Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Motivasi 7 Mei 2016   13:13 WIB
Pernahkah kamu kecewa?

Setiap orang pasti punya harapan bukan?

Begitu juga dengan saya. Apalagi jika harapan itu menyangkut masa depan, jika tak tercapai, maka sudah dapat dipastikan ada kecewa yang tersisa.

...

...

Cerita dimulai saat saya mencoba mengikuti ujian rekrutmen pegawai untuk salah satu instansi kesehatan di Jakarta. Tak ada perasaan optimis yang berlebihan, dan tidak ada ketakutan akan kalah pula. Semua berjalan normal apa adanya -pasrah. Serangkaian ujian saya ikuti, ujian tulis, wawancara, tes psikologi, hingga total sekitar dua bulan saya mengikuti serangkaian tes tersebut untuk pada akhirnya mengetahui pengumuman apakah saya diterima atau harus gugur, selesai. 

...

...

Dan hasilnya?

...

...

Saya gugur (tidak lolos)

Ternyata instansi tersebut hanya menerima satu orang saja -saya (atau kami) belum mengetahui hal ini sebelumnya. Dan saya harus mengalahkan 7 orang lainnya-dan ini cukup berat untuk saya pribadi.

Kecewa? 

Pasti!

Tapi entah mengapa saya tidak merasakan kesedihan yang terlalu mendalam. Mungkin saya sudah ikhlas  (atau mungkin semacam firasat dari awal, bahwa saya tak mungkin mendapatkannya, atau jangan-jangan usaha saya kemarin tak total sehingga saya merasa biasa saja saat dinyatakan tidak lolos). Di balik banyaknya ke"atau"an tersebut saya mencoba menenangkan diri, karena ternyata kalau diingat-ingat kecewa juga, apalagi jika ingat kedua orang tua yang sudah mensupport secara penuh.

Dan memang kekecewaan saya itu hanya tentang kedua orang tua saya (belum bisa memberikan yang terbaik), sisanya terasa biasa saja. Berbeda dengan 4 tahun lalu, saat saya mencoba mendaftar (lewat jalur prestasi akademik) di salah satu perguruan tinggi negeri, dan saya tidak lolos, entah berapa hari saya menangis sesunggukan saat sendiri, mencaci diri sendiri, seolah kehilangan harapan-harapan lain juga yang masih melimpah ruah di depan mata.

...

Allah tahu apa yang terbaik untuk hambaNya

Saya sering melihat orang membagikan tulisan tersebut. Dan mungkin saya sudah 'terpengaruh' dengan tulisan tersebut. Sehingga saya yakin betul bahwa apa yang peroleh saat ini (kegagalan) bukanlah hal yang seharusnya diratapi. Allah tahu apa yang terbaik untuk saya, maka saya belajar untuk ikhlas.

Dan keterpengaruhan saya itu bukan tanpa alasan. Saya sudah membuktikannya sendiri. Nikmat Allah terlalu banyak, lalu untuk apa bersedih?

4 tahun yang lalu pula, saat saya gagal masuk perguruan tinggi negeri itu (lewat jalur prestasi), akhirnya saya memutuskan untuk mencoba dari jalur uji tulis. Dan hasilnya? Saya diterima. Dan saya telah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun di sana.

Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?

Allah hanya mau saya berusaha lebih keras. Itu saja.

...

Maka, hari di mana saya mendapati pengumuman calon pegawai tersebut, saya berusaha meyakinkan diri bahwa ini adalah hal terbaik yang diberikan oleh Allah. Dan saya yakin bahwa Allah telah menyiapkan rencana terbaikNya

...

...

Lalu, sekitar dua bulan sesudahnya, ada survei kesehatan untuk DTPK (Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan), dimana kami akan dikirim ke seluruh pelosok Indonesia selama 10 hari untuk melakukan survei di Puskesmas. Saya mencoba mendaftar, dan ternyata... saya bisa berangkat!

Saya mendapatkan tugas di Kepulauan Aru, Maluku.

Tidakkah kamu dibuat tersenyum terus oleh kebesaranNya?

...

Sebelumnya survei ini sudah pernah dilakukan di tahun sebelumnya. Dan saya menyesal karena tidak sempat mendaftar dan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi pelosok Indonesia. Saya bertekad untuk bisa berangkat di tahun selanjutnya.

Dan ini kejutannya.. saya bisa berangkat

Dan saya sedikit dibuat tercengang..

Jika saja, saya berhasil lolos pada perekrutan pegawai instansi kesehatan di Jakarta tersebut, artinya saya tidak bisa ikut survei ini, dan tekad saya untuk bisa mencicipi pelosok Indonesia sirna sudah.

Tapi ini, Ah, Allah, mengapa Kau begitu romantis?

Saya bisa berangkat ke pelosok Indonesia, menemukan banyak pelajaran hidup yang mungkin sulit saya dapatkan di kota, khususnya kota besar seperti Jakarta. Belajar menjadi lebih dewasa, lagi dan lagi, bertemu teman serta keluarga baru. Dan yang terpenting, menjadi saksi bahwa Indonesia itu luas, Indonesia itu indah... Membuat diri ini terus bersyukur bisa hidup di negeri seindah ini (meskipun kesejahteraan rakyatnya belum merata- saya harap ini bisa segera dituntaskan)

Allah knows me so well..

Ternyata ini rencanaNya

Allah selalu punya rencana Indah. Dan ini akan selalu saya ikatkan di hati. Agar tak ada lagi kecewa jika harapan saya sedikit terkikis, atau mungkin sirna...

 

Pernahkah kamu kecewa? jika ya, maka kita sama. Tetapi, itu tidak penting. Yang penting adalah kita mau mencoba untuk mengatur kekecewaan itu ala kadarnya (semacam peringatan bahwa mungkin usaha kita belum maksimal), dan yang paling penting,  meyakinkan diri bahwa Allah punya rencana lain yang lebih baik, yang tak pernah akan kamu duga...

 

Belajar menerima ketetapanNya, belajar melapangkan hati atas setiap keputusanNya, karena Allah akan memberikan apa yang terbaik bagimu, bukan apa yang kamu butuhkan


Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?

Karya : Medy Arina