Lampion Senja

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 15 September 2016
Sang Kehilangan

Sang Kehilangan


Kumpulan cerita-cerita yang siap meneguhkan hatimu. Dari amuk badai yang meliuk di antara celah kerinduan dan angan untuk melihat orang yang dicintai kembali. Antologi Cerpen Sang Kehilangan

Kategori Cerita Pendek

8.5 K hak cipta terlindungi
Lampion Senja

            Gemercik air jatuh menghunjam tanah kering. Gerimis mata perlahan mengering. Kedua celung mata sudah berubah kehitaman. Napas masih terasa sedikit memburu. Sesak hinggap di dada. Menoreh luka. Membusukkan asa. Merobek jiwa. Emosi tertahan dari buncahan benci. Menyesap tiap dersik angin yang menampar pelan wajah.

            Ada, sebuah pemandangan temaram. Pendaran lampion menyala tenang di pelataran taman. Kedua telapak tangan masih sedikit gemetaran, mengenggam sesak sepucuk kertas putih yang tertoreh tinta. Bangku kayu cokelat masih menjadi peraduan hangat di bawah lampion.

             Langit jingga bertaut di angkasa. Bintang-bintang mulai tampak meramaikan. Matahari pun semakin memerah. Hendak permisi dari langit. Manusia-manusia melintas bergantian langkah. Namun, keberadaan mereka bagai acuh yang menulikan telinga. Tak terdengar suara langkah-langkah itu. Tak terdengar kata-kata yang mengalir dari bibir-bibir merah mereka. Tak ada satu pun yang mampu ditelusup telinga. Bahkan ditangkap oleh kornea mata.

                   Andai, penyesalan itu ada. Mengembalikan realita pada perputaran waktu sebelum semua hal ini terjadi.

***

             Kenangan. Jika kau bertemu dengannya, katakan, jadilah berani. Jangan karena sepucuk surat kemudian hilang menenggelamkan. Beritahu ia, jika aku di sini datang memanggilnya. Berharap, ia datang mengembalikan apa yang ia pernah ambil dariku.

            Sudah setahun belakangan ini aku berjalan dalam ketiadaan. Jauh dari kerumunan orang yang berdesak-desakan di pasar atau sekumpulan manusia yang terus menyesak keramaian pertunjukan musik. Aku menapaki jalan kosong untuk mencari arti hidup.

            Masih teringat jelas di dalam otak ini saat mata harus menatap pandangan nanar seorang wanita tua di atas kasur berselimutkan kain berwarna hijau. Tangan rentanya tenggelam dalam genggamanku. Dia seolah hendak memindahkan tiap garis sendu yang menoreh di dalam jiwanya kepadaku.

            Setiap hari aku memanggil wanita itu dengan sebutan ibu. Walaupun dia adalah wanita kedua yang kupanggil ibu, perasaanku padanya tetap takkan berubah. Bagai anak burung yang disuapi cacing oleh Sang Induk, aku selalu merasakannya. Menyesak di dada kala satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanya berdiri di sampingnya dan memberikan jemariku untuk digenggamnya.

            Wanita yang kupanggil ibu ini bercerita tentang arti ketulusan. Sebuah perasaan di mana seorang manusia akan rela dengan sepenuh hati dalam menghadapi hal-hal di kehidupan ini. Sebuah dorongan dalam batin dari manusia untuk bisa menciptakan kelegaan di dalam relung dada bernama hati. Karena ketulusan tidak membicarakan keharusan, tapi sebuah kenyamanan.

            Apakah dia akan menerima saat hal buruk terjadi atau dia akan melepaskan saat perasaan itu hilang dalam sebuah perjalanan bernama pergi.

            Guratan wajahnya mengingatkan pada seorang wanita yang dulu sekali juga pernah kupanggil ibu. Wanita pertama yang kuakui sebagai ibu. Mata birunya, rambut bagai gelombang ombak di lepas pantai dan berwarna senja di ambang langit, sama persis dengan wanita di hadapanku ini. Hanya kerutan di wajah yang membedakannya.

            Matanya masih menatapku nanar. Kemarikan telingamu, ucapnya sedikit lirih. Dia harus menarik napas dalam-dalam sejenak dan mengucapkannya. Selang-selang masih menyambungkan pembuluh darahnya dengan sebuah kantung berisi cairan bening. Kantung cairan itu disangga oleh sebuah tongkat beroda yang terbuat dari besi.

