Masa Remaja Dan Cinta Yang Masih Sama

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2016
Masa Remaja Dan Cinta Yang Masih Sama

Aku masih mengitari taman kompleks rumahku, sudah sebulan penuh aku tinggal disini. Sepi, benar-benar sepi tidak seperti dulu ketika aku kecil. Dulu ada suara yang berteriak dari arah ruang tamu dengan sangat keras, membangunkanku dengan cara yang tak biasa. Berjalan membawa air setengah gayung untuk kemudian menyiramkan air itu sedikit demi sdikit agar aku tak terlalu kaget.

Dengan senang hati menyiapkan sarapan, kemudian menyiapkan bekalku utuk pergi kesekolah. Hari itu pagi masih menyising sangat damai, dan perasaan kaku masih membujukku dalam rumah. Ketika suara Ibu mulai berteriak dari dapur soal bekalku yang gosong, dan seketika Ayah mulai berusaha membantu ibu saat itu. Aku masih mengingat semuanya.

Dulu, bagiku masa remaja adalah cara agar aku bisa menjadi orang yang paling populer di kalangan perempuan, agar aku bisa mendapatkan perhatian mereka. Aku ingin ada sesuatu yang bisa membuatku di hargai lebih. Aku mulai membuat hal-hal konyol agar orang lain memperhatikanku, namun semuanya tak berujung baik. Selalu saja ada panggilan kepala sekolah untuk orang tuaku.

?Rangga, jadi populer itu nggak harus bertingkah konyol.? Kata Ibu.

?Ibu nggak ngerti perasaan Rangga, Rangga tuh pengen jadi populer bu!.?

Ya, saat itu pertama kalinya aku berkata dengan nada keras padanya, dengan cara yang paling tidak bisa diterima olehnya kurasa. Aku mulai membuat duniaku sendiri, melupakan bekal makanan pagi, melupakan sarapan pagi dan juga tangan yang selalu aku cium setiap pergi ke sekolah. Aku kesal, tak pernah ada saran dari Ibu yang tak pernah bisa menyelesaikan setiap masalahku. Di sekolah aku mulai berbuat agak nakal, makan permen karet di sekolah saat jam-jam pelajaran, sejak SD aku berusaha untuk se-populer mungkin. Menjadi layaknya bintang film dalam kelas.

---

Aku mulai mencoba dunia luar, sesekali aku aku ikut tawuran, aku ingin di bilang berani oleh teman-temanku. Aku ingin orang lain tahu dan mengakui keberadaanku, sehingga aku selalu sampai rumah selepas isya. Sesampainya dirumah pun aku tak berkumpul lagi bersama Ibu, aku langsung naik ke kamar. Aku tak ingin Ibu mencium bau minuman keras dari mulutku.

Aku mulai berbuat onar, menapaki jalan yang membuatku menjadi remaja yang bebas, aku rasa ini adalah jalanku sebagai seorang remaja yang mencari jati dirinya di tengah hal-hal yang membosankan.

?Ibu nggak suka kalau kamu ikut-ikut mereka yang berbuat onar kayak gitu Rangga!? Ibu mulai keras menegorku.

?Ibu apa sih yang ada di pikiran ibu, kayak nggak pernah muda aja.? Aku mulai berusaha menyela setiap ucapannya.

Aku melihatnya waktu itu, kalimat pertama yang ku ucap dengan kata yang sedikit kasar, disitu dengan dengan pelupuk matanya ada air mata yang tertahan untuk ditumpahkan. Air mata yang dengan sengaja kubuat karena menggores sedikit luka batinnya.

?Kamu kenapa bicaranya kayak gitu??

?Habis ibu kuno tahu nggak?! Aku mau main bu, aku nggak bisa pulang sebelum jam 9 malem. Aku juga butuh kebebasan buat main sama temen-temen aku bu!? nadaku mulai meninggi dan entah itu keberapa kali nya aku menyayat hatinya dengan perkataanku.

Seketika ibu terdiam, dia tak berkata apa-apa padaku. Aku tahu apa yang aku lakukan salah, namun sebagai remaja yang berusaha bebas aku tak mau meninggalkan masa-masa remajaku begitu saja. Aku mulai keluar mencari teman untuk ku ajak pergi, dan pintu aku banting dengan sangat keras, seperti malin kundang yang tak tahu diri. Dia menangis, menyibak air matanya dengan tangan kanannya, berusaha agar aku tak pernah mengetahui kalau dia bersedih karena tingkahku.

Sampai pada saatnya aku jatuh cinta pada seorang wanita. Parasnya indah, aku mulai menyukainya, aku membelikan apapun yang dia suka. Dengans sengaja aku berbohong pada Ibu untuk menambah uang jajanku untuk membelikan perempuan yang kusuka apa saja untuk membuatnya bahagia, tanpa sadar aku tak memikirkan kebahagiaan Ibu..

