Kepada rasa yang tak kunjung reda

Medy Arina
Karya Medy Arina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Januari 2016
Kepada rasa yang tak kunjung reda

Aku tak pernah tahu apakah semua ini benar. Tapi ini pun bukan tentang salah atau benar, sebab rasa tak mengenal penilaian benar maupun salah. Allah begitu baik, mengirimkan sebuah rasa yang dapat dicerna oleh ummatnya. Itu fitrah, kata banyak orang. Dan aku berusaha meyakini bahwa ini adalah fitrah.

?

Tentangmu yang pada akhirnya kuberi rasa istimewa, sering ku bertanya diantara rinai hujan dan senja yang merona, apakah ini rasa yang kumaksud? Apakah ini memang cinta? Nyatanya aku terlahir bukan menjadi orang yang pandai menafsirkan ataupun mendefinisikan sebuah kata, terlebih cinta. Tertatih-tatih, bahkan hanya untuk dapat memahami satu kata itu ?cinta-.

Ketika pada akhirnya aku memutuskan untuk memberi rasa padamu, aku berharap bahwa semua akan baik-baik saja. Toh ini hanya perasaan gadis kecil yang akan beranjak dewasa. Orang awam serig menyebut cinta monyet. Saat medengarmu berbicara, saat tak sengaja menatap matamu, ada rasa yang berbeda bergemuruh di dalam sana, di jantungku. Sebuah rasa yang sulit untuk didefinisikan, mungkin butuh huruf lain selain A sampai Z untuk mendefinisikannya (mungkin ini terlalu berlebihan).

?

Aku menyimpan perasaan ini baik-baik, aku simpan di tempat terdalam di hatiku, ku kunci rapat-rapat agar tidak ada yang bisa mengetahuinya selain Rabb ku. Perasaan itu terjaga hingga setahun lamanya. Aku mencintaimu dalam diam, dan terkadang dalam tangis, seakan ragu apakah ini sebuah rasa yang orang bilang fitrah??

?

Hingga pada akhirnya keadaan pun memisahkan kita. Jika biasanya aku mencuri waktu untuk menatapmu dari jauh, kini aku menatapmu dari jarak yang lebih jauh (Ya Rabb, maafkan aku karena diam-diam telah memperhatikannya), dan ternyata itu lebih menyakitkan, tapi entah mengapa aku menikmatinya, menikmati ?rasa sakit? itu. Dalam keraguan selama setahun itu pun aku masih terus berfikir apakah akan tetap memberimu sebuah rasa itu atau menanggalkannya, berlari untuk memperbaiki rasa ku, yang mungkin fakir keikhlasan. Tapi anehnya, saat aku mencoba menghilangkan rasa itu, justru rasa itu semakin tumbuh tak tentu arah. Mungkin cara terbaik saat itu adalah tetap mempertahankannya dan memohon untuk diperbaiki olehNya.?

?

Hingga pada akhirnya keadaan memisahkan kita untuk yang kedua kalinya. Jika beberapa waktu lalu aku harus menatapmu dari jarak yang lebih jauh dari saat kita bertemu, kini aku tak bisa lagi menatapmu. Bahkan mendengar namamu disebut orang lain pun tak pernah lagi. Kini jarak telah menjadi musuh bagiku, karena jarak, aku tak bisa lagi melihat senyumu yang teduh itu. Ku pikir semuanya telah usai. Jarak akan mengikis semuanya, tentang suaramu, senyummu, matamu, dan rasa yang kuberi untukmu. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, akan ada cerita baru di depan sana, menantiku untuk melanjutkan menulis paragraf demi paragraf.?

?

Namun tampaknya aku terlalu terburu-buru membuat kesimpulan. Sebab rasa tak semudah itu reda. Gerimis kecil dapat menjadi hujan lebat dan butuh waktu untuk menunggunya reda. Sama seperti rasa, yang awalnya mungkin tak seberapa, dapat menjadi begitu hebat dan akan sulit untuk menghapusnya. Seperti rasaku untukmu, yang kupikir mungkin akan sirna hanya dalam beberapa minggu saja, nyatanya tidak. Satu, dua, tiga, lima, tujuh tahun. Tak terasa waktu itu telah aku lewati. Tapi rasa itu? Tetap sama, tak reda, tak sirna. Tampaknya aku lupa meletakkan kunci hati yang dulu kugunakan untuk menyimpan rasa itu, yang semula aku gunakan agar tiada orang yang tau.?

?

Kepadamu yang kuberikan rasa, bolehkah aku mengajukan satu permintaan? Jika kau setuju, tolonglah aku. Tolong aku menemukan kunci hatiku, agar aku bisa membebaskan rasa yang kuberi untukmu. Dengan begitu, mungkin aku bisa tidur nyenyak dan tak melulu memikirkan dirimu. kepadaMu yang menghadirkan rasa ini untuk dirinya, aku hanya bisa meminta agar Kau jaga rasa ini, jaga agar ia tak tumbuh lebih besar dari rasa cintaku kepadaMu. Atau kalau memang perlu, redakan saja segera dan ganti dengan pelangi yang lebih indah. Sungguh, aku tak ingin terjebak dalam rasa yang terus menyiksa, rasa yang tak kunjung reda.

?

sumber gambar: google.com

  • view 247