan ini. Kau tahu, bagaimana rasanya untuk tak lagi mengenang kasih sayang mereka?”

Terdengar isak tangis. Kedua bola matamu mulai menjatuhkan bulir-bulir air mata. Gerimis turun di wajahmu. Jika rindu itu semakin menyesakkan, buat apa kamu menahannya? Tumpahkan, agar kelegaan hinggap di hatimu.

Dan ya, aku mengerti seperti apa rasanya kekeluan rindu. Kamu bukan orang pertama yang kutemui.

Pada kedalaman wajahmu, aku bisa melihatnya. Kesunyian; kehampaan; kesendirian. Perihal yang membuatmu merasakan penderitaan. Tentang sakitnya merasa kehilangan.

“Apa kau bisa melakukan sesuatu untuk membuat mereka kembali?” tanyamu kembali.

Bersenandunglah. Nyanyian kegelapan pada pekatnya malam. Pada harmoni  rasa sesak dan sakit.

“Aku ingin bertemu mereka, rindu sekali.”

Aku pun memberinya sebuah penawaran.

Bagaimana jika kamu ikut denganku?

“Maksudmu?”

Akan kuajak kamu ke tempat orangtuamu berada.

“Apakah aku harus juga seperti mereka?”

Aku tak mengatakan seperti itu. Tapi, kamu mengerti apa yang kumaksud.

“Tidak! Tidak mau,” tolakmu begitu saja.

Satu-satunya cara adalah pergi bersamaku. Selamanya.

“Tidak! Pasti ada cara lain. Tidak!” bentakmu lagi. Kali ini, kamu lepas diri sepenuhnya.

Emosimu pun meluap. Gejolak jiwa yang hampa mendorong pemiliknya untuk gelap mata. Kamu mulai menghancurkan tiap porselen yang ada di sekitarmu. Pecah belah, hiasan rumah yang terbuat dari kaca, kamu hempaskan ke lantai. Kamu lemparkan kaca-kaca yang memantulkan kekelamanmu. Kamu balikkan meja dan setiap barang yang bisa kautemui. Kamu hilang arah. Jiwamu membusuk. Menunjukkan lubang menganga di dalam hatimu.

Kesunyian ini memang membuatmu menderita. Pagi, siang, sore, dan malam, semua terlihat gelap olehmu. Maka, bersenandunglah. Nyanyian kegelapan dalam pekatnya malam. Dengan alunan ritme kelu dan telisik rindu yang menyesakkan. Menelusup hingga tulang-belulang.

Kamu pun lelah setelah selesai dengan semua kekacauan ini. Napasmu tersengal-sengal. Masih ada dendam di dalam hatimu dan kebencian masih menguasai hatimu. Maka, aku pun memberi saran; ikhlas merelakan. Tuhan tidak pernah jahat padamu. Dia hanya ingin membuatmu kuat secepat mungkin. Tanpa menunggumu berkeluarga dulu, Ia mengujimu. Sejauh mana kamu bisa bertahan. Ingin melihatmu dewasa secepat mungkin.

“Bukan seperti ini, kan, caranya?” tanyamu, dalam keadaan menenangkan diri.

Hanya ini satu-satunya cara.

Kamu pun melempar diam. Seakan menimbang tiap kata dari ucapanku.

“Tapi ...,” kamu bangkit dari dudukmu di lantai, “jika rindu itu benar-benar menyesakkan, bukankah hal biasa, akan selalu ada penyesalan?”

Tentu, kawan. Selalu datang belakangan.

“Lalu, bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan orangtuaku lagi?” tanyamu lagi. “Tak pernah cukup bagiku hanya datang mengunjungi pualam ayah dan ibu.”

Lanjutmu, “Aku selalu memunajatkan doa pada sujudku di sepertiga malam.  Dan hati ini semakin sesak saja dari hari ke hari.”

Aku hanya mengangguk pelan. Mendadak ketenangan melanda dirimu. Bagai amuk harimau di penangkaran yang berubah bisu setelah sang pawang datang untuk menenangkannya. Kamu mulai sadar arti dari setiap untaian kata-kataku. Atas pesan yang terselip dibaliknya. Mulai mengeja bait-bait senja temaram. Hati nya mulai luluh.

Ikutlah bersamaku, kawan. Pergi bersamaku. Kamu pantas bersatu kembali dengan Ayah dan ibumu. Jika kamu masih ragu, maka, senangdungkanlah nyanyian kegelapan dalam pekatnya malam. Dengan alunan harmoni kesunyian. Coba kamu resapi dalam jiwa, tanyakan pada nuranimu, apa yang kamu benar-benar inginkan?

Kamu melempar diam. Menimbang sejenak pertanyaanku. Tidak, tidak sejenak. Kamu membiarkan detik meraih menit, dan menit mengikat jam. Kemudian, kamu kembali menatapku.

“Apakah akan terasa sakit, nantinya?” tanyamu sedikit penasaran.

Tergantung. Biasanya sedikit terasa sakit, namun setelahnya kamu tak akan merasa apa-apa lagi. Kamu harus ikhlas merelakan.

“Benarkah? Tunggu─” potongmu. “Aku harus memastikan, jika aku ikut denganmu, apa yang terjadi padaku? Apa untungnya bagiku?

Tidak akan terjadi apa pun. Kamu hanya cukup memejamkan mata, dan kemudian tak merasa apa pun lagi. Buang jauh-jauh tiap dendam, amarah, dan benci itu. Percayalah, Tuhan adalah Maha Adil. Dan Takdir, adalah perantara dalam menuliskan kisah kehidupanmu.

Mungkin, kepergian orangtuamu adalah bagian dari kisah, bahwa akan datang harinya di mana aku akan menjemputmu. Kita memang sudah disuratkan untuk bertemu hari ini, kawan.

Aku pun melanjutkan. Apa untungnya bagimu? Aku akan mebawamu ke tempat peraduan ayah dan ibumu kini. Bukankah hanya ini yang kamu inginkan dalam hidupmu? Bukankah rindumu sudah hampir membusukkan jiwamu?

“Baiklah.” Wajahmu berubah tenang. “Aku akan ikut bersamamu.”

Aku pun tersenyum. Aku senang kamu mau menerima ajakanku.

“Penuhilah janjimu. Atau aku akan mencarimu ke mana pun kau pergi, menuntut balas dari janji ini.”

Ya, tentu. Pejamkanlah kedua matamu sekarang.

Kamu pun memejamkan mata. Tak berapa lama kemudian, ada sedikit ringis di wajahmu, sedikit menahan sakit. Namun, kemudian ketenangan menyebar di sekujur tubuhmu. Mulai dari kedua telapak kakimu, perlahan tubuhmu memucat pasi, hingga ke badan, kedua tangan, dan terakhir sampai pada ubun-ubunmu. Sesosok bayang semu terbangun dari bujur kaku tubuhmu.

Sosok itu menatapku. “Ayo, aku siap untuk pergi bersamamu.”

Kita pun berjalan beriringan, menembus malam dan hawa dingin udara. Perlahan memburam dan kemudian menghilang dari kehidupan ini selamanya.

Akulah, Sang Elegi. Senandung kelu. Nyanyian kegelapan dalam pekatnya malam. Alunan ritme yang mengusik kegelapan hati. Aku bersemayam dalam rasa sakitnya kehilangan dan sesaknya merindu. Karena ketika itu, hanya akulah, nyanyian yang akan mereka dengarkan sebagai penawarnya.

 

  • view 167