Pesawat Kertas Pembawa Mimpi

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

2.9 K Hak Cipta Terlindungi
Pesawat Kertas Pembawa Mimpi

Ada satu hal yang gue dan teman-teman selalu lakukan ketika sedang istirajat ataupun tak ada guru yang masuk ke kelas. Perlahan kami mengambil bagian belakang buku tulis dan merobeknya dan dengan sengaj melipat bebrapa bagian untuk menjadi sebuah paperplane.

?Kita taruhan.? Azka mulai angkat biacara ketika kami berkumpul di atap gedung sekolah untuk mulai menerbangkan pesawat kami.

?Taruhan?? Sahut gue.

?Ya, yang paling jauh terbangnya akan dapet duit.? Jawab Azka.

?Nggak-nggak mau, itu kan dosa.? Sahut tiba-tiba Reza, anak paling alim dalam kelas kami. Dia akan berdiri paling depan soal hal-hal yang menurutnya melanggar syariat.

?Oh iya ya, kan dosa.?

?Yee oneng.? Sahut gue.. ?Jadi gimana nih??

"Yaudah kita kumpulin seribu-seribu buat pemenangnya.? Azka mulai labil sama keputusannya, gue rasa iman dia mulai angin-anginan.

"Capek deh, yaudah cepetan mana seribu-seribu.? Gue mulai ngumpulin duit yang lain, kecuali Reza dia nggak mau ikut. Karena dia nggak punya duit. Oke lupakan dia.

Gue dan beberapa teman-teman yang lainnya mulai bersiap untuk lepas landas, angin bergerak cukup kencang ke arah selatan. Seketika angin mulai stabil pesawat kami siap lepas landas, Bayu yang berada di bagian pojok masih meniup-niup ujung pesawatnya dengan mulutnya. Sandy masih menekuk-nekuk sayap pesawatnya, dan yang lainnya masih punya cara tersendiri agar pesawatnya mampu terbang jauh dan bahkan lebih jaub lagi dan gue udah kehabisan cara, gue Cuma percaya sama pesawat gue kalau dia nggak akan ngecewain gue.

Angin mulai stabil, matahari menyising cukup cepat. Cahayanya menerpa kami semua, dengan sebagian bercahaya dan sebagian lagi tidak. Burung-burung gereja yang berterbangan singgah sejenak di atap sekolah seperti menjadi penonton yang siap menyaksikan pesawat kami lepas landas.

?Siap?? Aba-aba mulai Azka ucapkan perlahan. ?Satu dua tiga!? Teriak Azka.

Dan terbanglah semuanya, sepuluh pesawat berhasil lepas landas, dengan kecepatan angis stabil. Dengan kebebasan yang mereka miliki sendiri, kadang gue mau ngerasaian yang namanya terbang biar tahu rasanya bebas seperti apa. Namun, dari sedikit yang gue tahu, terbang itu seperti menjadi bebas untuk waktu yang sebentar, setelah itu akan ada beberapa hal yang membuat kita benci sama terbang. Ya, rasa kesepian. Seperti disini, gue mungkin nggak terbang, tapi gue tahu teman-teman yang lain pasti selalu ada buat gue.

---

?Gue menang!? Teriak Bayu dari pojok. ?Fin sini duitnya.?

Gue memberikannya dengan lemas, karena pesawat yang gue terbangin Cuma terbang dengan cukup rendah. Dan alhasil nggak terlalu jauh juga. Sambil menyodorkan uang yang sudah terkumpul ke Bayu, gue menatap dia perlahan. ?Sampai kapan ya??

?Apanya sampai kapan?? Bayu menaikkan satu alisnya.

?Kayak gini.?

Bayu terlihat berpikir, dia diam beberapa saat. ?Sampai nanti lah Fin, sampai kapapun.?

?Bay, lu jangan pura-pura bego deh. Lu tahu kan ada saatnya kita jadi orang dewasa, akan ada saatnya kita sibuk sama urusan sendiri-sendiri. Akan ada saatnya kita nggak bisa nyocokkin hari libur kerja kita nanti.? Nggak tahu apa yang ngerasukin gue waktu itu, tapi gue rasa apa yang gue bilang sama Bayu bener keseluruhan.

?Akan ada saatnya juga kita menyisihkan sedikit waktu untuk sekedar ngumpul Fin, kadang apa yang lu khawatirin nggak sepenuhnya kejadian.? Bayu masih santai menanggapi perkataan Gue.

?Bay lu nggak pernah mikir ya??

?Soal apa?? Dia menatapku kali ini.

?Sampai kapan kita bsia debat kayak gini terus??

Dia terdiam, dia hanya menatapku. Mungkin dia mencoba menelaah omongan gue, kenapa gue mengucapkan hal seperti itu. Bayu kemudian memasukan duit yang tadi ia dapat ke saku celananya, perlahan dia mengambil robekan kertas yang ia bawa dengan sengaja untuk membuat paperplane lagi.

?Nih.? Dia menyodorkan satu kertas buat gue.

?Buat apa??

?Lu sendiri kan yang bilang sampai kapan kita akan kaya gini? Ayo kita terbangin sekali lagi, biar lu nggak jadi cowok cemen yang takut sama waktu.? Dia mantap berbicara seperti itu.

?Maksudnya?? Tanya gue yang masih bingung sama omongan Bayu.

Dia tersenyum. ?Lu nanti bakalan ngerti Fin, kali ini taruhannya bukan uang.? Dia mulai terkekeh. ?Tulis dalam pesawat lu cita-cita dan keinginan lu 1 dekade dari sekarang, siapa duluan yang bisa ngedapetin itu. Dia yang menang, syaratnya Cuma satu.?

?Apaan??

?Nggak boleh pakai jin ya.? Dia tertawa.

Gue tertawa dan sesegera mungkin setelah menulis harapan kami 1 dekade dari sekarang kami menerbangkannya melewati batas-batas angin dan membelah sebgian harapan pada kenyataan. Sekolah mungkin adalah rangka Gue, Bayu dan teman-teman lainnya merapikan harapan. Gue belajar sesuatu soal impian, seperti pesawat kertas yang gue terbangin, bebas akan pergi kemanapun dia suka. Tapi gue sama Bayu tahu kalau mereka akan pulang ketempat mereka pergi.

Kadang kita seperti itu, suatu saat nanti. 1 Dekade dari sekarang kami akan balik lagi kesini, buat ngerayain semuanya. Agar terlihat lebih baik. Itu aja.