?Bu, aku boleh minta uang??

?Uang lagi?! Buat apa Rangga, kamu udah habis berapa seminggu ini??

Aku terdiam, namun kesal karena nada menjawab ibu yang kurang tenang. ?Ibu apaan sih bu?! Nggak usah marah-marah, aku kan Cuma minta uang aja, kalau nggak dikasih nggak usah gitu.? Aku berlalu sambil menyela motorku.

Aku mulai berpikir kembali, benarkah aku melakukan semua ini, benarkah apa yang kulakukan benar-benar bisa dia terima? Aku takut menjadi malin kundang yang dengan sengaja menggagalkan setiap doa dari ibunya, aku takut menjadi anak yang kehilangan kasih sayang ibunya. Aku takut, jelas aku takut. Aku tak pernah di ajarkan untuk memberontak tapi aku yang meminta semuanya untuk menjadi apa yang ku mau.

Aku tahu ini salah, menjadi anak yang dengan sengaja menjelma malin kundang yang dengan sedemikian rupa tidak mengakui keberadaan Ibunya. Aku tahu apa yang kulakukan sudah terlewat batas, tapi aku butuh sesuatu yang lain yang bisa membuatku menjadi laki-laki yang bisa di kagumi banyak orang.

---

?Aku benci kamu! Aku benci dia! Aku benci!?

?Hey.. Hey.. Rangga, kamu kenapa nak?? Ibu mulai menghampiriku dengan mukena yang masih ia kenakan.

Aku terus menangis dan marah tanpa sebab, aku mulai membenci sesuatu yang menyamankanku, aku mulai murka pada apa saja yang menghianatiku. Aku benar-benar hancur sampai tak punya akal untuk menenangkan diriku sendiri. Aku mulai memukul apa saja yang bisa kupukul, menghancurkan apa saja yang bisa kuhancurkan, memaki apa saja yang bisa kumaki.

?Rangga tenangin diri kamu nak? kata-kata ibu tak berpengaruh banyak pada kondisiku saat itu. Ibu menghampiriku, dengan wajah ketakutan dia memberanikan diri untuk mendekatiku. Berusaha menengkanku. ?Rangga jangan seperti ini, dengar ibu.?

?Ibu tahu apa! Aku yang ngalamin semuanya, aku yang paling tahu kondisi aku. Aku benci sama Rian! Dia udah merebut Rani dari aku bu. Dia udah merebut Rani!? teriakku pada ibu.

Ibu memegang tangaku dengan tiba-tiba, dia berusaha untuk menenangkanku. ?Rangga, Rangga, Nak. Kadang apa yang kamu yakin bisa menjadi milik kamu selamanya, belum tentu akan jadi milik kamu. Ketentuan nggak ada sama kamu, kamu Cuma serpihan dari kemungkinan-kemungkinan yang Tuhan sediakan. Tenang Rangga, tenang.?

Aku masih menangis, menahan semua jeritanku dalam diriku sendiri.

Kembali Ibu mendekapku dengan kasih hangatnya, dengan penuh cinta yang tetap sama. ?Kamu nggak akan bisa merasakan semuanya sendiri, ada saatnya kamu harus berbagi perasaan sakit itu sama orang terdekat kamu. Ibu juga mau merasakan sakitnya, kamu mau kan berbagi sama ibu??

Aku menatap lekat mata ibu, dia tersenyum dengan wajah yang masih terbasuh asir wudhu. Dia mengelus pundakku dan berkali-kali berkata. ?Kamu harus sabar, kamu harus kuat.. Cobaan itu nggak selamanya sakit, dan hadiah itu nggak selamanya terbungkus dengan rapih. Akan ada saatnya kamu di uji dengan ujian paling menyakitkan hanya agar kamu tahu, kamu itu kuat.? Kalimat ibu mulai menenangkanku dengan halus.

Malam itu kembali hujan deras di komplek perumahan rumah kami, dan aku masih berada dalam pelukan ibu. Mengakrabi sosok yang waktu itu pernah ku maki dengan perkataan yang tidak sewajarnya, ahh aku sadar dengan masa remaja yang hampir kurang ajar, dan dengan setiap kesalahan yang paling fatal sekalipun. Dia, masih bisa memaafkanku, Ibu bisa saja mengutukku menjadi batu hari itu. Tapi dia tidak melakukannya.

Aku sadar, sebagai anak apapun yang kita lakukan, apapun yang kita perbuat. Salah ataupun benar, setiap Ibu akan terus berkata Ibu selalu ada buat kamu, dukung kamu Entah apa yang kurasakan waktu itu, tapi aku mengerti. Cinta nya akan tetap sama sampai kapanpun, sampai dia tak punya waktu lagi membuatkanku sarapan pagi.

