Waktu Bersama

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2016
Waktu Bersama

?Kenapa lama sekali? Nggak seperti biasanya.? Bokap bertanya dengan nada yang lembut waktu itu. Bokap selalu mengantar dan menjemput setiap hari jika gue sekolah. Di perjalan kami berdua menghabiskan waktu-waktu bersama, kadang kami menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan lampu lalu lintas untuk bernganti warna, melihat sudut-sudut kota Jakarta. Itu mengesankan, tentu saja.

?Tadi ada pelajaran tambahan Pah.? Jawab gue santai ke bokap.

?Mamah kamu bilang kamu lagi deket sama cewek ya?? Seperi biasa, bokap selalu menjadi orang yang paling kepo sama urusan percintaan gue, dan salahnya gue selalu curhat sama nyokap kalau gue lagi deket sama Aprilia.

?Iya Pah, namanya Aprilia.?

?Nahh, dari namanya saja sudah bagus. Pasti cantik kan orangnya?? Senyum bokap mulai membuat gue khawatir waktu itu.

Gue mengangguk.

Bokap tersenyum sama gue. ?Hey, Fin kamu itu mirip papah ketika papah masih muda. Wajah pas-pasan tapi bisa mendapatkan mamah kamu yang cantik itu.? Bokap mulai membanggakan dirinya, dulu nyokap pernah cerita kalau bokap hampir 6 tahun menunggu jawaban dari pertanyaan bokap soal mau atau nggaknya dia mau jadi pacar bokap. Gue rasa itu waktu yang kelewat wajar untuk sebuah pertanyaan, tapi disitu gue tahu maksud bokap. Cinta itu tentang bagaimana kita menemukan yang membuat kita nyaman.

?Ta.. Tapi Pah, bukannya nggak enak ya kalau digantungin selama 6 tahun gitu? Itu bukan waktu yang sebentar Pah.?

?Arifin, sebagai seorang laki-laki kamu harus punya pendirian. Bukan cuma soal bagaimana kamu memilih sekolah yang bagus ketika akan memasukinya, tapi kamu juga harus punya pendirian pada hati kamu.? Sambil terus menyetir mobilnya, bokap terus berbicara sama gue.

?Tapi Pah, laki-laki punya perasaan juga dong. Ini bukan masalah hukum cewek itu lemah atau cowok itu harus selalu ngalah, banyak kok sekarang cewek-cewek yang sukses dan kuat. Itu menandakan setiap hubungan yang kita miliki nggak pernah balance antara cewek dan cowok, kan?? Gue mulai berargumen, setiap pulang sekolah pasti ada saja hal yang akan kami perdebatkan.

?Pemikiran kamu ini sudah seperti orang dewasa.? Sahut bokap.

Gue terdiam.

?Fin, dalam sebuah hubungan itu sama seperti kamu menyetir mobil. Tak akan ada yang seimbang.?

?Ma.. Maksudnya Pah? Aku masih belum ngerti.?

?Kamu lihat, dalam perjalanan pulang dari sekolah kerumah kita, berapa tingungan dan kemacetan yang harus kita lewati?? Tanya bokap.

?Nggak tahu, aku nggak ngitungin.?

?Seperti itu juga hubungan, dalam pacaran, rumah tangga dan yang lainnya. Jika kamu sudah dalam perjalanan, kamu tak akan pernah tahu yang balance itu seperti apa, belok kanan terus kah atau belok kiri terus atau kita akan macet di jalan. Dalam hal ini macet artinya pertengkaran, pernghambat bagi bahagia yang sedang terjalin. Akan selalu ada hal-hal yang tidak terduga.? Bokap mengatakan hal itu dengan bijak seperti mario teguh.

?Papah jangan kayak mario teguh gitu deh Pah. Ketuaan tahu Pah.?

Dia menatapku dan tertawa.

?Kok ketawa Pah??

?Arifin arifin, kamu ini mengingatkan aku waktu aku masih muda. Selalu punya pendapat sendiri soal semua hal. Papah beritahu, kalau kamu sayang sama dia kamu harus cepat-cepat ambil tindakan. Jangan Cuma diem aja, kalau dia sudah menjadi milik orang lain, baru akan menyesal kamu.?

Gue terdiam, dan bokap benar-benar fokus pada setir mobilnya saat ini. Entah gimana cara gue buat bikin April yakin kalau gue sayang sama dia. Tapi yang pasti gue nggak mau dia jadi milik orang lain.

---

?Ujian kau bagus tadi? Mana hasilnya??

Gue ngambil selembaran kertas yang tadi diberikan Pak Irwan pada saat jam-jam pelajaran terakhir. ?Ini Pah.? Sambil menyodorkan selembaran sama bokap.

?Bahh.. Dapat nilai jelek kau rupanya, selama ini diem dalem kamar nggak pernah keluar ngapain? Sampai malam minggu saja nggak pernag keluar kamu.? Bokap mulai agak kaget lihat hasil ujian gue.

?Jomblo Pah.?

