Dekade Pertama (Pergi Untuk Kembali)

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Maret 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

2.9 K Hak Cipta Terlindungi
Dekade Pertama (Pergi Untuk Kembali)

Ketika kita berada pada suatu keadaan, entah nyaman ataupun sangat tidak mengenakkan. Ada masanya kita harus meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan keadaan tersebut untuk sekedar berpindah ke keadaan yang baru. Sama seperti move on, tapi yang membedakan adalah soal bagaimana cara pandang kita.

Dekade pertama setelah gue meninggalkan sekolah, ada banyak hal yang buruk sekaligus paling baik yang gue rasain. Banyak hal yang dengan sengaja mau banget buat gue lupain tapi banyak banget hal selamanya mau gue kenang dan seandainya Raja Alam Semesta kasih gue satu kali lagi kesempatan jadi anak sekolah, gue mau ngulang kejadian indah itu lagi. Misalnya, celana gue pernah di tempelin permen karet ketika gue sedang asik duduk dan mendengarkan guru menjelaskan, atau nggak soal tatap-tatapan gue sama Bayu yang bikin satu kelas jadi jijik sendiri sama kita berdua, hutang bakwan yang gue beli di kantin. Ya, waktu itu gue ambil bakwan nya lima tapi gue bayarnya tiga, itu adalah satu-satunya hal yang dilakuin anak cemen disekolah; memaksakan untuk nakal.

Setiap perjalanan selalu punya halangannya sendiri, setiap jalan pasti selalu ada kerikil yang pelan-pelan ngehadang jalan kita. Gue sadar, ketika berada di sekolah, gue merasa seperti orang yang bebas. Orang yang punya mimpi apa saja soal masa depannya tanpa memperdulikan apa yang gue punya sekarang. Nggak ada perasaan takut masa depan gue bakalan ancur karena setiap harinya guru-guru bilang ?masa depan orang yang berpendidikan selalu baik, tapi asal kalian seirus? Dari situ gue tahu, artinya orang yang berpendidikan tapi Cuma memakai pendidikannya sebagai jalan agar terlihat lebih tinggi dari orang lain artinya dia lebih rendah dari pada sampah.

Dekade pertama gue ninggalin sekolah, banyak banget hal-hal yang gue nggak ngerti juga dari sekolah. Misalnya, kenapa setiap dalam pelajaran kebanyakan sekolah harus selalu memaksa setiap muridnya paham? Nggak ada yang salah sama kata ?paham? yang salah adalah sama kalimat ?memaksa?. Buat gue pribadi, setiap guru punya caranya sendiri-sendiri untuk membuat muridnya lebih pintar dari seharusnya, dan itu artinya cara mereka memaksa juga beragam. Intinya tetep sama, ?paham? dan ?paksa? berbeda jauh. Guru seharusnya menjadi teladan yang baik dengan mengajarkan cara-cara mengajar yang sehat, kan? Bukan dengan membeli lks di pada guru lebih murah dan dapat nilai tambahan. Itu namanya penggelapan ilmu, guru-guru yang pernah gue temui sih kebanyakan kayak gitu. Kecuali guru SMK gue, karena gue tahu mereka akan baca tulisan ini.

Dekade pertama gue ninggalin sekolah, semuanya terasa beda. Teman-teman, guru, adik kelas bahkan sekolah itu sendiri. Semuanya terasa asing, kayak bukan sekolah gue yang dulu, kayak bukan rumah kedua yang dulu kalau gue bosen tidur di rumah gue akan bawa perlengkapan tidur dan nginep disana. Semuanya terasa beda, teman-teman yang dulu selalu nemenin gue kemana-mana, kita teriak bereng sampai kita bener-bener jadi orang gila bareng. Sekarang untuk bilang ?lu sibuk atau nggak?? harus punya alesan yang tepat. Guru-guru yang setiap hari ketemu dan biasanya gue sapa ?Bu kita hari ini belajar apa?? sekarang semua kalimat itu berubah menjadi ?Bu hari ini gimana ngajarnya?? Kadang gue berpikir, memang itu fungsinya berpindah. Tidak melupakan yang lama tapi merasakan yang baru, tapi kadang yang lama justru terasa seperti asing. Seperti tak pernah didatangi, seperti tak pernah gue kenal lagi. Ini berbeda tapi gue sadar, setiap perpindahan menunjukan kita untuk bertemu yang baru, dan sekolah mungkin udah cerita lama. Tapi juga bukan cerita basi, selalu ada pekerjaan rumah yang telat dikumpulkan disana, selalu ada cinta yang selalu tidak peka atau telat disadari, selalu ada guru yang senantiasa memaki tapi sambil tertawa. Tentang semuanya, gue rasa rumah kedua gue memang menjadi tempat yang nggak gue kenal lagi, banyak yang berubah. Tapi rumah kedua gue sekarang, sudah punya pemilik baru. Pemilik yang lebih asik daripada gue dulu, semacam pengganti per satu generasi.

