Lelaki Kemeja Garis-Garis Biru

Arini Falahiyah
Karya Arini Falahiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2016
Lelaki Kemeja Garis-Garis Biru

Sumber gambar : id.aliexpress.com

Masih terekam jelas di ingatanku tentang lelaki kemeja garis-garis biru.

Ketika itu kita sedang menjalani masa KKN di suatu desa terpencil di sudut kota Garut. Pasokan air terbatas, jalanan berdebu dan berbatu. Mobilitas terbatas, untuk sampai ke jalan raya harus menempuh perjalanan sekitar 1 km.

Aku dan lelaki itu satu kelompok. Kami tak pernah bisa saling bicara saat pertemuan pertama. Hanya teman-teman kami yang menjadi perantara obrolan kita berdua.

Seminggu, dua minggu, tak ada bedanya. Ada apa dengan dia?

Aku harus mengakhiri, tekadku kini.

Kecanggungan ini tak boleh berlarut-larut, tapi aku bisa apa?

Dia berasal dari keluarga berada dan kelihatan mewah. Sedangkan aku? Anak kampung jawa, logat medok, dan tampilan seadanya. Mungkin aku dipandang sebelah mata.

Saat ada kesempatan, aku selalu berusaha nimbrung agar aku diterima.

Penerimaannya ternyata butuh waktu lama, hampir sebulan.

Ternyata dia memang tipe orang yang tidak mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Dia sebenarnya orang yang asik, berwawasan luas, dan hafal beberapa ayat Al-qur’an selain juz 30.

Kini, aku dan dia sudah bisa berdamai. Walaupun ku rasa masih ada rasa segan dan enggan pada dirinya.

***

Kami sekelompok melalui masa KKN selama 2 bulan. Selama itu banyak pengalaman tak terlupakan. Berjalan menyusuri bukit-bukit berbatu untuk mencuci baju, menjadwal hari buang hajat karena pasokan air terbatas, terjebak di kamar mandi, bermain bersama anak-anak desa, berbuka bersama di pak lurah dan kembali ke tempat peristirahatan dengan rasa was-was, sampai akhirnya mengucapkan kata perpisahan.

Perpisahan.

Pulang.

Kata yang ku tunggu-tunggu selama ini, namun terasa ada sepotong hatiku yang masih enggan untuk meninggalkan tempat ini. Terlalu banyak kenangan yang susah untuk dilupakan.

***

Hari yang ditunggu tiba, kami semua membereskan barang.

Memakai pakaian terakhir, karena semua sudah tercuci dengan bersih dan terlipat rapi.

Dia, yang sejak kemaren memakai kaos seragam KKN tak pernah berganti lagi. Malas nyuci katanya.

Pagi-pagi kami sudah mandi dan bersiap-siap pamit ke sekolah, tetangga, dan para tetua.

Aku dan dua teman perempuan sudah siap menunggu di depan beranda, menunggu tiga teman lelaki lainnya.

Ada riuh-riuh dari dalam ketika mereka hampir tiba di depan rumah.

Aku dan teman perempuan yang lain agak kesel dan marah. Sudah telat malah masih sempat bercanda.

Dengan sedikit gondok yang masih tersisa, aku tiba-tiba merasa tak paham.

Dia, lelaki yang susah berdamai memakai kemeja garis-garis biru yang sebelumnya terlipat rapi dan untuk pertama kali ini dia pakai.

Aku pura-pura tak mengerti, atau aku sengaja menghindari celotehan teman-temanku yang lain? Karena kenyataannya, aku juga memakai kemeja yang sama saat itu, kemeja garis-garis biru.

Aku mencoba menepis, “Ini hanya kebetulan dan guyonan, nggak perlu diperbesar ya teman-teman” kataku pada mereka. Salah satu temanku malah nyeletuk “Cieee... Couple­-an nih yee..”

Dia, hanya tersenyum seperti telah memenangkan suatu perlombaan.

Aku tahu, ini awkward moment. Aku harus pandai mengambil sikap.

***

Selama perjalanan pamitan aku lebih banyak diam.

Pamitan berakhir, dan saatnya kita semua berpamitan satu sama lain.

Entah kenapa, tiba-tiba ada sesuatu yang datang dari dadaku, terus merangsek ke atas, dan sampai di pelupuk mata, hanya menyembul belum sampai jatuh.

Kita berpamitan, berpisah dan bersiap pulang ke kampung halaman masing-masing.

Aku tak bergeming, menunggu sesuatu. Kamu tahu kan maksudku?

Di arah jam dua, dia tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku secara personal. Hanya menatap sebentar, mata kita bertatapan, ada senyum tipis di sana. Dan... Bis yang akan membawanya pulang datang, dia segera masuk dan melambaikan tangan.

Akhirnya sesuatu yang telah menyembul di pelupuk mataku tumpah, tapi aku segera menepisnya. Aku masih menyangka, ini hanya persepsiku saja.

Sampai jumpa, lelaki kemeja garis-garis biru.

Entah apa maksudnya ini, aku jelas berharap penjelasan lebih.

Tapi itu takkan terjadi, sebab kalau kita bertemu kembali, tentu tak akan sama.

Karena bukan di sini, bukan tempat ini.

 

Lamongan, 06 Mei 2016

  • view 288