Tentang Waktu

Ari Hadi Purnama
Karya Ari Hadi Purnama Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 September 2016
Tentang Waktu


Apa yang terpikir dalam pikiran anda ketika mendengar kata “Waktu”? Mengapa saya menanyakan tentang waktu. Tidak lain, karena saya ingin mengajak anda untuk belajar menghargai waktu. Ya, beberapa minggu yang lalu saya baru mendapatkan sebuah ilmu yang sangat berharga dari teman saya mengenai ilmu manajemen waktu. Dimana saya baru menyadari ternyata saya selama ini sudah banyak membuang waktu produktif hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dan berguna.

Kita sama-sama mengetahui bahwa kita memiliki waktu yang sama dengan orang lain. Ya, kita sama-sama memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Apakah ada dari anda yang memiliki waktu lebih atau kurang dari 24 jam dalam sehari? Saya rasa tidak. Tapi pertanyaannya, kalau kita memiliki jumlah waktu yang sama, mengapa ada orang yang sangat sibuk seolah-olah waktu 24 jam terasa sangat kurang bagi mereka, atau ada orang yang memiliki waktu sangat senggang, bahkan bagi mereka waktu 24 jam terasa sangat lama karena mereka tidak tahu apalagi yang harus mereka lakukan untuk mengisi waktu mereka yang sangat kosong.

Saya jadi teringat sebuah ilustrasi dari buku yang pernah saya baca yang mengatakan, apa yang akan anda lakukan apabila anda menjadi seorang penumpang taksi. Lalu anda ditanya oleh supir taksi “Mau kemana pak/bu?” Lalu karena anda tidak tahu tujuan anda, anda mengatakan, “Terserah bapak saja”. Lalu kira-kira apa respon dari supir taksi menurut anda? Mungkin sang sopir taksi langsung pergi meninggalkan anda karena mengira anda stress atau gila. Bisa juga anda diajak berkeliling-keliling kemudian anda diturunkan di depan rumah sakit jiwa atau di depan kantor polisi. Atau kalau sang sopir cerdas, mungkin menanyakan anda punya uang berapa? Lalu mengajak anda berputar-putar sampai argo di taksinya mencapai jumlah uang yang anda punya, lalu menurunkan anda di tempat yang dia mau. Lalu apakah anda sampai di tujuan anda? Tentu saja tidak, karena anda sendiri tidak tahu kemana tujuan anda.

Ilustrasi tersebut sangat menggambarkan realitas yang ada pada saat ini, dimana banyak orang-orang yang seperti “Mayat-mayat yang berjalan”. Maksud dari kata saya “mayat yang berjalan” adalah orang-orang yang bernafas tapi tidak memiliki kehidupan. Atau saya sering menyebutnya “Orang yang tidak memiliki impian”. Karena bagi saya orang yang tidak memiliki impian sama saja dengan tidak memiliki kehidupan. Ya, saat ini banyak sekali orang-orang yang tidak mengetahui apa tujuan hidupnya, tidak memiliki impian dan visi hidup. Kebanyakan orang memiliki moto hidup sederhana yaitu “Jalani saja hidup seperti air yang mengalir”. Atau “Ikuti saja kemana angin berhembus.” Hanya sekedar ikut-ikutan, tanpa memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Kebanyakan dari mereka beralasan hidup ini cuma sekali, jadi hidup tidak perlu diambil pusing, jalani saja hidup dengan santai. Atau ada juga yang pernah bilang kepada saya bahwa hidup didunia hanya sementara, jadi buat apa ngotot untuk mengejar dunia. Yang penting adalah beribadah untuk mengejar akhirat. Apakah teman-teman pernah bertemu dengan orang-orang yang berkata seperti itu? Ya, pasti banyak orang-orang yang berkata seperti itu. Justru kalau kita tahu hidup itu hanya sekali, seharusnya kita semakin bersungguh-sungguh dalam memaksimalkan kesempatan hidup yang hanya satu kali. Dan karena hidup didunia hanya sementara sudah sepantasnya kita memaksimalkan dunia ini sebagai ladang untuk bertanam kebaikan dan menebar manfaat kepada orang lain sebanyak-banyaknya agar di akhirat nanti kita tinggal menuai hasil kebaikan yang telah kita tanam di dunia. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Jadi alangkah picik dan sempitnya pikiran kita, jika kita berpikir hidup ini hanya untuk kepentingan sendiri tanpa mau memikirkan orang lain.

