Melepasmu

Arini Falahiyah
Karya Arini Falahiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Oktober 2017
Melepasmu

                Suasana coffee shop lumayan sepi, sangat pas untuk menghilangkan penat setelah aktifitas yang padat. Alunan musik jazz yang mengalun pelan secara tak sadar membuat pengunjung betah berlama-lama. Aku mengaduk coffee latte-ku perlahan, meneguknya. Dan percakapan pun bermula.

“Jadi, mau dibawa kemana hubungan ini?” tanyaku padamu.

“Oh gitu.. Kamu masih mau kemana-mana? Nggak mau menetap di satu tempat?” tanyamu balik.

“Hahaha.. Kamu selalu pintar untuk menghindar.” Lihatlah, bahkan di saat serius seperti ini kamu masih bercanda.

“Asal kamu tau, itu keahlianku.” Balasmu sambil mengerlingkan sebelah mata.

I see.. ayolah Ren.” Pintaku.

Wanita di hadapanku mendesah pelan. “Kamu selalu mendesakku, dan kamu pun sudah tahu jawabannya.”

“Jangan membohongi dirimu sendiri. Kamu bahagia?” desakku.

“Aku bahagia Roy.” Matamu menatapku lekat.

“Rena, kamu nggak perlu jadi Siti Nurbaya.”

“Aku bukan dijodohkan, aku menemukan dia.” Dari caramu bicara, kamu mulai gelisah.

Aku diam dan menarik nafas.

Rena, kamu butuh aku. Aku tahu itu. Aku yang selalu berada di sampingmu saat harimu kelabu, bahkan aku selalu menjadi orang pertama yang kamu kabari tentang banyak hal.

“Aku tahu, kita sudah terlalu nyaman satu sama lain. Dan akupun tahu, kita punya hubungan emosional yang kuat. Tapi hal itu tidak bisa menjadi alasan yang mutlak bukan?” ucapmu mencoba memperjelas hubungan kita, walau akhirnya aku tetap tidak bisa menerimanya.

“Bolehkah aku bertanya, berapa nilai yang akan kamu berikan untukku dan untuk dia?” aku ingin tahu seberapa yakin kamu dengan pilihanmu.

Kamu mengalihkan pandang ke luar kafe, dan kembali menatapku. “Fifty-fifty Roy, walaupun harus ku akui, kamu lebih unggul sedikit.”

Mendengarnya, aku merasa telah menjadi pemenang. Kepercayaan diriku kembali di puncaknya.

“Lalu apa yang membuatmu ragu bersamaku?” desakku.

Kamu mendesah berat lalu berujar, “Aku berusaha bertindak logis Roy, aku dan Mas Ryan ditakdirkan bersama. Saat aku menyodorkan dua nama, hasilnya selalu nama yang sama. Dan itu bukan kamu.”

“Tidakkah kamu memberiku kesempatan untuk mengubah hasilnya?” tanyaku.

“Tidak bisa Roy..” Kamu menundukkan wajah. “Kamu tahu kan, selama ini hubungan kita selalu banyak hambatan, bahkan seakan-akan alam pun mendukung ingin menjauhkan.”

“Bukankah sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut-Nya?” tambahmu.

Ah, kamu. Kalau sudah berkata seperti itu, aku bisa apa?

“Dan kamu tega menyia-nyiakan aku?” desakku lagi.

“Aku tidak menyia-nyiakan kamu Roy. Kita berdua sama-sama terluka.”

Ku lihat ada sendu di matanya. Memang, hubungan kita tak pernah lancar. Tapi bukankah itu wajar?

Aku tetap harus mendapat pernyataan yang jelas dan yakin darimu Rena.

“Kamu yakin akan benar-benar bahagia dengan Ryan?”

“Aku yakin dan akan ku buktikan itu.” katamu tanpa keraguan sama sekali.

“Okelah, sepertinya cukup sampai di sini aku meyakinkanmu. Tapi harus kamu ingat Ren, kalau kamu berubah pikiran, kapanpun itu, bahuku selalu siap untukmu.” Kataku tulus.

“Roy please… Kamu jangan lemah gitu dong.” Balasmu sambil menyentuh tanganku lembut.

Aku tersenyum kecut, “Entah Ren, aku selalu rela terlihat murahan di hadapanmu.”

“Tapi kamu tidak murahan.” ucapmu. Menatap matamu yang teduh selalu bisa membuatku nyaman.

“Oiya, bagaimana kabar Rissa? Dia sepertinya menunggu seseorang.” Katamu mencoba mengalihkan topik.

“Dia wanita yang manis, semua keluargaku menyukai dia.” Jawabku.

“Baguslah.” ujarmu singkat. “Bukankah hubungan tidak boleh egois? Aku selalu mencari-cari alasan logis Roy, dan inilah jawabannya.”

Lidahku kelu. Ini bukan cerita drama, dan aku pun tahu konsekuensinya.

Melepaskan, memang menyakitkan.

Namun di depan sana, akan ada banyak hal yang dapat menyembuhkan.

  • view 56