Perpisahan.

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Maret 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

3.5 K Hak Cipta Terlindungi
Perpisahan.

Dalam hidup, setiap perpisahan akan selalu menjadi kenangan pahit bagi sebagian orang, dan kita ada dalam perpisahan-perpisahan itu. Sebagai manusia yang memang diciptakan untuk bertemu kemudian berpisah, kita tak akan bisa pernah lepas dari semua itu.

Tiba di hari kelulusan, gue menyiapkan semuanya pagi itu. Gue pakai kemeja yang paling bagus, jas yang paling mahal dan juga sepatu yang paling bersih. Dan berangkat dengan seksama ke acara kelulusan. Nyokap dengan senang hati menemani gue di perjalanan, sambil terus memperhatikan jalan Nyokap tiba-tiba bicara.

?Kamu habis lulus dari sini mau kemana?? Tanya Nyokap waktu itu.

Gue menatap nyokap dengan tatapan bingung, nggak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. ?Maksudnya Bu?? Dengan polos gue menjawab secara pelan.

?Iya, kan kalau orang sudah lulus dari suatu insitusi pendidikan. Mereka akan mencari institusi pendidikan yang lain, gampang nya kuliah.?

?Bilang aja kuliah maksudnya. Nggak tahu mau kemana.? Sahut gue santai.

?Nih kamu masuk sini aja.? Sambil menyodorkan selembaran brosur sebuah universitas. Nyokap langsung memburu agar gue tertarik masuk situ.

Gue mulai diam, menatap brosur itu aneh karena gue memang belum tertarik pada saat itu, bisa lulus aja syukur. ?Tapi Bu, nggak mungkin aku masuk sini. Brosurnya aja fotocopyan gitu masa.? Kata gue.

?Tapi ini bagus kampusnya.? Otot Nyokap. ?Nih ambil dan lihat.? Lanut nyokap.

Gue mengambilnya karena agar semuanya terlihat tenang dan baik-baik saja. Gue nggak mau jadi malin kundang berikutnya. Sampai di tempat acara, gue mulai melihat ke sekitar, temen-temen yang lain sudah bersiap untuk acara pagi ini. Mereka rapih, dengan dasi yang sangat bagus, dengan jas yang tak kalah rapih, dan sepatu yang tak kalah mengkilap hari itu. Di pojok panggung, Bayu setengah berlari ke arah gue sambil meneriakkan nama gue. Dia membawa sebuah buku catatan yang sangat tebal, kira-kira ada seratus halaman lebih mungkin.

?Nih gue bawain buku buat lu.?

?Ini buku apaan Bay?? Tanya gue bingung.

?Itu namanya diary, jadi setiap apapun yang lu lakuin nanti lu bisa tulis disitu Fin.?

Gue tersenyum sama dia, agak aneh sih karena dikasih sebuah buku diary sama laki-laki. Gue mulai menatap ke arah kumpulan cewek-cewek, dengan gaun batik berwarna biru muda, rambut yang terurai dengan sangat pekat, cahaya matahari pagi yang menabrak sebagian wajahnya. Ya, Aprilia, seorang cewek yang paling gue kagumi di sekolah. Saat ini dia menjelma menjadi wanita paling cantikyang pernah ada. Dan hari ini gue bangga, karena dia telah resmi menjadi pacar gue.

Mungkin ini yang namanya sebuah perpisahan, sebuah jalan dimana semua orang berkumpul kemudian bersalaman dan perlahan mengucapkan selamat tinggal. Untuk kemudian datang dan pergi, rasa-rasa kekhawatiran gue terjadi pada hari ini. Rasa kekhawatiran pada perasaan tak ingin berpisah. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu mengganjal kemudian datang kembali sama gue; Apa kita akan ketemu lagi? Apa kita akan menjadi teman yang sama lagi nanti?. Masuk kedalam ruangan guru-guru menyambut dengan penuh suka cita, gue rasa ini adalah sambutan terakhir dari mereka sebelum akhirnya gue kembali lagi ke sekolah. Sekolah hanya menjadi tempat persinggahan, dan perpisahan selalu menyisakan luka yang cukup dalam.

