Morfin dan Ambisi

Arini Falahiyah
Karya Arini Falahiyah Kategori Psikologi
dipublikasikan 10 Mei 2016
Morfin dan Ambisi

Sumber gambar : dw.com

Ketertarikan dan rasa penasaranku pada hal-hal yang kurang lumrah membuatku sering berandai-andai.

Yah, hanya bisa berandai-andai.

Salah satunya pada morfin.

Dalam dunia kedokteran, morfin digunakan untuk meredakan rasa sakit kronis pada pasien, bekerja langsung pada sistem saraf dan otak, sehingga pasien tidak merasakan sakit.

Karena sifatnya sebagai obat penenang, orang yang disuntikkan morfin pada tubuhnya biasanya akan mengalami penurunan kesadaran, dan menimbulkan euforia serta semangat yang luar biasa.

Pengalaman euforia akibat suntikan morfin pernah ku dengar dari cerita kakak pasca operasinya.

Saat morfin dialirkan ke tubuh, kesadaran akan berkurang dan muncul halusinasi dan sensasi bahagia yang luar biasa. Hal-hal yang menjadi sumber kebahagiaan dan keinginan yang selama ini diimpikan akan muncul satu persatu dalam alam bawah sadar di bawah pengaruh morfin.

Kakakku dari dulu ingin sekali pergi ke Belanda. Saat kondisi tak sadar itu, halusinasi yang terbentuk adalah dia berjalan di antara hamparan tulip-tulip berwarna-warni yang indah, menyentuhnya, mencumbunya, merasakan sensasi senang yang seolah nyata. Dan beberapa halusinasi yang membuat dirinya semangat dan bergairah.

Itulah kenapa orang yang ingin mencari kesenangan instan akan memilih morfin salah satunya untuk mencapai puncak kebahagiaan. Hal-hal yang membuatnya bersemangat akan muncul dalam pikirannya, tanpa kita meminta hal apa itu. Namun penggunaan tanpa kontrol dan dosis yang sesuai akan menimbulkan kecanduan.

Terlepas dari kecanduan dan ketagihan morfin, aku hanya ingin bertanya pada pikiranku dengan bantuan morfin, sebenarnya hal-hal apa saja yang akan membuatku bahagia tanpa aku harus meminta hal apa itu?

Halusinasi yang terbentuk secara lumrah, ambisi-ambisi  yang sebenarnya ingin ku raih, tanpa memaksa pikiran secara sadar.

Aku butuh morfin, untuk meyakinkan ambisiku.

  • view 161