Merajut Doa

Arini Arlies
Karya Arini Arlies Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Februari 2016
Merajut Doa

Sekarang pukul 22.00. Di luar sepi.

Badanku lelah, namun mataku enggan terpejam.

Begitu terus selama 2 jam terakhir.

Ah tubuhku mengkhianatiku.

Kujangkau ponsel yang ada di tepi bantalku.

?

Still no message from you.

?

Obrolan terakhir adalah kamu yang menuliskan kata 'wait'.

Aku mengerti benar kata itu. Kata dimana kami terlampau sibuk untuk sekedar membaca atau merespon obrolan masing-masing. Semacam 'pause button'.

Aku mengerti. Bukan, tapi aku (berusaha) untuk mengerti.

Ah ya, mungkin hal itulah yang membuat mataku tetap terjaga meski kelopak sudah sangat berat.

?

Sudah beberapa waktu terakhir ini dia sibuk.

Kantor, proyek dan kerjaan pribadi.

Kami memang sudah pernah membahas hal ini, beberapa kali, dulu sekali.

Sebelum akhirnya dia tenggelam dalam rutinitasnya.

Berangkat pagi, istirahat telat, lembur, lalu lanjut kerja di rumah.

?

Ah, mencari apa? Usikku.

?

Lalu hatiku mulai memanas.

Menyatukan rangkaian-rangkaian perasaan kesal, marah dan sedih yang tak kutunjukkan selama beberapa waktu terakhir.

Jariku tergerak untuk segera memborbardir pertanyaan, umpatan dan kemarahan untuknya di ponsel.

Sudah setengah jalan.

Hingga akhirnya, tersembul sebuah kata entah darimana.

?

Sabar.

?

Dan aku tertegun.

?

Tenggorokanku tercekat, mataku bekerjapan dan pipiku basah.

Aku pasrah dan menangis tersedu sambil mengadu.

?

Dan diantara seduku, aku memilah doa terbaik malam itu.

Agar Allah senantiasa menjaga dan melindungi Kekasihku mewujudkan inginnya. Cita-cita kami.

?

Dan semoga kami segera menjadi halal bagi satu sama lain.

?

Tujuannya satu: agar aku bisa leluasa, semauku, sepuasku mendoakanmu.

?

  • view 187