Jejak Singkat

Arini Falahiyah
Karya Arini Falahiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Jejak Singkat

Kita berkenalan, secara tidak sengaja di depan kontrakan.

Aku sedang mencari kontrakan baru yang bakal ku huni selepas keluar dari asrama. Kebetulan waktu itu kamu sedang bersantai di depan kontrakan sambil memetik gitar. Ku beranikan diri menghampirimu, dan menanyakan di mana kontrakan yang katanya kosong di sekitar gang.

Kamu menoleh, mengernyitkan dahi. Seolah aku pengganggu yang mengusik kenyamananmu. Lalu berkata “Maaf, kurang tahu.” jawabmu singkat dan terkesan cuek.

Dan aku, akhirnya mengerti tanda-tanda itu. Aku harus segera enyah dari hadapanmu, sebelum petikan gitar berubah dari mellow jadi nge-rock. Aku mengucapkan terima kasih dan segera menghampiri temanku. “Yuk Vin, kita tanya orang lain aja.” kataku pada Vina. “Yuk! Agak serem juga liat ekspresinya. Tapii.. Dia ganteng Ra.” celetuk Vina. Aku mencubit lengan Vina, dan segera berjalan menjauhi kontrakan cowok jutek tanpa ekspresi.

“Hey, tunggu!” teriakmu. Aku dan Vina menoleh, saling berpandangan. Mencoba saling meyakinkan kalau yang menghentikan langkah kami cowok jutek tadi.

“Iya kamu, coba sini bentar.” balasnya. Aku menggandeng Vina agar ikut denganku, tapi dia menolak. Kamu aja Ra, kamu yang dipanggil. Katanya berbisik di telingaku.

Aku melangkah dengan ragu, mencoba meyakinkan tidak ada yang salah dengan sikapku dan ucapanku sebelumnya. Jadi tenang saja Ra. Dia beranjak dari kursinya, bersandar pada pagar tembok depan kontrakan, kedua tangannya bersedekap, seperti hendak menginterogasi.

“Kamu asli mana? Bahasa Indo-mu medok banget.” tanyanya.

Ups! Ketahuan deh. Walaupun sudah setahun aku tinggal di Bogor tapi logat medokku masih kental. “Umm… kelihatan ya? Aku asli Jawa Timur, Sidoarjo.” jawabku.

“Oya? Aku juga dari Sidoarjo.” balasnya. Ku beranikan diri balik bertanya, “Mosok sih? Kok aku gak tau ngerti kakak. Pas penyambutan maba Sidoarjo gak kumpul yo?” Aku mulai bicara dalam bahasa daerah, biar suasana lebih cair dan akrab. Dia pasti kakak kelasku, karena dia sudah tinggal di kontrakan, bukan di asrama.

Iyo, gak melu. Aku cuti setahun. Iki lagek mulai balek ngampus maneh.” terangnya. “Berarti kamu semester 1 kan? Kelas A atau B?” tanyanya lagi. Mahasiswa tahun pertama memang dibagi jadi dua kategori kelas A dan B, kelas A untuk kategori mata kuliah eksak dan kelas B untuk kategori mata kuliah sosial. Jadi kita tidak langsung masuk ke jurusan, atau biasa di sebut masa Tingkat Persiapan bersama.

Iyo, aku semester 1. Kelas A 8, ono opo kak?” jawabku.

“Ooh.. Yaudah kalau gitu, suwun yo.. Eh, sopo jenengmu?” tanyanya lagi sebelum aku beranjak pergi.

“Aku Ira kak. Salam kenal.” balasku sambil tersenyum tipis dan pamit.

Jari telunjuk dan jempolmu bertautan membentuk huruf O dan bilang oke. Aku dan Vina pun berjalan menjauh.

***

Kenangan pertama kali kita bertemu menyisakan senyum di wajahku. Kamu, masih gondrong dan memiliki senyum kaku waktu itu.

Setelah pertemuan tak sengaja kita, ternyata aku tak menyangka bakal bertemu lagi denganmu di ruang kelas kuliah. Kamu sudah duduk manis di kursi belakang dan tersenyum tipis melihatku datang. Banyak pertanyaan yang mampir di otakku. Hmm.. oya, dia bilang pernah cuti, mungkin mengejar semester yang tertinggal, pikirku.

Selesai kuliah, aku segera meninggalkan kelas bersama teman yang lain. Tiba-tiba seseorang memanggil namaku. “Ira, Ira… Tunggu bentar.”

Aku menoleh, oh.. kakak kelasku sesama orang Sidoarjo itu. Aku menghentikan langkah.

“Nggak ngasih sapaan selamat datang nih?” tanyanya. “Kan aku murid baru.”

“Oh.. iya ya. Tapi kenapa kakak ada di kelasku? Bukannya kelas A tuh banyak? Kenapa milih kelas A 8?” tanyaku.

“Kenapa? Nggak boleh? Biar bisa ketemu kamu.” jawabnya sambil terkekeh.

