Cinta Pertama

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

3.6 K Hak Cipta Terlindungi
Cinta Pertama

Konon masa-masa SMK itu adalah masa-masa yang paling indah untuk menjalin sebuah hubungan, menjalin perasaan antara dua orang yang berbeda. Ya, gampangnya sih pacaran. Namun, aku menganggap semua itu hanyalah legenda yang biasa-biasa saja, tak ada pengaruhnya dalam setiap mata pelajaran yang ku pelajari.

Namun, aku akui cinta pertamaku tertanam pada seorang perempuan berambut panjang dengan lesung pipi di bagian kanan dan kirinya. Dengan mata sipit nya itu dan juga suara yang terlalu manja untuk ku dengar. Ah, aku rasa aku benar-benar jatu cinta pada pandangan pertama padanya. Aku mulai jadi anak sastra dadakan, menuliskan setiap kekagumanku padanya. Entah seakan semuanya menjadi sepuluh kali lebih indah ketika aku menyebutkan namanya; Aprilia.

Aku ingat surat cinta pertamaku untuknya, namun tak pernah berani untnuk memberikannya padanya. Aku takut dia tak mau menerimaku, tapi aku tak akan tahu sebelum mencobanya. Sesekali aku berusaha mendekatinya, dia menjadi sekretaris dalam organisasi intra sekolah. Aku mendekatinya secara perlahan, lewat pesan-pesan yang kukirimkan lewat telepon genggamku, aku mulai memperhatikannya. Aku ingin tahu setiap kebiasannya, bukankah akan menjadi lengkap jika kita mengetahui kebiasaan dari orang yang kita suka.

?Bay April udah pulang rapat belum??

Bayu terdiam bingung, karena itu adalah pertama kalinya aku menanyakan wanita padanya. ?Lu kenapa tiba-tiba nanyain April?? tanyanya dia penasaran.

Sial gue harus jawab apaan gumaku. ?Hmm... anu Bay.?

?Anu anu, yang jelas sedikit Fin.? Bayu mulai curiga dengan tingkahku yang aneh ketika mendengar nama April. ?Suka lu ya sama dia??

?Eh.. Eng.. Enggak enggak, gue mau nanyain ini minggu depan kan pensi sekolah kita akan di gelar buat pertama kalinya. Mau nanya aja band gue masuk list atau nggak?? jawabku sekenanya, bisa gawat kalau Bayu tahu.

?Ohh itu, yaudah tanya gue aja. Gue kan juga anggota Osis Fin.?

Kambing lu gumamku kesal. Awalnya aku hanya ingin menanyakan kabar Aprilia apakah dia sudah pulang atau belum, kenapa malah ribet. ?Kapan-kapan aja deh Bay, gue pulang duluan ya.?

Lagi-lagi, aku tak pernah berani mendekatkan diriku padanya. Aku takut satu sekolah akan menertawakanku jika menyukai perempuan secantik April, aku takut dia menolakku mentah-mentah. Aku tak mau membayangkan bagaimana sakitnya jika semua itu terjadi, jelas saja aku belum pernah menyukai perempuan sebelumnya... Maksudnya bukan berarti aku menyukai laki-laki, maksudnya Aprilia adalah cinta pertamaku ketika masuk SMK.

---

Semenjak perasaan itu datang, secara diam-diam aku mulai memperhatikan dia tanpa berhenti. Ikat rambut berwarna merah yang ia kenakan, ransel berwarna hijau yang ia bawa untuk bersekolah dan juga sepatu hitam itu, dengan kaki-kaki landai dia berjalan dengan sangat anggun.

Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya, namun ketika kita jatuh cinta aku selalu merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Hormon dofamin kita selalu bertambah 40% dari biasanya, dan kebahagiaan kita lebih terlihat ketika sedang menyukai seseorang. Karena kadang aku suka tersenyum sendiri membayangkan kalau aku menjalin hubungan dengannya. Pasti akan terasa berbeda, akan terasa indah dan juga menyejukkan. Maka benar pada sebagian orang, keindahan cinta terletak pada masa SMK, entah kenapa aku menjadi percaya pada legenda itu. Yang jelas cairan di otakku sudah banjir dengan bayangan soal dia.

Cinta itu mirip seperti racun ya, kadang menjadi sangat indah pada masa-masa terentu tapi menjadi senjata yang menakutkan pada masa-masa tertentu juga. Namun, aku tak memperdulikannya, aku masih ingin mengakrabi perasaan ini dengan segenap hati dan jiwaku. Ingin sesegera mungkin berjalan pada taman bunga, bermain disana dan mulai merapikan sedikit demi sedikit perasaan jatuh cinta ini secara diam-diam.

Setiap jam istirahat datang, aku selalu bermain ke kelas sebelah untuk melihat dia, perempuan yang dengan sengaja memikat hatiku secara perlahan. Aku mulai mencatat setiap apapun yang dia suka, dari mulai makanan kesukaannya, ikat rambut yang ia pakai setiap harinya. Karena ini unik, dia selalu mengganti warna ikat rambut yang dia punya sesuai harinya, dan yang paling penting aku mendapatkan nomor teleponnya dari teman sekelasnya. Namanya Rani, aku membayarnya pakai silverqueen kecil yang baru saja kubeli di supermarket depan sekolah.

Tuutttttt.... Tutttt... Tutttt...

?Halo.? Suaranya berada di ujung telepon genggamku, Ah ini aneh tapi membahagiakan.

Aku gemetar, jantungku bergetar lebih cepat. Ini pertama kalinya telepon genggamku kugunakan untuk menghubungi seorang perempuan. Aku masih terdiam, ragu tak bisa mengucapkan apa-apa. Aku bingung harus bilang apa padanya.

