Percakapan Bersama Ayah

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 September 2016
Sang Kehilangan

Sang Kehilangan


Kumpulan cerita-cerita yang siap meneguhkan hatimu. Dari amuk badai yang meliuk di antara celah kerinduan dan angan untuk melihat orang yang dicintai kembali. Antologi Cerpen Sang Kehilangan

Kategori Cerita Pendek

8.6 K hak cipta terlindungi
Percakapan Bersama Ayah

Wajahnya semakin pias. Peluh mengalir tiada henti. Tangannya menggenggam sebuah tas berisi kertas-kertas pekerjaan. Dasinya sudah mencong. Napasnya memburu. Lelaki itu melirik arloji cokelat tua miliknya. Sudah pukul lima. Pantas saja, batinnya. Di jam seperti ini, hanya di sinilah tempat berkumpulnya lautan manusia; kereta antarkota. Seperti ikan teri di dalam stoples.

            “Yah, aku mau minta izin, daftar ke SMA A di kota B. Kata Ibu di sana sekolahnya nomor satu dan sepertinya nilaiku memenuhi syarat untuk mendaftar di sana.”

            Dua jam berdesakan dengan lautan manusia membuatnya jengah. Kerut di wajahnya dari hari ke hari kian muncul, menandakan usianya. Selaras dengan rambutnya yang sudah memutih. Tapi bukan perihal usia yang bisa mematahkan asanya untuk terus berkejaran dengan langit fajar ketika berangkat dan menatap senja di perjalanan pulang. Lelaki itu tidak sendirian menjalani hidup. Ada perempuan yang menunggunya di rumah. Ada sang penerus yang menunggu nasihat-nasihat bijaknya.

            “Yah, aku berhasil naik ke kelas dua dengan lolos ke kelas IPA. Tadi, Ibu sudah menggantikanmu ambil report di sekolah. Aku berhasil mewujudkan keinginan Ayah untuk masuk kelas IPA.”

            Sesampainya di stasiun, dia bergegas memanggil ojek dan melanjutkan perjalanan pulang. Di sepanjang perjalanan dia mengenggam dadanya dengan raut muka yang sedikit meringis. Tepat ketika arlojinya menunjuk pukul delapan, lelaki itu mengetuk pintu kusam berwarna gelap. Satu dua ketukan tidak ada yang membalas sahutan. Ketukan ketiga berhasil. Lelaki itu bertopang pada dinding. Seorang perempuan berdaster hijau membukakan pintu. Perempuan itu memeluk sang lelaki sejenak dan kemudian mempersilakannya masuk.

            “Yes, aku berhasil lulus dengan nilai paling terbaik! Harus segera bilang sama Ayah, nih!”

            Lelaki itu pasti sangat lelah. Matanya begitu sayu, dan nada suaranya begitu gontai. Dia merebahkan badannya di atas sofa yang sudah tepos. Perempuan tadi membawakannya segelas air mineral untuk menghapus dahaga di lehernya. Seorang pemuda—sang penerus— kemudian menghampiri lelaki itu. Berbincang-bincang sampai sang lelaki beranjak entah ke mana. Ke kamar mandi, mungkin.

            “Yah, kemarin aku berkelahi sama River, maafin ya. Lagian, dia menghina kekasihku. Tapi kemudian aku sadar kalau aku salah. River juga akhirnya meminta maaf. Ternyata pukulanku lebih keras dari miliknya. Hebat, ya?”

            Lelaki itu kembali ke sofa. Dia terlihat lebih segar. Rambutnya masih basah dan masih tercium aroma sabun dan sampo. Sementara di atas meja makan, di bawah tampah, sudah terkuar aroma-aroma yang menggoda indera penciuman. Perempuan itu ahli memasak rupanya. Bertiga menikmati hidangan malam. Bahagia benar-benar tampak di sana. Suasana begitu hangat. Sang pemuda begitu antusias berbicara dengan lelaki itu.

            “Yah, aku berhasil masuk kampus impianku! Aku benar-benar tidak percaya! Aku pikir aku akan kalah bersaing dengan anak-anak kota atau bahkan negara lain. Ayah nanti datang, dong ke acara penyambutan.”

            Bunyi denting sendok dan garpu sudah berhenti mengalun. Piring-piring makan sudah bersih kembali. Perempuan tadi sedang berada di kamarnya. Hanya menyisakan sang lelaki dan pemuda itu. Sang pemuda memperlihatkan laporan nilai-nilai sekolahnya. Tempat di mana ia mengenakan seragam putih-biru. Lelaki itu tersenyum puas. Seolah-olah penat hari ini terbayar semuanya. Sang pemuda berhasil mendapatkan juara pertama di kelasnya. Semua nasihat dan motivasi dari dirinya tak menjadi suatu kesia-siaan.

            “Aku berhasil dapat beasiswa loh, Yah. Sekarang aku bisa menabung buat pendidikan lanjutku setelah wisuda nanti.”