“iih.. apasih.” balasku.

“Haha.. kamu cepet GR ya. Dulu aku juga kelas A 8 loh. Makanya aku milih kelas A 8 juga sekarang buat ngejar semester yang ku tinggal kemaren. Itu juga saran dari dosen.” terangnya.

“Ooh.. gitu. Yaudah, welcome. Kalo perlu bantuan, bilang aja kak. Kak Tio kan?”

“He’em.. Oya, minta nomer hpmu dong. Biar gampang nanya-nanya kuliah. Aku kan murid baru.”

Akhirnya kita bertukar nomor handphone dan berpisah.

***

Sejak saat itu, kita mulai sering bersapa. Karena memang aku lah orang pertama yang kamu kenal di kelas.

Kamu mulai sering sms bertanya tugas, menggangguku di kelas. Sampai-sampai menungguku di pintu kelas saat kuliah telah usai.

“Cieee… Tio punya adek ketemu gede nih.” sorak teman-teman saat liat kamu menungguku keluar di pintu.

Aku agak canggung dan memilih berjalan bersama teman-teman cewek yang lain.

“Hahahaha.. Adek baru gedenya malu ternyata punya kakak kayak kamu Tio.” goda temen-temen cowok.

“Njiiiir… Kalian! Gue mau pulang sendiri, gak ada yang boleh bonceng. Oke?” katanya sambil berlalu dan setengah berlari. Terdengar suara menyesal di antara gerombolan cowok-cowok tadi.

***

Hari ini Gedung Olahraga ramai, ada pertandingan antar kelas mahasiswa tingkat pertama. Kelasku bertanding basket hari ini melawan kelas B 15. Hampir seluruh warga kelas A 8 datang untuk menyemangati tim basket kelas. Sambil membawa dua botol minuman ukuran besar di tangan kanan dan kiri, kami menyanyikan yel-yel dengan semangat.

Tim basket kelasku memang terkenal hebat, sehingga banyak penonton yang datang. Bukan hanya supporter dari kelas yang bertanding, tapi juga dari kelas-kelas lain. Dan kamu, jadi salah satu tim basket kelas kita, sungguh tiba-tiba aku merasa bangga.

Beberapa jargon kami lontarkan dengan semangat. Tiba-tiba terdengar suaramu dari belakang tribun supporter kelas. “Cha, Ichaa.. Kamu liat Ira nggak?” katanya pada Icha, temen sekelasku. “Ira? Tuh di depan, kursi nomor 3 dari depan.” Jawab Icha.

Aku mendengar percakapan itu. Tiba-tiba kenapa aku jadi salah tingkah ya. Aku menghela nafas panjang.

“Hey, doain kakak ya dek. Moga menang.” katamu tiba-tiba nongol di sampingku.

“Oh eh.. Iya kak. Semangat yaa..” kataku sambil mengangkat kedua tanganku.

“Tos dulu dong!” pintamu sambil kedua tanganmu terbuka menunggu balasanku.

Aku meletakkan botol yang ku pegang dan membalasnya. Toss!

Entah kenapa, tiba-tiba pelupuk mataku berair. Segera ku usap dengan cepat.

***

Keesokan harinya. Aku tidak melihat batang hidungmu di kelas. Ku dengar dari teman-teman cowok katanya kamu butuh istirahat, telapak kakimu memar.

Kenapa aku jadi merasa gelisah ya? Apa aku harus menjenguknya? Ku keluarkan ponselku dan mengiriminya pesan. Gimana keadaanmu kak? Katanya sakit? - send.

Ponselku bergetar, ada pesan masuk darinya. Kata siapa? Aku tiba-tiba langsung sembuh dapat sms dari kamu dek. Ampuun… Ini orang, sakit masih bisa gombal juga. Yaudah, kalo gitu nggak perlu dijenguk kan ya? balasku. Iya, nggak usah. Udah mendingan kok. Makasih.

***

Ketidakhadiranmu selama 2 hari ini mengharuskanmu mengerjakan tugas beberapa lembar. Dan lagi-lagi, kamu merecokiku.

Dek, minta tolong dong? Baik deh. Sms darimu masuk.

Minta tolong apa?

Aku kan dapat tugas Fisika karena nggak masuk kelas kemaren. Jadi tolong bantuin kerjakan ya? Kan kamu udah selesai kemaren.

Hmm… gimana ya? Aku lagi ngurusin acara buat asrama nih. Maaf ya kak.

Ooh… gitu. Yaudah deh, aku pinjem aja buku catatannya. Biar ku kerjain sendiri. Siang ini ketemu di kantin ya…

Okee…

Aku segera membereskan kerjaan, dan bersiap berganti pakaian.

***

Di depanku sudah tersedia sepiring nasi dengan lauk perkedel, dan capcay. Aku mulai menyendoknya dan memasukkan ke mulut. Kamu belum datang juga. Hingga nasi tersisa setengah kamu baru menampakkan diri. Dengan langkah panjang-panjang menuju ke mejaku.