            Dia menunjuk sebuah album yang terletak bebas di atas lemari pakaiannya. Album itu menyembul di ujung atas lemari, sehingga tak sulit menemukannya. Album itu bertuliskan “Kenangan” di sampulnya. Tangan rentanya menunjuk ke arah udara dan membentuk gerakan membalikkan halaman. Aku tahu, berbicara beberapa patah kata akan mempersulit pernapasannya. Itulah sebabnya, beberapa bulan ini aku membiasakan diri dengan tiap gerakan di udara yang coba dibuatnya.

            Aku membuka album itu. Tampak banyak foto menghiasi tiap lembar album itu. Foto seorang bayi dengan tawanya yang begitu manis, dua buah bola tenis di pipinya, tiap potret senyuman saat piknik, menatap pohon pinus di samping taman, dan ya. Ada foto kala gerimis turun di matanya. Aku melihat bayi itu menangis karena sebuah mainan binatang yang mungkin dikiranya sebuah monster penggigit.

            Aku membuka lembar demi lembar. Bagai melihat rekaman. Begitu banyak foto yang menunjukkan saat bayi itu perlahan mulai mengenal kehidupannya. Foto perayaan ulang tahun pertama—aku menemukan sebuah ucapan ulang tahun di keterangan foto, potret kala dia merangkak, dan kemudian saat dia meraih kursi sofa. Saat sepasang tangan mungilnya menggapainya dan mengangkatnya dalam pelukan.

            Seorang wanita yang dulu pernah kupanggil ibu. Garis di dahinya mengingatkanku pada kaca. Saat aku menatapnya, benda itu menampilkan siluet yang sama; aku adalah bagian dari wanita di foto ini. Apalagi, saat dua lembar berikutnya aku menemukan sebuah foto wanita itu mengecup kening sang anak. Tulisan di bagian paling atas lembar itu bertuliskan angka ‘3’ dan sebuah kata’tahun’.

            Perasaanku semakin menjadi-jadi. Lembar demi lembar menuangkan jutaan emosi dan menumpahruahkannya di dalam jiwa. Album ini seperti sebuah perjalanan. Saat jutaan memori saling membentuk jejak di dalam jalan setapak bernama kehidupan. Memori itu menjadi undakan batu marmer di sepanjang jalan. Aku bisa melihatnya dari dalam album kenangan itu. Aku melihat sepotong siluet bayangan berjalan terus tanpa tahu di mana muara dari jalan itu. Album itu benar-benar menenggelamkanku dalam sebuah penyelaman masa lalu. Menjauhkanku dari fase sadar dan menjerat dalam fase memorized.

            Ada kehangatan mengucur di dada. Seakan sebuah perapian dinyalakan di utara Kanada yang dinginnya begitu menyelusup. Inikah yang disebut bermain dengan masa lalu? Atau inikah yang disebut dengan terjebak dalam ketidakmampun untuk bergerak dari masa lalu?

            Semua retorika bermain di kepalaku. Aku rindu wanita muda di foto ini. Bayangannya adalah bayanganku. Aliran darahnya juga mengalir di dalam pembuluh darahku. Dia punya senyuman seperti senja di ambang langit. Aku juga punya senyuman itu. Hanya saja aku lebih suka menyebutnya sebagai gerimis kala awan pekat keabuan datang ke kota ini.

            Satu-satunya yang kutahu adalah, aku tak pernah bisa siap melepaskan keduanya. Satu-satunya yang membedakan adalah keduanya terpisah oleh sebuah peraduan yang berbeda. Jika Ibu yang kedua adalah wanita tua yang mata birunya kini sudah terpejam di atas kasur, Ibu yang pertama tersenyum di dalam pualamnya. Di atas rerumputan hijau yang seminggu sekali kutaburkan bunga di atasnya. Menitip rindu pada langit, semoga disampaikan pada peraduannya.

***

            Hujan tak pernah bosan mengetuk-ngetuk jendela. Yang biasanya jendela ditutup karena takut air hujan akan jatuh menimpa lantai atau barang-barang di sekitarnya, kini dibiarkan terbuka. Yang biasanya buku-buku tersusun rapi di dalam rak, kini dibiarkan berantakan.

            Mainan-mainan replika tokoh superhero berserakan di lantai. Hancur tak keruan. Robekan-robekan kertas tercecer. Keping-keping patahan kayu meja bertebaran. Sampul buku tercabut ke mana-mana. Serpihan-serpihan dari pecahan kaca bertaburan di dekat lemari. Tanganku berdarah. Gelegar petir memancing benci.

