Balada Guru Pulang Malam

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

3.5 K Hak Cipta Terlindungi
Balada Guru Pulang  Malam

?Arifin!? Teriak Guru Bahasa Indonesia pada gue.

?I.. Iya bu??? Gue menaikkan kepala yang sedari tadi tertidur pada meja-meja kelas, Ibu Dwi masih memperhatikan gue dengan penuh amarah, dia masih kesal karena dalam satu kelas, gue yang tertidur dan tak memperhatikan sama sekali.

?Kamu dengerin ibu atau nggak?? Dengan nada lembut namun mengancam Bu Dwi berjalan perlahan ke arah gue, membawa penggaris sepanjang 100 cm yang terbuat dari kayu.

?De.. Denger kok bu.? Gue mulai gugup dan ragu pada jawaban gue sendiri. Sedari tadi buku paket Bahasa Indonesia hanya menjadi batalan tidur saja, tak pernah gue buka sedikitpun.

?Bohong bu, dia mimpi jorok tuh.? Bayu nyeloteh dari bangku belakang gue, dia menepuk pundak gue.

Konyol banget lu Bay gumam gue.

?Kamu sekarang keluar, jangan ikut pelajaran ibu!? Sambil menggerakkan penggaris yang ia bawa ke arah pintu keluar, Bu Dwi berteriak cukup keras gue rasa.

?Ta.. Tapi bu.?

?Kamu pilih Ibu yang keluar atau kamu yang keluar?!?

Ahh, gue tak punya pilihan lain ketika seorang guru yang sedang marah-marahnya mengucapkan hal ajaib itu. Itu adalah senjata paling ampuh menurut gue bagi seorang guru. Karena kita nggak mau menjadi murid yang sepenuhnya bersalah dan nggak mau menjadi murid yang durhaka terhadap guru. Karena itu ada ketakutan tersendiri ketika kami mendengar kalimat ajaib itu, kalimat yang membuat hati setiap murid bergetar ketakutan.

Akhirnya, gue keluar. Karena tak ada pilihan lain, karena tidak mungkin aku menyuruh Bu Dwi yang keluar.? Gue masih menatap kesal pada Bayu, dia terkekeh dengan cukup senang. Melihat gue di hukum, Gue tahu dia yang sedari tadi tahu kalau gue tertidur di kelas. Namun, dia yang malah tidak memperingatkan gue kalau bu Dwi sedang memperhatikan gue.

---

?Fin, nanti sore main futsal ya? Di tempat biasa? Bayu tiba-tiba mulai datang dari arah belakang gue.

?Gue ada acara Bay, harus anter Mamah ke rumah saudara.? Sahut gue ketus padanya.

Dia keheranan dan mulai berusaha untuk merayu gue. ?Lu masih marah sama kejadian tadi pagi Fin??

Gue menggeleng.

?Jangan kayak cewek deh lu, sok-sok banget pengen di tebak.? Sahutnya santai sambil menoyor kepalaku. ?Lagian lu juga sih ngapain lagi belajar tidur coba, sebentar lagi mau UAS juga.?

?Gue begadang habis nulis naskah lagi.?

Dia terdiam, memperhatikan gue dengan perlahan. Dari atas sampai bawah, lalu perlahan mengambil batagor yang sedang gue makan. ?Bay apaan sih! Beli sendiri sono.? Dengan cepat gue mengambilnya kembali dari Bayu.

?Yaelah sedikit Fin, laper gue.? Dia memegangi perutnya sedari tadi. ?Emang lu beneran mau jadi penulis?? dia mulai serius kali ini, dengan membenarkan posisi duduknya.

?Lu kenapa nanyanya gitu??

?Tampang lu nggak ada bakat jadi penulis.? Jawabnya ketus.

Gue mulai datar, berusaha untuk menghiraukannya. Seketika Bu Dwi datang dari ruangan sebelah. Karena jarak ruangan guru dengan kantin begitu dekat, jadi dengan sangat mudah guru-guru yang sedang beristirahat jam makan siang memesan makanan di kantin. Bu Dwi mulai berjalan perlahan, dengan kerudung yang tertiup angin dan juga langkah yang landai dengan kaki-kaki kecil itu. Kalau gerakan itu ditambahkan efek slow motion, guru Bahasa Indonesia itu akan menjadi model pakaian muslim terbaik sepertinya.

