Bayu dan Samudera

Arini Arlies
Karya Arini Arlies Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 April 2016
Bayu dan Samudera

 

Anyer, 1920.

 

Senja yang mengabur mulai merajut langit. Awan kelabu berarak-arakan diselingi angin yang kencang berhembus.

 

Bayu, lelaki paruh baya asa dusun Candani, menengadahkan wajah sendunya ke langit. Matanya kini cekung, hitam namun masih dalam, menelusuri jejak matahari yang kini tiada. Menghembuskan napas sejenak lalu berlalu, masuk ke dalam rumah. Itu pun jika masih bisa disebut rumah.

 

Bilik kayu setengah roboh itulah yang setia menaungi Ia dan keluarganya selama 25 tahun terakhir. Anyaman rotan yang seyogianya menutupi isi rumah telah membuka disana-sini. Memungkinkan beberapa bagian isinya mengintip keluar. Jendela pun tak bisa dibilang cukup. Beberapa hanyalah kotak kayu tak berkaca. Liukan kain bertambal menari ditiup angin. Di bilik sederhana inilah Bayu berdiam bersama Aruna dan Arsa.

 

Aruna, sang Istri adalah wanita lembut namun tangguh. Yang rela mengabdikan hidupnya untuk lelaki, yang bagi warga dusun Candani, adalah lelaki yang seumur hidupnya tak pernah makmur. Maklum, sejak masih belum menjejak tanah, Ia sudah dibuang oleh Ibunya. Tak pernah diinginkan, apalagi disayang. Sejak kecil, Ia sudah diasuh oleh neneknya. Sekenanya, seadanya. Asal bisa hidup sudah syukur. Hanya Aruna inilah, yang selalu disisinya tanpa pernah menuntut. Wajahnya selalu teduh, senyumnya selalu menyejukkan, tangannya selalu hangat. Membuat Bayu selalu rindu pulang.

 

Sedangkan Arsa, bayi yang baru menapaki usia 8 bulan inilah harta sesungguhnya bagi Bayu dan Istrinya. Masa penantian 10 tahun tanpa buah hati terasa hilang tak bersisa ketika tangisnya meraung untuk pertama kali. Arsa berarti kegembiraan, demikianlah Bayu menamakannya, adalah sebenar-benarnya perwujudan rasa hatu dan kegembiraan atas penantian yang sedemikian lama bersama Aruna.

 

Bayu menapakkan kakinya yang tak lagi leluasa ke dalam rumah. Rasa dingin yang terasa dari tanah yang berfungsi sebagai alas rumah terasa amat nyata. Ia tak mempedulikannya, toh Ia sudah lama terbiasa. Matanya mencari ke tiap sudut rumah mencari Aruna. Lalu sebentar saja Ia sudah menemukannya. Dapur.

 

"Bu, Bapak melaut dulu. Kamu baik-baik di rumah ya!" Bayu berujar pada sosok Aruna yang sedang menumpuk suluh agar api tetap hidup.

 

"Iya Pak, Bapak juga jangan terlalu jauh nanti melautnya. Kemarin Pak Kades bilang, belakangan ini angin besar datang terus" Aruna menjawab. Mata cokelatnya jelas menampakkan kekhawatiran. Bayi Arsa tertidur nyaman di punggungnya.

 

"Tapi apa Bapak tidak minum teh dulu? Ini Ibu baru mau jerang air."

 

"Nggak Bu, Bapak mau langsung saja."

 

Lalu Aruna mencium tangan dan mendaratkan kecupan di kening suaminya. Mengantar ke depan rumah lalu mengamati bayangnya hingga hilang ditelan malam. Malam masih panjang, ujarnya dalam hati. Direngkuhnya Arsa ke bagian depan tubuhnya sambil bersenandung. Lalu dibaringkan di dipan panjang di sudut kamar. Mengusap, mengecup dan menyudahi senandung malam di telinga buah hatinya, kesayangannya, hartanya. Dan malam pun dimulai.

 

Selesai salat Isya, dengan masih terbungkus mukena, Ia membisikkan doa-doa mengharapkan Bayu-nya kembali ke rumah dengan selamat. Ia selalu tersiksa bila Bayu harus melaut dan membayangkannya terombang-ambing sendiri di tengah lautan luas, menjaring sedikit hasil laut untuk menghidupi keluarga kecil di rumah. Namun kemudian Ia dikagetkan oleh petir yang mengggelegar dan angin berhembus kencang. Bersama, menyatu-padu menyanyikan irama yang mendirikan bulu roma. Air hujan berlomba-lomba masuk ke dalam rumah lewat segala celah yang ada. Jendela yang tak berkaca, anyaman yang mengaga dan genting tua yang makin rapuh. Aruna melirik Arsa yang ternyata masih nyenyak terbungkus selimut kecilnya, lalu kembali membisikkan semua doa yang Ia ingat. Semakin tak berima, cepat namun lirih. Dan waktu pun semakin bergulir.

