Sahabat Baru

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

2.9 K Hak Cipta Terlindungi
Sahabat Baru

?Fin! Arifin!? Teriak Bayu yang seketika itu datang menghampiriku.

?Lu kenapa Bay?? Tanya gue sama Bayu, dan gue masih menyelesaikan tulisan gue untuk nantinya disebarkan lewat media sosial. Ya, memang semenjak beberapa bulan terakhir tulisan gue masih mengambang di penerbit, belum ada penerbit yang mau buat nerbitin. Gue sempet mikir untuk berhenti jadi penulis tapi pada akhirnya gue nggak bisa lepas dari yang namanya menulis.

Buat gue menulis adalah semacam curhat yang terbalut sama aksara yang kiat buat dalam lembaran kertas, gue nggak punya curhatan lain. Bayu nggak mungkin senantiasa dengerin curhatan gue, Sandy? Ah dia selalu sibuk dengan pacarnya Yolanda. Jadi mau ngga mau gue nyari sesuatu yang menurut gue bisa menjadi pelampiasan dari kekesalan gue sama waktu, cewek, nilai-nilai pelajaran yang nggak dapet nilai bagus, hutang ibu kantin yang belum gue bayar, guru yang cantik dan super galak. Itu semua, gue tulis dan gue sebarin ke orang-orang lewat media sosial.

?Gue punya kabar baik buat lu.? Dengan nafas yang masih terengah-engah Bayu mencoba memberitahu gue pelan-pelan, gue tahu dia hampir mau mati karena berlari tadi. Dia punya paru-paru yang lemah gue rasa.

?Kabar apaan?? Gue masih berusaha membaca ulang tulisan gue yang baru selesai gue tulis untuk di blog gue.

?Ada Editor dari penerbit yang mau ketemu sama lu.?

Gue kaget, karena selama ini nggak pernah ada penerbit yang tertarik sama tulisan gue. Ya kalaupun mereka menerima itu karena kasian sama tampang gue yang terlalu memelas banget atau karena selera mereka memang buruk. Dan gue simpulin kalau opsi pertama yang mereka pilih.

?Nggak mungkin Bay... Lu serius.? Jawab gue masih dengan kekagetan yang luar biasa.

?Gue mana mungkin bohong sama lu Fin, masa tega gue bohong masalah kayak gini.? Bayu mulai ngeyakinin gue kalau kabar yang dia sampaikan itu memang benar. ?Nanti malem jam 8 dia mau ketemu sama lu, gue anterin supaya lu nggak nyasar nanti.?

?Malam ini? Cepet banget.?

?Mau nggak? Keburu keduluan orang kalau lu kelamaan mikir.?

Gue mengangguk. Dan akhirnya gue akan ketemu sama editor penerbit.

---

Gue masih duduk dengan lutut yang gemetar, di restoran yang gue lupa namanya apa tapi ini suasananya mendukung untuk terlihat lebih grogi dari biasanya. Kumpulan kertas yang orang-orang bilang naskah baru aja gue print tadi siang setelah Bayu kasih kabar kalau ada penerbit yang tertarik sama tulisan gue. Perasaan gue nggak enak sih, tapi kalau gue nggak ngambil kesempatan ini gua nggak akan punya kesempatan lain.

?Lu kenapa Fin?? Bayu melirik ke arah gue dengan tatapan yang aneh.

?Ng.. Nggak apa-apa Bay.? Kata gue ragu dengan pernyataan gue kayak gitu.

Seketika seorang laki-laki berbadan agak besar masuk dengan sepatu yang cukup terlihat seperti anak moge banget. Dia datang dengan wajah yang agak seram, dengan kepalan tangan yang cukup kuat gue rasa. Dia berjalan perlahan ke arah gue sama Bayu, langkah nya agak cepat dengan jas berwarna abu-abu yang dia kenakan. Entah betapa aneh setelan seorang penerbit buku, tapi dari yang gue lihat belakangan terakhir ketika gue kirim naskah ke penerbit-penerbit nggak ada yang setelannya kayak orang ini, agak norak.

?Maaf saya terlambat.? Dengan suara ramah dia mulai membuka percakapan dengan gue dan Bayu.

?Nggak apa-apa Pak, kita juga baru dateng.? Jawab Bayu yang mulai agak sok asik.

Dia tersenyum, manis sih gue akuin tapi nggak semanis senyumnya Aprilia. ?Jadi mana yang namanya Arifin?? Tanya dia ke gue sama Bayu.

?Sa.. Saya Pak.? Gue nunjuk tangan.

Seketika Bayu langsung menurunkan tangan gue dengan cepat. ?Fin, bego banget sih lu, kenapa pakai tunjuk tangan? Jawab aja biasa, norak banget lu. Malu-maluin gue aja lu, emang ini lagi di absen sama guru.? Bisik Bayu.

?Maaf Bay.? Gue balik bisikin si Bayu.

