Jatuh Cinta Diam-Diam (4)

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Maret 2016
Jatuh Cinta Diam-Diam (4)

Setiap orang pernah jatuh cinta diam-diam,? setiap hal yang nggak pernah berani orang lain ungkapkan pada orang yang dia suka adalah semacam jatuh cinta yang diam-diam. Dan sekolah adalah pertama kalinya kita merasakan jatuh cinta diam-diam kepada seseorang. Ketika masuk pertama sekolah, gue pernah jatuh cinta diam-diam sebelum akhirnya hati gue tertambat sama Aprilia. Dia salah satu wanita yang gue suka di kelas. Namanya Nina, dia suka sama Matematika. Entah kenapa dia suka sama kumpulan angka-angka yang menurut gue bikin bosen.

Setiap pagi ketika akan memulai pelajaran pertama, hal yang selalu dia lakukan pertama kali adalah dengan menengok kebelakang ke arah temannya Yasmin (Yang akhirnya menjadi pacar sahabat gue Roy). Setiap detik pertama ketika pelajaran pertama di mulai, gue mulai sesekali memperhatikan cara dia menulis, tulisannya bagus. Perlahan gue mulai memperhatikan cara dia menjelaskan sesuatu di depan, soal matematika dia adalah salah satu masternya gue rasa. Sampai hampir setiap rumus di kasih guru matematika gue waktu itu Bu Hibah selalu dia selesaikan dengan cepat. Dan gue satu soal aja belum terjawab.

Gue mulai menuliskan puisi-puisi kecil di buku tulis belakang. Kadang gue sempet ngebayangin kalau gue beneran jadian sama dia, bakalan jadi kaya beauty and the beast atau neraka sama surga. Tapi gue nggak pernah berpikir panjang waktu itu, yang gue tahu Cuma gue suka sama dia dan jatuh cinta sama dia. Udah itu aja. Cinta nggak butuh alasan buat di ungkapkan, kan? Hanya butuh pembuktian dari telontarnya kata-kata.

Sesekali gue pernah jahil dengan pura-pura minjem pulpen sama dia. Sambil terus berharap agar obrolan itu menjadi awal dari obrolan-obrolan selanjutnya.

?Mau minjem pulpen apaan?? Tanya dia dengan nada yang ramah.

?Apa aja, asalkan bisa di pakai.? Kata gue sambil ketawa kecil (Sumpah gue kayak orang dongo tahu nggak?)

?Nih.? Katanya sambil menyodorkan pulpen faster berawarna hitam sama gue. Dan akhirnya itu jadi awal perkenalan gue sama dia. Sebuah awal terbukanya gerbang buat gue bisa menapaki jalan cinta gue sendiri di masa SMK.

---

Semenjak hari itu, gue selalu inget percakapan itu. Percakapan antara gue dan dia, Nina. Sebuah obrolan soal pulpen yang sengaja gue karang Cuma biar bisa ngobrol sama dia walaupun Cuma sebentar. Sampai pada akhirnya, kelompok gue waktu itu The Junas Simpanse membentuk perkomplotan geng baru bernama Sette Migliori Amici. Kelompok yang berdiri karena kaki tujuh orang yang memutuskan untuk menjadi sahabat sehidup semati. Dan dia masuk geng ini juga, semenjak saat itu juga bentuk obrolan gue sama dia beragam dam banyak (Walaupun sebagiannya nggak lucu).

Kami selalu membuat jadwal ngumpul minimal semunggu sekali, kalaupun tidak bisa semuanya ngumpul pasti hanya yang cowok nya aja yang ikut kumpul. Dan bermain playstation. Dalam setiap waktu ngumpul kami selalu membicarakan hal-hal yang nggak penting banget buat gue, kayak misalnya Roy yang jadian sama Yasmin, Bayu yang jadian sama pacanya Intan. Dan sebagainya, tapi karena gue jomblo dan nggak ada satupun hal yang bisa gue biacarain sama mereka.