?Bukan itu yang kumaksud. Maksud Papah belajar apa kau selama ini?? Bokap mulai setengah marah tapi tidak marah, bagaimana ya menjelaskannya. Gue rasa dia seperti orang yang sedang bertanya jalan sih.

?Belajar pelajaran yang aku suka Pah.? Jawab gue lemas.

Bokap menatap gue, dia mulai memberikan kembali selembaran kertas itu sama gue. Sambil terus fokus nyetir. ?Sudahlah tidak penting nilai itu, kau masih bisa memperbaikinya. Kamu mau makan apa? Temani papah makan ya? Kau mau, kan?? Bokap tiba-tiba membelokkan setirnya ke arah kanan.

?Ta.. Tapi Mamah kan udah...?

?Sudahlah, kau temani aku sekali-sekali. Seperti supir saja Papahmu ini, cuma anter jemput kau setiap hari. Sekali-sekali temani papahmu ini.?

Gue terdiam mendengar ucapan bokap, ya gue nggak pernah punya waktu luang buat bokap semenjak gue masuk SMK. ?Oke Pah.?

?Nah gitu dong.? Bokap tersenyum.

---

Cuaca makin cerah ketika kami tiba di ujung jalan Ampera, kami berhenti di sebuah restoran khas sunda. Bokap dia selalu mengajak kami sekeluarga ketika sedang weekend kesini, bahkan sampai gue dan abang gue bosen sama makanan yang ada di restoran ini. Bokap mulai memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk pas restoran. Kami perlahan turun dan mulai memasuki restoran.

?Selamat sore, selamat datang di restoran kami. ? Sapa seorang waiters perempuan yang dengan sangat ramah dan lembut mepersilahkan gue dan Bokap.

?Aku pesan satu meja untuk dua orang.? Kata bokap.

?Mari bapak ikuti saya.? Waiters itu mulai menggriring gue dan bokap ke arah meja kosong di bagian pojok dekat dengan kasir, karena memang meja itu yang kosong. Karena yang lainnya sudah terisi penuh, buat gue makanan disini biasa-biasa aja tapi selalu aja ada pengunjung yang datang kemari untuk sekedar mencicipi makanan disini. Selera orang berbeda-beda begitu juga lidah gue.

?Makasih Mba.? Bokap mulai berusaha balik ramah sama waiters nya tapi gue tahu ketika matanya mulai berkedip sama waiters perempuan itu.

?Papah apaan sih Pah ngapain pakai kedip segala, inget mamah dirumah.? Celoteh gue.

?Hey, kenapa kamu? Papah nggak mengedipkan dia, papah hanya mengucapkan rasa terima kasih karena sudah diberikan meja yang nyaman.? Sampai sini gue tahu Bokap mulai ngarang.

Gue nggak memperdulikannya lagi, seketika kamu duduk. Gue melihat ke sekitar, yang dateng kesini rata-rata umur 20-an ke atas. Nggak ada anak SMK sama sekali, nggak asik tahu nggak kenapa coba bokap ngajak gue makan disini. ?Papah ngapain sih Pah ngajak aku makan disini? Lihat tuh yang datang kesini Cuma orang-orang tua doang.? Kata gue.

?Sudahlah kau duduk diam dan nikmati saja suasan tempat ini.? Bokap mulai memaksakan keinginannya lagi.

Gue badmood sama suasana yang nggak terlalu asik seperti ini, semuanya terlalu sunyi. Nggak ada sama sekali cahaya terang disini, kecuali cahaya lampu berwarna orange seperti lampu dijalan-jalan ibu kota. Membuat suasana restoran lebih tidak asik dari sebelumnya. Gue mulai mencari kesibukan lainnya, bokap dari tadi berusaha mengajak gue bercanda tapi gue mengacuhkan dia karena bercandaannya nggak ada yang asik sih buat gue.

Selang beberapa saat, makanan yang kami pesan tiba dengan selamat di meja kami. Dan bokap mulai main mata lagi dengan waitersnya, padahal waitersnya kali ini laki-laki. Aneh, gue rasa bokap penyuka segala jenis. Kami mulai menyantap hidangan yang telah disajikan, di tengah-tengah entah santapan keberapa bokap mulai membuka perbincangan yang menyinggu gue.

?Kamu makan yang banyak biar cepet gemuk, masa badan kau kurus seperti itu.? Sambil terkekeh bokap mulai meledek gue lagi.

?Nggak mempan Pah, dirumah kan aku selalu makan banyak.? Timpal gue.

?Itu artinya yang kau makan tak bergizi Fin.?

?Papah ngejek masakan mamah ngga enak??

?Bu.. Bukan seperti itu, artinya pola makan kau yang tak menghasilkan gizi. Makan itu 3 kali sehari. Kau makan layaknya sapi yang tidak diberi makan satu bulan.? Bokap mulai menoyor keningku dengan jari telunjuknya. ?Sudahlah cepatlah kau makan, biar cepat gede badan kau itu.?