Iya, kan bu?

?

Aku masih mengitari taman kompleks rumahku, sudah sebulan penuh aku tinggal disini. Sepi, benar-benar sepi tidak seperti dulu ketika aku kecil. Dulu ada suara yang berteriak dari arah ruang tamu dengan sangat keras, membangunkanku dengan cara yang tak biasa. Berjalan membawa air setengah gayung untuk kemudian menyiramkan air itu sedikit demi sdikit agar aku tak terlalu kaget.

Dengan senang hati menyiapkan sarapan, kemudian menyiapkan bekalku utuk pergi kesekolah. Hari itu pagi masih menyising sangat damai, dan perasaan kaku masih membujukku dalam rumah. Ketika suara Ibu mulai berteriak dari dapur soal bekalku yang gosong, dan seketika Ayah mulai berusaha membantu ibu saat itu. Aku masih mengingat semuanya.

Dulu, bagiku masa remaja adalah cara agar aku bisa menjadi orang yang paling populer di kalangan perempuan, agar aku bisa mendapatkan perhatian mereka. Aku ingin ada sesuatu yang bisa membuatku di hargai lebih. Aku mulai membuat hal-hal konyol agar orang lain memperhatikanku, namun semuanya tak berujung baik. Selalu saja ada panggilan kepala sekolah untuk orang tuaku.

?Rangga, jadi populer itu nggak harus bertingkah konyol.? Kata Ibu.

?Ibu nggak ngerti perasaan Rangga, Rangga tuh pengen jadi populer bu!.?

Ya, saat itu pertama kalinya aku berkata dengan nada keras padanya, dengan cara yang paling tidak bisa diterima olehnya kurasa. Aku mulai membuat duniaku sendiri, melupakan bekal makanan pagi, melupakan sarapan pagi dan juga tangan yang selalu aku cium setiap pergi ke sekolah. Aku kesal, tak pernah ada saran dari Ibu yang tak pernah bisa menyelesaikan setiap masalahku. Di sekolah aku mulai berbuat agak nakal, makan permen karet di sekolah saat jam-jam pelajaran, sejak SD aku berusaha untuk se-populer mungkin. Menjadi layaknya bintang film dalam kelas.

---

Aku mulai mencoba dunia luar, sesekali aku aku ikut tawuran, aku ingin di bilang berani oleh teman-temanku. Aku ingin orang lain tahu dan mengakui keberadaanku, sehingga aku selalu sampai rumah selepas isya. Sesampainya dirumah pun aku tak berkumpul lagi bersama Ibu, aku langsung naik ke kamar. Aku tak ingin Ibu mencium bau minuman keras dari mulutku.

Aku mulai berbuat onar, menapaki jalan yang membuatku menjadi remaja yang bebas, aku rasa ini adalah jalanku sebagai seorang remaja yang mencari jati dirinya di tengah hal-hal yang membosankan.

?Ibu nggak suka kalau kamu ikut-ikut mereka yang berbuat onar kayak gitu Rangga!? Ibu mulai keras menegorku.

?Ibu apa sih yang ada di pikiran ibu, kayak nggak pernah muda aja.? Aku mulai berusaha menyela setiap ucapannya.

Aku melihatnya waktu itu, kalimat pertama yang ku ucap dengan kata yang sedikit kasar, disitu dengan dengan pelupuk matanya ada air mata yang tertahan untuk ditumpahkan. Air mata yang dengan sengaja kubuat karena menggores sedikit luka batinnya.

?Kamu kenapa bicaranya kayak gitu??

?Habis ibu kuno tahu nggak?! Aku mau main bu, aku nggak bisa pulang sebelum jam 9 malem. Aku juga butuh kebebasan buat main sama temen-temen aku bu!? nadaku mulai meninggi dan entah itu keberapa kali nya aku menyayat hatinya dengan perkataanku.

Seketika ibu terdiam, dia tak berkata apa-apa padaku. Aku tahu apa yang aku lakukan salah, namun sebagai remaja yang berusaha bebas aku tak mau meninggalkan masa-masa remajaku begitu saja. Aku mulai keluar mencari teman untuk ku ajak pergi, dan pintu aku banting dengan sangat keras, seperti malin kundang yang tak tahu diri. Dia menangis, menyibak air matanya dengan tangan kanannya, berusaha agar aku tak pernah mengetahui kalau dia bersedih karena tingkahku.

Sampai pada saatnya aku jatuh cinta pada seorang wanita. Parasnya indah, aku mulai menyukainya, aku membelikan apapun yang dia suka. Dengans sengaja aku berbohong pada Ibu untuk menambah uang jajanku untuk membelikan perempuan yang kusuka apa saja untuk membuatnya bahagia, tanpa sadar aku tak memikirkan kebahagiaan Ibu..