Untuk apa kita memasuki tempat yang baru untuk kemudian siap untuk resiko berpisah nantinya? Untuk apa pergi ke tempat yang baru lagi kalau sudah nyaman dengan yang lama? Gue nggak pernah mengerti kenapa selalu saja takdir selalu berjalan seperti itu, naik-turun kadang ke kanan, kadang ke kiri, kadang lurus tanpa tahu kemana arah dan tujuannya. Seperti itu yang gue rasakan, gue benci perpisahan. Gue benci disaat kita sudah nyaman sama satu tempat ataupun orang namun dengan berbagai macam alasan yang mungkin membuat kita menjadi lebih baik kita harus meninggalkan itu semua. Kenapa? Pertanyaan itu yang masih membekas dalam pikiran gue.

?Kamu grogi ya?? April tiba-tiba menepuk pundak gue dari balakang.

?Nggak lah, ngapain juga aku grogi. Ini moment paling penting.? Jawab gue sama dia.

Dia menatap gue, matanya seperti gugus awan hitam pekat yang akan hujan. ?Nggak kerasa ya? Sebentar lagi semuanya akan kita mulai lagi dari awal.?

?Ya.?

?Kamu seneng?? Tanyanya lagi.

?Ya.?

Dia tersenyum. ?Aku juga seneng.?

?Ya.?

Sambil menatap gue aneh, dia mulai menoyor kepala gue. ?Kamu sering pipis di celana ya?!?

?Ya.?

?Ih jorok!.? Katanya setengah berteriak.

?Eh.. Eh enggak maksudnya, iya aku suka pipis di celana..?

?HAH?!?

?Eh.. Maksudnya, aku suka sama moment-moment kayak gini. Disaat semuanya berkumpul dan turun dari bis yang sama untuk kemudian pindah ke bis yang lainnya.? Kata gue mulai agak serius.

?Maksudnya apa??

?Ya, sekolah buat aku kayak kita semua yang ada disini sedang menaiki bis yang sama. Dan didalam bus kita bernyanyi, tertawa, bersedih, hancur, galau, sakit hati, benci, dengki dan semuanya. Tapi kita semua tahu dimana kita akan turun dan kemana tujuan kita nanti.? Kata gue udah mulai sok keren. ?Guru-guru yang biasanya bernyanyi untuk menghibur kita di dalam bus, dengan ocehan-ocehan mereka yang sangat absurd tapi mendidik sekarang satu persatu sudah mulai membimbing kita untuk menaiki bus yang lainnya lagi. Kadang aku berpikir, kemana bus yang lama ketika kita semua menaiki bus yang baru.? Lanjut gue.

?Ya dia akan balik lagi ke terminal, akan menjemput lagi anak-anak yang baru dan kemudian membimbing mereka kembali pada bus yang berbeda lagi nanti. Seperti itu seterusnya, sampai akhirnya kita mempunyai bus sendiri untuk kembali ke terminal dan bertemu dengan bus-bus yang lama. Untuk sekedar salam sapa dan menanyakan kabar.? Jawab Aprilia.

?Iya kamu bener, ada saatnya kita harus balik lagi untuk sekedar menanyakan kabar.?

---

Entah kenapa hari itu menjadi sangat tidak menyenangkan, ruangan menjadi haru biru. Seakan ada yang harus dengan sengaja merelakan kepergian beberapa anak muridnya untuk pindah ke bus yang lainnya.