               Aku hilang arah. Aku hilang kendali. Aku benci sebencinya pada Tuhan.

            Dua hari yang lalu, wanita tua itu tetiba sulit bernapas. Aku langsung membawanya ke rumah sakit di pusat kota. Berbagai macam usaha dilakukan oleh dokter, tapi hasilnya kemustahilan. Dokter hanya menggelengkan kepala, saat aku bertanya apakah wanita tua itu masih bisa diselamatkan atau tidak.

            Langkah pulangku sangat gontai. Remuk rasanya. Jika dulu aku pernah kehilangan seorang Ibu, kini aku harus merasakannya kembali. Entahlah, apa maksud Tuhan menyuruh Takdir menuliskan kepergian ini. Bagai membunuhku dua kali, telak di hati.

            Batinku menolak ditenangkan. Emosi membuncah. Bulir hujan jatuh menghunjam jaket cokelat tuaku. Menutupi gerimis di mata yang bahkan sudah turun sebelum hujan ini datang. Mataku buta oleh sendu. Kakiku tersesat oleh kehilangan.

            Mungkin, merusak sesuatu bisa melegakan. Atau, menghancurkan sesuatu bisa melepaskan. Aku teringat nasihatnya dulu, sesaat setelah aku selesai melihat album itu. Dia mengenggam tanganku erat sekali pada permulaannya. Lalu dia menunjuk senyuman di bibirnya. Aku masih menerka-nerka perihal apa yang hendak dikatakannya. Kemudian, dia mengarahkan telunjuknya, sedikit bergetar, ke arah dadaku. Dia melebarkan jemari kanannya dan kemudian menekan pelan dadaku. Lama sekali. Hingga gerimis turun di matanya. Hingga dia memindahkan jemarinya ke dadanya sendiri.

            Aku terpaku. Aku mengerti. Kenangan itu berasal dari cinta yang indahnya seperti sebuah senyuman. Dalamnya kenangan itu karena resapan dari dalam relung dada bernama hati. Yang dibuncahkan jiwa. Kenangan itu menghubungkan hati setiap manusia yang pernah merasakannya atau pernah saling mengikatnya dari orang lain. Dia hendak mengatakan padaku jika kenangan itu adalah satu-satunya harta yang dia bisa wariskan kepadaku.

            Di antara porak-poranda depresi kamar ini, aku kembali bergerimis di mata. Aku tidak siap hidup sendiri seperti ini. Aku tidak siap mati dua kali. Aku tidak pernah siap menghadapi realita jika sang pemberi nasihat kini sudah berbalut ketiadaan dan melakukan perjalanan bernama pergi. Selamanya. Ke langit ketujuh.

            Napasku yang sedari tadi memburu mulai kembali normal. Api di dalam wajahku sudah mulai padam. Darah di sekujur buku-buku tulang jemari sudah mulai mengering. Perlahan kuresapi telisik hujan. Begitu kelu dan menyayat. Jika memang semua orang yang kucintai pergi, kenapa tidak aku juga mengambil jalan yang sama? Sepuluh tahun lalu, Ibu pergi meninggalkanku sendirian. Aku pikir dia jahat. Yang teringat olehku saat itu adalah ketika sebuah cahaya terang tetiba muncul di hadapan kaca mobil kami, dan kemudian semuanya memburam. Aku menemukan diriku menangis di atas sebuah kasur. Aku tidak menemukan Ibu kembali. Aku tidak pernah mendengar suaranya lagi.

            Untuk anak berusia sepuluh tahun ketika itu, kepergian Ibu sama saja seperti merenggut kebahagiaan dari hidupnya.

            Oleh karena itu, kenapa tidak aku juga melakukan perjalanan? Mungkin dengan menyambangi berbagai tempat, aku bisa menemukan arti dari kehidupan. Mungkin, dengan melangkahkan kaki keluar, aku bisa perlahan melepaskan. Ikhlas melihat seorang wanita yang kupanggil ibu kedua menyusul seorang wanita pertama yang kupanggil ibu. Ya, tangan yang biasanya melukis di udara sudah terletak kaku. Napasnya sudah berhenti. Wajahnya pucat.

            Nenek sudah pergi untuk selamanya.

***

            Lampion berpendar manis. Ia tidak sendirian. Ia ditemani beberapa temannya yang juga berpendar manis di tiap sampingan bangku kayu cokelat ini. Berdiri setia setiap waktu, memberi kesempatan bagi para pemburu langit untuk bisa memotret keindahan dalam memorinya. Aku suka dengan lampion-lampion di taman ini. Taman dengan petak-petak rerumputan dan bunga-bunga bermekaran.