Sampai pada akhirnya gue memutuskan melakukan pendekatan secara bertahap sama dia, perlahan dengan sms-an sama dia. Kemudian meluangkan banyak waktu ngobrol walaupun yang nggak penting. Dan gue akhirnya memberanikan diri main kerumahnya dia. Yang biasanya gue main kerumah dia sama yang lain kali ini Cuma sendiri, dengan alesan yang gue karang sendiri, ngerjain tugas matematika. Cerdik tapi bego banget, permasalahannya disini gue nggak pernah suka sama angka-angka begituan. Ribet.

?Aneh banget belajar masa pas mau ujian deket aja?? Tanya Nina sama gue yang masih sok-sokan ngerjain soal akar kuadrat matematika.

?Ya emang salah ya?? Tanya gue polos.

?Ya salah lah, masa belajarnya pas mau ujian doang!? Katanya sewot sambil menghapus rumus yang telah dia buat, karena salah rumusnya.

Gue menghela nafas panjang. ?Gue masih mendingan dikasih bacaan banyak deh daripada harus nyelesain rumus kayak gini.? Keluh gue sambil mengangkat kedua tangan gue ke udara.

Nina mulai menatap gue lekat, kemudian mulai memperhatikan buku tulis yang sedari tadi tetap kosong tak ada tulisan apapun. ?Nggak boleh gitu, nanti dapet nilai jelek lu.? Ledeknya.

Gue tersenyum, dia mulai memperhatikan ternyata. Gue mulai tahu kebiasaan dia, dari mulai dia nggak boleh telat makan karena punya maag, nggak boleh terlalu capek nanti bisa nggak konsen dalam menyelesaikan soal-soal, nggak boleh stres nanti akan ada jewarat batu yang keluar dari wajahnya kalau dia stres, dia suka beli papeda di depan rumah sama keponakan kesayangannya. Dan dia punya cita-cita buat jadi seorang guru, semenjak melihat bu Hibah, tekadnya jadi seorang guru mulai bulat.

Kadang dia mulai curhat soal cowok-cowok disekolah yang menurut dia ganteng dan manis tampangnya (Nggak ada nama gue sih disitu). Dia selalu curhat sama gue, kadang gue yang curhat balik sama dia. Sampai pada akhirnya dia curhat soal cowok yang lagi deketin dia, ternyata dia peka juga sama apa yang gue rasa (pikir gue waktu itu). Gue seneng ukan main.

Gue mulai seneng karena perlahan gue mulai deket sama dia, mulai tahu kebiasaannya dia. Gue canggung untuk bilang ?jangan lupa belajar ya? ah susah kalau harus to the point kayak gitu. Kadang gue belum ngomong udah gugup duluan di depan dia. Orang yang jatuh cinta diam-diam perlahan akan sadar kalau perasaannya harus di ungkapkan. Pada saatnya gue mau mengungkapkan semuanya, gue mau dia tahu. Sampai pada akhirnya Ketika gue dan beberapa temen-temen sedang berkumpul, gue memberanikn diri buat bilang sama mereka.

?Bay gue mau bilang sesuatu tapi jangan bilang siapa-siapa lu.? Kata gue bisik sama Bayu karena gue takut yang lain denger kalau gue ngomong keras-keras.

?Ngomong apa?? Bayu mulai curiga sama gerak-gerik gue.

?Gue suka Bay sama...? Gue menahan kalimat gue di akhir, karena gue ragu sama apa yang mau gue bilang sam Bayu. Gue takut ada beberapa orang yang nggak bisa menerimanya kalau gue suka sama Nina.

?Suka sama siapa?? Bayu mendesak gue.

?Sama Nina Bay.? Kata gue langsung.

Bayu kaget, gue tahu dari tampangnya dia nggak percaya sama omongan gua. Sambil perlahan membenarkan posisi duduknya Bayu menunjuk muka gue pakai jari telunjuknya. ?Udah gila kali lu ya Fin!? Bayu teriak keras.

?Kok gila? Emang salah kalau gue suka sama cewek??

