Aku Orang Paling Beruntung Di Dunia

Ari Hadi Purnama
Karya Ari Hadi Purnama Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 September 2016
Aku Orang Paling Beruntung Di Dunia

 

Sahabat, pernahkah Anda berkata kepada diri sendiri bahwa “Betapa tidak beruntungnya diri saya” atau “Beruntung sekali menjadi orang itu” atau pernah berpikir “Sungguh beruntungnya seandainya saya menjadi dia”. Mungkin seringkali atau pernah terbesit dalam pikiran (Self talk) kalimat-kalimat seperti barusan. Dimana kita seringkali berpikir bahwa betapa tidak beruntungnya diri kita, dan orang lain selalu terlihat lebih beruntung daripada diri kita sendiri, sampai akhirnya muncul peribahasa “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”.  Bahkan mungkin kita pernah berpikir untuk menukar posisi diri kita dengan orang lain yang menurut kita lebih beruntung. Sampai kita berdoa kepada Tuhan “Wahai Tuhan,  Aku rela melakukan apa saja asalkan saya bisa menukar posisi diri saya dengan orang tersebut”. Apakah Anda pernah berpikir seperti itu?

 

Lalu pertanyaannya benarkah demikian?

 

Mungkin pernah terbesit dalam pikiran, “Beruntung sekali si Fulan itu, dia punya wajah yang tampan, punya harta yang banyak, rumahnya megah, mobilnya banyak, fasilitas apapun tersedia, istrinya banyak pula. Seandainya saya menjadi dia pasti saya menjadi orang paling beruntung di dunia.

 

Namun apakah Fulan memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kita pikirkan?

 

Bisa jadi Fulan memiliki perasaan yang sama terhadap diri kita, “Betapa beruntung si Mukidi (anggaplah nama kita Mukidi), walaupun hidupnya pas-pasan dia memiliki istri yang sangat sholehah dan taat kepada suaminya, dia juga punya anak-anak yang lucu dan sangat berbakti kepada orang tuanya, juga memiliki keluarga yang sangat harmonis dan saling menyayangi. Sedangkan saya punya banyak harta, namun saya tidak pernah merasakan arti kasih sayang. Sungguh beruntung si Mukidi itu.

 

Ternyata apa yang kita pikirkan terhadap orang lain yang menurut kita jauh lebih beruntung, bisa jadi orang lain tersebut berpikiran bahwa diri kitalah yang jauh lebih beruntung dari dirinya.

 

Bisa jadi selama ini kita kurang bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan kepada diri kita. Dan kita seringkali tidak berlaku adil terhadap diri kita sendiri. Kenapa? Karena kita seringkali membandingkan kelemahan diri kita dengan kelebihan orang lain. Contohnya, mungkin ada dari Anda yang pernah mengeluh. “Aduh, kok hidung saya pesek ya. Saya jadi kelihatan jelek. Tidak seperti si Fulan yang hidungnya mancung dan ganteng seperti artis Bolywood di TV. Atau Anda mungkin pernah mengeluh, “Aduh kenapa sih kulit saya hitam seperti ini, saya jadi terlihat tidak cantik. Beruntung sekali si Bunga, kulitnya putih dan terlihat sangat cantik seperti bintang film di TV.”

 

Lalu apa yang terjadi apabila kita selalu membandingkan kelemahan diri kita dengan kelebihan orang lain? Mungkin itulah sebabnya yang membuat diri kita jarang bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Kita selalu merasa kekurangan dalam hidup, stress, kita selalu merasa orang lain lebih beruntung, dan diri kita hanyalah kebagian yang ‘Sial’ saja. Sehingga akhirnya kita menghakimi bahwa Tuhan tidak adil kepada diri kita.

 

Lalu bagaimana kita bersikap seharusnya?

 

Tentunya Tuhan adalah Pencipta yang paling sempurna dan paling Adil. Karena Tuhan selalu menciptakan setiap manusia dikaruniai satu paket, yaitu kelebihan dan kekurangan. Tidak ada seorangpun manusia yang diciptakan hanya dikaruniai dengan kelebihan tanpa memiliki kekurangan, begitupun sebaliknya.

 

Jadi, bukan Tuhan yang tidak Adil, tetapi diri kita sendirilah yang tidak Adil. Seharusnya kita membandingkan kelebihan orang lain dengan kelebihan diri kita, begitupun ketika kita membandingkan kelemahan diri kita, maka bandingkanlah dengan kelemahan juga. Maka kita sudah berlaku adil terhadap diri kita sendiri. Dan hal tersebut akan menjadikan diri kita pribadi yang jauh lebih bersyukur.

 

Betapa nikmat hidup ini ketika kita selalu menyikapinya dengan penuh rasa syukur karena kita berbuat adil terhadap diri kita sendiri. Ketika kita bersyukur, maka hidup ini akan selalu penuh rasa kecukupan dan berkelimpahan. Kita tidak akan terlalu peduli lagi dengan kekurangan diri kita, tetapi kita akan lebih fokus kepada kelebihan kita.  “Alhamdulillah, walaupun si Fulan lebih tampan dari saya, namun saya bersyukur karena saya lebih pandai dari si Fulan.”

“Alhamdulillah, walaupun dia lebih kaya secara harta daripada saya, namun saya masih lebih kaya secara hati karena masih banyak orang-orang yang menyayangi saya.”

 

Orang yang bersyukur akan selalu merasakan dirinya berkecukupan dan berkelimpahan, karena orang yang bersyukur selalu berfokus kepada kelebihan yang dia miliki. Bukan meratapi apalagi menyesali pada kekurangan yang tidak dimiliki.

 

Namun sekali lagi, Hidup adalah Pilihan. Anda bisa  memilih menjadi pribadi yang bersyukur ataupun tidak. Namun yang pasti Tuhan telah berjanji dalam firman-Nya. Bahwa barasiapa yang bersyukur kepada-Ku maka akan kutambahkan Nikmatnya, namun barangsiapa yang Kufur,maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

 

Jadi mau pilih yang mana, menjadi hamba yang bersyukur atau hamba yang sangat bersukur?

 

Yuk sahabat,kita sama-sama belajar menjadi pribadi yang bersyukur. Dan mari kita sama-sama teriakkan pada dunia  “TERIMA KASIH TUHAN, KARENA SAYA ADALAH ORANG PALING BERUNTUNG DI DUNIA”

  • view 223