            Aku menengadahkan kepala ke atas. Sepucuk kertas itu masih tergenggam erat. Langit jingga menjeratku dalam pesona yang tak beralasan. Setiap kali melihat langit di momen seperti ini, ada kehangatan mengucur di dada. Di dalam jiwa. Bagai melihat siluet Ibu dan Nenek di atas sana.

            Ah, apa kabarmu, Ibu? Nenek?

            Aku pun mencoba untuk membaca goresan-goresan tinta yang sedari sore tadi kutorehkan di sepucuk kertas ini untuk menemaniku menanti senja.

            Halo, Ibu, Nenek. Bagaimana keadaan di atas langit sana? Apakah Ibu dan Nenek sudah bertemu dengan para makhluk-makhluk bersayap putih dan penuh kilauan cahaya suci?

            Emm ... aku mau cerita sesuatu kepada kalian. Setelah kepergian Nenek, aku menjadi buta. Pada kebahagiaan yang dulu kupikir bisa kudapatkan kembali ketika kasih sayang Nenek benar-benar bisa menembus kegelapan; saat sendu menyelimuti jiwa karena Ibu pergi untuk selamanya. Aku tak pernah tahu ketika itu, jika senyum Ibu di mobil adalah menjadi yang terakhir kalinya untukku. Menjadi potret abadi dari kegelapan.

            Sekarang aku mengerti, Bu. Ketika Ibu bilang bahwa fase sebelum menikah adalah masa-masa paling bahagia. Karena aku akhirnya merasakan ketulusan yang Nenek berikan untukku, sama seperti dia memberikan ketulusan dan pengorbanannya untukmu. Yang membuatku selamat dari kecelakaan itu tidak hanya karena Tuhan memberiku kesempatan kedua, tetapi juga ketulusanmu. Perjalanan yang kulakukan setelah kepergian Nenek benar-benar membuka mataku. Perihal arti sebenarnya dari kehidupan ini.

            Teruntuk Nenek, entahlah apa yang bisa kukatakan. Sepuluh tahun bersamanya membuatku belajar banyak hal. Dia mengajariku cara memasak, menemaniku saat bersedih, selalu mengusap air mataku kala rinduku pada Ibu tak tertahankan lagi. Nenek adalah ibu keduaku yang terbaik.

            Dengan pergi aku bisa mengerti perihal memiliki. Sebuah ikatan perasaan yang begitu kuat saat hati sepenuhnya menerima sebuah keterpautan dari perasaan dan ketulusan. Saat ikatan itu terputus aku bisa merasakan betapa pentingnya perasaan itu harus selalu terjaga. Perasaan itu yang membuat manusia kuat.

            Ibu, Nenek, jika kalian menemukan seikat bunga di surga sana, yakinlah, itu adalah satu dari sekian doa yang kusujudkan di sepertiga malam. Percayalah, kalian akan selamanya bersemayam bersama memori di dalam album bernama kenangan.

            Semoga, kita segera bertemu lagi, Bu, Nek. Sampai jumpa di doa berikutnya.

 

Anakmu,

            Langit jingga mulai menipis. Lampion-lampion yang tadinya tenang kini berpendar terang. Lampion senja, aku menamainya. Aku suka gugusan lampion ini. Teman kala aku berenang di dalam kenangan di taman ini. Karena lampion ini selalu mengingatkanku pada bayang temaram rumahku dulu. Yang kini, berjarak ribuan kilometer jauhnya setelah perjalanan itu kulakukan. Di sinilah aku, penikmat senja.

            Dengan pergi, aku mengerti perihal kenangan. Betapa sesaknya merindu karena sebuah hal sederhana yang kasat mata. Betapa sakitnya saat sesuatu yang nyata kini menjadi sebuah pengisi album semu. Tersimpan rapi di dalam hati.

            Andai, penyesalan itu ada. Mengembalikan realita pada perputaran waktu sebelum semua hal ini terjadi. Tapi aku sadar, berharap takkan menghidupkan kembali yang mati. Kenanglah orang-orang yang pernah menghadirkan bahagia di hati. Abadikanlah potret momen yang pernah menghampiri. Dengan begitu, kepergiaan mereka akan memberikan arti. Kepada sepotong hati manusia yang kehilangan dua kali.

 

SELESAI