Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 19 April 2016   21:20 WIB
Untukmu yang Sedang Menunggu di Ujung Senja

Demikianlah kita, menjadi manusia yang selalu ragu menentukan setiap keputusan, memilih diam dan membiarkan hati merasa sesak menerima keadaan. Kita diam karena menyadari bahwa ada jarak yang sedang menyekat. Barangkali kita tengah dipermainkan waktu, ditertawakan oleh takdir kita sendiri, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya jika kita benar-benar memilih menyerah, menangisi takdir yang sebenarnya masih bisa kita lawan dengan keyakinan.

Aku meyakini bahwa kamu tidak seperti itu. Meski kita tengah sama-sama memilih senyap. Aku berharap kamu tidak sepenuhnya senyap. Aku berharap kamu melakukan hal yang sama: memilih diam karena untuk menggumpalkan kekuatan agar dapat memecahkan kebuntuan, menciptakan keputusan-keputusan yang pada akhirnya akan membawa kita pada kehidupan lainnya yang lebih bermakna. Dan untuk saat ini maafkan aku. Maafkan aku yang tidak memiliki keberanian lebih, seperti memberi kabar atau mengirim pesan. Aku hanya tidak ingin menggangu kekhusyuanmu, itu saja. Semoga pada setiap malam yang selalu membuat kita sulit untuk terpejam, kita menerbangkan doa-doa yang sama yang pada akhirnya akan mempertemukan kita di masa depan.

Tentang kepergian. Aku tahu persis seperti apa hakikat perempuan. Meski dia merelakan kepergian seseorang yang dicintainya. Sebenarnya setelah itu, hal yang akan dilakukannya adalah menunggu. Tetapi siapa sebenarnya di antara kita yang telah pergi? Kita hanya terpisahkan keadaan, bukan? Lalu kamu menjadi ragu untuk menunggu karena aku tidak pernah memberimu isyarat untuk itu, dan jika menunggu adalah hal yang memberatkan bagimu. Maka teruslah berjalan, karena aku yang akan berusaha untuk menemukanmu di masa depan.

Demikianlah takdir memisahkan dan membentangkan jarak di antara kita. Membuat kita ragu dengan keyakinan dan isi hati kita masing-masing. Jika pada akhirnya takdir menjadi semakin bengis untuk diakrabi. Maka maafkan aku yang tidak pernah bisa sampai padamu.

Semoga tidak seperti itu.

 

Serang, 19 April 2016

Karya : Arif Rahman Hakim