10 Agustus

Medy Arina
Karya Medy Arina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Agustus 2016
10 Agustus

Makassar, 9 Agustus 2016

23.50 WITA

Aku masih terpaku pada layar komputer, menyelesaikan draft materi presentasi perkembangan sebuah perusahaan tempatku bernaung. Sesekali aku menghela napas panjang, kemudian menyeruput coklat panas yang tersaji dengan cantik di sebelah kanan meja kerjaku. Beginilah aku, yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Tak jarang harus merelakan organ hati di dalam tubuh ini tidak maksimal dalam melakukan detoksifikasi—begadang hingga larut malam.

Lagu sendu mengalun perlahan, yang sengaja kuputar untuk menemani malamku yang akan terasa sangat panjang. Lagu kesukaanku, pikirku sejenak. Kemudian segera kuralat. Bukankah itu lagu kesukaanmu juga? Ya, agaknya lagu itu adalah lagu kesukaan kita bukan?

10 Agustus 2016, 00.10 WITA

Tepat pada jam itu, aku telah menyelesaikan pekerjaanku. Aku cukup lega, karena akhirnya aku bisa merebahkan tubuh yang sudah terasa lelah setelah seharian bekerja. Aku membuka email, hendak mengirimkan draft presentasi kepada atasanku. Namun seketika waktu seperti kehabisan akal untuk berputar. Aku pun hanya terdiam, mungkin lupa bernapas untuk beberapa detik.

Email itu darimu, bertengger di urutan paling atas, yang artinya baru saja kuterima dan belum terbaca. Aku enggan membukanya, namun, rasa penasaran terkadang memang selalu menang di atas apapun. Pada akhirnya, emailmu terbuka.

Selamat ulang tahun, Rendra...

Semoga kau selalu bahagia, mendapat berkah di sisa umurmu, dan sukses untuk segala pekerjaan dan rencana atau impian apapun.. semoga segera diberikan pasangan yang terbaik. Aku akan selalu mendoakanmu, pasti.

Aku hanya bisa tertegun, merasakan sesak itu lagi. Aku ingin teriak, memaksa waktu untuk cepat pagi. Aku ingin berlari saja, ke belahan bumi manapun, tanpa ada bayang-bayangmu sedikitpun.

Beberapa menit kemudian aku baru tersadar bahwa hari ini—dini hari ini, adalah sudah hari ulang tahunku. Dan kau, adalah orang pertama yang memberikan ucapan itu. Ah, mengapa harus dirimu? Angka 00.02 tersudut dengan rapi di dalam email itu. Ah, mengapa kau seberlebihan itu. Menunggu datangnya waktu paling dini hanya untuk mengucapkannya kepadaku.

Malang, Juni 2014

Kala itu, dengan tangis yang sempurna mengiris-iris hatiku, kau bercerita bahwa kau dipinang oleh anak sahabat karib ayahmu. Kala itu, adalah saat dimana kita telah memiliki impian menjalani hidup bersama, merajut rencana-rencana yang sekilas terlihat indah dan sempurna. Aku tak terima, dan yakin bahwa kau akan menolaknya, dan lebih memilih aku—aku terlalu percaya diri. Namun kau meminta maaf, jujur aku tak paham awalnya, apa maksud kata maaf yang kau lontarkan itu.  Aku masih teringat jelas saat kau bilang “seandainya aku diciptakan sebagai laki-laki, tentu aku akan bebas memilih wanita mana yang akan kujadikan pendamping hidupku. Aku akan dengan mudah menolak permintaan orang tuaku, dan lebih memilih wanita yang telah kutancapkan namanya dalam relung hatiku. Sayangnya aku hanya wanita, yang hanya bisa menuruti apa yang diinginkan orang tua”.

Aku lantas membalas, “seandainya aku seorang wanita, maka aku akan ikut berjuang agar laki-laki yang telah menancapkan namaku dihatinya, mampu meraih mimpi untuk bersanding denganku dalam hidupnya.”