 

Di laut pun tak jauh berbeda. Bayu terpekur sendiri menatap tangkapannya malam ini. Hanya beberapa ekor tuna dan satu kerapu. Kali ini, samudera sedang tidak bersahabat. Malam yang sudah-sudah, kalau sudah selarut ini, setengah perahunya sudah menumpuk ikan-ikan hasil tangkapannya. Tetapi sekarang?

 

Ia menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Ikan setengah perahu saja tak cukup menyangga hidup keluarganya dengan sejahtera, apalagi ini? Lalu selepas kemudian Ia menyeka wajahnya. Sadar bahwa telah melangkahi kewenangan Allah tentang rezekinya. Harusnya Ia mengerti, seharusnya Ia bersyukur. Maka dibawanya lah perahunya semakin menjauh dari tepian. Berharap mampu mengambil hasil laut untuk sesuap nasi keluarga di rumah. Agar dapur Aruna tetap mengebul. Tak dihiraukannya angin yang semakin kencang berhembus atau rintik hujan yang semakin menitik berat di punggungnya. Malam ini tangannya tak boleh kosong  benar. Maka, sekali lagi Ia merayu laut, angin dan langit agar bersahabat. Sebentar lagi saja.

 

Malam semakin kelam dan rupanya alam pun sedang tak bersahabat malam ini. Di belahan langit manapun, kilat berwarna-warni menghias langit, petir menyambar-nyambar ujung laut di kejauhan dan ombak pun tak berbeda. Seperti lidah-lidah tak berkesudahan, melumat semua yang ada di dekatnya. Sejurus kemudian Bayu sadar, bahwa Ia sudah jauh melaut hingga ke tengah lautan. Tak juga Ia temukan tepian yang tadi Ia tinggalkan. Matanya terus mencari dan menelisik. Hingga Ia sadar joran yang bertengger di sudut perahunya tersangkut entah apa di bawah lautan sana. Sekuat tenaga Ia usahakan agar joran miliknya kembali, namun tetap tak mau lepas, tangannya menggapai-gapai ke bawah air namun tetap tak bisa. Batinnya kini khawatir, bukan karena tangkapan yang sedikit, tapi karena Ia yang melaut jauh ke lautan lepas. Kilatan petir dan deburan air juga tak menentramkan. Sekujur tubuhnya sudah basah, kulitnya terasa hangat dan matanya sudah tak jeli lagi membaca langit. Terpaan air hujan dan ombak makin membutakan penglihatannya. Lalu tersadarlah Ia, Bahwa Ia begitu jauh dan kecil di tengah lautan luas. Dalam semua ketakutan yang kini mulai menjalari pikirannya, Ia memejamkan mata dan memohon kepada Allah agar dimampukan melihat jalan pulang, menemukan tepian. Kepada Aruna dan Arsa.

 

Di rumah, hujan kian deras dan petir menggelegar telah membangunkan Arsa dari tidurnya yang lelap. Tangis Arsa yang kencang menyadarkan Aruna dari ribuan doa yang Ia sampaikan kepada Maha Pencipta. Sejurus kemudian, Ia mengangkat Arsa dari peraduan, lalu memeluknya. Tangisnya ikut pecah, menyuarakan kekhawatiran, ketakutan dan kekalutan akan keselamatan suaminya di lautan sana. Aruna selalu takut pada saat-saat seperti ini. Pada hujan, petir dan angin kencang. Ia mengeratkan pelukannya pada Arsa dan kini membisikkan lebih banyak doa kepadaNya, agar Bayu dapat kembali dengan selamat.

 

Namun meski berbekal sejuta doa dari Istri tercinta dan doa-doanya sendiri yang juga penuh, malam itu laut dan cuaca tetap tak bersahabat. Bayu dan perahu kecilnya sudah terombang-ambing cukup lama di lautan lepas. Tanpa arah, tanpa tepian. Ombak pun semakin menyapu arah perahunya semakin jauh, jauh ke tengah. Jauh, lepas dan seolah tak berujung. Dengan sisa tenaga yang Ia miliki, Bayu mencoba berdiri. Mencoba menahan sendiri deburan ombak yang tak berkesudahan. Ia jatuh terduduk dan menunduk. Terbesit di kepalanya, senyum Aruna dan tawa renyah Arsa. Rasa takut dan khawatir yang semula bersemayam erat di kepalanya menepi. Hilang. Perlahan Ia mengecup bayang kedua orang yang paling dicintainya, Aruna dan Arsa, mesra dan haru. Lalu dengan kepasrahan yang penuh, Ia mengihklaskan jiwa dan raganya diterpa ombak yang ganas mendera. Dan Ia pun kembali. Kepada Yang Abadi, Pemilik semua makhluk. Sekejap saja tubuhnya menjadi milik lautan. Lautan yang yang telah Ia kenal lama, lautan yang malam ini sedang tidak bersahabat.

 

Kini perahu Bayu tak lagi berpenghuni.

 

 

 

 

  • view 124