Teman-teman yang baik, kita dianugrahi oleh Tuhan sebuah otak yang sangat cemerlang, juga tubuh yang luar biasa dan bisa kita gerakkan sesuai keinginan kita, tidak lain karena Tuhan telah memberikan anugrah yang hebat kepada setiap manusia agar manusia mengeluarkan potensi terbaiknya untuk melakukan kebaikan dan menebar rahmat di dunia ini. Coba bayangkan apabila anda menciptakan sebuah mesin atau robot yang sangat canggih, dan ketika robot itu anda perintahkan untuk melakukan sesuatu, robot itu menolak permintaan anda. Apa yang anda rasakan? Mungkin anda akan merasa marah dan kecewa karena sesuatu yang anda buat tidak dapat memenuhi keinginan anda. Begitupun dengan Tuhan. Kita sudah diberikan teknologi tercanggih yang diciptakan Tuhan pada diri kita, namun kita tidak mau mengoptimalkan potensi yang ada pada diri kita bahkan menyia-nyiakannya. Sungguh terlalu. Pantas saja kalau Tuhan murka dan banyak menimpakan azab kepada manusia. Mungkin itu adalah suatu teguran kepada kita sebagai manusia untuk berhenti menyia-nyiakan potensi kebaikan yang ada dalam diri kita.

Teman-teman yang baik, bukankah Tuhan sudah memperingatkan kita dalam Al-Qur’an surat Al-Asr yang mengatakan : Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Dari surat tersebut kita bisa mengambil sebuah pelajaran penting apabila kita termasuk orang-orang yang menggunakan akal dan pikiran. Ya, Tuhan memberikan peringatan kepada manusia bahwa sebenarnya kita semua dalam keadaan merugi dan bangkrut. Kecuali orang-orang beriman yang memanfaatkan waktunya untuk saling berbuat kebaikan dan saling menasehati dalam kebaikan.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah , Apakah kita termasuk orang yang berada dalam kerugian? Atau kita termasuk orang yang beruntung karena mampu memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan untuk saling berbuat kebaikan dan saling menasehati dalam kebaikan? Ya, silahkan jawab dalam hati teman-teman sendiri saat ini berada dalam golongan orang yang merugi atau yang beruntung?

Kalau saat ini anda sudah merasa waktu anda sudah banyak digunakan untuk berbuat kebaikan, maka bersyukurlah dan jangan cepat berpuas diri. Tapi teruslah konsisten melakukan kebaikan itu hingga kelak waktu kita habis di dunia. Namun apabila anda merasa bahwa waktu anda selama ini sudah dihabiskan dengan hal yang sia-sia dan tidak memberi manfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain. Maka bersyukurlah, karena hari ini anda diingatkan oleh tulisan ini untuk berubah menjadi orang yang lebih menghargai waktu.

Lalu, apa yang akan anda lakukan setelah membaca tulisan ini? Apakah anda hanya menganggap ini hanya sebuah tulisan yang tidak bermakna apa-apa? Atau sebaliknya, tulisan ini menjadi sebuah teguran bahkan tamparan bagi anda dan membuat anda tersadar untuk mengisi waktu dengan hal yang penuh manfaat. Itu semua sepenuhnyaadalah keputusan anda untuk berubah atau tidak. Kalau anda memutuskan untuk tidak berubah, dan tetap melanjutkan hidup tanpa makna, maka yang anda lakukan hanya membawa kerugian bagi diri anda sendiri dan orang lain di sekitar anda. Namun jika anda memutuskan untuk berubah dan mengisi hidup ini dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menebar kebaikan, maka anda telah membantu saya, diri anda sendiri, keluarga anda, masyarakat anda, Negara anda, bahkan juga orang lain di dunia untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik daripada saat ini.

Selamat mengisi waktu anda untuk menebar kebaikan!!!

  • view 384