?Oke jadi gini, Arifin saya waktu itu sempat mampir ke blog kamu. Tulisan-tulisan kamu bagus, kosakata kamu banyak dan pemaknaan kamu dalam menulis juga bagus, pesan yang kamu sampaikan ke pembaca juga bagus buat saya.? Dia mulai basa-basi, entah beneran atau nggak kalau beneran gue seneng banget tulisan gue di bilang bagus.

?Ma.. Makasih Pak.? Gue ragu jawab tapi agar terlihat menghargai pujian seseorang.

?Jadi saya berpikir untuk merekomendasikannya untuk layak diterbitkan. Kamu sudah bawa naskah yang akan saya lihat?? sambil mengadahkan tangannya.

Gue menyodorkan sekumpulan kertas yang gue buat setengah mati agar bisa dia terbitkan, gue sih berharap banget waktu itu sama dia tapi berharap aja nggak cukup sih, butuh waktu dan beberapa ketentuan yang harus gue punya dari naskah gue yang paling pertama sih menarik. Gue sih percaya diri sama tulisan gue, tapi gue nggak tahu editor ini percaya diri atau nggak ketika berniat nerbitin naskah gue.

Dia membolak-balikan naskah gue berulang kali dan terus, terus sampai akhirnya sampai pada halaman terakhir. Gue sih nggak yakin kalau dia baca keseluruhan, tapi gue nggak boleh terlalu negative thingking sama mas-mas editor ini, kalau berhasil dia yang nantinya akan jadi jalan gue buat nerbitin buku pertama gue. Sehabis melihat keseluruhan isinya dia mulai menaruh naskah gue di meja makan, dia membenarkan posisi duduknya dengan seksama, perlaha dia mulai serius sama gue. Dia mengambil pulpen dari dalam tasnya, kembali mengambil naskah gue dan mulai menyoret-nyoret naskah yang gue buat.

Gue rasa dia lagi buat revisi buat naskah gue, yang gue tahu naskah lu akan diterima dengan dua hal; pertama naskah lu akan benar-benar diterima dan langsung nak cetak, kedua naskah tetep diterima tapi akan ada beberapa bab yang harus di revisi berulang kali.

?Ini.? Dia mnyodorkan naskah gue dengan tangan kanannya. ?Isinya bagus, Cuma ada beberapa hal yang saya revisi barusan. Naskah kamu kami terima tapi harus direvisi sedikit, karena ada beberapa bab yang masih bisa kamu kembangkan lagi. Coba otak-atik perasaan pembaca dengan cara yang beda, dari situ kamu bisa tahu maunya pembaca apa.? Dia memasukan ballpoint kedalam tasnya lagi, dengan merapikan jasnya dia mulai berdiri dan berpamitan.

?Jangan takut jadi beda, setiap penulis punya ciri khasnya sendiri ketika menulis. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya. Sama kayak jodoh gitu sih.? Dia tertawa. Dan mulai berpamitan sama gue dan Bayu. Dan berlalu dengan langkah kaki yang cepat.

---

?Tuh kan Fin, gue bilang juga apa. Cie bentar lagi resmi jadi penulis.? Canda Bayu.

?Apa sih Bay? Jangan mulai deh lu.?

?Ini kabar baik Fin, ayolah semangat sedikit.?

?Nggak tahu Bay, gue nggak yakin sama revisi ini.? Gue mulai gelisah sendiri ketika melihat naskah yang gue bolak balik banyak coretan ballpoint, hampir semua bab sih yang di coret.

?Nggak yakin gimana?? Tanya Bayu.

?Lu lihat aja Bay yang di revisi hampir semuanya, ini sama aja gue harus ngerombak ulang. Lu tahukan betapa susahnya gue bikin naskah ini?? Sambil menunjuk naskah yang sedari tadi gue pegang. ?Kehabisan semangat gue.?

Bayu terdiam, menatapku dengan mata yang setengah terbuka, perlahan mengambil naskah yang ku pegang dan mulai membacanya. ?Lu mau sampai kapan punya feeling negative sama diri lu sendiri?? Pertanyaan Bayu tiba-tiba membuat hening suasana, seakan ada hataman gada yang menyerangku dari depan. Bayu bertanya hal yang tak pernah kuduga sebelumnya.

?Maksudnya??

?Mau sampai kapan lu jadi pecundang terus??

?Gu.. Gue nggak ngerti maksud lu?? Kata gue, karena dia jarang nyebut gue kayak gitu sih. Wajahnya dia mulai agak seirus kali ini, gue nggak pernah lihat wajah Bayu sampai seserius ini.

?Gue akan bantu lu, kita revisi sama-sama.? Sahut Bayu.

?Bu.. Buat apa? Gue nggak yakin Bay bakalan bisa.?

?Udah ayo kita mulai.?