Gue duduk lemas di bangku yang sudah disediakan, orang-orang tua mulai berdatangan. Nyokap gue berada di pojok agar dia bisa bersender pada dinding. Kepala sekolah perlahan memasuki ruangan dengan wajah yang tidak cukup mengenakkan pagi itu. Ada satu hal yang menarik pagi itu, ada dua orang yang sengaja di giring (Udah kayak bebek). Yang sengaja digiring karena mereka mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional. Ada dua orang, cewek dan cowok. Namanya Hawarie dan Yulia. Mereka berdua sudah seperti ratu dan raja, kalau misalnya ini resepsi pernikahan uda tinggal siap aja penghulunya di depan. Seketika gue sadar, kadang yang paling mendapatkan perhatian adalah mereka yang punya nilai lebih dalam penilaian sekolah (Yaiyalah masa orang bego mau dijadiin panutan).

Mereka melepaskan almamater kebanggaan sekolah, penglepasan murid-muridpun dimulai bersamaan dengan pelepasan simbolik yang di lakukan oleh mereka berdua. Gue baru sadar, ternyata mereka disuruh jadi contoh aja, oh gitu.. Oke lupakan, acara mulai digelar dan perlahan, satu demi persatu acara mulai disebutkan, sampai akhirnya berada pada pemutaran video dokumenter sekolah.

Dalam video itu, terlihat semua aib. Kenakalan dan semua hal yang kami rindukan nanti ketika benar-benar tidak bisa kembali lagi ke sekolah ini. Beberapa murid ada yang mengangis, gue melihat bu Hibah dengan perlahan mengusap air matanya, gue tahu dia habis nangis Cuma di tahan-tahan aja biar kelihatan strong. Apa rasanya ketika sudah dilewati secara bersama-sama kemudian di persatukan dalam satu moment yang sangat krusial? Benar-benar mengharukan. Sambutan kepala sekolah membuat seisi ruangan menjadi hening, bukannya kami semua sedih karena sambutan yang ia berikan. Tapi jujur, waktu itu nggak ada satupun yang ngerti sama ucapannya dia.

Banyak banget hal-hal yang paling konyol sampai paling unik yang di lewatin di hari perpisahan kelas tiga. Banyak banget, adik-adik kelas yang dengan sengaja dateng dan bialng. ?Ka kalau udah sukses ajak kita makan-makan ya.? Mungkin memang itu resiko menjadi kakak kelas, tidak boleh lupa sama adik-adik kelas, mereka juga mambantu menyiapkan semua hal dari persiapan perpisahan ini. Intinya mereka lebih berkorban waktu dan tenaga daripada Office Boy disekolah. Namanya juga perpisahan akan selalu ada kejadian-kejadian konyol setelah acara selesai, orang yang dulu sempat gue anggap homo selama 3 tahun terakhir menghina gue di bagian terakhir gue sama dia ketemu. Namanya Joel, kenapa gue nyangka dia homo karena pertama dia ganteng tapi selama hampir 3 tahun satu sekolah sama gue, gue nggak pernah denger dia deket sama cewek. Ini perasaan gue aja atau dia emang homo.

Gue lagi duduk, di bangku yang lagi dirapihin sama Office Boy sekolah tiba-tiba Joel dateng dan bilang. ?Lu mendingan pakai jas, jadi ganteng dikit.?

?Gimana-gimana?? Kata gue pura-pura nggak denger. Satu hal yang gue pelajari dalam hidup ini, kalau ada orang yang menghina lu jelek jangan pernah ngerasa kesinggung. Karena kalau begitu artinya lu beneran jelek.

?Iya lu mendingan pakai jas. Agak lebih rapih aja muka lu.? Kata dia santai.

?Oh gitu ya.. Makasih banget loh Jo.? Sahut gue.

?Sama-sama.?