?Halo? Ini siapa ya?

Tuutttttt.......

Aku menutup teleponnya, aku tak bisa berbicara sama sekali. Aku takut ketika suaranya yang memang tidak terlalu merdu tapi hal buruk selalu menjadi bagian terbaik ketika kita pertama kali jatuh cinta. Aku mulai memutar otakku kembali, aku mulai menekan tombol-tombol itu lagi, berusaha meyakinkan diriku sendiri. Lu bisa Fin, lu bisa pikirku. Aku tak ingin gagal untuk kedua kalinya.

?Halo, ini siapa jangan main-main deh.? Dia mulai agak tidak suka dengan gangguan yang ku lakukan.

?Ha.. Ha... Halo.? Kataku terbata.

Dia terdiam, suara nafasnya berada di ujung telepon genggamku. ?Iya.. Hmm, maaf ini siapa ya??

?I.. Ini Arifin anak 10-2. Waktu Masa Orientasi kita satu kelompok.? Kataku memaksakan, aku takut dia tidak mengenaliku.

?Arifin mana ya?? Benar saja, tak ada yang kenal dengan orang sepertiku di sekolah. Office Boy sekolah saja sampai lupa pada wajahku. Memang tak ada tempat untuk orang yang tak populer sepertiku, menyedihkan.

?Gue temen deketnya Bayu.?

?Gue lupa lu yang mana..? Sahutnya.

Oke lupakan saja pikirku. ?E... Elu sibuk nggak?? tanyaku padanya.

?Sibuk banget, oh ya kita terusin lewat sms aja ya. Nggak apa-apa kan??

?Oh oke.? Jawabku singkat.

Tuutttttt.....

---

Dan dari situ semuanya dimulai, dari keberanian yang nggak seberapa, walaupun hampir nggak bisa nahan gemetaran. Gue tetep berlagak berani di depan dia. Sekarang handphone gue yang biasa gue pakai Cuma buat main game aja, kali ini selalu saja ada dering yang paling gue suka. Dering yang kalau gue inget tuh, kayak bunyi lonceng. Itu indah banget, karena setiap ada dering itu gue tahu itu pasti dari Aprilia.

Selanjutnya gue terus kenal sama dia, gue tinggalin Bayu karena dia juga sibuk sama urusan yang lainnya soal Pensi sekolah. Gue ngelakuin apapun yang di ajarin bokap ke gue buat ngedeketin cewek. Pertama-tama ambil hatinya lewat perhatian-perhatian yang sering, dari situ cewek akan ngerasa kalau dirinya berarti dan istimewa pastinya. Lalu mulai obrolin apapun yang dia suka, kata bokap itu adalah cara paling ampuh, jangan sela setiap omongan dia karena dengan begitu dia akan merasa dihargai ketika sedang berbicara.

Kali ini gue tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Yang pasti ini berbeda daripada kalau batagor gue dimakan sama Bayu, ini lebih indah. Lebih seru dan juga lebih bahagia.

?Kenapa??

?Nggak apa-apa.? Gue masih merhatiin dia yang pelan-pelan makan es krim yang baru aja kita beli di perempatan jalan deket sekolah.

?Jangan liatin gue gitu terus nanti naksir aja repot, kan?? candanya, tawa nya pecah di ujung kalimat terakhir.

?Emang..?

?Sorry, apaan??

?Eh.. Engg.. Enggak, maksudnya es krimnya emang enak banget. Bikin gue naksir.? Jawab gue sekenanya, hampir keceplosan.

Dia tertawa. Ah, gue berharap bisa berhentiin waktu walau Cuma sejanak aja. Cuma biar gue bisa mengabadikan tawa yang paling indah yang pernah gue liat, ini pertama kalinya perkataan gue ngerasa di hargain.

?Lu lucu ya.? Sambil terus memakan es krim nya, dia mengatakannya.

Gue terdiam, padahal dalam hati senengnya minta ampun di bilang lucu.

?Eh, tunggu.. Kenapa ya gue kalau liat facebook lu kata-katanya panajng banget? Udah kayak mau pidato tahu nggak.? Dia tertawa sekali lagi.

Gue senyum ke arah dia. ?Iya, gue mau jadi penulis.?

Dia berhenti tertawa, kali ini dia mulai merhatiin gue pelan-pelan. ?Penulis? Yang suka buat novel itu??

Gue mengangguk.

?Oh gitu.? Katanya singkat, seperti tak ada jawaban lain selain kata itu. ?Tapi kenapa lu nggak buat blog aja, jaringannya lebih luas lagi kalau lu pakai blog.?

?Bener juga ya? Kenapa gue nggak kepikiran ya.?

?Nahh, permasalahannya pasti ada beberapa orang yang ternggangu sama tulisan lu kalau lu tulisnya di facebook, kan??

?Iya juga sih ya, besok gue beralih deh.?

?Iya soalnya gue juga keganggu sih.?

Oke cukup sakit gumam gue.

---

Akhirnya hari itu gue bener-bener jadi orang yang paling bahagia, dipertemukan sama orang yang barangkali nggak bisa gue bilang jodoh. Tapi ini bikin hari-hari gue berikutnya jadi lebih indah, lebih nyaman. Gue selalu dateng ke sekolah lebih pagi dari biasanya, untuk sekedar ketemu dia di parkiran sekolah. Untuk sekedar bilang ?pagi Pril? Itu udah bikin gue seneng banget, walaupun dia belum tahu kalau gue suka dia. Tapi yaudah begini aja, biar semuanya tetep sama dan baik-baik aja.

?

  • view 397