Bayu menggeleng keras-keras. ?Bu.. Bukan itu masalahnya, Nina baru aja jadian sama Jaka. Permasalahannya lu kenapa suka sama cewek orang.?

Gue kaget, gue nggak pernah tahu kalau ternyata orang yang selalu dia bilang bikin dia nyaman adalah temen gue sendiri. Kadang gue ngerasa nggak adil, kenapa orang yang Cuma bisa jatuh cinta diam-diam perlahan ketika menemui titik terang malah hanyut terbawa sungai dan nggak nemuin apa-apa. Gue tahu setiap perasaan wajib buat di kasih tahu dan diberitahukan kepada orang yang kita suka, tapi bukankah ada waktunya? Akan ada saatnya cinta menemukan jati dirinya (Cie mulai dramatis). Mulai detik itu gue nggak tahu harus gimana, nggak tahu bagaimana jadinya. Dan pada akhirnya gue nyerah sama semuanya, jatuh cinta yang diam-diam lebih sakit dari pada kehilangan orang yang kita sayang. Itu sakit, menyayangi tanpa memiliki.

Hanya memperhatikan dari kejauhan, semoga hubungan mereka cepat berakhir. Kadang gue mikir gitu, tapi kadang gue juga harus nerima, ada saatnya orang yang paling kita suka harus menemukan orang yang mereka sayang dan cintai dengan tulus. Cinta bukan pemaksaan, kan? Cinta adalah semacam cara agar kita bisa melihat orang yang kita sayang bahagia sama hidup dan pilihannya sendiri.

Semenjak saat itu, gue jadi lebih murung. Kelas yang biasanya ramai perlahan seolah menjadi sepi, di bangku yang persis dua meja di depan gue. Dia lagi pacaran sama temen gue, perasaan ini aneh nggak tahu kenapa, orang yang biasanya gue lihat dari bangku gue nyejukkin dan bikin adem kenapa semenjak ada si kampret jadi nggak kerasa lagi ya ademnya? Gue sempet mikir buat ngajak ribut Jaka, Cuma gue Cuma laki-laki cemen yang nggak pernah berani ngomong, sampai kiamat mungkin.

---

?Bay salah ya suka sama cewek sekelas??

?Nggak pernah ada yang salah kali Fin kalau soal perasaan, yang salah Cuma satu.? Kata Bayu sambil perlahan menghabiskan siomay yang dia makan.

?Apaan Bay?? Tanya gue penasaran.

?Lu suka sama cewek orang, salah lu juga sih bukannya ngomong sama dia dari dulu. Coba kalau lu ngomong sama dia waktu itu, mungkin sekarang Jaka yang ngomong gini sama gue.? Kata Bayu santai dengan terus meyalahkan ketidakberanian gue.

Gue terdiam.

Bayu memperhatikan gue dengan tatapan sedih meratapi nasib seorang laki-laki cemen yang nggak berani ngomong sama cewek yang dia suka karena masalah takut aja. ?Fin, gue kasih tahu. Jatuh cinta diam-diam itu lebih sakit daripada lu ditolak sama seribu cewek, karena disitu lu sayang tulus sama orang, merhatiin dia setiap hari tapi lu sadar dia bukan punya lu. Dia Cuma bayangan atas angan-angan yang lu buat doang, nggak menghasilkan.?

?Terus gue harus ngapain??

?Tahu diri.? Bayu mulai merapikan dasinya, bersiap untuk kembali ke kelas. ?Dia udah jadi punya orang, lu nggak punya pilihan lain selain relain dia. Kalau masih nggak rela tungguin aja dia putus baru lu bisa masuk lagi. Tapi gue Cuma kasih lu dua pilihan.?

?Apaan??

?Jauhin atau tinggalin, sisanya kalau lu tetep kekeh akan makin sakit Fin.?

?Jauhin atau tinggalin? Itu sama aja kali Bay artinya.? Kata gue aneh sama ucapan dia.

