Malam Api Unggun

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Maret 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

2.7 K Hak Cipta Terlindungi
Malam Api Unggun

Sebelum meninggalkan sekolah, gue inget masa-masa ketika pertama masuk sekolah, topi lancip berwarna pink, senior-senior yang galak tapi mukanya kayak banci, tas karung yang dengan sengaja dirajut Nyokap gue Cuma biar gue nggak di hukum, api unggun yang akan ada pada malam hari, senam pagi dan juga batang gula merah yang dengan sengaja gue gado karena hukuman seorang guru.

Waktu itu pertama kalinya gue nganggep sekolah sebagai rumah kedua gue sendiri. Pagi hari menyambut di tengah lapangan sekolah, perlahan seorang guru laki-laki berkulit sawo mateng dan juga badan yang cukup besar berjalan dengan sanat tegap ke arah gue dan calon siswa-siswi yang lainnya. Gue inget namanya Bapak Laksono.

?Siap grak!? Teriak nya dengan cukup keras. Dari situ gue tahu gue nggak bisa bercanda di depan dia. ?Semuanya, ini adalah ujian kalian masuk sekolah ini, kita akan bermalam di outdoor agar kalian bisa menyatukan cemistry satu sama lain, agar kalian bisa beradaptasi.? Lanjut Pak Laksono.

Pak Laksono membubarkan barisan, menyuruh kami menaiki truk berwarna hijau gelap layaknya TNI yang sedang persiapan perang, untuk kemudian pergi ke Bumi Perkemahan Cibubur. Di tengah perjalanan gue satu bis sama orang-orang yang menurut gue aneh, mereka udah kayak tikus-tikus yang nggak bisa diem, ada yang ngobrol dengan suara yang melebihi suara sound gitar.

?EH TADI GUE DI JEMPUT BOKAP GUE PAKAI MOBIL? Kata salah seorang cowok yang dandanannya kayak banci menurut gue.

?MASA SIH MASA? GUE TADI BARU AJA BELI MINYAK WANGI. BAUNYA KAYAK ORANG LUAR NEGERI TAHU.?

?MANA COBA.? Masih dengan suara yang sangat keras. ?AHH INI MAH PARFUM EMAK-EMAK!.? Ejek cowok yang kayak banci tadi.

?HEH BUKANNYA! JANGAN SEMBARANGAN LO!?

?EMANG BENER!?

Dan akhirnya mereka bertengkar di mobil (Nggak penting banget sih.)

---

karena gue belum punya sama sekali temen di tempat baru gue ini akhirnya gue memutuskan untuk nggak banyak bicara dan melihat ke arah langit-langit dan berharap hujan pagi ini. Biar satu mobil kebingungan kalau lagi banjir. Satu bencana yang menurut gue paling ekstrim yang Cuma banjir, karena nyatanya 40,91% orang Indonesia nggak ada yang bisa berenang, jadi gue perkirakan kalau misalnya ada bencana air bah lagi, hanya ada ribuan orang yang selamat aja. Sisanya mati tenggelam atau dirawat di rumah sakit karena butuh perawatan medis.

Balik lagi ke Masa Orientasi gue, ketika gue sampai disana tenda-tenda berawarna hijau sudah menunggu kami. Seperti menandakan akan ada penyiksaan segera datang pada kami semua. Kami turun satu persatu, berbaris rapih seperti kawanan semut yang siap mengambil makanan di dapur. Lalu Pak Laksono kembali berjalan dengan tegap dan berhenti tepat di depan kami semua.

?Di sini kalian akan bermalam selama dua hari satu malam, dan saat kalian disini ada beberapa ujian yang akan menguji ke kompakkan kalian.? Jelas Pak Laksono kepada kami semua.

Dan akhirnya gue beneran berasa sekolah TNI

Selang beberapa saat, kami dipersilahkan bubar untuk menyiapkan semuanya. Kami di bagi menjadi beberapa kelompok oleh guru-guru. Gue masuk kelompok merah, dari situ lah gue mengenal Aprilia. Dia ketua tim regu kelompok gue. Gue dan teman-teman mulai mendiskusikan dan menguji kekompakkan kami. Cuaca menjadi terik, panasnya menyambar seluruh badan gue. Kayak lagi ada di sauna sambil di temenin sama Om-om gitu kan terus di bayarin minum. (Oke gue ngarang)

Kelompok kami cukup gesit, kami melewati berbagai rintangan dengan cukup kompak dan sukses, dengan berbekal meeting yang sangat baik dan juga perencanaan yang sangat matang, kami menjelma menjadi kelompok favorite ketiga setelah orange dan hijau. Gue dan teman-teman mulai sampai pada ujian terakhir, mengisi air kedalam botol yang berlubang kecil-kecil. Disaat gue melihat tantangan yang diberikan di tantangan terakhir, gue sadar kekompakkan lebih diperlukan daripada cari perhatian sama April. Akhirnya gue memutuskan untuk menutup lubang bagian bawah, Bayu dan beberapa teman yang lainnya menutup lubang yang atas. Dengan pertimbangan yang sangat matang kami memilih Aprilia dan juga Ina yang kami suruh untuk mengambil air di titik yang berbeda dan memasukkannya ke dalam botol.