---

?Mau kemana kita?? Tanya gue sama Bayu yang perlahan menyetir mobilnya secara hati-hati.

?Ke sekolah.? Jawabnya singkat.

?Ke se..sekolah? Mau ngapain?? Kata gue kaget.

Bayu menatap gue lekat, perlahan dia kembali fokus pada setir mobil. Dia menarik nafas. ?Ini kan udah satu dekade Fin, lu inget, kan?? Tanyanya sambil membelokkan setir ke arah kanan.

Gue belum sepenuhnya mengerti apa yang Bayu bilang tapi gue juga nggak tahu kenapa dia membawa gue balik lagi ke sekolah ini. Masuk ke area sekolah, gerbang di buka oleh Mas Yusuf keamanan di sekolah kami, Bayu memarkir mobilnya di bagian ujung lapangan agar nanti jika keluar sedikit lebih mudah.

?Lu ngapain bawa gue ke sini sih Bay??

?Jangan pura-pura bego deh Fin, pesawat kita masih ketinggalan di atap sekolah.? Katanya sambil menunjuk ke arah atap sekolah.

Gue menatap ke atas, dan matahari lebih terang daripada biasanya. Atap sekolah agak berubah, banyak yang sudah di renovasi. Gue inget, ada pesawat impian yang tertinggal di atas atap itu. Sekarang gue tahu kenapa Bayu bawa gue balik lagi ke sekolah ini, kenangan soal masa paling membahagiakan adalah soal mendatangi tempat-tempat yang paling membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dari biasanya. Karena itu bertemu mantan setelah sekian lama juga berpengaruh besar terhadap motivasi dan tujuan kita, karena ketika kita bertemu mantan akan ada dorongan paling mendalam ketika kita ingin membuktikan siapa kita dan dia telah menyesal meninggalkan kita begitu saja. Kenangan yang cukup rumit.

Tapi dari semua hal yang gue paham soal kenangan, Cuma kenangan soal teman-teman dan sekolah yang paling banyak nggak bisa gue inget, entah kenapa mereka yang berubah atau gue yang berubah. Bayu perlahan menjadi lebih bijaksana dari waktu pertama kali gue bertemu sama dia ketika masa orientasi, seakan waktu menjelma menjadi sekumpulan pasir yang tertiup angin dan akan berganti iklim. Itu yang gue rasakan, perubahan itu yang gue gelisahkan, kenapa kita harus berubah di saat sudah nyaman dengan hal yang membuat kita menjadi diri kita sepenuhnya? Pertanyaan itu terus gue ulang-ulang sambil menatap Bayu perlahan melangkah dengan bijaksana. Adik-adik kelas mulai berganti dan tak mengenali lagi kakak kelasnya yang pertama, guru-guru mulai bersikap biasa saja, paling hanya menanyakan hal-hal yang umum seperti ?sekarang kerja dimana?? atau ?gimana kabarnya?? seperti itu, entah mereka yang perlahan Cuma mengenali wajah gue aja atau gue yang terlalu kaku menghadapi sikap mereka yang mulai berbeda.

?Lu inget tempat ini, kan?? Bayu tiba-tiba membuka pembicaraan kembali.

Gue menatap tempat yang Bayu maksud, tempat dimana perkenalan pertama gue sama Bayu dan teman-teman yang lain. Kantin. ?Inget Bay tempat kita makan, kan?? Canda gue.

?Yee oneng.? Bayu tertawa. ?Apa kabar ya mereka?? Bayu melanjutkan pertanyaannya lagi.

?Kita udah beda Bay, perlahan semuanya bakalan berubah. Mau nggak mau kita akan selalu ada dalam perubahan-perubahan itu. Dan mungkin perubahan itu yang membuat kita perlahan nggak sempet papasan di tengah jalan.? Jelas gue. ?Tapi untungnya lu nggak kayak mereka ya.? Lanjut gue sambil tertawa dan menepuk pundak Bayu.