?Ya memang itu yang harus lu lakuin, nggak ada pilihan lain.? Kata Bayu sambil mengusap dagunya perlahan dan mulai melanjutkan perkataannya. ?Atau lu bisa..?

?Bisa ngapain? Ada jalan lain, kan??

?Ada, lupain dia.? Sahut Bayu dengan nada santai.

?Kampret lu.? Kata gue sewot. Memang nggak ada cara lain dari pada harus jauhin dan ngelupain? Tapi gue sadar gue nggak punya pilihan lainnya.

Gue milih buat ngelupain, melepas semua hal-hal yang terkadang jadi beban gue buat jatuh cinta sama dia. Memang nggak enak jadi orang yang terpaksa jatuh cinta diam-diam, tapi dari perkataan Bayu gue ngerti satu hal, cinta itu pada dasarnya melepaskan bukan memaksa untuk memiliki. Ada kalanya kita harus rela orang yang kita suka udah sama yang lain, dengan pilihannya sendiri. Bukan dengan kita, tapi dengan yang lain. Memang benar kata Bayu, yang di dapat dari jatuh cinta diam-diam Cuma rasa sakit karena nggak bisa milikin dia, tapi gue juga belajar, milikin bukan berarti harus kemana-mana mesti bareng dan pegangan tangan, kan? Menjadi sahabat yang akhirnya baik dan saling peduli satu sama lain itu juga peran untuk memiliki.

Sampai pada akhirnya gue papasan sama April, setelah gue sadar dia adalah murid abang gue dari SMP Tadika Pertiwi. Dan gue rasa dia jodoh gue (Lulus aja belum udah ngomongin jodoh).

Intinya sih tetep sama, sekolah selalu menjadi tempat kita buat jatuh cinta diam-diam, menemukan cinta pertama kita. Tapi pada akhirnya, yang berani mengatakan perasaanya yang benar-benar berhasil bikin kisah cintanya jadi lebih indah. Yang salah bukan dia yang terlanjur di tembak sama cowok lain, tapi gue yang telat buat ngungkapin semuanya. Akhirnya gue Cuma punya dua piliha.

Jauhin atau lupain.

---

Ketika memutuskan untuk menjauhi Nina, gue jadian sama April walaupun butuh proses yang cukup lama, dan juga walaupun April harus jadian dulu sama yang lain. Tapi nggak apa-apa, yang pertama bukan segalanya tapi yang terakhir udah pasti segalanya. Akhirnya gue sama Nina Cuma jadi teman aja. Di suatu waktu gue pergi kerumahnya Cuma buat main dan sekedar nengok kabarnya dia. Dan dia masih baik-baik aja.

?Udah lama ya gue nggak main kesini.? Kata gue sama dia.

?Masa?? Tanya dia.

?Iyalah, terakhir gue kesini waktu lu masih jadian sama si Jaka, kan??

?Udahlah nggak usah bahas masa lalu, gue kan udah putus sama dia.? Katanya lemas.

?Oh iya jomblo ya sekarang.? Kata gue sambil terkekeh.

?Emang ada yang salah sama jomblo, belagu banget mentang-mentang punya pacar.? Kata dia sinis.

Gue tertawa. Kadang gue berpikir, apa selama ini dia tahu kalau gue suka sama dia, apa dia tahu kalau sebelum jadian sama Aprilia gue suka sama dia. Apa dia tahu kalau misalnya dia orang yang gue suka secara diam-diam. ?Nin, lu pernah jatuh cinta diam-diam?? Tanya gue tiba-tiba.

?Maksudnya??

?Iya lu pernah nggak suka sama orang tapi secara diam-diam, maksudnya nggak berani kode atau nggak berani bilang kalau ?gue suka sama lu? atau apalah gitu yang bikin dia peka.? Jawab gue.

?Pernah.? Jawab dia singkat.

Gue tersentak, gue langsung membenarkan posisi duduk gue sambil menatap mata dia lekat. ?Siapa-siapa Nin?? gua begitu karena takutnya gue yang dia suka, bukannya pede tapi kan siapa tahu.