Semuanya pun dimulai, kami mulai berusaha sekompak mungkin agar tak terjadi kesalahan sama sekali, perasaan tak ingin kalah dengan teman-teman yang lain kami jadikan dorongan tersendiri agar airnya terisi penuh. Tak semudah yang gue bayangkan, ternyata dalam sebuah lubang yang sekecil apapun akan keluar setets air atau bahkan dia akan membuat aliran sendiri untuk bisa keluar dari sana. Bayu, Farry dan beberapa teman lainnya kewalahan ketika berusaha menutupi lubang nya dan gue berusaha memberikan semangat pada mereka.

?Aduh gimana nih, botolnya nggak penuh-penuh?? Tanya Bayu pada yang lain.

?Udah lah udahin aja, nggak bakal bisa kayaknya ini mah.? Sahut Farry dengan samangat lemas pada yang lainnya.

Gue berdiri sambil menatap mereka berdua dan mereka menatap gue balik kayak di film-film seperhero. ?Lu berdua nggak boleh kalah sama yang lain, liat dong kelompok lain mereka berusaha sekut tenaga dengan sangat kompak, mereka berusaha biar bisa lolos di tantangan terakhir. Kita juga harus bisa, Semangat!? Teriak gue sambil menaikkan tangan kanan gue ke atas udara tanda kita harus barjuang semangat 45.

Bayu menatap gue dengan bersungguh-sungguh, tatapannya nanar, ini persis seperti film Captain America ketika tidak menyerah di medan perang. ?LUBANG NYA BEGO! NGAPAIN LU LEPAS!? Teriak dia sama gue, saking semangatnya gue berpidato gue lupa kalau gue ikut nutup lubangnya juga.

?Oh iya sorry sorry, gue kelepasan.? Kata gue polos.

Bayu masih ngeliatin gue, gue tahu apa yang dia pikirin ?Bego! Lubangnya ngapai lu lepas! Bego dasar bego! Kecoa terbang!? itu yang ada dalam bayangan gue.

---

Setelah waktu yang diberikan panitia pada kami habis dan selesailah semuanya, botol yang kami isi air hanya terisi setengahnya saja. Padahal sebentar lagi akan menjadi penuh. Kami pun mendapatkan nilai yang tidak cukup memuaskan. Kami dipersilahkan untuk kembali ke tenda masing-masing.

?Lu ngapain sih tadi lubangnya pakai di lepas?? Tiba-tiba Bayu mulai berbicara sama gue. ?Nih ya kalau bukan karena lu, tadi kita udah bisa menuhin isi tuh botol. Reseh lu.? Umpat Bayu sama gue.

?So.. Sorry gue nggak tahu, gue kelepasan tadinya gue Cuma mau bikin kita semangat.? Kata gue lemas.

?Kalau mau proklamasi lihat keadaan dong. Lagian tadi kan kita nggak lagi di jajah.?

Bayu lalu beranjak pergi, gue nggak tahu dia dan nggak akrab sama dia. Gue Cuma bisa baca nama yang dia tulis di kardus berbentuk name tag yang dia pakai Bayu. Dan gue inget terus sama dia, bahkan gue nggak tahu kami nantinya mungkin akan sangat dekat daripada ini. Gue masih memperhatikan suasana beberapa teman-teman yang lainnya, nggak ada yang gue kenal gue Cuma penasaran aja bagaimana cara mereka beradaptasi satu sama lain. Sampai pada akhirnya gue lihat April lagi ngobrol sama Ina di tempat tukang bakso mangkal. Gue memutuskan untuk berani dan menghampiri dia yang sedang makan bakso.

Sampai ditukang bakso gue memesan satu mangkung bakso dengan mie kuning tanpa mie putih, sambil terus memperhatkan Aprilia. Gue mau lebih deket sama dia, gue selalu percaya kita bisa mengumpulkan keberanian kita untuk sesuatu yang ekstrim hanya dalam waktu 30 detik, setelah itu kita punya cukup keberanian melakukan hal itu. Gue mulai menghitung dari angka satu, lanjut terus menuju angka berikutnya dan lagi dan terus lagi. Sampai pada akhirnya sampai di hitungan ketiga puluh gue mencoba mengajak dia berbicara.

Gue mendekat sama dia sambil bilang. ?Boleh kenalan?? Tanya gue sama dia, Ina yang berada di samping April tersenyum sama gue.

?Boleh.? Jawab April singkat.

?Arifin.? Kata gue sambil menyodorkan tangan kanan gue tanda sebagai sebuah awal perkenalan pada seseorang.

?Aprilia.? Katanya lembut, halus dan enak buat didenger. Kayak ada bidadari jatuh di hadapan gue kayak lagunya CJR.

?Baksonya enak ya.? Kata gue.

Dia mulai menyuap bakso terakhirnya dan bilang secara perlahan. ?Iya enak, gue tadi udah nambah dua kali.? Sahutnya sama gue.