Bu Dwi memesan beberapa mangkok batagor untuk di makan di ruang guru. Tidak seperti biasanya, dia memesan porsi yang agak banyak dari biasanya. Gue bisa memperhatikannya, wajah yang sangat lesu dan lelah dari nya. Kurasa dia dan beberapa guru di kantor akan lembur. Karena tradisi sekolah jika menjelang UAS para guru-guru dan wali kelas sibuk mengurus soal-soal untuk di ujikan nanti seperti apa, belum lagi kisi-kisi yang terlalu menguras otak. Materi apa yang kelihatannya mudah bagi para murid untuk mereka kerjakan, pertimbangan-pertimbangan itu yang gue rasa membuat para guru-guru menjadi selalu pulang malam. Padahal dirumah, banyak orang yang menunggu mereka. Orang tua mereka atau bahkan anak-anak dan suami mereka.

Namun, dengan sukarela mereka pulang malam untuk kembali memeriksa apa saja yang harus di siapkan untuk ujiak minggu depan, yang tidak memberatkan murid-murid namun bisa membuat mereka mendapatkan nilai yang baik nantinya.

?Lu ngapain liatin bu Dwi Fin?? Sambil menggeser piring batagor yang sudah tak tersisa ke gue. ?Suka lu ya sama dia??

?Seru aja..?

?Woyy gila lu ya Fin, suka sama guru sendiri!? Teriak Bayu.

Gue panik dengan suara itu, seketika semua lamunan gue hancur. ?Bay udah gila lu ya? Siapa yang suka sama guru sendiri sih??

?Terus lu ngapain liati bu Dwi dari tadi?? bisik Bayu.

?Lu sadar nggak sih Bay? Mereka setiap hari pulang malem buat ngurusin kita?? Gue mulai berbicara serius pada Bayu.

?Nggak ngerti gue maksud lu apaan??

?Susah emang ngomong sama lu... Lola!.? Gue mulai berlalu meninggalkan bayu.

Tapi pikiran gue masih bersarang pada apa-apa saja yang guru-guru korbankan untuk sekedar tidak membuat kami pusing dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Setiap menjelang ujian mereka selalu memilih dan memilah bagian-bagian termudah dari setiap rumus, dari setiap angka, dari setiap kalimat untuk kemudian bisa dikerjakan oleh para murid yang lain.

Waktu.. Pikiran gue mulai meraba waktu yang mereka korbankan, tak ada ruang bernafas lagi bagi mereka ketika sekolah sudah menggantungkan semuanya pada guru-guru itu. Tak ada lagi rasa santai seperti biasanya, selalu saja lelah dan letih menyerang pada sebagian dari mereka dan tidak jarang dari guru-guru sakit karena terlalu pusing memikirkan murid-muridnya yang tak bisa di atur.

Guru itu orang tua kita di sekolah tiba-tiba gue teringat perkataan Nyokap gue, apa itu penyebab mereka meluangkan waktu berharga mereka untuk memperbaiki setiap nilai kami? Apa karena kewajiban menjadi seorang guru? Ini benar-benar tak masuk akal, jelas saja karena pada dasarnya gue melihat mereka pulang di atas pukul 5 sore setiap harinya. Namun, masih saja gue tertidur di kelas, bukankah ini menandakan tak ada apresiasi yang berharga bagi mereka? Apa arti lagu himne guru? Jangan-jangan kami menyanyikannya dengan perasaan yang biasa-biasa saja.

Yang jelas gue masih nggak paham, tapi gue rasa ini adalah rasa sayang yang berbeda. Semacam pengobat rasa lelah mereka terbayarkan ketika melihat gue dan teman-teman yang lainnya lulus dengan nilai yang cukup baik. Gue rasa itu saja sudah cukup menjadi alasan mereka kenapa mengorbankan sebagian waktu santai mereka.

Agar murid-muridnya bisa melebihi mereka

?