Gue nggak tahu kenapa Bayu bisa seyakin ini sama sesuatu yang gue belum tahu juga akan selesai seperti apa, seperti apa cerita akhirnya, awal cerita nya akan seperti apa. Karena yang pasti gue harus ngerombak semua yang udah gue tulis dan ini butuh waktu yang nggak sebentar. Namun, Bayu yakin sama gue dan terus maksa gue buat tetep nulis walaupun artinya harus membuat naskah yang baru, dengan judul yang baru, dengan tema dan cerita yang lebih baru lagi.

Mungkin ini yang di bilang sebagai sahabat, semacam dorongan untuk terus melakukan yang terbaik untuk beberapa orang yang kita anggap sebagai teman dan sudah seperti saudara sendiri. Dan gue mulai mengikuti apa yang Bayu mau, gue dan dia mulai membuatnya menjadi naskah yang asik dan mungkin editor itu akan suka.

---

Setelah mendapat penerimaan dari editor penerbit Kang Reza, walaupun harus di rombak ulang lagi, gue mulai berusaha membuatnya seperti terlihat nyata. Memanfaatkan kejadian yang ada di sekitar gue buat gue jadiin cerita dari naskah ini, setiap ada naskah yang sudah jadi beberapa Bab Bayu siap merevisi dimana salahnya dan dimana yang tidak pantas untuk diceritakan.

Kadang gue berpikir Bayu pasti lelah dengan semua tulisan-tulisan yang gue buat dan gue kasih ke dia, gue sadar gue udah bener-bener bikin dia repot, dari mulai dia yang pertama kali bikin Kang Reza yakin sama tulisan gue, dorongan dia yang memaksa gue buat terus nulis. Gue kadang ngerasa kalau semuanya yang dia lakuin dem masa depan gue sahabatnya sendiri. Padahal dia punya masa depan yang harus dia mulai dari sekarang. Tapi dia sibuk buat bukin kerangka buat cita-cita gue sendiri. Kadang sahabat selalu seperti itu, membuat kita paling menjadi istimewa dan mengorbankan waktu yang ia punya untuk sekedar merangkai mimpi kita. Padahal dari ribuan orang yang ku tahu, teman bernama sahabat adalah teman yang baik, sudut pandang kita pada mereka saja yang selalu salah.

Buat gue, Bayu bukan sekedar sahabat tapi juga orang yang nantinya berjalan bersama sama gue dalam kedaan yang seneng ataupun susah, seperti sekarang. Hidup adalah bagaimana cara kita mensyukuri apa yang kita punya, kan? Dan gue rasa gue nyaman punya sahabat seperti Bayu. Membahagiakan.

Akhirnya waktu mulai membeku membuat dingin sekitar otak gue, berusaha sebaik mungkin memanfaatkan waktu dengan cukup baik. Terkadang jalan yang sebenarnya sudah kita buka menjadi tertutup hanya karena kita tak bisa mengendalikan waktu dengan baik, gue rasa itu sih inti dari keluhan beberapa orang yang teriak-teriak sambil bilang ?kenapa hidup gue sial terus!?

?Ini kayaknya harus dirubah lagi deh Fin.? Kata Bayu sambil menyoret lagi bab yang udah gue susun setengah mati waktu itu.

?Rombak lagi Bay??

?Iya.? Jawab Bayu.

Dititik inilah gue berdiri, orang yang percaya kalau teman bernama sahabat adalah orang yang akan membuat kita lebih baik setiap detiknya, menjadi manusia yang dengan senang hati mewakili perasaan kita sendiri. Gue tahu, dia lelah, dan lesu tapi gue juga tahu kalaupun gue larang dia nggak akan mau manut sampai naskah ini terlihat sempurna. Gue nggak tahu moment-moment ini akan terjadi sampai kapan, ketika Bayu nyoret-nyoret naskah gue, ketika dia marah sama gue karena cerita yang gue buat kurang asik. Yang pasti gue akan kangen sama hal-hal sederhana kayak gini, setelah keluar dari sekolah dan pergi dari kehidupan lampau gue nggak akan tahu akan bertemu Bayu buat keberapa kali lagi.

Yang pasti gue nggak mau hal-hal kayak gini kelewat dengan percuma, karena gue takut. Takut nggak punya sahabat yang sama seperti dia di masa depan, karena seburuk apapun dia, dia selalu punya cara agar gue tetep terlihat kelihatan sebagai penulis beneran. Padahal gue bukan apa-apa. Gue rasa gue penulis sekaligus manusia yang beruntung ketemu sama Bayu, ya penulis yang beruntung dan juga manusia yang beruntung.

---

?Lagi makan apa??

?Oh bukan apa-apa, ini Cuma keripik singkong.?

?Lu anak baru juga ya??

?Iya gue baru masuk di sekolah ini, waktu masa orientasi gue pernah lihat lu juga deh kayaknya.?

?Oh iya??

?Iya bener, kenalin nama gue Arifin.?

Dia menatap lengan gue sambil terus tersenyum, aneh sih rasanya tapi waktu itu jadi indah bener-bener. ?Bayu.?

?Salam kenal ya Bay.?

Dia mengangguk. Sahabat baru Bisik gue.

?

  • view 195