Kemudian aku pergi, dengan segala perih yang tersisa. Baru kali itu, aku tega meninggalkan wanita yang sedang berurai air mata, yang aku tak tau bagaimana keadaan sebenarnya hatinya, apakah terluka, atau justru bahagia.

Dua bulan kemudian, undangan itu datang. Aku memejamkan mata sejenak, kemudian mengatur napas perlahan. Aku berjanji, akan datang ke pesta pernikahanmu nanti.

Dan, aku menepati janjiku. Aku tidak ingin terlihat sebagai pecundang. Dengan langkah mantap, kusambangi pelaminanmu dan dia—yang mungkin seharusnya menjadi pelaminanku dan kau.

“Selamat ya..” kataku singkat.

“Terimakasih sudah datang, kau juga, selamat ulang tahun yaa..”

Ya, hari itu, 10 Agustus 2014, tepat di hari ulang tahunku yang ke 24, aku menyaksikan secara langsung wanita yang telah kutancapkan namanya dalam hatiku, yang sudah kuimpi-impikan bersanding di pelaminan untuk membersamaiku, kini, harus bersama orang lain—orang lain yang bukan aku.

Tepat satu minggu setelah hari pernikahanmu, aku mendapatkan tawaran kerja di Makassar. Tanpa pikir panjang, aku menerima tawaran itu. Aku ingin jauh darimu, terlepas dari bayang-bayangmu. Aku, berharap menemukan hidup baruku di sana.

Dan hari ini, justru kau membuka luka itu lagi. Di saat lagu kesukaan kita masih berputar dengan sendunya.

Aku bermaksud untuk membalas emailmu, kumainkan jari-jari di atas keyboard dengan lincah.

Hai Kanayya

Terima kasih untuk ucapannya. Aku juga akan selalu berdoa untukmu dan pasanganmu. Semoga kau lekas diberikan malaikat kecil. Bagaimana kabarmu? Aku berharap kau selalu baik-baik saja

Sebuah kursor masih berkedip-kedip di ujung kata balasan emailku. Aku hendak menekan ikon ‘send’ namun sepersekian detik kemudian, aku kembali menarik tanganku ke atas keyboard, lantas menekan tombol Ctrl+A, kemudian delete.

Ah hampir saja aku berbuat kesalahan besar.

Aku berusaha mengalihkan perhatian dengan mengirim email ke tujuan awal, mengirim draft presentasi. Setelahnya, aku segera merebahkan diri. Ingin segera melarut bersama mimpi, hingga aku lupa apa yang baru saja terjadi.

 

Kanayya, aku pernah berjanji sekeras mungkin untuk menghilangkan namamu di hatiku. Namun, ternyata aku belum menghilangkannya, hanya mengendapkannya. Dan sesuatu yang mengendap tentu tidak akan pernah hilang, ia masih berada di tempatnya, hanya mungkin jauh, terlalu jauh hingga sulit diidentifikasi, apakah sebenarnya masih ada, atau tidak. Kanayya, mulai hari itu, aku berharap rasa itu pergi, seperti ragaku yang meninggalkanmu berkilo-kilometer, menyeberangi lautan, bermukim di tempat yang tidak satu daratan denganmu. Namun agaknya rasa ini masih tertinggal, atau entah tercecer di mana. Kanayya, aku tak mau egois. Kalaupun rasa ini ternyata masih ada, kalaupun masih namamu yang tertancap kuat di hatiku, maka cukup aku yang tau dan merasakannya. Berbahagialah kau dengan hidupmu yang sekarang, berbahagialah atas pilihanmu sendiri. Biar aku yang terluka, luka ini tak seberapa, dan aku yakin, luka ini akan segera pulih. Aku hanya butuh waktu saja.

 ***

sumber gambar: harisindera.blogspot.com

  • view 171