            Lelaki itu mengusap kepala si pemuda. Pemuda itu tersipu malu. Memang momen seperti ini yang diinginkannya. Dan dia mendapatkannya. Sang penerus—yaitu si pemuda—bercerita banyak. Lelaki tua itu selalu menceritakannya banyak hal kepada sang penerus tentang kehidupan. Tentang kenangan. Dan kemudian dia akan membiarkan pemuda itu pergi mencari segudang cerita untuk diberikan padanya. Pemuda itu kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia mematikan lampu dan tenggelam dalam kegelapan. Keheningan menguasai. Sampai-sampai, malam menjadi semakin kelam dan suram.

           Di antara lelap tidurnya, sesosok bertudung hitam mendorong pintu kusam rumahnya. Menyelinap masuk di antara kegelapan. Tak ada bunyi derit seperti yang terdengar saat sang lelaki tua itu kembali dari pekerjaannya. Sosok itu menghilang. Dia sudah tahu tujuannya ke rumah itu. Hanya saja, terkadang ada banyak alasan yang tak harus dimengerti. Senyap, senyap, dan senyap. Sesaat jam berhenti berputar.

          Lelaki tua itu membuka pejaman matanya dan menatap sisi kirinya, tempat sosok bertudung itu berdiri. Sejenak dia hendak melepaskan pekik, namun bisa ditahannya. Sosok itu berbisik dengan frekuensi suara yang hanya bisa ditelusup oleh telinga sang lelaki tua. Sosok itu kemudian menghilang. Diikuti pejaman mata lelaki tua itu.

            “Yah ... mengapa hidup rasanya tidak pernah adil, ya? Sering sekali aku merasa kalau aku ingin menghilang saja. Tak kuat rasanya.”

            Si pemuda terjaga dari lelapnya. Seberkas sinar matahari sudah menerobos masuk melalui jendela kamar. Namun, hening masih ada di sana. Tak seperti biasanya. Si pemuda memanggil nama orangtuanya, dan perempuan tadi muncul. Matanya sembap. Seperti bekas air mata yang mengering. Pemuda itu bertanya mengapa? Namun sang perempuan hanya menghampiri dan memeluk pemuda itu. Dia hanya bilang, apa pun yang terjadi sesaat setelah masuk kamar, pemuda itu harus kuat dan tabah. Maka pemuda itu pun melangkah masuk ke dalam kamar. Ketika dia menembus ambang pintu, momen itu pecah.

            “Yah, aku rasa aku tidak tahan lagi seperti ini. Semakin dewasa aku semakin mengerti, bahwa akan ada titik-titik nadir yang harus kulewati. Ayah selalu bilang padaku untuk tetap tegar atas apa yang kulalui dalam tiap masalah. Ibu juga selalu mengingatkanku untuk tidak takut sesaat setelah aku melewati pintu itu.”

            Entah mengapa, hujan turun. Berpadu dengan gerimis yang perlahan juga berjatuhan dari kedua mata. Langit seolah mengerti. Aku menatap lamat-lamat pualam di hadapanku. Aku sedang menatap lelaki tua yang bahkan aku mungkin belum mengenalnya sangat dalam. Saat aku ingin memahaminya, dia memilihnya jalannya sendiri. Dia memilih untuk melanjutkan perjalanan bersama sosok bertudung hitam.

            “Ayah, kemarin Ibu titip salam rindu buat Ayah. Sepertinya dia kangen. Doain ya, Yah. Ibu sedang dirawat di ICU. Tadi paman Rio sudah menjaganya. Semoga Ibu cepat sembuh ya, Yah.”

            Aku beranjak dari pualam itu. Menembus derai hujan yang terus berjatuhan. Membasahi mantel yang kukenakan. Membasahi rambut ikalku. Masa bodoh dengan payung. Biar hujan ini menghunjamiku dengan kenangan lampau.

            Sesaat setelah aku melewati ambang pintu, aku sadar hidupku takkan pernah sama lagi. Aku takkan mendengar Ayah berkelakar lagi, atau menatap wajah penatnya, atau bahkan diusap-usap saat aku mengabarinya perihal nilai-nilaiku di sekolah. Semuanya memudar, dihempas ke sudut kenangan.

             “Kepergian Ayah yang terasa mendadak sangat membuatku marah. Tiap hari aku membencimu. Tapi, tak cukup untuk membuat selalu ke sini. Bagaimana pun juga aku rindu padamu, Yah. Bagaimana pun juga aku selalu ingin bercerita padamu. Karena aku sadar, aku kehilanganmu justru di saat aku belum merasakan banyak momen-momen bersamamu. Bahkan, aku pikir kita ternyata baru bisa melalui momen-momen indah bersama saat aku dan Ayah dipisahkan jarak bernama pijakan tanah. Aku benci padamu, karena meninggalkanku begitu cepat. Namun, kepergianmu menyadarkanku, aku tak bisa menyesali takdir. Toh, Ayah selalu ada untukku sampai sekarang. Aku bisa merasakan kehadiranmu di mana pun aku berada.”

            Aku mengusap gerimis di mataku. Di antara kebisuan yang tercipta di antara pekat malam, aku duduk terdiam. Menengadahkan kepala ke atas langit. Kepergian Ayah membuatku sadar; manusia takkan bisa semudah itu melepaskan. Karena orang-orang itu yang benar-benar sangat berharga baginya.

           

           

           

  • view 439