Kampret. Kadang gue berpikir kenapa orang ganteng lebih banyak menjadi sok daripada harus merendah. Kalau lu tahu diri lu ganteng yaudah jangan jadi sok kasihan kami para kaum yang diciptakan tidak mempunyai wajah sesuai rata-rata. Maksudnya berantakan, seakan ada pisau yang menghujam dada kami, jadi tolong hentikan semua ejekan dan hinaan itu. Tolong dengan sangat. Tapi ini akan menjadi moment yang ngga kelupa sama gue. Moment dimana orang ganteng mau ngomong sama gue. Ketika gue menuliskan ini mungkin Joel sudah menjadi lebih ganteng lagi atau mungkin beralih untuk benar-benar menjadi seorang homo gue nggak tahu juga sih, tapi semua akan benar-benar terpanggil lagi ke tempat ini untuk sekedar bertanya ?apa kabar bro?? Dan dari semua itu kita memulai awal baru lagi, cerita-cerita yang telah kita buat di luar, ketika kita kembali lagi ke sini itu akan menjadi cerita-cerita paling membahagiakan yang pernah ada.

Bukannya begitu?

---

?Ciee murid ibu udah pada lulus.? Hari itu di depan banyak siswa bu Hibah menyindir gue.

Gue terdiam, nggak seperti biasanya gue dan bu Hibah terasa sedikit asing, ada jarang yang terbuat di tengah-tengah gue sama dia. ?Biasa aja bu.? Jawab gue singkat.

Bu Hibah terdiam, dia menatap gue dengan penuh senyum tapi gue tahu ada perasaan yang tertiggal. Sebagai seorang guru, dia sudah seperti orang tua sendiri, maka melepas dan pergi dari orang tua yang lama adalah tindakan paling menyedihkan yang pernah gue alamin. Perasaan itu udah kayak rumah yang pondasinya belum dibangun sama sekali tapi udah jadi, lemah dan mudah roboh. Entah mungkin apa yang gue rasain juga bu Hibah rasain, keterpisahan karena sebuah kelulusan. Guru buat gue tugasnya hanya sekedar mengajar, mendapat uang dan pulang dengan wajah senang. Tapi hari ini gue tahu sesuatu, doa mereka yang selalu ada sampai akhirnya gue dan yang lainnya lulus dengan sempurna.

?Ibu bangga sama kamu le.? Katanya masih dengan panggilan bahasa jawanya.

?Bangga? Apanya yang dibanggain? Nilai UN saya aja nggak bagus-bagus amat.? Kata gue.

?Nah itu dia, artinya kamu nggak nyontek.? Katanya sumringah.

Gue masih keheranan sama tingkah lakunya hari in. ?Saya nyontek bu.?

Dia diem, sambil menatap gue lekat-lekat kemudian tersenyum secara perlahan. ?Oh...? Dia mulai menepuk pundak gue. ?Nggak apa-apa yang penting kamu lulus, nyontekkan karena ketidakmampuan kamu sama soal, ibu maklum tenang aja.? Lanjutnya.

?Ta...? Belum sempat gue ngomong sudah dipotong duluan.

?Sudah-sudah, ayok kita foto.? Cekreek.

Hari ini menjadi foto terakhir gue sama Bu Hibah, entah nantinya kami akan bertemu lagi atau nggak, yang pasti ada saatnya gue harus balik lagi kesini. Melihat kembali apa yang udah gue tinggalin buat adik-adik kelas gue berguna atau nggak. Gue dan teman-teman yang lainnya juga akan berpisah jalan, kami mempunyai jalan masing-masing yang mungkin nantinya akan kami pamerkan ketika kami bertemu lagi. Memang begitu, datang untuk pergi. Dan pergi hanya untuk kembali. Waktu terasa begitu singkat, dan gue masih meraba kembali soal sekolah barangkali sederhana. Dia adalah tempat kita datang dan pergi, tempat dimana semua kenakalan dan kejahilan kita terabadikan, tempat dimana cinta pertama selalu ditemukan, tempat dimana sahabat menjadi teman paling setia sepanjang masa. Tentang semua itu, tempat dimana cara kita bertumbuh dan akhirnya berhasil menjadi apa yang kita pilih. Tempat dimana semuanya berawal.

?