Ruang Pura-Pura

Arini Falahiyah
Karya Arini Falahiyah Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Ruang Pura-Pura

Aku tahu kapasitas diriku

Aku tahu tidak semua hal aku mengerti

Tapi aku hanya ingin obrolan ini tidak cepat terhenti

***

Sejak mata terbuka di pagi hari, selalu ada hal pertama yang terlintas di kepala. Entah itu nikmatnya kopi hitam pekat ditemani roti marie, atau kerjaan yang menumpuk sisa kemarin ditambah kerjaan hari ini. Ah, membuat mual kalau mengingatnya, pasti.

Dan pagi ini aku terlintas hal itu lagi, sebenarnya agak malas membahasnya. Sudah berkali-kali, sudah ku tanyakan pada orang-orang di pinggir kali, di kantor dinas bupati, bahkan kalau bisa sekalian ke gedung putih.

Aku bertanya, kenapa aku sering merasa berpura-pura? Apakah kamu seperti itu juga? Kalau iya, wah berarti kita berjodoh, ayok menikah.

Aku merasa sedikit terganggu ketika dulu statusku sebagai mahasiswa yang sedang KKN dianggap lebih berpunya daripada orang desa. Saat disuguhi nasi aking dengan campuran parutan kelapa, lauk ikan asin dan sambal terasi, orang-orang desa merasa berdosa sudah menjamu kita tak selayaknya. Padahal bagiku ini makanan favoritku di kampung. Tak ada dosa yang harus ditanggung mereka, malah kitalah yang tak sopan makan dengan seenaknya.

Kadang kepura-puraan bukan kita yang buat, tapi keadaan.

Suatu waktu, saat aku mengunjungi toko buku di salah satu mall mewah. Tiba-tiba seorang pegawai cantik mendatangiku, menjelaskan program bantuan desa sejahtera untuk desa-desa tertinggal. Aku pura-pura menyimak, karena aku sudah tahu akhirnya bakal seperti apa. Akhirnya dengan sopan aku menolak, ditawari jadi donatur katanya, setiap bulan minimal seratus ribu. Lagi-lagi harus pura-pura, besok saja. Padahal dalam hati aku bergumam sendiri, untuk beli buku ini saja aku harus berhemat sekali.

Kadang kepura-puraan bukan kita yang buat, tapi memang kita salah tempat.

Lain waktu, aku pergi ke bank. Karena malas berpenampilan, aku pergi seadanya saja. Niatnya mau menabung hasil jualan bulan ini, yah lumayan.

Aku menuju pintu bank, dibukakan satpam, duduk di kursi antrian. Tidak lama di belakang, ada seorang wanita cantik modis masuk, pintu dibuka satpam, senyum tersungging di sana, ada sapaan selamat pagi, bisa saya bantu? Wanita itu bilang mau buat kartu ATM. Alamaaaak... ingin rasanya aku bilang ke satpam, aku mau nabung 10 juta, tapi urung, nanti aku tidak ada bedanya.

Kadang kepura-puraan memang kita yang buat, karena kesan pertama berasal dari mata.

Dasarnya, memang kita butuh ruang

Ruang pura-pura

Sampai kapan ruang pura-pura kita singgahi?

Entah, mungkin sampai kita merasa nyaman berada di ruangan itu sampai akhirnya lupa dan tertidur.

Dan ketika membuka mata, kita merasa sudah berada di rumah singgah.

 

Ilustrasi diambil dari : Pameran Lukisan Lamongan Art 2016 karya Dhanoes

  • view 234