“Udah nunggu lama? Tadi macet di jalan.” katamu.

“Masa sih? Paling ketiduran.” selorohku.

“Hahaha.. tau aja sih.” jawabnya sambil tertawa. “Mana buku catatannya?”

Aku mengambil buku di kursi sampingku dan menyerahkan padamu. “Nih! Kalo ada yang ditanyakan, sms aja yaa…” kataku.

“Oke adeeek…” katamu sambil berdiri dan tiba-tiba tanganmu menuju kepalaku dan mengusap-usapnya dengan lembut. “Makan yang banyak ya, biar gemuk.” Katanya sambil berlalu menjauh.

Aku masih kaget dengan kejadian barusan dan jadi tidak berselera makan. Aku pun beranjak menuju asrama dengan hati tak karuan.

***

Keesokan harinya, aku pergi kuliah dengan hati tak menentu. Entahlah… Apa iniiiii… Aaaah sudahlah. Aku duduk di kursi agak depan. Seperti biasa kamu memilih kursi paling belakang. Selama kuliah aku tidak fokus, dan gelisah.

Kuliah usai, aku membereskan buku dan memasukkan ke dalam ransel. Sengaja aku mencuri pandang ke arahmu. Kamu terlihat saling goda dengan teman cowok yang lain.

“Tio, jadi kan nraktir aku es krim? Kelas kita kan menang, kamu janji mau nraktir aku es krim kalo kelas kita menang kaaan?” kata Icha senang.

“Iya, iya… Yuk, ke kantin. Aku beliin es krim.” balasmu.

Apa? Es krim? Aku aja sampai sekarang nggak pernah dibeliin es krim. Icha? Kenapa? Aku membatin sendiri.

“Cieeee… jadian! Jadian! Jadian!” goda temen-temen cowok yang lain. Disambut kepalan dan senyum darimu.

***

Kenapa aku akhir-akhir ini jadi sebel dan gampang marah? Apa gara-gara kejadian kemarin? Entahlah… Tapi akhir-akhir ini memang kamu jarang gombalin aku dan menggodaku diam-diam di kelas seperti sebelum-sebelumnya. Aku rasa, itu mungkin karena Icha.

Mungkin ini hanya jejak singkat yang ingin kau ciptakan untukku. Ya, cukup singkat. Bahkan sebelum aku benar-benar yakin akan hatiku, kau sudah berlalu. Sebulan lagi semester ini akan berakhir, dan kita akan pisah kelas ke jurusan kita masing-masing. Terima kasih untuk semuanya, mungkin aku yang terlalu lambat meyakininya hingga kamu jengah menunggunya.

***

Semester ini benar-benar berakhir. Akan diadakan farewell party untuk perpisahan kita ke jurusan masing-masing. Acara farewell party sederhana, kita tukeran kado yang sebelumnya sudah dipersiapkan tiap-tiap orang, kemudian bermain game. Terakhir, menulis surat untuk teman sekelas, boleh menulis lebih dari satu.

Semua surat sudah dikumpulkan, kemudian dibagikan sesuai nama yang tertera di surat. Aku dapat 3 surat, dari Laila, Nadira, dan kak Tio. Aku sempat melirik kamu, mata kami berpapasan. Tapi kamu segera berpaling.

“Suratnya jangan dibaca sekarang ya… Nanti kalau di rumah aja.” kata Heri, sang ketua kelas memberi instruksi.

Acara berakhir, kami semua bubar. Sambil berpelukan satu sama lain. Walaupun masih tetap kuliah di tempat yang sama, tapi berkumpul seperti ini mungkin akan susah nantinya.

***

Sesampainya di asrama, aku menoleh 3 surat yang aku dapat hari ini. Aku mengambil salah satu surat, dari kak Tio. Aku membukanya dan mulai membaca…

Ira, selama ini aku udah ganggu kamu ya? Gombal gak mutu, becanda gak lucu, atau godain kamu sampai kamu males nanggepin. Maafin aku…

Mulai saat ini aku nggak bakal seperti itu lagi Ira. Aku baru tahu ternyata kamu bukan tipe cewek yang mudah untuk didapetin dengan sekadar gombalan, bukan tipe cewek yang mau diajak jalan dan janjian dengan gampang. Aku baru tahu itu Ira… Baru tahu…

Aku berjanji, suatu saat nanti. Saat aku sudah siap menjadi pribadi yang layak dan pantas untukmu, aku akan datang lagi. Kalau kamu tidak setuju, itu pilihanmu. Entah kapan ini terasa. Mungkin sejak pertama kali kita bertemu di depan kontrakanku, aku tidak yakin.

Mungkin itu saja. Surat ini udah aku siapin dari kontrakan loh…

Nb : Oya, aku dan Icha… Kita teman. Kamu mau aku traktir es krim juga?

Tak terasa kedua pelupuk mataku basah. Aku menutup kedua mataku, menarik napas panjang.

***

15 Agustus 2016

Foto diambil dari : hipwee.com

  • view 223