?Mau tahu aja lu!? Jawabnya sewot.

?Yailah gue kan Cuma mau tahu aja Nin, tapi gimana perasaan lu kalau kayak gitu? Sakit kali kalau suka sama orang tapi nggak berani ngungkapin apalagi orang yang kita suka malah punya pacar.? Kata gue sambil berusaha tidak terputus obrolannya.

?Yang gue rasain?? Jari telunjuknya mulai dia tempelkan ke dagunya. ?Biasa aja sih, nggak ada perasaan gimana-gimana.?

?Nggak mungkin.?

?Lah kok nggak mungkin?? Sahutnya.

?Ya nggak mungkin lah Nin, orang kalau suka sama orang terus suka juga diam-diam nggak mungkin perasaannya biasa aja. Pasti ada perasaan yang ngeganjel di hati, masa enak sih jatuh cinta sama orang tapi orang itu nggak pernah jadi milik kita Cuma karena kita diem aja. Nggak mungkin lah!? kata gue sewot.

?Lu kenapa jadi sewot sih.? Katanya.

Gue baru sadar, secara nggak sadar nada bicara gue naik perlahan. ?Eh, enggak maksud gue Cuma nanya aja perasaan lu gimana??

?Ya paling kalau dia belum punya pacar ya gue Cuma bisa merhatiin dia dari jauh aja, gue mah gitu kalau suka sama orang nggak pernah mau terlalu frontal, mendingan diem.? Katanya menjelaskan.

?Terus kalau orangnya udah punya pacar??

?Ya palingan gue berdoa biar cepet putus sama pacarnya dan syukur-syukur dia sama gue gitu.? Dia tertawa di ujung kalimatnya.

Seketika perasaan gue berkata lain. Kedengerannya emang jahat, mendoakan orang lain putus dan ujung-ujungnya pacaran sama kita, tapi apa salahnya berharap? Waktu April jadian sama si? anuan gue juga berdoa biar dia cepet putus dan jadian sama gue dan akhirnya doa gue ter-ijabah. Gue pernah merasakan jatuh cinta diam-diam ke Nina, konsekuensinya pasti sama. Sakit, karena jelas kita nggak akan pernah bisa dapetin orang yang kita sayang dan kita suka Cuma gara-gara nggak berani ngomong sama dia. Kadang hal-hal yang kita takutin selalu menjadi hal yang 80% nggak akan kita lakuin seumur hidup kita, seperti mengutarakan perasaan yang kemungkinan diterimanya sekitar 20% aja, atau mutusin pacar kita yang kemungkinan menyesalnya cukup besar sekitar 70% karena kita tahu mantan akan jauh berubah lebih baik ketika kita tinggalkan, itu udah hukum alam.

Tapi orang yang jatuh cinta diam-diam, nggak punya persentase keberhasilan atau kegalalan dalam perasaannya. Jatuh cinta diam-diam Cuma sekedar suka tapi nggak terlihat kenyataannya, kayak mimpi saat tidur. Syukur-syukur orang yang kita suka secara diam-diam juga suka sama kita (Kalau yang itu ngarep). Tapi satu hal yang gue tahu, dari jawaban Nina ataupun pengalaman gue. Jatuh cinta diam-diam punya tiga kemungkinan juga, pertama adalah nggak berani jujur karena takut semuanya berubah, kedua adalah jujur sama dia dan kemungkin terburuk dia nolak dan semuanya bener-bener berubah, ketiga adalah merelakan dia dengan orang lain.

Tapi kalau gue bisa balik lagi ke waktu gue jatuh cinta diam-diam sama seseorang gue akan milih kemungkinan yang kedua. Menyatakan semua perasaan gue sama dia, walaupun kemungkinan dia suka juga sama kita Cuma kecil tapi seenggaknya gue udah berani bilang sama dia. Karena di depan nanti, ada saatnya kita akan kehilangan orang yang kita suka Cuma gara-gara kita ngga berani ngomong sama dia.