Gue tersenyum sama dia dan dia tersenyum balik sama gue. Seketika gue ngerasa kalau gue lagi ada di ftv-ftv yang kalau pasangan ketemu dan liat-liatan mereka jatuh cinta, pacaran, nikah dan bahagia selamanya. (Oke gue mulai ngayal.)

?Gue duluan ya, Fin. Ayo Na.? Sahut dia sama gue sambil mengajak Ina untuk pergi.

Gue mengangguk, disitulah pertama kalinya gue merasakan cinta yang benar-benar cinta. Menjadi remaja yang paling beruntung dengan perkenala pertama pada perempuan paling cantik yang pernah gue lihat.

GUE NGARANG! Padahal gue nggak pernah berani ngajak April kenalan, dari bangku yang lainnya sambil makan bakso gue terus memperhatikan dia. Ternyata teori gue soal mengumpulkan keberanian selama 30 detik tidak berlaku disaat orang lagi mau ngajak kenalan sama cewek. Dan April berlalu dan rasa penasaran gue tetap tidak terjawab, gue sempet berpikir kenalan sama dia adalah khayalan yang nggak akan pernah bisa gue capai.

---

Waktu berlalu, langit mulai menunjukan gelapnya datang dan cahayanya berhenti menyinari untuk sementara. Dari ujung tenda gue melihat guru-guru dan beberapa murid-murid yang lainnya menyiapkan diri untuk api unggun. Mengumpulkan kayu bakar yang besar-besar kemudia di lumuri dengan minyak tanah, lalu perlahan korek api dilemparkan ke api unggun. Dan malam keakraban antara murid-murid baru dan juga guru pun di mulai.

Setiap kelompok di wajibkan memberikan satu perwakilan untuk tampil di depan menunjukan kebolehannya dan juga kehormatan kelompok. Tak ada yang spesial kecuali cowok yang tanpangnya biasa-biasa aja, dengan setelan nggak banget benama Joel (gue bohong dia ganteng banget AHHHH). Oke balik lagi ke masalah tadi, akhirnya gue dan tim merah mengadakan meeting untuk diskusi siapa perwakilan yang akan maju untuk menjaga kehormatan tim. Dari kami nggak ada satupun yang berani maju, anak cowoknya berkeliaran kemana-mana. Dan kenapa gue bertahan disini, Cuma satu sih intinya gue cemen. Udah itu aja.

Akhirnya gue dan yang lainnya putuskan untuk maju bersama-sama menyanyikan lagu Laskar Pelangi. April sebagai ketua regu memberikan aba-aba kalau kami semua harus sudah mulai bernyanyi. Dan disitulah kami semua bernyanyi, entah kenapa gue merasa kompak dan mendapatkan chemistry sama yang lain disini. Mungkin ini yang namanya adaptasi, semacam cara agar kita nyaman sama suatu keadaan ataupun orang lain.

Masing-masign kelompok menunjukan kebolehannya di depan api unggun, gue nggak pernah berpikir akan kayak gimana. Tapi gue rasa ini perkenalan yang cukup mengesankan,? yang mungkin ketika gue lulus akan dirindukan secara terus-menerus. Bagaimana enggak? Semuanya melebur jadi satu disini, menjadi teman, sahabat, saudara bahkan keluarga. Maka benar, masa orientasi adalah semacam cara beradaptasi yang paling efektif bagi setiap siswa taupun siswi. Ada hal yang gue pahamin dari semua ini, gue tahu ini semua akan berakhir dimana. Gue tahu semuanya akan berakhir, ada saatnya ketika kita memulai sesuatu akan ada akhirnya yang menyertainya, sama seperti kalian pacaran ada dua akhir yang menyertai kalian. Pertama adalah putus karena udah ngerasa nggak cocok, kedua adalah pernikahan karena ngerasa sangat cocok.

Dalam kasus ini gue tahu akhirnya selalu berada pada satu hal; Kelulusan. Dan mungkin ketika gue balik lagi kesini, sekolah ini akan jadi tempat yang beda lagi. Tempat yang bukan pertama kali gue masukin, tapi tempat dimana saatnya gue Cuma bisa mengenang semuanya. Cuma jadi orang yang nggak berdaya sama waktu, kalau pada saatnya nanti yang berkumpul disini pada malam api unggun tetap mempunyai jalannya masing-masing untuk sukses. Dan kembali tinggal menunggu satu hal yang pasti; Pertemuan kembali

---

?Woii!? Teriak Bayu dari belakang gue. ?Kenapa diem aja??

?Ng.. Nggak apa-apa Bay.? Sahut gue dengan wajah agak gugup.

?Yaudah main futsal lagi yuk.? Seru Bayu.

Gue mengangguk.

Seperti sekarang misalnya, ketika kembali mengingat malam api unggun, gue juga lagi berhadapan sama calon kenangan masa depan. Main futsal satu sekolahan ramai-ramai, dan gue nggak tahu akan sampai kapan kesenangan ini terus berlanjut. Yang pasti gue Cuma butuhin satu nanti ketika udah lulus; pertemuan kembali.

?