Gue melihat bokap berbeda dari sebelum-sebelumnya, dia lebih terkesan memperhatikan setiap gerak-gerik gue kali ini. Dengan perhatian yang lebih dari pada sebelumnya dan juga waktu luang ini, karena setiap harinya gue nggak pernah punya waktu luang sama bokap keculai terakhir kali ketiak gue di ajarin naik sepeda sama bokap.

---

?Aku takut jatuh.?

?Pengecut kali kamu ini, kamu ini kan laki-laki. Janganlah cemen begitu, akan aku ajarkan bagaimana caranya mengayuh sepeda. Perhatikan aku dulu.? Jawab bokap.

Dia mengambil sepedanya, lalu mulai menunjukan cara-cara agar aku bisa mengayuh sepeda dengan seimbang, tanpa harus merasa takut. ?Lihat, pertama kakimu harus kuat. Kenapa, karena kaki adalah tumpuan buat kita agar bisa seimbang. Setelah itu mulailah mengayuh menggunakan kaki kanan kamu terlebih dahulu, karena kekuatan dorongan pada kaki kanan selalu jauh lebih kuat dari pada kaki kiri.? Bokap mulai menjelaskan detail-detail bagaimana menggunakan sepeda. ?Kau harus berani.?

Kemudian bokap mulai mengayuh sepedanya dengan perlahan sambil sesekali menengok ke gue dari kejauhan lalu tersenyum sama gue. Disitu gue sadar gue punya bokap paling hebat sedunia.

?Ayo sekarang giliran kamu.? Bokap membangunkanku dari lamunanku soal dia.

?Ta.. Tapi aku masih takut Pah.? Gue masih merengek tidak mau belajar sepeda.

?Kalau kau tak mencobanya bagaimana kau bisa??

Gue mengangguk berani, mulai memeragakan apa yang bokap tunjukan sebelumnya sama gue. Dan gue benar-benar berusaha sekuat mungkin. Oke pertama tumpuan kaki, kedua kayuh dengan kaki kanan gumam gue. Ketika kayuhan pertama semuanya baik-baik saja, kayuhan kedua masih tetap baik. Namun, ketika kayuhan ketiga gue terjatuh dan bokap langsung berlari menghampiri gue. Gue nangis, ya waktu itu kan gue masih umur 6 tahun, wajar kalau misalkan anak seumuran gue waktu itu nangis.

?Sudahlah jangan menangis, jatuh sekali tak apa-apa. Yang penting pada akhirnya nanti kau akan bisa.?

Setelah itu gue mulai mencoba lagi, lagi dan lagi sampai pada akhirnya gue bisa mengendarainya dengan sangat lancar bahkan sampai kebut-kebutan. Dari kejauhan gue melihat bokap tersenyum dengan bahagia, disitu mungkin dia sadar apa yang dia ajarkan dan kasih ke gue nggak ada yang pernah sia-sia. Pasti ada hal yang selalu berguna kalau dia ada sama gue.

?Aku bisa Pah.?

?Itu baru anak papah.? Dia tertawa.

Gue tertawa.

Kami tertawa dalam keberhasilan yang kubuat karena ulah bokap.

---

?Gimana kau senang ku ajak makan di sini?? Tanya bokap ketika kami baru saja beranjak dari pintu keluar restoran.

Gue mangangguk. Mungkin ini juga waktu yang akan gue rinduiin ketika gue sudah beranjak dewasa nanti. Klakson bokap yang setiap hari manggil gue dari ruang gerbang sekolah, mungkin nggak semuanya soal sekolah kalau gue lulus dari sekolah, tapi juga soal bokap yang anter jemput gue tiap hari.

Bokap terdia melihat ekspresi senangku. Wajahnya berubah murung. ?Fin, papah sudah tak mungkin punya waktu lagi untuk menghabiskan waktu bersamamu.?

?Maksudnya apa Pah??

Dia tersenyum. ?Maksudnya papahmu ini sudah tua, sudah tak bisa lagi menemanimu setiap hari seperti dulu ketika mengajarkanmu bersepeda, bermain layang-layang, mengajari kau matematika dan yang lainnya lagi. Papah sudah tak bisa menemanimu seperti biasa lagi.?

Gue terdiam. Memerhatikan bokap dengan perasaan yang aneh, entah tapi perkataan bokap seperti belati buat gue. Nusuk tapi ga sakit, bikin kaget tapi ga jantungan. Gue ga tahu sampai kapan bokap bakalan anter jemput gue di sekolah, kali ini gue bener-bener mikir alesan kenapa bokap masih maksa gue buat anter gue sekolah setiap hari sampai gue SMK sekarang.

?Sudahlah kau tak usah memikirkannya, nah ayo kita pulang.? Bokap narik gue yang masih mikirin semua perkataannya.

Mungkin ini dramatis tapi gue sadar, perkataan bokap nggak ada yang pernah pura-pura. Dan nggak akan pernah mungkin dia berpura-pura untuk sesuatu yang tidak sepele seperti ini; waktu bersama.

?

  • view 146