?Bu, aku boleh minta uang??

?Uang lagi?! Buat apa Rangga, kamu udah habis berapa seminggu ini??

Aku terdiam, namun kesal karena nada menjawab ibu yang kurang tenang. ?Ibu apaan sih bu?! Nggak usah marah-marah, aku kan Cuma minta uang aja, kalau nggak dikasih nggak usah gitu.? Aku berlalu sambil menyela motorku.

Aku mulai berpikir kembali, benarkah aku melakukan semua ini, benarkah apa yang kulakukan benar-benar bisa dia terima? Aku takut menjadi malin kundang yang dengan sengaja menggagalkan setiap doa dari ibunya, aku takut menjadi anak yang kehilangan kasih sayang ibunya. Aku takut, jelas aku takut. Aku tak pernah di ajarkan untuk memberontak tapi aku yang meminta semuanya untuk menjadi apa yang ku mau.

Aku tahu ini salah, menjadi anak yang dengan sengaja menjelma malin kundang yang dengan sedemikian rupa tidak mengakui keberadaan Ibunya. Aku tahu apa yang kulakukan sudah terlewat batas, tapi aku butuh sesuatu yang lain yang bisa membuatku menjadi laki-laki yang bisa di kagumi banyak orang.

---

?Aku benci kamu! Aku benci dia! Aku benci!?

?Hey.. Hey.. Rangga, kamu kenapa nak?? Ibu mulai menghampiriku dengan mukena yang masih ia kenakan.

Aku terus menangis dan marah tanpa sebab, aku mulai membenci sesuatu yang menyamankanku, aku mulai murka pada apa saja yang menghianatiku. Aku benar-benar hancur sampai tak punya akal untuk menenangkan diriku sendiri. Aku mulai memukul apa saja yang bisa kupukul, menghancurkan apa saja yang bisa kuhancurkan, memaki apa saja yang bisa kumaki.

?Rangga tenangin diri kamu nak? kata-kata ibu tak berpengaruh banyak pada kondisiku saat itu. Ibu menghampiriku, dengan wajah ketakutan dia memberanikan diri untuk mendekatiku. Berusaha menengkanku. ?Rangga jangan seperti ini, dengar ibu.?

?Ibu tahu apa! Aku yang ngalamin semuanya, aku yang paling tahu kondisi aku. Aku benci sama Rian! Dia udah merebut Rani dari aku bu. Dia udah merebut Rani!? teriakku pada ibu.

Ibu memegang tangaku dengan tiba-tiba, dia berusaha untuk menenangkanku. ?Rangga, Rangga, Nak. Kadang apa yang kamu yakin bisa menjadi milik kamu selamanya, belum tentu akan jadi milik kamu. Ketentuan nggak ada sama kamu, kamu Cuma serpihan dari kemungkinan-kemungkinan yang Tuhan sediakan. Tenang Rangga, tenang.?

Aku masih menangis, menahan semua jeritanku dalam diriku sendiri.

Kembali Ibu mendekapku dengan kasih hangatnya, dengan penuh cinta yang tetap sama. ?Kamu nggak akan bisa merasakan semuanya sendiri, ada saatnya kamu harus berbagi perasaan sakit itu sama orang terdekat kamu. Ibu juga mau merasakan sakitnya, kamu mau kan berbagi sama ibu??

Aku menatap lekat mata ibu, dia tersenyum dengan wajah yang masih terbasuh asir wudhu. Dia mengelus pundakku dan berkali-kali berkata. ?Kamu harus sabar, kamu harus kuat.. Cobaan itu nggak selamanya sakit, dan hadiah itu nggak selamanya terbungkus dengan rapih. Akan ada saatnya kamu di uji dengan ujian paling menyakitkan hanya agar kamu tahu, kamu itu kuat.? Kalimat ibu mulai menenangkanku dengan halus.

Malam itu kembali hujan deras di komplek perumahan rumah kami, dan aku masih berada dalam pelukan ibu. Mengakrabi sosok yang waktu itu pernah ku maki dengan perkataan yang tidak sewajarnya, ahh aku sadar dengan masa remaja yang hampir kurang ajar, dan dengan setiap kesalahan yang paling fatal sekalipun. Dia, masih bisa memaafkanku, Ibu bisa saja mengutukku menjadi batu hari itu. Tapi dia tidak melakukannya.

Aku sadar, sebagai anak apapun yang kita lakukan, apapun yang kita perbuat. Salah ataupun benar, setiap Ibu akan terus berkata Ibu selalu ada buat kamu, dukung kamu Entah apa yang kurasakan waktu itu, tapi aku mengerti. Cinta nya akan tetap sama sampai kapanpun, sampai dia tak punya waktu lagi membuatkanku sarapan pagi.

Iya, kan bu?

?

  • view 188