?Gue bakalan pindah ke Sydney Fin.?

Gue diam. ?Gimana-gimana??

?Gue dapet beasiswa untuk kuliah di sana. Gue udah putusin, gue juga harus ngerancang masa depan gue Fin.?

Akhirnya gue tahu pada saatnya nggak selamanya Bayu bakal sama gue. ?Ta.. Tapi Bay, kita masih bisa komunikasi kan. Kok nada bicara lu udah kayak bakal pindah selamanya.?

?Pasti nggak akan se-efektif ini Fin.?

Pada akhirnya gue tahu, semuanya akan berubah perlahan.

---

Bayu berjalan lagi ke arah tangga, gue masih murung, gue nggak pernah nyangka akan jadi gini semuanya. Pertama yang berubah bukanlah sekolah, tapi semuanya. Perlahan tapi pasti semuanya berubah menjadi tidak gue inginkan. Perlahan gue menengok ke arah kantor guru, semuanya sepi karena semua guru sedang sibuk mengajar. Masih banyak generasi yang harus mereka didik lebih baik dari pada generasi pertama waktu itu, ya angkatan gue.

?Jangan di liatin terus, ada masanya mereka hanya menjadi pelabuhan numpang lewat aja Fin.? Kata Bayu.

?Maksud lu gimana? Mereka kan yang ngedidik kita Bay, mereka bukan pelabuhan Bay.? Tanya gue bingung.

?Fin, ada masanya mereka sibuk dengan generasi yang baru lagi Fin. Akan ada saatnya kita menjadi percobaan dari semua ajaran mereka, mereka orang tua kedua kita tapi ada saatnya kita harus menemukan orang tua baru, kan??

?Se-sebenernya yang berubah itu kita atau guru-guru kita sih??

?Waktu yang selalu berubah Fin.? Jawab Bayu singkat. ?Pada dasarnya manusia hanya diem aja ditempat enggak kemana-mana, kita Cuma ada dalam lingkaran statis yang kita buat sendiri. Dan waktu selalu membawa kita ke masa-masa yang berbeda, seperti perubahan, perasaan, cinta, langkah kita, kekuatan kita, daya ingat, tenaga, dan beberapa hal lainnya. Intinya sih kita akan jadi tua, itu pasti banget. Jadi nggak mungkin kita nolak buat berubah, secara nggak sadar kita udah nerima semua perubahan itu sendiri secara perlahan.? Tutup Bayu.

Tanpa sadar gue sama Bayu sampai di atap sekolah. Bayu tersenyum ke arah gue, menyodorkan kertas dan sebuah ballpaint berwarna hitam. Lalu memberikan kode agar gue membuat sebuah pesawat kertas dan menuliskan kembali impian yang pernah gue tulis sewaktu dulu ketika kami berdua mengikrarkan semua perasaan dan mimpi-mimpi kami pada seuntai kertas. Bayu bener, kita akan secara nggak sadar menerima perubahan-perubahan itu. Bukan kitanya yang berubah, bukan guru-guru ataupun sekolah kita yang berubah tapi waktu yang perlahan lebih cepat berubah-ubah dari biasanya. Dan kita akan terjebak dalam lingkaran statis yang kita buat itu.

?Masih iget kan apa yang lu tulis?? Sambil tersenyum tipis Bayu mulai bersiap menerbangkan pesawat kertas yang ia punya.

?Masih.? Jawab gue polos.

?Lets Go!!!!? Sambil berteriak Bayu dan gue berlari dengan kencang dan melepaskan pesawat kertas itu lagi.

Sepuluh tahun, jarak yang cukup jauh untuk sebuah pelepasan impian yang kami buat dulu. Sekarang, kami kembali lagi tepat satu dekade, dan mulai menerbangkannya lagi. Tapi entah kapan kami akan kembali lagi ke tempat ini, Bayu akan pergi ke Sydney dan gue akan kuliah di Universitas Indonesia, dan masih dengan tulisan-tulisan yang gue buat untuk bisa menjadi sebuah buku yang nggak cemen-cemen banget dan bisa di baca banyak orang.

Gue nggak tahu kapan akan ketemu lagi dan kembali lagi kesini, dulu yang gue tulis di kertas itu adalah menjadi seorang penulis. Tapi, sekarang berbeda, apa yang gue tulis adalah impian gue ketika gue tua nanti; SEMOGA KAMI KEMBALI LAGI KESINI.

?